Seri Refleksi Kepemimpinan Baru di Universitas Nusa Cendana
Beberapa waktu terakhir saya sering merenungkan satu pertanyaan sederhana. Mengapa ada universitas yang terus berkembang dan semakin dipercaya masyarakat, sementara ada pula yang berjalan lebih lambat, padahal keduanya memiliki sumber daya yang hampir sama? Pertanyaan itu belum tentu memiliki satu jawaban. Namun, semakin lama saya mengamati, semakin saya meyakini bahwa salah satu jawabannya terletak pada kualitas keputusan yang diambil setiap hari. Refleksi inilah yang mendorong saya menulis tulisan ini.
Setelah puluhan tahun menjadi bagian dari Undana, pernah mengemban beberapa amanah jabatan tugas tambahan, dan kini mengoordinasikan Divisi Manajemen Risiko pada SPI, saya semakin yakin bahwa tantangan terbesar universitas bukan sekadar menyusun program, melainkan membangun cara berpikir yang menjaga keberlanjutan institusi.
Momentum pengisian jabatan Wakil Rektor menjadi kesempatan yang tepat untuk melakukan refleksi bersama. Bukan semata tentang hadirnya pemimpin baru, tetapi tentang bagaimana kita memperkuat cara berpikir yang akan melandasi setiap keputusan organisasi.
Dalam beberapa tahun terakhir, Undana terus menunjukkan komitmen melakukan berbagai pembenahan. Di bawah kepemimpinan Rektor, Prof. Dr. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., fondasi transformasi kelembagaan terus diperkuat melalui penguatan tata kelola, peningkatan budaya akademik, pengembangan jejaring kerja sama, serta berbagai upaya peningkatan mutu. Fondasi tersebut menjadi modal yang sangat berharga bagi perjalanan Undana ke depan.
Kehadiran para Wakil Rektor yang baru bukanlah awal perjalanan yang baru, melainkan kesempatan memperkuat fondasi yang telah dibangun agar Undana semakin unggul, adaptif, dipercaya masyarakat, dan memberi manfaat yang lebih luas.
Di tengah perubahan dunia pendidikan tinggi yang berlangsung begitu cepat, saya semakin percaya bahwa kualitas sebuah universitas tidak hanya ditentukan oleh apa yang dikerjakan, tetapi juga oleh bagaimana setiap keputusan dibuat. Hampir setiap hari kita menyusun program, menetapkan kebijakan, dan mengambil berbagai keputusan. Namun jarang sekali kita berhenti sejenak untuk bertanya, apakah keputusan yang kita ambil hari ini benar-benar sedang memperkuat masa depan Undana?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi menurut saya justru menjadi inti dari kepemimpinan. Universitas yang berkelanjutan tidak dibangun oleh satu keputusan besar yang diambil pada waktu tertentu. Universitas dibangun oleh ribuan keputusan kecil yang dilakukan setiap hari. Keputusan seorang dosen ketika membimbing mahasiswa. Keputusan seorang tenaga kependidikan ketika memberikan pelayanan. Keputusan seorang ketua program studi ketika menyusun kurikulum. Keputusan seorang dekan ketika menentukan prioritas fakultas. Hingga keputusan para pimpinan universitas ketika menetapkan arah kebijakan.
Keputusan-keputusan kecil itulah yang perlahan membentuk wajah Undana pada masa depan. Karena itu, saya semakin yakin bahwa keberlanjutan institusi tidak hanya ditentukan oleh kualitas program kerja, tetapi oleh kualitas cara berpikir yang melahirkan setiap keputusan tersebut.
Bagi saya, manajemen risiko tidak dimulai dari dokumen, melainkan dari kebiasaan berhenti sejenak sebelum mengambil keputusan. Bertanya…, apakah keputusan ini benar-benar membawa manfaat yang lebih besar daripada risikonya? Dari kebiasaan sederhana itulah lahir keputusan yang lebih matang dan bertanggung jawab.
