Home / Daerah / Maraknya Aksi Premanisme di Pelabuhan, Ketua Porter Larantuka Angkat Bicara

Maraknya Aksi Premanisme di Pelabuhan, Ketua Porter Larantuka Angkat Bicara

440 Kali dibaca
Jimi Susanto Yusuf  Ketua Porter Larantuka.(foto/portalntt)
Jimi Susanto Yusuf Ketua Porter Larantuka.(foto/portalntt)

Bagikan Halaman ini

PORTALNTT.COM, LARANTUKA – Maraknya aksi premanisme di Pelabuhan laut Larantuka yang kini sedang dikeluhkan oleh semua pihak atas ketidaknyamanan mereka selama menggunakan jasa para porter dan jasa Tenaga Kerja Buruh Muat (TKBM) pelabuhan, membuat  Jimi Susanto Yusuf  Ketua Porter Larantuka angkat bicara.

Jimi Susanto mengatakan, Selama ini tugas Porter adalah melayani penumpang kapal PELNI. Porter yang terdaftar sebanyak 75 orang. Pada saat ada pembaharuan sehingga TKBM digabungkan bersama Porter untuk melayani setiap kapal PELNI yang masuk di Pelabuhan laut Larantuka. Sedangkan aksi premanisme yang terjadi di Pelabuhan Larantuka adalah mereka yang bukan porter.

“Persoalan yang terjadi di Pelabuhan seperti keributan akibat rebutan barang penumpang, pemerasan, tindakan intimidasi penumpang seperti yang diberitakan di berbagai media itu memang benar terjadi di Pelabuhan Larantuka. Tetapi saya mau katakan bahwa aksi premanisme bukan dilakukan oleh para porter tetapi dilakukan oleh oknum-oknum tertentu yang tidak bertanggung jawab,” kata Jimi Susanto Yusuf , kepada portalNTT di pelabuhan Larantuka, Jumat (23/12/2016).

Ia melanjutkan, hanya ada dua buruh yang melayani jasa para penumpang di pelabuhan Larantuka pada setiap Kapal PELNI yang masuk diantaranya Porter dan TKBM. Pada saat kapal PELNI masuk, oknum-oknum yang bukan porter tersebut lolos dari pantauan aparat keamanan. Ada yang melompat pagar masuk kedalam pelabuhan, ada calo yang mengatasnamakan porter. Hal-hal semacam inilah yang memicu keributan dalam area pelabuhan.

Ulah para calo atau oknum-oknum tersebut sering menaikan tarif muat barang penumpang, memaksa, memeras para penumpang ada yang sampai melakukan tindakan kekerasan pada para penumpang.

“Sering ada keributan antara para calo dan para porter akibat berebutan barang,ada juga para TKBM dengan para makelar penumpang bus,” lanjutnya.

Ketika ditanya terkait adanya jual beli tempat tidur yang dilakukan oleh Porter Larantuka sendiri, Jimi Susanto membantah hal tersebut.

“Pada umumnya masyarakat kita keliru. Bukan tempat tidur yang kita jual tetapi jasalah yang kita jual. Misalnya suami istri maunya cepat dapat  tempat tidur. Mereka meminta anak buah saya untuk memesan tempat tidur tersebut. Jika sudah mendapatkan, pasti ada uang jasa yang mereka berikan kepada anak buah saya. Tetapi kita tidak bisa mempersalahkan para penumpang atau masyarakat lain yang melihat hal ini  seolah-olah porter Larantuka sedang menjual tempat tidur,” tegas Jimi Susanto. (Ola)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini