Home / Daerah / Merubah Seks Menjadi Seksualitas

Merubah Seks Menjadi Seksualitas

160 Kali dibaca

Bagikan Halaman ini

[addtoany]
[addtoany]

OPINI

 


Penulis: Drs. Fransiskus Sili, MPd, Guru SMK Negeri 5 Manado

 

Dulu seks dianggap tabu. Berpuluh-puluh tahun orang tenggelam dalam diam tentang seks, atau segala yang berhubungan dengannya. Tetapi sekarang seks dan semua yang berkaitan dengannya dengan terbuka dapat diakses dan sering tanpa filter. Orang menikmati seks seperti makan minum saja tetapi tidak peduli akan adanya tanggungjawab yang lebih besar akan nilai manusia.

Penggebrekan berbagai tempat  praktek aborsi ilegal  menantang kita untuk memaknai kembali seks dan seksualitas dengan suatu tanggungjawab.

Seks dalam pengertian yang sempit berarti kelamin. Yang termasuk di dalamnya, alat kelamin itu sendiri, anggota-anggota tubuh, dan ciri badaniah yang membedakan laki-laki dan wanita, kelenjar dan hormon-hormon dalam tubuh yang mempengaruhi bekerjanya alat-alat kelamin, hubungan kelamin (senggama, bersetubuh).

Namun dari artinya yang luas, yaitu segala hal yang terjadi sebagai akibat dan konsekuensi dari perbedaan itu, yang nampak dalam perbedaan tingkah laku, perbedaan peran dan kerja, hubungan antar pria dan wanita : cinta, kasih sayang, pelayanan, tata krama.

Seks dalam artinya yang luas ini disebut ‘seksualitas’. Seks hanyalah berarti alat atau jenis, sedangkan seksualitas, di samping mencakup alat kelamin, juga berarti segala sifat dan kecenderungan yang berhubungan dengan identitas, entah sebagai pria atau wanita. Dengan demikian, seksualitas dalam artinya yang sebenarnya adalah pernyataan jasmani dari cinta kasih pria atau wanita, untuk menyatakan cinta kasih mereka satu sama lain. Karena itu seksualitas tak dapat dipikirkan terlepas dari cinta kasih. Setiap manusia sejak lahirnya sudah mendapat berbagai anugerah, juga untuk mencintai dan dicintai. Dengan demikian, seksualitas merupakan suatu kemungkinan, suatu kekuatan dasar untuk mencintai.

Dalam cinta manusia yang sejati, kemanusiaan ini memainkan peranan yang mutlak. Hal ini dapat dimengerti kalau seksualitas (dalam arti luasnya) sebagai kodrat pria dan wanita untuk mencintai seperti itu. Tak seorang pun manusia dalam hidupnya dapat terpisah dari kodratnya sebagai pria dan wanita. Sebab itu setiap pertemuan manusia, seksualitas memainkan peranannya juga. Seksualitas dalam arti ini merupakan sumber utama dari hidup manusia, suatu kepribadian yang tertuju kepada orang lain, ‘suatu engkau’.

Terdapat juga hubungan antara cinta dan seksualitas. Dan hal ini perlu kita perhatikan juga karena cinta dan seksualitas begitu dekatnya, sehingga mudah terjadi kekaburan antara keduanya. Tidak benar bila orang mengatakan cinta dan seksualitas itu berlangsung bersama. Juga tidak benar bahwa cinta hanya dapat dipertahankan dan dinyatakan dengan seksualitas. Dalam hal ini terdapat beberapa pendapat mengenai hubungan cinta dan seksualitas.

Pendapat pertama, mengatakan bahwa cinta tanpa seksualitas tidak mungkin. Mereka yang menganut paham ini berpendapat bahwa cinta hanya dapat diwujudkan melalui seksualitas, khususnya persetubuhan. Namun bagaimana dengan cinta itu sendiri? Apakah dengan akibat yang tak disangka (misalnya kehamilan yang tak diinginkan lalu aborsi), cinta itu tetap bermutu tinggi? Di sinilah letaknya kekeliruan pendapat itu, yang menekankan ikatan cinta semata-mata sebagai suatu perbuatan seksualitas.

Pendapat yang lain mengatakan bahwa seksualitas tanpa cinta. Pandangan ini akhir-akhir ini banyak diambil sebagai alasan yang membenarkan kehidupan seks bebas dan aborsi. Mereka menyatakan bahwa manusia membutuhkan pemuasan dorongan seks yang dianggapnya sebagai suatu proses biasa, seperti halnya soal makan-minum, melepaskan lelah dan sebagainya. Hidup kembali ke alam hewan, dimana hewan merupakan bagian yang terikat dari putaran kehidupan alam.

Manusia dijadikan sebagai bagian dari makhluk alam yang mengikuti perputaran roda kehidupan, tanpa perasaan dan keinginan sendiri, tanpa nilai dan norma, tanpa budaya dan tanggungjawab.

Dengan kata lain, pendapat tersebut kurang menghargai kelebihan manusia dibandingkan dengan hewan, dan mengabaikan kelebihan manusia sebagai makhluk satu-satunya yang bebas bertindak namun dengan tanggung jawabnya. Apabila dilihat dari sudut pandangan ini, penggunaan istilah seksualitas kurang tepat, lebih tepat dorongan seks.

Tampaklah bahwa ‘seks’ itu terutama yang berhubungan dengan jenis kelamin dan prosesnya: itulah seks dalam arti sempit. Sedangkan dalam arti luasnya, yang mencakup berbagai segi dan dimensi, itulah seksualitas. Hal ini sejalan dengan revisi arti seksualitas dan perkawinan menurut ajaran Gereja Katolik. Revisi ini terutama terjadi dalam Konsili Vatikan II.

Dibandingkan dengan pernyataan-pernyataan Magisterium sebelumnya, ajaran tentang seksualitas dan perkawinan dalam Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes jelas mengalami kemajuan besar, terutama dengan ditonjolkannya visi personalisme seksualitas dan perkawinan karena menekankan aspek penghormataan atas martabat pribadi manusia.

Salah satu gagasan sentral yang mendasari ajaran Vatikan II ialah kedudukan manusia sebagai persona, citra Allah, yang berpartisipasi dalam subyektivitas Allah, mengatasi dan mengatur dunia ini demi kemajuan dan kesejahteraan manusia. Pria dan wanita memang diciptakan untuk saling melengkapi, tetapi Hendaknya diingat bahwa saling melengkapi di sini, bukan saja dalam arti secara jasmani, tetapi juga terutama secara khas manusiawi, kodratnya sebagai manusia, sebagai makhluk yang berakal budi, perasaan dan kehendak bebas, tetapi ada tanggungjawabnya dan semuanya sesuai dengan jenis kelamin yang mewarnai seluruh kepribadian kita. Dalam arti inilah kebebasan dan tanggungjawab tidak terpisahkan.

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

[addtoany]
[addtoany]