PORTALNTT.COM, KUPANG – Dalam rangka memperingati 25 tahun perjalanan dan pengabdian, STIPAS Keuskupan Agung Kupang melaksanakan kegiatan ziarah ke makam para Pembina dan Dosen yang telah berpulang. Kegiatan ini melibatkan seluruh civitas akademika, mulai dari dosen, pegawai hingga mahasiswa, sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan syukur atas jasa para pendahulu yang telah memberikan kontribusi bagi perkembangan STIPAS Keuskupan Agung Kupang ,Rabu 30 September 2026. Kegiatan ziarah menjadi salah satu rangkaian penting dalam perayaan 25 tahun STIPAS Keuskupan Agung Kupang.
Dalam pelaksanaannya, para dosen, pegawai, dan mahasiswa dibagi ke dalam empat kelompok berdasarkan lokasi pemakaman yang menjadi tempat peristirahatan para dosen yang telah meninggal dunia antara lain Pembina Katedral Kristus Raja Kupang, Nunbanu Dela, Perkuburan Liliba dan Perkuburan Imam Projo Penfui dan Perkuburan keluarga Nasipanaf.
Di setiap lokasi pemakaman, masing-masing kelompok melaksanakan doa bersama, mengenang perjalanan hidup dan pengabdian para Pembina dan dosen, serta memberikan penghormatan melalui tabur bunga. Suasana khidmat dan penuh kekeluargaan mewarnai kegiatan tersebut. Bagi para mahasiswa, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat sosok-sosok yang pernah mengambil bagian dalam perjalanan STIPAS, meskipun sebagian dari mereka tidak sempat berjumpa secara langsung.
Dr. Florens Maxi Un Bria,S.Ag.,M.Sos Ketua STIPAS Keuskupan Agung Kupang mengatakan bahwa ziarah ke makam para Pembina dan dosen merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari momentum peringatan 25 tahun. Menurutnya, perjalanan sebuah lembaga pendidikan tidak hanya dibangun oleh mereka yang hadir dan berkarya saat ini, tetapi juga oleh para pendahulu yang telah memberikan waktu, tenaga, pikiran, dan pengabdian bagi lembaga.
Lanjut Romo Maxi Un Bria Dalam perayaan 25 tahun ini, kita tidak hanya melihat apa yang sudah dicapai oleh STIPAS, tetapi juga mengingat orang-orang yang telah meletakkan dasar dan memberikan kontribusi bagi perjalanan lembaga ini. Para dosen yang telah berpulang adalah bagian dari sejarah STIPAS.
“Karena itu, ziarah ini menjadi ungkapan syukur dan penghormatan kita atas jasa serta pengabdian mereka,” ungkap Ketua STIPAS.
Ia menambahkan bahwa kegiatan tersebut juga memiliki nilai edukatif dan spiritual bagi mahasiswa. Kehadiran mahasiswa di makam para dosen diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa pendidikan dan pelayanan yang mereka jalani saat ini merupakan bagian dari proses panjang yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya.
Sementara itu, Valentinus K. Masan Ketua Panitia Perayaan 25 Tahun STIPAS Keuskupan Agung Kupang menjelaskan bahwa pembagian civitas akademika ke dalam empat kelompok disesuaikan dengan lokasi pemakaman para Pembina dan Dosen yang menjadi tujuan ziarah. Setiap kelompok kemudian diarahkan untuk melaksanakan kegiatan ziarah secara teratur dengan tetap menjaga suasana doa dan penghormatan.
“Dosen, pegawai, dan mahasiswa kami bagi menjadi empat kelompok sesuai dengan tempat pemakaman. Masing-masing kelompok mengunjungi makam para Pembina dan dosen, melaksanakan doa bersama, dan memberikan penghormatan. Ini merupakan bagian dari upaya kita untuk mengenang mereka yang telah memberikan diri bagi perjalanan STIPAS,” jelasnya.
Menurut Valen Masan, ziarah tersebut bukan sekadar kegiatan dalam rangka memperingati usia 25 tahun STIPAS, tetapi juga menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan lembaga dari waktu ke waktu. Para pendahulu yang telah berpulang dikenang sebagai bagian dari keluarga besar STIPAS yang telah memberikan sumbangsih dalam proses pendidikan dan pembinaan mahasiswa.
Memasuki usia 25 tahun, STIPAS Keuskupan Agung Kupang terus melanjutkan perjalanan dengan membawa semangat dan nilai-nilai yang telah diwariskan oleh para pendahulu. Ziarah ke makam para dosen menjadi pengingat bahwa perjalanan seperempat abad STIPAS merupakan hasil dari karya dan pengabdian banyak orang yang patut dikenang, dihargai, dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya.







