Oleh: Drs. Fransiskus, Sili, M.Pd.(Pengawas Ahli Madya Kementrian Agama Kota Manado)
“Satu di dalam Kristus, Bersatu dalam Misi” – Refleksi Pastoral di Era Digital. Artikel ini mengulas makna teologis-pastoral Hari Minggu Misi Sedunia dalam rangka 100 tahun(1926-2026). Menggunakan pendekatan historis, studi dokumenAd Gentes, dan eksegesis Mat 22:15-21, artikel ini berusahasecara reflektif menunjukkan relevansi misi sebagai identitasGereja di era digital serta implikasinya bagi formasi imam dan pelayanannya, katekese paroki, dan Pendidikan Agama Katolik(PAK).
PENDAHULUAN
Ketika Paus Pius XI menetapkan Hari Misi Sedunia tahun1926, dunia waktu itu sedang dalam krisis pasca Perang Dunia I. Kegiatan Gerejani di Eropa melemah, dan misi masih dilihatsebagai urusan para biarawan Eropa. Seratus tahun kemudian, 18 Oktober 2026, Gereja merayakan World Mission Sunday ke-100 di tengah dunia yang hiper-koneksi namun terfragmentasi. Paus Leo XIV memilih tema yang sangat sinodal dan eklesiologis: Satu di dalam Kristus, bersatu dalam Misi (One in Christ, united in mission). Tema ini bukan slogan, tetapidiagnosis atas luka dunia: perpecahan politik, polarisasi digital, dan krisis identitas.
Tahun 2026 adalah yubileum. PMS (Pontifical Mission Societies) mencatat Hari Minggu Misi bukan sekedar kolekteterbesar di Gereja, tetapi satu-satunya kolekte yang secarakanonik diwajibkan di setiap paroki, kapel, dan komunitasKatolik di dunia pada hari yang sama. Ini menunjukkanuniversalitas misi.
LATAR BELAKANG HISTORIS
Akar terdalam adalah seorang perempuan awam. Pauline Marie Jaricot (1799-1862) di Lyon, Perancis, ia bukan biarawati, bukan imam. Ia bekerja di pabrik keluarga, mengalamipertobatan pada usia 17 tahun. Ia menciptakan sistem yang revolusioner untuk zamannya: membentuk kelompok 10 orang, masing-masing mencari 10 orang lagi, setiap orang berdoasetiap hari dan menyumbang 1 sou (mata uang terkecil) per minggu untuk misi. Dari sistem sel inilah lahir SerikatPenyebaran Iman (Society for the Propagation of the Faith) tahun 1822. Gerakan ini begitu masif sehingga pada 3 Mei 1922, Paus Pius XI mengangkatnya menjadi Lembaga Kepausan.
Jadi dari segi sejarah transisi status Serikat Penyebaran Iman (Society for the Propagation of the Faith / POPF) dari sebuahgerakan awam lokal menjadi lembaga resmi di bawah otoritasTakhta Suci Vatikan. Sebagai konteks awal, ada beberapa poinpenting dari sejarah perubahan tersebut: Pertama, PendirianResmi (3 Mei 1822): Serikat ini awalnya didirikan di Lyon, Prancis, oleh seorang wanita awam bernama Pauline Marie Jaricot. Gerakan ini dimulai dengan metode sederhana: mengumpulkan kelompok-kelompok kecil yang berkomitmenuntuk berdoa dan menyumbang satu sen setiap minggu demi mendukung misi-misi Katolik di seluruh dunia. Kedua, Perubahan Status menjadi “Kepausan” (3 Mei 1922): Tepat seabad kemudian, Paus Pius XI mengeluarkan Dekrit Kepausan(Motu Proprio) berjudul Romanorum Pontificum. Melalui dekritini, lembaga tersebut resmi diangkat menjadi organisasi“Kepausan” (Pontifikal). Dampaknya: Setelah mendapatkanstatus kepausan, administrasi pusat organisasi ini dipindahkandari Prancis ke Roma, Italia. Serikat ini resmi menjadiperpanjangan tangan utama Paus dan Gereja universal dalammengoordinasikan bantuan dana serta doa bagi wilayah-wilayah misi di seluruh dunia. Saat ini, organisasi tersebut dikenalsebagai salah satu dari empat serikat yang bernaung di bawahSerikat-Serikat Misi Kepausan (di Indonesia dikenal sebagaiKarya Kepausan Indonesia / KKI).
