Di Balik KKN yang Berujung Mimpi Buruk: Kisah Rini, Mahasiswi Undana Korban Pelecehan Dosen

  • Whatsapp
Ilustrasi pelecehan

PORTALNTT.COM, KUPANG – Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) sejatinya menjadi ajang pembelajaran sosial dan pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Namun bagi Rini (nama samaran), mahasiswi Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, program yang seharusnya membanggakan itu justru berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan harga diri dan rasa aman.

Antara September hingga awal Oktober 2024, Rini menjalani KKN di salah satu lembaga penelitian di bawah Undana. Di tempat itulah ia menjadi korban pelecehan seksual oleh seorang dosen berinisial DA, seorang akademisi senior yang dikenal luas di lingkungan kampus.

Namun di balik reputasi akademiknya, tersimpan sisi gelap yang baru kini mulai terkuak.

Awal yang Menyesakkan

Pertemuan pertama antara Rini dan DA terjadi di hari pertama penempatan KKN. Rini, yang saat itu masih canggung, memperkenalkan diri dengan sopan dan mengulurkan tangan. Namun momen itu berubah menjadi pengalaman tak terlupakan, bukan karena kebaikan, melainkan karena tindakan tak pantas dari seorang pendidik.

“Dia mengorek-ngorek tangan saya saat bersalaman. Awalnya saya pikir tidak sengaja, tapi caranya bikin saya risih,” tutur Rini dengan suara pelan dan mata berkaca-kaca kepada PortalNTT.com, Sabtu (25/10/2025).

Sejak itu, perilaku sang dosen mulai menunjukkan pola relasi kuasa yang menyimpang. Rini ditugaskan bukan untuk berinteraksi dengan masyarakat sebagaimana tujuan KKN, melainkan “menjaga absen” di depan ruang dosen setiap hari, sebuah pekerjaan yang jelas di luar tupoksi mahasiswa.

“Saya seperti dijadikan sekretaris pribadinya. Kalau dia butuh sesuatu, saya dipanggil. Kadang disuruh mengetik, kadang cuma duduk di depan pintu,” katanya.

Namun setiap kali dipanggil ke dalam ruangan, perlakuan sang dosen semakin berani. Rini menceritakan bagaimana pelaku sering mencoba menyentuh tubuhnya dengan alasan sepele, mulai dari pipi, pinggang, hingga tangannya.

Dalam beberapa kesempatan, DA juga menawarkan uang tunai Rp50 ribu, dengan alasan “uang pulsa”, yang ditolak mentah-mentah oleh korban.

“Dia bilang, ‘ini uang pulsa, biar kamu semangat’. Tapi saya tidak pernah mau terima,” kenang Rini.

Dibungkam oleh Ketakutan dan Kemiskinan

Sebagai mahasiswa penerima KIP Kuliah dari keluarga sederhana, Rini berada dalam posisi sulit. Ia sadar statusnya sebagai mahasiswa membuatnya tidak berdaya di hadapan seorang dosen senior. Ia harus bertahan hingga masa KKN berakhir, sambil memendam ketakutan yang makin hari makin menghimpit.

“Beta dari keluarga susah, kaka. Beta kuliah karena dapat KIP. Beta tahan saja, sonde mau kecewakan orang tua,” ucapnya lirih.

Di balik diamnya, Rini mengalami tekanan psikologis berat. Ia mulai murung, sulit makan, dan sering menangis diam-diam di tempat kost. Sementara itu, di kampus, pelaku tetap bebas beraktivitas, seolah tak terjadi apa-apa.

Puncak Teror di Akhir KKN

Puncak kejadian terjadi di awal Oktober 2024, menjelang berakhirnya masa KKN. Saat itu, pelaku mengirim pesan WhatsApp agar Rini datang ke ruangannya. Belum sempat membaca pesan itu, Rini kebetulan memang hendak menemui pelaku untuk memberi tahu bahwa ada mahasiswa lain yang ingin konsultasi.

“Begitu saya masuk, dia senyum-senyum. Saya bilang ada mahasiswa yang mau ketemu, dia jawab nanti jam 1. Saya mau keluar, tapi pas di pintu dia langsung tarik badan saya dan pegang kedua tangan, lalu mengarahkan tangan saya ke kemaluannya,” cerita Rini, suaranya mulai bergetar.

“Saya langsung dorong dan lari keluar. Sejak hari itu, saya tidak pernah kembali ke sana lagi,” tambahnya.

Sejak kejadian itu, Rini mengalami trauma mendalam. Ia sulit tidur, sering terbangun di tengah malam, dan setiap kali melihat sosok yang mirip pelaku di kampus, tubuhnya langsung gemetar.

“Saya merasa hina. Saya tidak bisa fokus kuliah lagi. Rasanya sakit diperlakukan seperti itu oleh orang yang seharusnya melindungi kami,” katanya. (Bersambung)

Komentar Anda?

Related posts