Home / Profil / Ada apa dengan Anjing Kacili?

Ada apa dengan Anjing Kacili?

2368 Kali dibaca

Bagikan Halaman ini

[addtoany]
[addtoany]
Opini
Fr. Yudel Neno (Mahasiswa Teologi Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui Kupang)
Perkembangan dunia musik motif modern kini sulit dibendung. Rekayasa irama musik, rekayasa syair-syair nyanyian selalu bergerak melampaui maksud asli pengarangnya. Duplikat lagu dan musik pun dilancarkan dengan nekatnya. Lagu rohani bisa jadi lagu DJ. Lagu kebangsaan bisa jadi lagu dansa. Syair-syair lagu binatang bisa direkayasa sedemikian rupa menjadi lagu joget.
Salah satu lagu dan musik yang lagi viral khususnya di kalangan remaja kota Kupang ini adalah lagu dan joget anjing kacili. Konteks lagu yang memukau perhatian banyak orang ini mendorong para remaja tak segan-segan mempertontonkan goyangan sensual.
Pertanyaannya adalah ada apa dengan anjing kacili? Saya membayangkan jawabannya bahwa lagu dan musik tidak salah. Lalu siapa yang salah? Apakah orang tua karena kurang kontrol? Mengapa salah? Lalu mengapa terus dilakukan?
Inilah ciri khas dari modernitas yakni tingginya sikap subyektivitas manusia. Akal budi manusia bergerak menurut daya rangsang dan daya tarik. Akal budi manusia bergerak menurut kebebasannya sehingga unsur subyektivitas sangat tinggi. Tingginya sikap subyektivitas berpengaruh pula pada tingginya unsur relativisme. Sebagai generasi muda, apa yang mau dilakukan dengan sikap relativisme?
Dalam terang pemikiran ini, saya melihat peragaan tarian anjing kacili yang terlampau sensual merupakan suatu praktek relativisme di kalangan remaja. Mengapa disebut demikian? Karena ruang privasi dan ruang publik diperlakukan sama saja. Lagipula keinginan untuk mempertontonkan diri menunjuk pada lemahnya komitmen etiket sosial.
Para remaja tidak melanggar etiket dengan menari tetapi perilaku mereka mempertontonkan sebagian tubuh  privasi mereka melalui tarian ala sensual merupakan suatu fenomena degradasi moralitas kaum muda.
Membanggakan kamu muda dengan mental seperti ini sama halnya dengan merusakkan karakter mereka secara bertahap. Kalau Presiden Jokowi Widodo menyerukan tentang budaya sebagai nafas hidup bangsa maka apa yang mau dilakukan dengan peragaan tarian kaum remaja yang sama sekali kontra dengan tarian-tarian asli daerah?
Mari berbenah dan bersikap kritis terhadap tawaran era modern.

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

[addtoany]
[addtoany]