Benahi Sampah di Gerbang Perbatasan, PLBN Wini Gandeng Pusdal LH Bangun Sistem Terpadu

  • Whatsapp

PORTALNTT.COM, KUPANG – Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini terus berbenah. Tak hanya soal pelayanan perlintasan orang dan barang, pengelola kini memberi perhatian serius pada persoalan sampah di kawasan perbatasan.

Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI melalui PLBN Wini menggandeng Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Badan Nasional (Pusdal LH BN) untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah terpadu, Kamis (12/2/2026).

Kolaborasi ini diharapkan menjadi titik awal pembenahan menyeluruh di wilayah yang menjadi wajah terdepan Indonesia tersebut.

Saat ini, pengelolaan sampah di PLBN Wini masih menghadapi berbagai keterbatasan. Tempat sampah yang tersedia belum dipilah berdasarkan jenisnya. Sampah yang terkumpul kemudian diangkut menggunakan kendaraan operasional menuju lahan milik warga yang dijadikan lokasi pembuangan sementara.

Di lokasi itu, sampah organik ditumpuk begitu saja, sementara sampah anorganik, terutama plastik sebagian masih dibakar. Praktik ini dinilai belum ideal dan berisiko bagi lingkungan.

Selain itu, belum tersedia bank sampah maupun Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di Kabupaten Timor Tengah Utara. Tempat Pembuangan Sampah (TPS) terdekat berada di Kefamenanu dengan jarak yang cukup jauh dari Wini, sehingga menyulitkan pengelolaan secara berkelanjutan.

Kepala PLBN Wini, Reynold Uran, menegaskan bahwa pembenahan sistem sampah bukan sekadar urusan kebersihan, melainkan menyangkut citra negara.

“PLBN Wini adalah wajah terdepan Indonesia. Lingkungannya harus bersih, sehat, dan tertata. Pengelolaan sampah yang baik mencerminkan keseriusan kita menjaga kawasan perbatasan,” ujar Reynold.

Menurut dia, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk membangun sistem yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Ia mengapresiasi pendampingan dari Pusdal LH BN dalam merumuskan langkah perbaikan yang konkret.

Kasubid Kebersihan dan Keamanan PLBN Wini, Marzal Helmy Grace Serah, menambahkan bahwa pihaknya terus mendorong perubahan pola pengelolaan sampah, dimulai dari pemilahan sejak sumbernya.

“Kami ingin mengurangi praktik pembakaran sampah anorganik dan mulai membiasakan pemilahan dari awal. Lingkungan yang bersih akan membuat kawasan perbatasan lebih nyaman bagi petugas maupun masyarakat yang melintas,” kata Marzal.

Pusdal LH BN pun memberikan sejumlah rekomendasi. Di antaranya menghentikan pembakaran sampah anorganik, menerapkan pemilahan dari sumber, serta mengolah sampah organik melalui pembangunan mega biopori di lahan kosong yang tersedia.

Untuk sampah plastik, kertas, dan kardus, disarankan agar dikumpulkan dan disalurkan ke pengepul terdekat. Kerja sama dengan pemerintah desa setempat juga didorong untuk membentuk Bank Sampah Unit sebagai solusi jangka panjang.

Sebagai tindak lanjut, PLBN Wini mengajukan permohonan pelatihan teknis kepada Pusdal LH BN. Selain itu, pengelola juga mengusulkan dukungan pengadaan mesin pencacah sampah organik, fasilitas bank sampah, serta pembangunan TPS3R permanen guna memperkuat sistem pengelolaan terpadu.

Langkah-langkah ini diharapkan mampu mengubah wajah pengelolaan sampah di PLBN Wini. Lebih dari sekadar bersih, kawasan perbatasan diharapkan menjadi contoh tata kelola lingkungan yang baik sejalan dengan peran strategisnya sebagai gerbang negara.

Komentar Anda?

Related posts