PORTALNTT.COM, KUPANG – Pelantikan empat wakil rektor baru Universitas Nusa Cendana (Undana) menjadi momentum bagi Rektor Prof Jefri S. Bale untuk menegaskan kembali makna kepemimpinan di lingkungan perguruan tinggi. Di hadapan para pejabat yang baru dilantik, ia mengingatkan bahwa jabatan bukanlah simbol kekuasaan, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan semangat melayani.
Empat pejabat yang dilantik tersebut adalah Prof. Dr. drh. Annytha I. R. Detha, M.Si. sebagai Wakil Rektor I Bidang Akademik, Prof. Dr. Paul Gabriel Tamelan, M.Si. sebagai Wakil Rektor II Bidang Umum dan Keuangan, Dr. Rudi Rohi, S.H., M.Si. sebagai Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, serta Prof. Philiphi de Rozari, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D. sebagai Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Kerja Sama, Sistem Informasi, dan Hubungan Masyarakat. Keempatnya akan mendampingi rektor dalam menjalankan roda kepemimpinan Undana.
Dalam sambutannya, Prof Jefri menekankan bahwa pemimpin yang baik tidak boleh terjebak dalam apa yang ia sebut sebagai paradoks kekuasaan, yakni kondisi ketika seseorang kehilangan kerendahan hati dan kepekaan setelah memperoleh jabatan.
“Saya berharap hal itu tidak terjadi dalam kepemimpinan kita. Jabatan yang kita emban adalah amanah untuk membawa universitas menjadi lebih baik. Karena itu, kita harus tetap komunikatif dan rendah hati. Dua hal inilah yang akan menjaga kita agar tidak terlena oleh kekuasaan,” ujar Prof Jefri dalam sambutannya, Senin (29/6/2026).
Menurut dia, kepemimpinan di perguruan tinggi bukan sekadar menjalankan fungsi administratif, melainkan memastikan seluruh kebijakan bermuara pada peningkatan mutu pendidikan, pelayanan kepada mahasiswa, serta kemajuan institusi.
Prof Jefri mengaku optimistis empat wakil rektor yang baru dilantik mampu mengemban tanggung jawab tersebut. Menurutnya, mereka bukan wajah baru di lingkungan Undana, melainkan sosok yang telah memiliki rekam jejak, pengalaman, integritas, dan kapasitas kepemimpinan.
“Saya percaya pada integritas, kualitas, dan semangat inklusif yang dimiliki Bapak dan Ibu. Amanah ini adalah kesempatan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi universitas,” katanya.
Rektor juga mengingatkan bahwa setiap pemimpin harus siap menghadapi kritik. Mengutip prinsip kepemimpinan yang disampaikan Presiden Prabowo, Prof Jefri mengatakan seseorang yang ingin terhindar dari kritik hanya perlu memilih untuk tidak mengatakan apa pun, tidak melakukan apa pun, dan tidak menjadi apa pun.
“Namun, itu bukan pilihan bagi seorang pemimpin. Kalau kita ingin membawa perubahan, maka kita harus siap dikritik, difitnah, bahkan dihujat. Itulah risiko kepemimpinan,” ujarnya.
Karena itu, ia meminta para wakil rektor tidak larut dalam penilaian negatif, tetapi menjadikan setiap kritik sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki kinerja dan pelayanan kepada sivitas akademika.
“Jangan terlalu reaktif terhadap kritik. Terima semua masukan, kemudian lakukan perbaikan. Itu yang terpenting,” katanya.
Selain kesiapan menerima kritik, Prof Jefri menegaskan bahwa pemimpin juga harus memiliki keberanian menghadapi persoalan. Menurut dia, jabatan yang diemban akan selalu diiringi dengan berbagai tantangan yang menuntut keputusan dan penyelesaian.
Ia kemudian memperkenalkan prinsip kepemimpinan yang menurutnya harus menjadi pegangan setiap pimpinan Undana, yakni “Know the problem, face the problem, and solve the problem.”
“Masalah itu harus dihadapi. Kalau belum selesai hari ini, selesaikan besok. Kalau tidak bisa diselesaikan sendiri, libatkan orang lain. Jangan biarkan persoalan menumpuk,” ujarnya.
Prof Jefri mengakui bahwa sebagian besar orang yang datang menemui seorang pemimpin biasanya membawa persoalan yang membutuhkan solusi. Karena itu, seorang pemimpin dituntut memiliki ketangguhan, ketenangan, dan kemampuan mengambil keputusan.
Di tengah kompleksitas persoalan tersebut, ia mengajak para wakil rektor untuk terus melakukan refleksi terhadap diri sendiri. Menurutnya, setiap pemimpin perlu bertanya, “Are you the problem?” dan “Have I done the right thing?”
“Dua pertanyaan itu penting agar kita memastikan bahwa keputusan yang kita ambil tetap berada di jalur yang benar. Jangan sampai justru diri kita sendiri yang menjadi sumber persoalan,” ujarnya.
Pada akhir sambutannya, Prof Jefri meminta keempat wakil rektor segera beradaptasi dengan tanggung jawab baru dan memperkuat kolaborasi lintas unit. Menurutnya, Wakil Rektor I bertanggung jawab menjaga mutu akademik sebagai inti penyelenggaraan universitas, Wakil Rektor II memastikan tata kelola sumber daya dan keuangan berjalan baik, Wakil Rektor III mengembangkan pembinaan mahasiswa dan jejaring alumni, sedangkan Wakil Rektor IV memperkuat perencanaan, kerja sama, transformasi sistem informasi, dan hubungan masyarakat sebagai wajah institusi.
“Saya yakin Bapak dan Ibu memiliki kapasitas untuk menjalankan amanah ini. Mari kita bekerja bersama, saling mendukung, dan memberikan pelayanan terbaik bagi Universitas Nusa Cendana. Jabatan ini bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang pengabdian,” tutup Rektor Undana, Prof Jefri S. Bale.







