Ketika Janji Politik Menemukan Jalannya di Stasi YMY Liliba

  • Whatsapp

PORTALNTT.COM, KUPANG – Sore perlahan bergeser menuju malam ketika satu per satu warga mulai memenuhi halaman sebuah rumah di Kelurahan Liliba, Kota Kupang. Langit masih menyisakan semburat jingga, sementara lampu-lampu teras mulai dinyalakan, menerangi kursi-kursi plastik yang tersusun sederhana.

Tidak ada panggung megah ataupun protokoler yang kaku. Yang terdengar justru sapaan hangat antarwarga, percakapan tentang harapan-harapan yang ingin mereka titipkan kepada wakil rakyatnya.

Reses biasanya identik dengan daftar aspirasi dan tumpukan usulan pembangunan. Namun, pertemuan yang digelar Wakil Ketua DPRD Nusa Tenggara Timur, Fernando Jose Osorio Soares, menghadirkan suasana yang berbeda. Dialog berlangsung tanpa sekat, diselingi tawa, tepuk tangan, dan sesekali ungkapan syukur dari warga yang merasa diperhatikan.

Bagi Fernando, reses bukan sekadar memenuhi kewajiban sebagai anggota legislatif. Baginya, itu adalah saat untuk kembali kepada masyarakat yang telah menitipkan kepercayaan.

Di hadapan umat, ia menyampaikan bantuan kepada 24 Kelompok Umat Basis (KUB) stasi Yesus Maria Yosef (YMY) paroki St. Yosef Pekerja Penfui. Masing-masing KUB mendapat bantuan sebesar Rp5 juta.

Nominal itu mungkin tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan di KUB. Namun, bagi umat, bantuan tersebut menjadi titik awal dan bentuk kepedulian yang nyata seorang wakil rakyat pada konstituennya.

“Saya memberi bantuan Rp 5 juta kepada 24 KUB di stasi YMY,” kata Fernando disambut tepuk tangan meriah umat yang hadir dalam kegiatan reses, Selasa (30/6/2026).

Namun, kisah kepeduliannya terhadap Stasi YMY sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum bantuan untuk KUB diserahkan.

Saat mencalonkan diri sebagai anggota DPRD NTT, Fernando pernah menyampaikan sebuah komitmen kepada umat. Jika dipercaya menjadi wakil rakyat, ia akan ikut membantu pembangunan Gereja Katolik YMY.

Janji itu tidak berhenti sebagai slogan kampanye.

Setelah terpilih, ia mengambil bagian dalam membantu pembangunan gereja yang menjadi pusat kehidupan rohani umat di kawasan tersebut.

“Kalau masyarakat sudah memberikan kepercayaan kepada kita, maka janji itu harus diwujudkan. Saya bersyukur bisa ikut membantu pembangunan gereja ini,” ujarnya.

Bagi Fernando, rumah ibadah bukan sekadar bangunan. Gereja adalah ruang tempat iman dipelihara, persaudaraan dibangun, dan harapan masyarakat dirawat.

Karena itu, menurutnya, pembangunan rumah ibadah perlu berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi keluarga.

Pemikiran itulah yang melahirkan gagasan untuk memberdayakan kaum ibu dan Orang Muda Katolik (OMK) melalui bantuan modal usaha.

Namun, Fernando tidak ingin bantuan tersebut berhenti sebagai hibah yang habis dipakai.

Ia memilih skema dana bergulir, sehingga penerima memiliki tanggung jawab moral untuk mengembangkan usahanya. Ketika usaha itu tumbuh, dana dapat dimanfaatkan kembali oleh kelompok lain yang membutuhkan.

“Kalau dikelola dengan baik, manfaatnya akan terus bergulir. Yang menikmati bukan hanya satu kelompok, tetapi semakin banyak keluarga,” katanya.

Konsep itu mendapat sambutan positif dari warga.

Ketua Wilayah IV, V, dan Ketua Wilayah VI Stasi YMY mengaku bersyukur karena perhatian yang diberikan tidak hanya menyentuh pembangunan gereja, tetapi juga menyasar kehidupan ekonomi umat.

Menurut mereka, baru Fernando Soares yang secara nyata menunjukkan kepedulian terhadap pembangunan Stasi YMY sejak dirinya dipercaya menjadi anggota DPRD NTT.

“Kami bersyukur karena Bapak Fernando hadir bukan hanya ketika meminta dukungan, tetapi juga setelah dipercaya masyarakat. Kami berharap kepedulian seperti ini juga dilakukan oleh anggota DPRD lainnya sehingga semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya,” ujar perwakilan wilayah.

Ucapan itu disambut tepuk tangan umat yang memenuhi lokasi reses.

Di tengah berbagai tantangan ekonomi, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan. Mereka membutuhkan keyakinan bahwa masih ada pemimpin yang bersedia berjalan bersama mereka, mendengar keluhan mereka, dan berusaha menghadirkan solusi.

Kegiatan reses tersebut turut dihadiri Ketua DPRD Kota Kupang Richard Odja, Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Kupang Maria Rosalinda Uta Teku, serta Ketua Panitia Pembangunan Stasi YMY Zakarias Moruk.

Malam itu, warga memang membawa banyak aspirasi tentang lapangan kerja, pendidikan, usaha kecil, hingga pembangunan lingkungan. Namun, mereka pulang membawa sesuatu yang lebih penting: keyakinan bahwa politik masih dapat menghadirkan harapan ketika seorang wakil rakyat memandang jabatannya bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai sarana untuk melayani.

Di Stasi YMY Liliba, reses bukan sekadar agenda konstitusional. Ia menjelma menjadi pengingat bahwa kepercayaan rakyat tidak dibangun oleh pidato yang panjang, melainkan oleh kesediaan menepati janji, hadir di tengah masyarakat, dan terus menyalakan harapan, satu langkah kecil pada setiap kesempatan.

Komentar Anda?

Related posts