Home / Daerah / Kisah Pilu Janda Lansia, Hidup di Gubuk Reot Tanpa Tersentuh Terangnya Listrik Sejak Lahir

Kisah Pilu Janda Lansia, Hidup di Gubuk Reot Tanpa Tersentuh Terangnya Listrik Sejak Lahir

3899 Kali dibaca

Bagikan Halaman ini

[addtoany]
[addtoany]

PORTALNTT.COM, ROTE NDAO – Sungguh memilukan kisah hidup Nenek Sarlin Bue (73) seorang janda miskin lanjut usia (lansia) Warga Dusun Kimadale, Desa Pengodua Kec. Rote Timur, Kab Rote Ndao.

Ia hidup sendiri di gubuk reot ketika ditinggal mendiang suaminya. Di gubuk tempat berlindung dari panasnya mentari di siang hari dan dingginya malam, tak ada cahaya listrik. Rupanya Nenek Sarlin sudah semenjak dilahirkan belum pernah menikmati terangnya cahaya listrik di malam hari.

Untuk bertahan hidup, nenek Sarlin mengantungkan diri pada ketrampilan menenunnya yang sudah lama ia geluti. Tenunan hasil karyanya banyak diminati karena menggunakan pewarna alami.

Hidup dalam serba keterbatasan, nenek Sarlin tak pernah tersentuh bantuan pemerintah. Namun baru-baru ini di tengah situasi sulit akibat pandemik Covid-19, ada angin segar menghampiri hidupnya. Ia kebagian dana Bantuan Langsung Tunai Covid-18 dari pemerintah desa setempat.

Kisah hidup Nenek Sarlin rupanya mengundang simpati beberapa pihak yang begitu peduli akan derita yang telah dijalani puluhan tahun lamanya.

Gubuk reot yang tak layak huni itu akhirnya dibedah menjadi rumah tingal yang layak huni. Selain itu melalui Program PLN Peduli, nenek Sarlin yang sudah 73 tahun tidak pernah menikmati penerangan listrik kini bisa menikmatinya.

Jianfri Elim, salah satu pengusaha di Rote Ndao yang menjadi inisiator pemberian bantuan mengakui apa yang diberikan semata-mata karena kepedulian beberapa pihak, seperti, Yayasan Tani Tenun Jakarta, Kapolres Rote Ndao, Yandre Nggebu (Jakarta), Wakil ketua DPRD Rote Ndao Paulus Henuk dan beberapa pengusaha lokal di Rote Ndao, dan Bapak Arya, SPV Tehnik PLN ULP Rote Ndao.

“Ketika kami konfirmasi Sabinus Tawur selaku Manager PLN ULP Rote Ndao melalui Bapak Arya selaku SPV Tehnik, pihak PLN pun merasa terpanggil untuk turut serta membantu dengan menyiapkan meteran dengan daya 450 watt sebagai bentuk kepedulian kami, bahkan beliau berjanji kedepan jika masih ada yang layak di bantu maka pihaknya selalu siap untuk membantu,” ujar Jianfri.

Sementar itu Nenek Sarlin Bue yang biasa di panggil Nenek Lin ketika ditemui media ini di kediamanya, mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang membantu. Ia hanya bisa mendoakan para pihak yang telah ikhlas membantu dirinya.

“Trimakasih untuk yang sudah bantu. Nenek sudah dapat rumah, dapat tempat tidur, dapat lemari, dapat listrik,” ungkap Nenek Lin, dengan mata berkaca-kaca.

Kini Nenek Lin bisa melakukan kegiatan menenun di malam hari dengan bantuan penerangan cahaya listrik. (Daniel Timu)

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

[addtoany]
[addtoany]