PORTALNTT.COM, KUPANG – Dewan Pengurus Cabang Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPC HKTI) Timor Tengah Utara (TTU) menyatakan dukungan penuh terhadap kepemimpinan Fernando Jose Osorio Soares di tubuh HKTI Nusa Tenggara Timur.
Dukungan tersebut disampaikan sebagai bentuk komitmen untuk memperkuat organisasi sekaligus mendorong pembangunan pertanian yang berpihak pada kepentingan petani.
Ketua DPC HKTI TTU, Kristo Haki, mengatakan kepemimpinan Fernando Soares diharapkan mampu membawa HKTI menjadi organisasi yang semakin dekat dengan persoalan nyata yang dihadapi petani.
Menurut Kristo, petani NTT membutuhkan lebih dari sekadar program. Mereka membutuhkan akses terhadap modal, teknologi, sarana produksi, pendampingan, serta pasar yang memberikan kepastian terhadap hasil usaha mereka.
“DPC HKTI TTU mendukung penuh kepemimpinan Fernando Soares. Kami ingin HKTI benar-benar hadir untuk petani, bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai wadah perjuangan dan penguatan ekonomi petani,” ujar Kristo usai dilantik menjadi ketua DPC HKTI TTU periode 2026-2031, di Hotel Harper Kupang, Selasa (15/9/2026).
Ia mengatakan, potensi pertanian NTT sangat besar. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan petani.
Karena itu, menurut Kristo, salah satu agenda penting HKTI ke depan adalah mendorong petani agar mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperoleh nilai tambah dari komoditas yang mereka hasilkan.
“Petani jangan hanya berhenti pada produksi. Kita harus dorong mereka naik kelas, memiliki akses pasar, mampu mengolah hasil pertanian dan mendapatkan nilai tambah dari produknya,” kata Kristo yang juga anggota DPRD TTU dari partai Gerindra.
Kristo juga menilai penguatan kelembagaan petani menjadi hal penting. Kelompok tani dan organisasi petani harus diperkuat agar memiliki posisi tawar yang lebih baik dalam mengakses pembiayaan, teknologi maupun pasar.
Ia berharap kepemimpinan Fernando Soares dapat memperkuat konsolidasi HKTI hingga ke tingkat kabupaten dan daerah, sehingga berbagai persoalan petani dapat dihimpun dan diperjuangkan secara lebih terarah.
“Ukuran keberhasilan HKTI bukan seberapa banyak kegiatan yang dilakukan, tetapi seberapa besar manfaatnya dirasakan petani. Kalau pendapatan petani meningkat, produktivitas meningkat, dan mereka memiliki pasar yang jelas, itu berarti HKTI hadir dengan benar,” ujar Kristo.
Menurut dia, NTT memiliki sejumlah komoditas pertanian yang berpotensi dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi daerah. Pengembangan tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, petani, perguruan tinggi, perbankan, dunia usaha dan berbagai pemangku kepentingan.
DPC HKTI TTU, kata Kristo, siap mengambil bagian dalam agenda tersebut dengan memperkuat basis organisasi dan membangun komunikasi dengan petani di daerah.
“Kami siap berjalan bersama. Harapannya, kepemimpinan Fernando Soares membawa perubahan nyata dan memastikan petani NTT benar-benar naik kelas,” kata Kristo.
Dukungan DPC HKTI TTU tersebut sekaligus menegaskan harapan agar HKTI ke depan tidak hanya menjadi wadah berhimpunnya petani, tetapi juga menjadi kekuatan yang mampu memperjuangkan kepentingan petani dari hulu hingga hilir.