Dalam pengalaman saya, budaya organisasi tidak pernah berubah hanya karena adanya aturan baru. Budaya berubah ketika orang-orang di dalamnya mulai membiasakan cara berpikir yang berbeda. Perubahan kecil yang dilakukan terus-menerus sering kali jauh lebih kuat daripada perubahan besar yang hanya terjadi sesaat.
Saya membayangkan akan sangat baik apabila setiap forum pengambilan keputusan diawali dengan tiga pertanyaan sederhana. Apa tujuan yang ingin kita capai? Apa yang mungkin menghambatnya? Dan apa yang dapat kita lakukan agar hambatan tersebut tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar?
Tiga pertanyaan sederhana itu mungkin tampak biasa. Namun,jika dilakukan secara konsisten, ia akan membentuk kebiasaan berpikir yang melahirkan keputusan yang lebih matang dan bertanggung jawab.
Menurut saya, inilah makna terdalam dari kepemimpinan. Kepemimpinan bukan hanya tentang kemampuan menyusun program, melainkan kemampuan memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil hari ini tetap memberikan manfaat bagi universitas pada masa yang akan datang. Dengan cara itulah setiap periode kepemimpinan tidak sekadar menghasilkan capaian, tetapi juga memperkuat fondasi bagi kemajuan berikutnya.
Saya optimistis Undana memiliki seluruh modal untuk terus berkembang. Fondasi transformasi yang terus diperkuat di bawah kepemimpinan Rektor Prof. Dr. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng. menjadi pijakan yang kokoh bagi perjalanan institusi. Kehadiran para Wakil Rektor yang baru merupakan bagian penting untuk memperkuat sinergi tersebut, sehingga setiap kebijakan, program, dan inovasi semakin selaras dengan visi besar Undana.
Namun, sesungguhnya, keberhasilan perjalanan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab Rektor dan para Wakil Rektor. Masa depan Undana juga dibangun oleh setiap dosen yang mendidik dengan penuh integritas, setiap tenaga kependidikan yang memberikan pelayanan terbaik, setiap pimpinan unit yang mengambil keputusan secara adil, serta setiap mahasiswa yang menjaga nilai-nilai akademik. Universitas dibangun oleh ribuan keputusan kecil yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab setiap hari.
Karena itu, keberlanjutan sebuah universitas tidak ditentukan oleh siapa yang sedang memimpin ataupun berapa lama masa kepemimpinannya. Keberlanjutan dibangun ketika setiap pemimpin, pada setiap periode kepemimpinannya, mampu memperkuat fondasi yang telah ada, melakukan perbaikan yang diperlukan, serta membuka ruang bagi lahirnya kemajuan berikutnya. Dengan cara itulah universitas terus bertumbuh tanpa kehilangan arah.
Pada akhirnya, kualitas sebuah universitas tidak hanya tercermin dari prestasinya, tetapi juga dari nilai-nilai yang hidup di dalamnya: berpikir sebelum memutuskan, belajar sebelum menyimpulkan, berkolaborasi, dan selalu menempatkan kepentingan institusi di atas kepentingan sesaat.
Semoga refleksi sederhana ini menjadi pengingat bahwa setiap keputusan selalu meninggalkan jejak. Ada keputusan yang hanya menyelesaikan pekerjaan hari ini, tetapi ada pula yang membangun masa depan sebuah institusi. Jika kita terus membiasakan diri berpikir sebelum memutuskan, berani melihat peluang sekaligus memahami risikonya, serta selalu menempatkan kepentingan Undana di atas kepentingan sesaat, saya yakin keberlanjutan bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan budaya yang hidup dalam setiap langkah kita bersama.
•Penulis: Prof. Dr. Ir. D. Roy Nendissa, M.P., CRA., CRP., C.SEPro.
• Guru Besar Bidang Ekonomi Pertanian/Pemasaran Agribisnis, Universitas Nusa Cendana
• Koordinator Divisi Manajemen Risiko pada Satuan Pengawas Internal (SPI) Undana







