Home / Daerah / Jangan Pernah Anggap Sepeleh Tentang Corona, Berikut Beberapa Hal Yang Wajib Diketahui Agar Tetap Waspada

Jangan Pernah Anggap Sepeleh Tentang Corona, Berikut Beberapa Hal Yang Wajib Diketahui Agar Tetap Waspada

1533 Kali dibaca

Bagikan Halaman ini

[addtoany]
[addtoany]

PORTALNTT.COM, KUPANG – Semenjak pertama kali diumumkan mewabah di Indonesia pada awal Maret lalu, virus Corona semakin dipantau penyebarannya. Virus Corona atau COVID-19 merupakan virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China. Sejak saat itu, virus ini menyebar ke beberapa negara, salah satunya Indonesia. Pada awalnya ditemukan 2 kasus di Indonesia, namun hingga saat ini tercatat 134 kasus positif Corona menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Tetapi jangan panik berlebihan dalam menghadapi virus ini. Sama seperti virus lainnya, Corona juga bisa disembuhkan. Terbukti sudah ada 8 pasien di Indonesia yang dinyatakan sembuh. Pasien nomor 01, 02, dan 03 sudah dinyatakan sembuh pada Senin (16/3). Mereka sudah diperbolehkan pulang setelah melakukan 2 kali pemeriksaan laboratorium. Menurut hasil yang dipaparkan, ketiganya dinyatakan negatif Corona.

Wabah virus Corona berkembang begitu cepat. Sejak pertama kali mewabah di Wuhan pada akhir Januari lalu, sudah ada 169,717 kasus yang ditemukan. Sedangkan jumlah pasien yang dinyatakan sembuh sebanyak 77,776 pasien. Virus Corona bisa disembuhkan, namun kamu juga perlu memahami beberapa hal penting yang berkaitan dengan virus Corona. Semakin kamu memahami virus Corona, maka bisa memperkecil juga risiko penyebaran COVID-19. Yuk pahami apa saja yang harus kamu ketahui dari COVID-19. Berikut ulasan brilio.net pada Selasa (17/3) dari vox.com.

1. Virus Corona menyebar dengan cepat.

Kasus virus Corona pertama kali diketahui mewabah pada akhir Januari lalu. Kota Wuhan di China, menjadi pusat dari wabah ini. Kota tersebut mendadak lumpuh karena banyaknya warga yang terjangkit virus Corona. Pemerintah setempat pun segera membangun rumah sakit darurat yang dibangun dalam hitungan hari. Sejak saat itu kasus virus Corona mulai bermunculan di berbagai negara. Hal ini menunjukkan penyebaran COVID-19 begitu cepat.

Fokus dunia saat ini tidak pada China, karena jumlah pasiennya sudah mulai menurun. Namun justru dunia menyoroti negara lain yang terdampak virus Corona. Maka kamu perlu menjaga kesehatan dan kebersihan diri agar meminimalisir penyebaran virus Corona.

2. Pahami gejalanya.

Virus Corona pada awalnya disebut sebagai virus yang mirip dengan flu. Bahkan beberapa gejalanya juga dinilai sangat mirip. Hal itu yang sempat membuat masyarakat sulit membedakan virus Corona dengan flu biasa. Virus Corona juga menyerang sistem pernapasan, sehingga banyak juga yang pada awalnya mengira penyakit ini sebagai sesak napas biasa.

Gejala virus Corona pada setiap orang berbeda-beda. Namun ada beberapa gejala yang tampak dan sering ditemukan. Mulai dari demam, batuk kering, kelelahan, dan juga gangguan pernapasan. Menurut data yang dipaparkan WHO demam menjadi gejala yang paling sering ditemukan. Sedangkan diare adalah tanda yang paling sedikit ditemukan pada masyarakat. Maka dari itu penting untuk kamu, jika merasakan kondisi tubuh tidak sehat, disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

3. Data kematian di China menurun.

Virus Corona memang menjadi virus yang harus kita hindari. Terlebih lagi virus ini sudah menimbulkan korban jiwa. Tercatat, sebanyak 5 orang di Indonesia dinyatakan meninggal dunia akibat virus ini. Sedangkan jika dipantau dari WHO terdapat 6.518 orang meninggal dunia dari 169.717 kasus di dunia. Jumlah kematian yang lebih kecil dari jumlah pasien sembuh ini patut membuat kita bersyukur. Karena besar harapan untuk Indonesia terbebas dari virus ini.

Apalagi, kematian di China yang menjadi pusat virus ini juga semakin menurun. Hal ini juga didukung dengan sikap pemerintah yang memberikan penanganan langsung untuk mengatasi Corona. Seperti yang kamu tahu, China juga membangun rumah sakit darurat hanya dalam kurun waktu beberapa hari. Dan beberapa waktu yang lalu, sejumlah rumah sakit itu sudah resmi ditutup. Kabar ini tentu juga menjadi berita baik untuk masyarakat Indonesia, bahwa virus Corona juga bisa disembuhkan.