Namun yang mendorong Hari Misi adalah Santo Giuseppe Allamano (1851-1926), pendiri Misionaris Consolata dariTorino. Ia melihat perlunya hari khusus untuk membangkitkankesadaran universal. Paus Pius XI yang juga mantan PrefekPropaganda Fide sangat memahami misi, akhirnya melaluiReskrip Kongregasi Ritus Suci 14 April 1926 menetapkan Hari Misi. Keputusan itu diumumkan resmi di Acta Apostolicae Sedis Vol. 19 tahun 1927, hal. 23-24. Sejak 1927, setiap Minggukedua terakhir Oktober seluruh dunia merayakannya. Ya..100 tahun, dari 1926 sampai ke 2026 dan terus berlanjut 100 tahun ke depan dan terus berlanjut tanpa henti.
TUJUAN DAN SASARAN: LEBIH DARI KOLEKTEIMPERATA
Tujuan Hari Misi tidak pernah finansial semata. Empat pilar menurut PMS: Pertama, dimensi kontemplatif: Doa. Tanpa doa, misi menjadi seperti Non Govermental Organization (NGO), seperti LSM saja. Kedua, dimensi formatif: Membangkitkankesadaran bahwa misi bukan tugas Dewan Karya Misioner (DKM) saja, tetapi konsekuensi imann dari baptisan dan krisma. Lumen Gentium 33 dan Ad Gentes 36 menegaskan semua umat beriman berkat Rahmat Baptis dan Krisma berpartisipasi dan berbagi dalam misi Kristus sebagai Imam, Nabi, dan Raja.Ketiga, dimensi ekonomi solidaritas: Dana Solidaritas Universal dikelola PMS Vatikan untuk mendukung 1.124 wilayah misi, termasuk 400 keuskupan di Afrika, 500 di Asia. Tanpa kolekte ini, banyak seminari akan tutup. Keempat, dimensi eklesiologis: Menampakkan persaudaraan universal. Gereja lokal diKeuskupan Manado,misalnya, memberi untuk Gereja di Mongolia, dan sebaliknya.
BUAH NYATA 100 TAHUN: DARI PENERIMA MENJADI PENGUTUS
Jika tahun 1926 Gereja masih berpusat di Eropa, 100 tahun kemudian peta berubah total. Laporan resmi Pontifical Mission Societies USA 2025-2026 dan Fides Agency 2026 mencatat:
a) Pertumbuhan eksponensial Gereja Muda: Dari sekitar 400 wilayah misi tahun 1926 menjadi 1.150 wilayah misi tahun 2026. Kita boleh berharap bahwa Benua Afrika dari 60 juta Katolik menjadi 300 juta, misalnya. Mungkinharapan terlalu besar, tapi kalau Roh Kudus berkarya, takada yang mustahil.
b) Dukungan Formasi: Kolekte HM Misi mendukunglangsung 82.498 seminaris mayor (51% seminaris dunia berada di wilayah misi), 844.000 katekis awam, 258.540 suster yang bekerja di klinik dan sekolah misi. Tanpakolekte ini, 26 juta anak yang bersekolah di sekolah Katolikdi wilayah misi tidak bisa bersekolah.
c) Perubahan Paradigma Teologi Misi: Dari model plantatio Ecclesiae (menanam Gereja Eropa di tanah misi) menjadi Missio Dei (Allah sendiri adalah pelaku misi, Gereja hanya partisipan). Ini buah Konsili Vatikan II.
d) Kasus Indonesia: Indonesia adalah buah paling indah. Tahun 1926 masih daerah misi yang dilayani para imam, misionaris dari Belanda. Tahun 2026 Indonesia telah mengutus 900+ misionaris Xaverian, SVD, SSpS, MSC dan masih banyak lagi ke Afrika dan Eropa. Dari Gereja yang diberi dan menerima menjadi Gereja yang memberi.
