Fernando Soares Bantu 1.000 Sak Semen untuk Pembangunan Gereja GMIT Imanuel Kukak

  • Whatsapp

PORTALNTT.COM, PARITI – Pagi itu, suasana di Gereja GMIT Imanuel Kukak, Klasis Sulamu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, terasa berbeda.

Di tengah ibadah, jemaat tidak hanya berkumpul untuk memuji dan bersyukur. Ada satu momen yang menjadi penanda dimulainya babak baru: peletakan batu pertama pembangunan gereja.

Harapan yang selama ini tumbuh dalam doa perlahan mulai menemukan bentuknya.

Di tengah momentum tersebut, hadir pula sebuah bantuan yang disambut penuh syukur. Wakil ketua DPRD NTT, Fernando Jose Osorio Soares memberikan 1.000 sak semen untuk mendukung pembangunan Gereja GMIT Imanuel Kukak.

Bagi jemaat, bantuan itu bukan sekadar tumpukan sak semen yang akan digunakan untuk membangun dinding dan fondasi.

Lebih dari itu, bantuan tersebut menjadi tanda bahwa perjuangan jemaat membangun rumah ibadah tidak berjalan sendirian.

Ketua Majelis Jemaat GMIT Imanuel Kukak Klasis Sulamu, Pendeta Aris Isai Hoti, S.Th, mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas perhatian tersebut.

Ia bahkan mengaku tidak pernah menyangka bantuan dalam jumlah besar itu akan datang kepada jemaat di Sulamu.

“Secara pribadi maupun mewakili seluruh jemaat GMIT Imanuel Kukak Klasis Sulamu, kami merasa sangat bersyukur kepada Tuhan. Hari ini kami benar-benar diberkati,” ujar Pendeta Aris pada wartawan, Kamis (17/9/2026).

Tak Menyangka Mendapat Bantuan

Bagi Pendeta Aris, kedatangan Fernando Soares bersama rombongan menjadi kejutan sekaligus berkat bagi jemaat.

Di tengah kebutuhan pembangunan gereja yang tentu membutuhkan dukungan banyak pihak, bantuan 1.000 sak semen menjadi dorongan besar bagi jemaat untuk terus melangkah.

“Jujur, kami tidak pernah menyangka bahwa bantuan ini akan datang kepada kami di Sulamu. Lewat salah satu anak Tuhan, Bapak Fernando Soares, kami mendapatkan bantuan berupa 1.000 sak semen,” katanya.

Kalimat itu menggambarkan bagaimana sebuah bantuan material dapat memiliki makna yang jauh lebih besar bagi sebuah komunitas.

Semen yang diberikan akan menjadi bagian dari bangunan gereja. Namun, di balik setiap sak semen itu ada harapan jemaat agar rumah ibadah yang mereka impikan dapat berdiri dan digunakan untuk bersekutu, beribadah, serta melayani Tuhan.

Bantuan yang Menjadi Penyemangat

Pendeta Aris mengatakan, dukungan tersebut semakin menambah semangat jemaat untuk bergotong royong melanjutkan pembangunan.

Pembangunan gereja bukan hanya pekerjaan tukang atau panitia pembangunan. Di dalamnya ada keterlibatan jemaat, doa, tenaga, waktu, dan dukungan dari berbagai pihak.

Karena itu, bantuan Fernando Soares dinilai menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut.

“Atas bantuan ini, kami berdoa kiranya Tuhan memberkati Bapak Fernando dalam tugas dan pelayanan bersama keluarga,” ujar Pendeta Aris.

Doa serupa juga disampaikan kepada seluruh rombongan yang hadir dan ikut menjadi bagian dari momentum tersebut.

“Kami berdoa Tuhan saja yang membalas kebaikan hati Bapak dan Ibu semua. Kami sungguh sangat bersyukur. Hari ini kami diberkati luar biasa,” katanya.

Pendeta Aris juga menyampaikan terima kasih kepada Antonio Sarmento dan keluarga yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Dari Batu Pertama Menuju Rumah Ibadah

Peletakan batu pertama menjadi simbol dimulainya perjalanan panjang pembangunan Gereja GMIT Imanuel Kukak.

Bisa jadi, kelak ketika bangunan gereja itu berdiri kokoh, tidak banyak orang akan mengingat bagaimana setiap bagian bangunannya dimulai.

Namun bagi jemaat, momentum hari itu akan selalu menjadi bagian dari cerita.

Ada doa yang dipanjatkan. Ada batu pertama yang diletakkan. Ada kebersamaan jemaat. Dan ada dukungan 1.000 sak semen yang datang ketika pembangunan mulai berjalan.

Bagi Pendeta Aris dan jemaat GMIT Imanuel Kukak, bantuan tersebut menjadi sebuah berkat yang akan dikenang.

“Terima kasih banyak Bapak Fernando Jose Osorio Soares. Tuhan memberkati senantiasa dalam tugas, tanggung jawab dan pelayanan bersama keluarga,” tutur Pendeta Aris.

Dari Sulamu, pembangunan sebuah rumah ibadah pun dimulai. Sedikit demi sedikit, dari tangan banyak orang dan melalui semangat gotong royong, harapan itu perlahan dibangun, bukan hanya dengan semen dan batu, tetapi juga dengan doa dan kepedulian.

Komentar Anda?

Related posts