Anita Gah Tinjau Lima Sekolah Penerima Revitalisasi di Kupang, Pagar dan Ruang Kelas Jadi Aspirasi

  • Whatsapp

PORTALNTT.COM, KUPANG – Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Anita Jacoba Gah, mengunjungi lima sekolah di Kota Kupang yang menerima bantuan program revitalisasi sekolah tahun anggaran 2025. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat hasil pekerjaan sekaligus menyerap aspirasi pihak sekolah terkait kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan.

Lima sekolah yang dikunjungi yakni SD GMIT Manulai 2, SD Inpres (SDI) Namosain, SD Negeri Nun Baun Sabu (NBS), SD Negeri Bonipoi 1, dan SD Inpres Naimata.

Dalam kunjungan itu, Anita didampingi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Ernest S. Ludji, S.STP., M.Si., Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Okto Naitboho, serta staf ahli anggota DPR RI, Maria Susana Mesang Gah dan David Lamberto Mesang.

Berdasarkan hasil kunjungan tersebut, seluruh pekerjaan revitalisasi di lima sekolah yang dikunjungi dilaporkan telah selesai dikerjakan. Namun, pihak sekolah masih menyampaikan sejumlah kebutuhan tambahan yang dinilai penting untuk mendukung keamanan dan kenyamanan proses belajar mengajar.

Kunjungan ini sekaligus menjadi kesempatan untuk memastikan bahwa bantuan pemerintah melalui program revitalisasi dapat memberikan manfaat bagi satuan pendidikan, sekaligus mengidentifikasi kebutuhan yang belum terpenuhi.

Pagar Sekolah Jadi Perhatian di SDI Namosain

Salah satu aspirasi yang mengemuka disampaikan para guru dan orangtua murid di SDI Namosain. Mereka berharap adanya bantuan pembangunan pagar sekolah untuk meningkatkan keamanan lingkungan pendidikan.

Pagar dinilai penting untuk melindungi siswa selama berada di lingkungan sekolah, sekaligus membatasi akses keluar-masuk agar aktivitas belajar mengajar berlangsung lebih aman.

Aspirasi tersebut menjadi gambaran bahwa kebutuhan sekolah tidak selalu berhenti pada perbaikan bangunan utama. Fasilitas pendukung, termasuk pagar, juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman bagi siswa dan tenaga pendidik.

Bagi para orangtua, keamanan anak selama berada di sekolah merupakan hal yang tidak bisa diabaikan. Karena itu, mereka berharap usulan pembangunan pagar dapat menjadi perhatian dalam perencanaan bantuan pendidikan berikutnya.

Komite SDN NBS Minta Perhatian untuk Guru dan Ruang Kelas

Aspirasi lain disampaikan Ketua Komite SD Negeri Nun Baun Sabu, Nikson Tadjo Udju. Ia meminta agar Anita Gah turut memperhatikan kebutuhan tenaga guru, termasuk harapan agar guru yang memenuhi persyaratan dapat memperoleh kepastian status kepegawaian sesuai ketentuan.

Selain persoalan tenaga pendidik, pihak sekolah juga mengusulkan penambahan ruang kelas untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.

Kebutuhan ruang kelas menjadi salah satu aspek penting dalam peningkatan kualitas pendidikan. Ketersediaan ruang belajar yang memadai dapat membantu sekolah mengatur kegiatan pembelajaran secara lebih efektif dan memberikan kenyamanan bagi siswa maupun guru.

Aspirasi tersebut menunjukkan bahwa meskipun pekerjaan revitalisasi telah selesai, kebutuhan pengembangan fasilitas pendidikan di sejumlah sekolah masih perlu mendapat perhatian.

Anita Gah Tekankan Usulan Harus Masuk Dapodik

Menanggapi berbagai aspirasi yang disampaikan pihak sekolah, Anita Gah menegaskan pentingnya pendataan kebutuhan pendidikan secara lengkap melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

Menurut dia, seluruh kebutuhan sekolah harus dicatat secara jelas agar dapat menjadi dasar dalam proses pengusulan dan penentuan bantuan.

Sekolah diminta tidak hanya menyampaikan kebutuhan secara lisan, tetapi juga memastikan setiap usulan tercantum dalam data resmi, disertai informasi yang sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.

Dengan pendataan yang lengkap, kebutuhan setiap sekolah dapat dipetakan secara lebih terukur. Selanjutnya, usulan tersebut dapat dipertimbangkan sesuai persyaratan, skala prioritas, dan ketersediaan anggaran.

Anita Gah juga mengingatkan agar usulan yang diajukan sesuai dengan peruntukannya. Apabila sekolah mengusulkan pembangunan ruang kelas, fasilitas yang dibangun nantinya harus benar-benar difungsikan sebagai ruang kelas, bukan dialihkan menjadi ruang guru.

Ia meminta agar proses pendataan dan pengusulan kebutuhan sekolah diperketat sehingga bantuan yang diberikan benar-benar menjawab persoalan yang dihadapi masing-masing satuan pendidikan.

Pendekatan tersebut dinilai penting agar perencanaan bantuan tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga memperhatikan fungsi, kebutuhan riil, dan manfaat fasilitas bagi siswa.

Dengan demikian, program revitalisasi maupun bantuan pendidikan berikutnya dapat disusun berdasarkan data yang akurat, bukan semata-mata berdasarkan usulan yang belum didukung pendataan memadai.

Komentar Anda?

Related posts