TANTANGAN DAN HARAPAN DI DUNIA DIGITAL
Paus Fransiskus dalam Pesan Komunikasi Sosial 2024 menyebut dunia digital sebagai Areopagus baru (Kis 17). Tantangan hari ini bukan jarak geografis, tetapi:
Perjalanan misi tidak berhenti dan tak pernah berhenti. Dari 1926 melangkah pasti penuh tantangan dan harapan dan tiba di 2026,dan berjuang ke depan. Harapan 100 tahun kedua adalah: Misi Digital. Jika 1926 menggunakan majalah dan surat, kegiatan misi 2026 menggunakan TikTok, Instagram, AI. Meski demikian prinsipnya tetapsama: Kesaksian hidup, semangat martyra tak pernah memudar karena terus dan tetap menimba dari sumber yang satu dan sama: Krisus sendiri. Tema HM Misi sedunia 2026 “Satu di dalam Kristus” adalah jawaban profetis atas polarisasi algoritma yang memecah kita ke dalam echo chamber. Persatuan menjadi bentuk evangelisasi paling kredibel.
HUBUNGAN AD GENTES DAN HARI MINGGU MISI: JIWA DAN TUBUH
Dekrit Ad Gentes (7 Desember 1965) adalah puncak teologi misi Vatikan II. Dokumen ini yang memberi jiwa kepada Hari Minggu Misi sepanjang zaman. Ad Gentes no 2 menegaskan sumber misi: “Gereja peziarah pada hakikatnya bersifat misioner, karena berasal dari perutusanPutra dan perutusan Roh Kudus menurut rencana Allah Bapa.” Jadi misi bukan kegiatan tambahan, tetapi hakikatGereja dan bersumber dari panggilan Allah Tritunggal. Tanpa kegiatan misi, Gereja bukan Gereja. Gereja adalah suatu panggilan ke luar untuk membawa Kristus kepada dunia dan membawa dunia semakin dekat dengan Kristus dan mengalami karya keselamatanNya.
Ad Gentes no 39 khusus berbicara tentang seminari: “Semoga para calon imam diresapi semangat misioner yang sungguh katolik.” Artinya, sejak formasi, mulai dariSeminari Menengah dan terutama di Seminari Tinggi, seminaris harus berpikir universal, bukan parokial. BerpikirMondial tetapi bertindak dan berkarya local.
Ad Gentes no 41 berbicara tentang awam: Kaum awamsebagai saksi Injil di dunia sekuler, di keluarga, di pekerjaan, di politik. Ciri khas kaum awam adalahmendunia, terlibat di Tengah tata dunia, dan menggaraminya dengan nilai dan semangat Injil. IkutBersama di Tengah dunia tetapi tidak lebur karenaperubahan dunia. Identitasnya tidak pernah boleh hilang. Inilah yang dihidupi Pauline Jaricot: Seorang awam yang menggerakkan Gereja semesta. Hari Minggu Misi adalahbukti sahih Ad Gentes. Singkatnya: Ad Gentes adalah teori, Hari Minggu Misi adalah praktik liturgisnya.
PESAN INJIL MATIUS 22:15-21: TEOLOGI KOIN DAN GAMBAR ALLAH
Bacaan Injil tahun A, Minggu Biasa XXIX tahun 2026 adalah Mat 22:15-21, Yesus dan pertanyaan jebakantentang pajak kepada Kaisar. Sekedar eksegesis deskriptif: Kaum Farisi dan Herodian adalah musuh politik yang bersatu untuk menjebak Yesus di balik pujian manis mereka. Jika Yesus berkata jangan bayar pajak, Ia akanditangkap tentara Romawi karena dianggap sebagaipemberontak. Namun jika Ia berkata bayar pajak, Iakehilangan dukungan rakyat. Jawaban Yesus jenius, karenasungguh diresapi kebijaksanaan ilahi: “Tunjukkan matauang pajak itu.”
Koin denarius Romawi ada gambar Kaisar Tiberius dan tulisan “Tiberius Caesar, putra dewa Augustus”. Bagi orang Yahudi, membawa koin itu adalah berhala. Yesus bertanya: “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Mereka jawab: “Kaisar.” Maka Yesus berkata: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Dari teks ini, saya merenungkan beberapa pesan tentang makna misioner yang dalam:
a) Antropologi Misi: Jika koin bergambar Kaisar harus kembali kepada Kaisar, maka manusia yang bergambar dan serupa Allah (imago Dei, Kej 1:27) harus kembali kepada Allah. Setiap manusia adalah milik Allah. Itulah alasan paling dasar kita bermisi: mengembalikan manusia kepada pemilik aslinya, menempatkannya sebagai satu-satu ciptaan citra Allah.