4. Orangtua di China memiliki risiko kematian lebih tinggi akibat COVID-19.

Sebelum virus Corona mewabah, sudah ada flu Spanyol yang menjadi kasus serius di tahun 1918-1919. Pada kasus itu, kaum muda menjadi golongan yang rentan terjangkit flu Spanyol. Namun berbeda dengan virus Corona. Virus yang juga kerap disebut COVID-19 ini justru menimbulkan risiko kematian lebih tinggi pada orangtua.

Hal itu diakibatkan orangtua memiliki sistem kekebalan yang rata-rata lebih rendah daripada anak muda. Selain itu biasanya orangtua sudah memiliki penyakit kronis sebelum terjangkit virus Corona. Orang-orang dari berbagai golongan usia yang sudah memiliki penyakit kronis juga memiliki risiko lebih tinggi. Meskipun anak muda tidak berisiko tinggi, namun bukan berarti mereka bisa terbebas dari virus Corona.

5. Virus Corona lebih parah dari flu biasa.

Kamu disarankan untuk tidak panik dalam menghadapi virus Corona. Namun jangan sampai kamu sepelekan virus ini. Meskipun memiliki gejala yang mirip dengan flu, namun virus Corona memiliki tingkat keseriusan yang lebih tinggi dari flu. Sebagai perbandingan, sekitar 6% orang yang berusia diatas 60 tahun yang terinfeksi COVID-19 dinyatakan meninggal. Hal itu dikatakan 6 kali lebih besar besar dari risiko kematian di AS dengan orang lanjut usia yang terinfeksi flu biasa. Dikatakan pula, tingkat kematian COVID-19 secara keseluruhan kemungkinan 12 hingga 24 kali lebih besar dari kematian akibat flu.

6. Menghabiskan waktu di luar rumah tidak direkomendasikan.

Anjuran untuk melakukan social distance atau menjaga jarak sudah dilakukan beberapa negara. Di Amerika, beberapa destinasi wisata bahkan memutuskan untuk tutup sementara. Begitu pula di Indonesia, Presiden Joko Widodo sudah menyarankan untuk melakukan pekerjaan dari rumah. Kondisi ini tentu memberikan banyak pengaruh, karena orang-orang memilih untuk melakukan pekerjaan dari rumah. Namun hal ini dilakukan untuk mengurangi penyebaran virus Corona.

Sebagai referensi kita dalam memberikan arahan dan sosialisasi tentang Pencegahan Pandemik Virus Corona (Covid-19).

Istilah – Istilah Yang Ada dalam Corona Virus Diase (Covid-19)

1. ODP (Orang Dalam Pemantauan)

2. PDP (pasien Dalam pengawasan)

3. Suspeck (diduga terkena virus karena sudah menunjukkan gejala dan pernah berkontak atau bertemu dengan orang yang positif corona)

4. Positif (setelah melalui cek lab dan prosedur lain )

5. Lockdown mengunci masuk keluar dari suatu wilayah/daerah/negara

6. Social Distancing Menjauhi segala bentuk perkumpulan, menjaga jarak antar manusia, menghindari berbagai pertemuan yang melibatkan banyak orang.

7. Isolasi Untuk yang sakit. Mengendalikan penyebaran penyakit dengan membatasi perpindahan orang (mencegah perpindahan penyakit dari orang yg sakit)

8. Karantina Untuk yang sehat. Mengendalikan penyebaran penyakit dengan membatasi perpindahan orang (mencegah perpindahan penyakit ke orang yang sehat)

9. Work From Home (WFH) Bekerja dari rumah

10. Imported Case Seseorang terjangkit saat berada di luar wilayah dimana pasien melapor

11. Local Transmission Pasien tertular diwilayah dimana kasus ditemukan.

12. Epidemi Penyebaran penyakit secara cepat dengan jumlah terjangkit banyak dan tidak normal. Penyebaran di suatu wilayah.

13. Pandemi Penyebaran terjadi secara global.

Untuk wilayah NTT, saat ini sudah ada 24 orang yang masuk dalam Orang Dalam Pantuan (ODP).

“Dari 24 orang tersebut, terbanyak ada di Kota kupang sebanyak 14 orang, disusul Kabupaten Manggarai Barat 7 orang, KAbupaten Lembata 2 orang dan Kabupaten Kupang 1 orang,” kata Kadis Kesehatan Provinsi NTT, drg. Dominikus Minggu Mere dalam jumpa pers di ruang media center kantor Gubernur NTT, Kamis (19/3/2020).

Menurut Dominikus, pasien yang dalam ODP adalah seseorang yang pernah berada di daerah yang terpapar, baik di dalam negeri maupun dari luar negeriyang pulang ke NTT sehingga mereka memeriksakan dirinya untuk memastikan apakah orang itu dalam kondisi sehat atau tidak.

“Jadi perlu dibedakan dengan pasien dalam status pengawasan, dimana pasiennya telah menunjukkan gejala-gejala seperti batuk, pilek, dan sesak nafas yang didukung dengan hasil rontengnya,” jelas Dominikus. (Jefri Tapobali)

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

[addtoany]
[addtoany]