PORTALNTT.COM, KUPANG – Di tengah gegap gempita perayaan Hari Valentine yang identik dengan bunga dan cokelat, sekelompok mahasiswa memilih cara berbeda untuk merayakan kasih sayang. Mereka datang bukan dengan hadiah mewah, melainkan dengan buku tulis, pensil, dan pelukan hangat bagi anak-anak yang membutuhkan.
Kasus dugaan bunuh diri di Ngada yang belakangan menyita perhatian publik menggugah nurani mahasiswa BEM FKIP Universitas Citra Bangsa (UCB). Peristiwa itu menjadi refleksi bahwa persoalan sosial, tekanan hidup, dan kemiskinan masih nyata di sekitar kita. Dari ruang-ruang diskusi kampus, lahirlah keputusan sederhana namun bermakna: kasih harus diwujudkan dalam tindakan.
Di Hari Kasih Sayang, mahasiswa yang tergabung dalam BEM FKIP UCB dari Program Studi PGSD, PBI, dan PI bergerak menuju pinggiran Kota Kupang. Mereka mengunjungi sebuah sekolah dasar dengan bangunan semi permanen, berdinding bebak dan beratap sederhana. Di sana, 78 anak didik menanti dengan mata berbinar.
Buku dan alat tulis yang dibagikan mungkin tampak sederhana. Namun bagi anak-anak itu, setiap lembar kertas adalah harapan, setiap pensil adalah pintu menuju cita-cita.
Di tengah keterbatasan sebagai mahasiswa, mereka memilih berbagi sebagai wujud nyata dari Visi UCB KASIH, membangun pendidikan yang berakar pada kepedulian dan empati.
Salah satu dosen UCB, Doktor Lani Koroh, menilai langkah para mahasiswa ini sebagai refleksi kedewasaan sosial calon pendidik.
“Valentine bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk menegaskan nilai kemanusiaan. Apa yang dilakukan mahasiswa FKIP adalah pendidikan karakter dalam bentuk yang paling konkret. Mereka belajar bahwa menjadi guru bukan hanya mengajar di kelas, tetapi hadir di tengah realitas sosial,” ujar Doktor Lani Koroh pada media ini, Sabtu 14 Februari 2026.
Menurutnya, fakta kemiskinan dan keterbatasan fasilitas pendidikan di sejumlah wilayah NTT tidak boleh hanya menjadi bahan wacana atau komoditas politik. Dibutuhkan kolaborasi nyata antara kampus, pemerintah, dan masyarakat agar pendidikan benar-benar menjadi jalan keluar dari lingkaran persoalan sosial.
Bagi mahasiswa BEM FKIP UCB, aksi ini bukanlah akhir, melainkan awal dari komitmen panjang. Mereka menyadari bahwa menjadi calon guru berarti siap mengabdi, bahkan di tempat-tempat yang jauh dari sorotan.
“Kami calon guru siap mengabdi untuk negeri tercinta Indonesia, terutama Provinsi NTT yang penuh damai,” ungkap salah satu perwakilan mahasiswa dengan suara bergetar.
Hari itu, tawa anak-anak menggema di ruang kelas sederhana. Tak ada panggung megah, tak ada dekorasi mewah. Hanya kasih yang dibagikan dengan tulus.
Di Hari Kasih Sayang ini, BEM FKIP UCB mengirim pesan sederhana namun kuat: cinta tidak selalu dirayakan dengan kata-kata, tetapi dengan keberanian untuk peduli dan berbagi.
Selamat Hari Kasih Sayang dari BEM FKIP untuk seluruh warga UCB dan masyarakat NTT.