b) Inkulturasi: Yesus tidak menolak menggunakan alat Kaisar (uang, sistem, struktur). Para Misionaris juga harus menggunakan alat zaman: bahasa lokal, budaya lokal, dan hari ini teknologi digital milik “Kaisar”, perkembangan dunia untuk kemuliaan Allah.
c) Profetis: Ada batas. Ada hal yang hanya milik Allah: keluhuran martabat amnusia, hati nurani, hidup manusiayang nilainya tak tergantikan. Itu tidak boleh diberikan kepada Kaisar baru zaman ini: algoritma, pasar, kuasa politik. Tugas Gereja dan seluruh karya misi adalah menjaga batas itu. Melalui aneka pewartaan kepada umat dan masyarakat, Allah tetap dimuliakan dan manusia apapun latar belakangnya, siapapun dia harus dirangkul dan dibawa kepada keselamatan Allah.
Inilah hubungan dengan tema 100 tahun: “Satu di dalam Kristus” berarti kita yang adalah gambar Allah, bersama-sama kembali kepada Allah, bersatu dalam misi.Membawa manusia dan seluruh perkembangannya kembalikepada Allah. Membawa Allah dan menempatkannya di atas sebagai pencipta akal budi yang memungkinkan semuaperkembangan ini.
PESAN BAGI LEMBAGA PENDIDIKAN CALON IMAM
Lembaga pendidikan calon imam (Seminari Tinggi dan Menengah) adalah rahim misi. Sengaja disebutkanSeminari Tinggi di urutan pertama. Maknanya adalah agar benih panggilan dan cita-cita luhur dengan berbagaimotivasi harus dimurnikan di tahap tinggi agar semangatiman untuk bermisi tetap utuh, luhur dan murni. Jika rahimnya tidak misioner, yang lahir bukan imam misioner.
Saya merenungkan lalu menemukan ada empatrekomendasi pastoral berdasarkan Ratio FundamentalisInstitutionis Sacerdotalis 2016 dan Pastores Dabo Vobis 32:
RELEVANSI BAGI KATEKESE PAROKI
Katekese umat di banyak paroki sering terjebak dalam maintenance: menjaga yang sudah ada. Hari Misi mengajak shift ke missionary. Deskripsi praktis:
RELEVANSI PAK DI SEKOLAH: MEMBENTUK SISWA JADI MISIONER KECIL
Siswa Katolik di sekolah negeri/swasta adalahminoritas misioner. Mat 22:21 sangat relevan: Merekahidup di dunia Kaisar (aturan sekolah, budaya sekuler, TikTok) tetapi tetap milik Allah. Beberapa relevansideskriptif:
a) Identitas: PAK harus membantu siswa tidak minder karena minoritas dan tidak sombong karena merasa paling benar. Mereka diajarkan: Taat pada aturan Indonesia (milikKaisar) tapi hati dan moral milik Allah. Inilah warga negara yang baik sekaligus saksi Kristus. Mereka harus sungguhdilatih untuk menjadi 100 % Katolik dan 100% Indonesia. Mereka belajar dari ibu-bapak gurunya.
b) PAK sebagai Laboratorium Dialog: Materi PAK jangan hanya hafalan ajaran teologi dan rumusan doa. PAK harus jadi laboratorium dialog 4 bidang sesuai ajakan KWI: Dialog budaya (hargai adat Minahasa, Jawa), dialog agama (mampu berteman dengan teman Muslim dan agama/gereja lain), dialog kaum miskin (peka dan peduli sosial melalui karya nyata), dialog digital (etika bermedsos, mampu bersikap kritis).
c) Output: Melatih siswa kita agar bukan hanya menjadikonsumen ajaran, tapi produsen. Tugas PAK: Buat video 60 detik di TikTok/IG: “Apa arti memberi kepada Allah di sekolah?” – jujur saat ujian, tidak bully. Itulah misi kecilyang nyata.
