Pemkot Kupang dan Pemuda Katolik Gelar Edukasi Pencegahan Kekerasan Seksual Berbasis Elektronik

  • Whatsapp

PORTALNTT.COM, KUPANG – Pemerintah Kota Kupang berkolaborasi dengan Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcab) Kota Kupang menggelar kegiatan edukasi dengan mengangkat tema “Cegah Kekerasan Seksual Berbasis Elektronik melalui Literasi Digital, Nilai Moral, dan Kesehatan Psikologi.” Kegiatan tersebut berlangsung di Aula KSP Solidaritas Kota Kupang dan diikuti oleh Orang Muda Katolik (OMK) dari berbagai paroki serta mahasiswa dan mahasiswi STIPAS Keuskupan Agung Kupang.

Kegiatan ini menjadi ruang edukasi dan dialog bagi kaum muda untuk meningkatkan pemahaman mengenai bahaya kekerasan seksual berbasis elektronik yang semakin berkembang seiring dengan pesatnya penggunaan teknologi dan media sosial.

Ketua Pemuda Katolik Komcab Kota Kupang, Valentinus Kopong Masan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa perkembangan teknologi digital memberikan banyak manfaat bagi kehidupan generasi muda, namun di sisi lain juga menghadirkan berbagai tantangan dan risiko yang perlu diwaspadai.

Menurut Valentinus, kekerasan seksual berbasis elektronik dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari penyebaran konten intim tanpa persetujuan, pelecehan melalui media sosial, pemaksaan, ancaman, hingga tindakan manipulatif yang memanfaatkan ruang digital.

Karena itu, literasi digital menjadi salah satu hal penting yang harus dimiliki oleh generasi muda. Literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga menyangkut kemampuan untuk bersikap bijak, bertanggung jawab, menghormati privasi orang lain, serta memahami konsekuensi dari setiap aktivitas di ruang digital.

Ia juga menekankan pentingnya penguatan nilai moral dan karakter dalam kehidupan kaum muda. Menurutnya, kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan kematangan moral dan kemampuan mengendalikan diri.

“Generasi muda harus mampu menggunakan teknologi secara cerdas, sehat, dan bertanggung jawab. Jangan sampai teknologi yang seharusnya menjadi sarana untuk membangun dan mengembangkan diri justru digunakan untuk merendahkan, menyakiti, atau mengeksploitasi orang lain,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Selain aspek literasi digital dan moral, kesehatan psikologis juga menjadi perhatian penting. Korban kekerasan seksual berbasis elektronik dapat mengalami tekanan psikologis yang serius, seperti rasa takut, malu, kehilangan kepercayaan diri, kecemasan, hingga trauma.

Oleh karena itu, Valentinus mendorong agar kaum muda tidak takut untuk berbicara dan mencari pertolongan apabila mengalami atau mengetahui adanya tindakan kekerasan seksual di ruang digital. Lingkungan keluarga, komunitas, lembaga pendidikan, Gereja, serta pemerintah diharapkan dapat menjadi ruang yang aman bagi korban untuk mendapatkan pendampingan.

Sementara itu, Wali Kota Kupang yang diwakili Kepala Dinas Perhubungan Kota Kupang, Benediktus Mere, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif Pemuda Katolik Komcab Kota Kupang yang telah mengambil bagian dalam upaya membangun kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terkait pencegahan kekerasan seksual berbasis elektronik.

Menurutnya, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang generasi muda. Upaya tersebut tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi kepemudaan, lembaga keagamaan, lembaga pendidikan, keluarga, dan komunitas.

Benediktus menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital harus dimanfaatkan untuk hal-hal positif dan produktif. Kaum muda perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan agar mampu mengenali berbagai bentuk kekerasan dan kejahatan di ruang digital serta mengetahui langkah yang tepat ketika menghadapi persoalan tersebut.

Ia juga mengajak seluruh peserta untuk menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada peserta, tetapi dapat diteruskan kepada teman sebaya, keluarga, komunitas, dan masyarakat luas.

“Pencegahan kekerasan seksual membutuhkan kesadaran bersama. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, organisasi kepemudaan, Gereja, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat menjadi sangat penting,” demikian inti pesan Wali Kota Kupang yang disampaikan melalui sambutan perwakilannya.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Orang Muda Katolik (OMK) perwakilan dari setiap paroki di Kota Kupang serta mahasiswa dan mahasiswi STIPAS Keuskupan Agung Kupang. Kehadiran kaum muda dari berbagai latar belakang tersebut menunjukkan adanya perhatian dan kepedulian generasi muda terhadap persoalan kekerasan seksual di tengah perkembangan teknologi digital.

Melalui kegiatan ini, Pemkot Kupang dan Pemuda Katolik Komcab Kota Kupang berharap tercipta generasi muda yang tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga memiliki nilai moral, karakter yang kuat, serta kesadaran terhadap pentingnya kesehatan psikologis.

Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi langkah bersama untuk membangun ruang digital yang lebih aman, sehat, bermartabat, dan bebas dari segala bentuk kekerasan seksual.

Komentar Anda?

Related posts