Oleh : Hyasintus Gergorius Liku
Di tengah derasnya arus digital dan minimnya akses literasi di daerah terpencil, kehadiran rumah baca menjadi oase yang menghidupkan kembali harapan pendidikan. Di Desa Saenam, Kecamatan Miomafo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, sebuah rumah baca sederhana berdiribukan sekadar sebagai tempat menyimpan buku, tetapisebagai ruang menanam mimpi dan membangkitkan semangatanak-anak untuk mengenal dunia lewat kata. Rumah baca inimenjadi simbol bahwa keterbatasan bukan halangan untuktumbuh, melainkan tantangan untuk ditaklukkan bersama.
Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada tahun 2023, tingkat kegemaran membaca (TGM) masyarakat NTT tercatatsebesar 60,53 poin, yang dikategorikan dalam kategori”sedang”. Meskipun ada peningkatan dibandingkan tahunsebelumnya, angka ini masih menunjukkan bahwa minat bacamasyarakat NTT perlu terus ditingkatkan.
Selain itu, hasil survei literasi digital yang dilakukan pada Januari dan Mei 2023 menunjukkan bahwa masyarakat NTT semakin mengukuhkan kemahiran digital mereka. Survei inimelibatkan 640 responden dari berbagai kelompok usia di wilayah-wilayah utama NTT, seperti Kota Kupang, Alor, dan Timur Tengah Selatan. Meskipun demikian, penting untukdicatat bahwa literasi digital dan literasi membaca memilikifokus yang berbeda, dan peningkatan keduanya memerlukanpendekatan yang spesifik.
Keberadaan Rumah Baca Desa Saenam menjadi sangatstrategis dan krusial sebagai titik awal menumbuhkan minatbaca dan membuka cakrawala pengetahuan bagi anak-anak di daerah ini. Dengan dukungan dari masyarakat desa, aparatdesa, serta Kepala Desa Fransiskus Xaverius Nofu, rumahbaca ini diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkanliterasi membaca di NTT.
Pentingnya rumah baca sebagai pusat literasi semakindiperkuat oleh pendapat ahli bahasa Dr. Lanny Isabela Dwisyahri Koroh, M.Hum, (2024) menyatakan bahwa literasidasar disadari oleh semua pihak yang terlibat sebagai kuncijembatan menuju generasi emas. Ia menegaskan bahwaperhatian yang serius terhadap pengembangan literasi dasardapat menghapus keterbelakangan ilmu pengetahuan yang masih terjadi di wilayah seperti Nusa Tenggara Timur. Pernyataan ini sangat relevan dengan konteks Desa Saenam, di mana keterbatasan akses informasi dan buku masih menjaditantangan nyata. Rumah Baca Desa Saenam menjadi salah satu bentuk nyata dari perhatian itu—sebuah inisiatif lokalyang menjawab kebutuhan mendasar akan literasi sebagaibekal penting bagi generasi masa depan.
Lebih lanjut, Dr. Lanny juga mengingatkan bahwa literasimasa kini adalah fondasi bagi generasi emas masa depan.Artinya, kegiatan membaca dan belajar tidak boleh lagidianggap sebagai aktivitas tambahan, melainkan kebutuhanpokok dalam membangun kualitas hidup masyarakat. Dalamkonteks ini, Rumah Baca Desa Saenam tidak hanyamenyediakan buku, tetapi juga menghidupkan semangatbelajar, berpikir kritis, dan menciptakan ruang tumbuh bagipotensi anak-anak maupun warga desa secara umum. Upayayang dilakukan oleh pemerintah desa, masyarakat, dan para relawan menunjukkan bahwa membangun masa depan yang lebih baik dapat dimulai dari hal sederhana yaitu membukabuku dan membagikan pengetahuan.
Rumah Baca Desa Saenam bukan hanya tempat membaca, tetapi juga menjadi pusat kegiatan belajar informal yang melibatkan anak-anak, remaja, dan warga desa. Melaluikegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilaksanakan oleh mahasiswa Universitas Citra Bangsa, khususnya mahasiswa FKIP (2025) dengan berbagai program literasi dan edukasidigelar secara aktif dan menyenangkan. Kehadiran mahasiswaini disambut hangat oleh camat Miomafo Barat, YasintusNaben, S.IP, yang menyatakan dukungannya terhadap upayapeningkatan mutu pendidikan melalui kegiatan-kegiatanseperti ini. Menurutnya, Rumah Baca di Saenam adalahlangkah kecil yang berdampak besar, terutama dalammembangun generasi muda yang cerdas, kritis, dan berkarakter.
Pengelolaan rumah baca ini berada langsung di bawahtanggung jawab Pemerintah Desa Saenam dan didukungpenuh oleh masyarakat desa. Pemerintah desa tidak hanyamenyediakan sarana dan prasarana dasar, tetapi juga menunjuk pengelola khusus yang bertugas mengatur jadwalkegiatan, merawat koleksi buku, serta menjalin kerja samadengan relawan dan pihak luar. Pemerintah desa menunjukkankomitmen yang tinggi dalam menjaga keberlangsungan rumahbaca ini sebagai bagian dari upaya membangun kualitassumber daya manusia desa. Sinergi antara masyarakat, aparatdesa, dan pemerintah desa menjadikan rumah baca sebagaiprogram unggulan di bidang pendidikan nonformal yang terusdikembangkan agar dapat menjangkau lebih banyak wargadan menciptakan budaya literasi yang kuat di tengahmasyarakat.
Anak-anak di Desa Saenam kini mulai terbiasa menyapa bukulayaknya sahabat. Mereka datang dengan penuh antusias kerumah baca, duduk melingkar sambil mendengarkan cerita, membaca bersama, dan menggambar mimpi mereka dalamlembar-lembar kertas. Di tempat sederhana ini, merekamenemukan ruang yang aman untuk berimajinasi, bertanya, dan mengenal dunia di luar desa mereka. Buku-buku yang tersedia menjadi jendela yang membuka wawasan dan menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap banyak hal baru.
Menariknya, rumah baca ini tidak hanya menjadi tempatbelajar bagi anak-anak. Remaja, orang dewasa, bahkan para orang tua pun mulai terlibat aktif. Mereka datang untukmembaca, berdiskusi, atau sekadar menemani anak-anakmereka. Lebih dari itu, rumah baca Desa Saenam juga terbukauntuk siapa saja yang ingin mampir pendatang, relawan, mahasiswa KKN, atau siapa pun yang ingin berbagi dan belajar bersama. Rumah baca ini telah menjadi ruang inklusifyang menghapus sekat usia, latar belakang, dan status sosial, menjadikannya sebagai pusat kebersamaan dan pertumbuhankolektif masyarakat.
Inisiatif ini secara perlahan mengubah cara pandangmasyarakat terhadap buku dan pendidikan. Kehadiran rumahbaca membangkitkan kembali semangat gotong royong, solidaritas, dan kepedulian antarwarga. Buku bukan lagibenda asing yang membosankan, tetapi simbol harapan dan perubahan. Rumah baca di Desa Saenam telah membuktikanbahwa dari tempat terpencil sekalipun, cahaya literasi bisamenyala terang, memberi harapan, dan menyemai masa depanyang lebih baik bagi siapa saja yang mau belajar dan bermimpi.
Harapannya, Rumah Baca Desa Saenam dapat terus tumbuhdan berkembang, tidak hanya sebagai ruang membaca, tetapijuga sebagai pusat pengembangan potensi masyarakat desa. Diperlukan dukungan nyata dari pemerintah, tokohmasyarakat, dan semua pihak agar rumah baca ini tidak hanyamenjadi simbol, tetapi juga menjadi fondasi kokoh dalammencetak generasi masa depan yang siap bersaing, tanpamelupakan akar budaya dan kearifan lokal mereka. Saenammungkin berada di sudut peta, tetapi dari sudut kecil ini, mimpi-mimpi besar sedang disemai.
Catatan penulis:
Penulis adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Citra Bangsa Kupang. Tulisan ini dibuat sebagai bentuk kepedulian terhadappentingnya literasi dasar di daerah terpencil serta doronganuntuk terus mengembangkan potensi rumah baca sebagaipusat pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat desa. Penulis percaya bahwa dari tempat sederhana seperti RumahBaca Saenam, lahir benih-benih perubahan menuju generasiemas Indonesia.