TERAKHIR: PESAN KHUSUS UNTUK PARA IMAM
Tema 100 tahun Hari Minggu Misi sedunia ini punya pesan yang khusus. Tema yang ditetapkan Paus Leo XIV ini bukan sekedar slogan, tapi menantang dan membutuhkan profil imam yang dibutuhkan hari ini. Imam yang bagaimana?
a) Imam yang Berakar: Satu di dalam Kristus, bukansatu di dalam dirinya. Imam hari ini mudah menjadiselebritas rohani, sibuk bangun personal branding di medsos. Tema yang menegaskan Satu di dalam Kristus. Artinya imam harus berakar kuat pada Kristus melalui doa, Ekaristi, lectio divina. Tanpa itu, ia akan kering dan jadi aktivis sosial saja. Ratio Fundamentalis 2016 no 38: intimasi dengan Kristus adalah sumber misi. Imam yang tidak bersatu di dalam Kristus tidak bisa menyatukan umat.
b) Imam yang Menjadi Jembatan Persatuan, bukanpemecah. Indonesia pada umumnya dan KeuskupanManado khususnya, kaya polarisasi: adat, suku, politik, agama. Tema Bersatu dalam Misi menuntut imam yang mampu menjadi pemersatu. Bukan imam yang eksklusif di kelompoknya sendiri. Imam yang mampu duduk makan dengan OMK, dengan pemerintah desa, dengan tokoh masjid, dengan petani miskin, dan bukan dengan kelompok tertentu saja. Ia adalah pontifex, pembuat jembatan. Di era algoritma yang memecah kita ke echo chamber, imam harus menjadi agen persatuan.
c) Imam yang Misionaris Digital, bukan turis digital.Paus Fransiskus di 2024 mengatakan Gereja harus daridigital tourists menjadi digital missionaries. Imam menuruttema 2026 harus mengerti Areopagus baru. Ia tidak gagapteknologi. Ia tahu cara pakai TikTok, Instagram, YouTube bukan untuk pamer, tapi untuk memberi jiwa dan pesanactual yang hidup. Ia bisa membedakan mana milik Kaisar (tren viral, hoaks) dan mana milik Allah (iman, kebenarandan kasih). Ia mampu memakai alat Kaisar untuk mengembalikan dunia kepada Allah, sesuai Mat 22:21.
d) Imam yang Komunal dan Sinodal, bukan one-man show.Tema Bersatu dalam Misi sangat sinodal. Imam zaman dulu bisa jalan sendiri, jalan kaki atau berkuda. Imam-imam 2026 tidak bisa dan tidak lagi begitu. Ia harus mampu bekerja dengan dewan pastoral, katekis, OMK, suster, awam. Ia bukan superman, tapi enabler yang membangkitkan karisma awam seperti Pauline Jaricot. Iamelahirkan pemimpin misi baru.
e) Imam yang Berhati Global tapi Berkaki Lokal. Tema 100 tahun mengingatkan 1.150 wilayah misi didukung kolekte universal. Imam Manado harus berhati global: mendoakan Gereja di Mongolia, di Afrika. Tapi kakinyalokal: paham budaya Minahasa dan Keuskupan ini, masalahkemiskinan di Sulawesi Utara, dialog dengan umat GMIMdan Protestan lain yang adalah mayoritas. Ia katolik artinyauniversal, tapi inkulturatif. Dengan demikian menurut temaMinggu Misi Sedunia ke-100 tahun ini, imam yang dibutuhkan adalah: Imam yang Satu di dalam Kristus(berakar rohani), Bersatu dalam Misi (jembatan persatuan, sinodal, digital, berhati global berkaki lokal). Bukan imam petugas sakramen yang hanya maintenance, tapi imam misioner yang menggerakkan.
Dengan demikian, ada satu rantai misi: Jika seminarimenghasilkan imam misioner, imam akan menghasilkankatekis misioner, katekis akan menghasilkan siswamisioner. Rantai 100 tahun tidak boleh putus dan berlanjut ke 100 tahun mendatang.
PENUTUP
Seratus tahun Hari Minggu Misi Sedunia membuktikansatu hukum Gereja: Gereja tetap muda ketika ia keluar daridirinya, memberi diri, dan bersatu. Dari usulan sederhanaseorang awam perempuan di Lyon 1926 menjadi gerakanglobal ribuan keuskupan. Tantangan dunia digital bukanakhir misi, tetapi Areopagus baru. Dengan semangat Ad Gentes dan hikmat Mat 22:15-21, kita diajak menggunakanalat Kaisar untuk mengembalikan dunia kepada Allah. Hari Minggu Misi bukan soal kolekte, tetapi soal jati diri kita: Kita adalah Gereja yang diutus. Missio Dei masih berlangsung.
Referensi:







