PORTALNTT.COM. KUPANG – Sepak bola tidak lagi sekadar olahraga yang ditentukan oleh hasil pertandingan selama 2 x 45 menit. Di balik permainan di lapangan, terdapat ekosistem industri yang melibatkan pembinaan pemain, manajemen klub, kompetisi, infrastruktur, hingga peluang investasi.
Pandangan tersebut disampaikan pengamat ekonomi yang juga Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Dr. Rolland E. Fanggidae, S.Si-Teol., MM, saat memberikan perspektif ekonomi terhadap visi dan misi calon Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Nusa Tenggara Timur (NTT), Fernando Jose Osorio Soares.
Menurut Rolland, transformasi sepak bola menjadi industri membutuhkan perubahan cara pandang dalam pengelolaan organisasi. Sepak bola tidak cukup dibangun melalui penyelenggaraan turnamen dan pencapaian prestasi jangka pendek, tetapi harus ditopang sistem pembinaan, kompetisi berjenjang, sumber daya manusia, dan tata kelola yang profesional.
Negara-negara dengan tradisi sepak bola kuat, kata dia, membangun prestasi melalui proses panjang. Pembinaan usia dini, infrastruktur yang memadai, dan kompetisi yang sehat menjadi fondasi sebelum menghasilkan pemain berkualitas di level senior.
Karena itu, pembangunan sepak bola di NTT perlu diarahkan pada pembentukan ekosistem yang mampu melahirkan pemain berbakat sekaligus menciptakan nilai ekonomi bagi klub, masyarakat, dan daerah.
Kompetisi Harus Menjadi Fondasi Pembinaan
Rolland menilai, salah satu pekerjaan penting Asprov PSSI NTT adalah memastikan kompetisi berjalan secara konsisten dan berjenjang.
Kompetisi seperti Liga 4, Piala Soeratin untuk kelompok usia muda tidak boleh hanya dipandang sebagai agenda tahunan. Kompetisi harus menjadi ruang pembinaan yang memberikan kesempatan bermain secara memadai kepada para pemain.
Menurut dia, kompetisi yang berlangsung singkat dan tidak berkesinambungan akan menyulitkan pemain untuk berkembang. Sebaliknya, kompetisi yang terencana dapat membantu klub mengevaluasi kemampuan pemain, memperbaiki kualitas latihan, dan mempersiapkan atlet menghadapi jenjang yang lebih tinggi.
“Kompetisi harus menjadi bagian dari proses pembinaan, bukan sekadar kegiatan untuk memenuhi kalender pertandingan,” demikian pokok pemikiran Rolland mengenai pentingnya kesinambungan kompetisi.
Dengan sistem tersebut, klub-klub di NTT diharapkan tidak hanya berorientasi pada kemenangan dalam satu turnamen, tetapi juga memiliki program pembinaan jangka panjang.
Digitalisasi Data dan Peningkatan Kualitas SDM
Selain kompetisi, Rolland menyoroti pentingnya pengelolaan data pemain, pelatih, dan wasit.
Menurut dia, Asprov perlu membangun basis data sepak bola yang akurat dan terintegrasi. Data tersebut dapat digunakan untuk memetakan potensi pemain di setiap kabupaten dan kota, memantau perkembangan atlet, serta membantu proses seleksi berdasarkan rekam jejak yang jelas.
Digitalisasi juga dapat memperkuat transparansi administrasi dan mengurangi persoalan dalam pendataan pemain, termasuk ketidaksesuaian identitas atau usia.
Di sisi lain, peningkatan kualitas sumber daya manusia harus menjadi agenda berkelanjutan. Asprov perlu memperluas akses terhadap pendidikan dan sertifikasi pelatih serta wasit agar kualitas penyelenggaraan kompetisi semakin baik.
Bagi NTT, langkah tersebut penting mengingat potensi pemain sepak bola tersebar di berbagai wilayah. Tanpa dukungan pelatih berkualitas, kompetisi yang teratur, dan sistem pemantauan yang baik, potensi tersebut tidak selalu berkembang secara optimal.
Sepak Bola Harus Memiliki Nilai Ekonomi
Dari perspektif ekonomi, Rolland melihat sepak bola memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai industri yang memberikan manfaat lebih luas bagi daerah.
Pertandingan dapat menggerakkan berbagai sektor, mulai dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), transportasi, perhotelan, kuliner, hingga ekonomi kreatif.
Namun, manfaat tersebut tidak akan muncul secara maksimal jika pengelolaan sepak bola hanya berorientasi pada penyelenggaraan pertandingan.
Diperlukan manajemen yang profesional untuk mengembangkan sponsor, penjualan tiket, merchandise, kemitraan usaha, serta pemasaran kompetisi. Klub juga perlu didorong memiliki perencanaan keuangan yang sehat agar tidak terus bergantung pada bantuan pemerintah.
Dalam konteks ini, Asprov memiliki peran strategis sebagai penghubung antara klub, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat.
Kemitraan dengan pemerintah daerah dan sektor swasta juga dibutuhkan untuk memperbaiki fasilitas olahraga serta menyediakan lapangan yang layak bagi pembinaan pemain.
Jika dikelola secara konsisten, sepak bola berpotensi menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat.
Kepemimpinan Harus Berorientasi pada Sistem
Rolland menilai, perubahan sepak bola membutuhkan kepemimpinan yang memahami keterkaitan antara olahraga, manajemen, dan ekonomi.
Pemimpin organisasi sepak bola perlu memiliki kemampuan membangun kemitraan, mengelola sumber daya, menjaga transparansi, dan memastikan setiap program berjalan sesuai tujuan.
Integritas juga menjadi faktor penting. Kompetisi yang kredibel merupakan prasyarat untuk membangun kepercayaan klub, suporter, dan sponsor.
Karena itu, tata kelola pertandingan harus dijaga melalui aturan yang jelas, pengawasan yang konsisten, serta penindakan terhadap pelanggaran sesuai ketentuan yang berlaku.
Selain itu, pembangunan sepak bola tidak dapat diukur hanya dari hasil yang dicapai dalam satu musim. Pembinaan usia dini membutuhkan waktu panjang sebelum menghasilkan pemain yang mampu bersaing di level senior.
Dalam pandangan Rolland, pemimpin sepak bola harus berani membangun fondasi yang manfaatnya mungkin baru terlihat pada masa kepengurusan berikutnya.
Visi Fernando Soares dan Tantangan Sepak Bola NTT
Perspektif tersebut menjadi salah satu kerangka untuk membaca visi dan misi Fernando Jose Osorio Soares sebagai calon Ketua Asprov PSSI NTT.
Gagasan mengenai kompetisi yang berkesinambungan, pembinaan pemain, peningkatan kualitas pelatih dan wasit, serta reformasi tata kelola perlu diterjemahkan ke dalam program kerja yang terukur.
Tantangannya bukan hanya merumuskan visi, melainkan memastikan pelaksanaannya menjangkau klub dan komunitas sepak bola di seluruh NTT.
Keberhasilan program juga perlu dievaluasi melalui indikator yang jelas, seperti frekuensi kompetisi, jumlah pemain usia dini yang terdaftar, peningkatan pelatih dan wasit berlisensi, kualitas pengelolaan klub, serta keterlibatan pihak swasta dalam pembiayaan sepak bola.
Dengan ukuran tersebut, perkembangan sepak bola tidak hanya dinilai berdasarkan jumlah turnamen atau trofi yang diraih, tetapi juga dari kemajuan sistem pembinaan dan keberlanjutan organisasi.
Pada akhirnya, transformasi sepak bola NTT membutuhkan kerja bersama antara Asprov, klub, pemerintah daerah, pelatih, pemain, dan dunia usaha.
Asprov berperan memastikan sistem berjalan di tingkat daerah, sedangkan PSSI pusat menetapkan regulasi dan arah pengembangan sepak bola nasional.
Jika kedua peran tersebut berjalan selaras, NTT memiliki ruang untuk mengembangkan sepak bola secara lebih terstruktur, kompetitif, dan bernilai ekonomi.
Sepak bola yang maju bukan hanya tentang siapa yang mengangkat trofi, melainkan tentang bagaimana sebuah daerah membangun sistem yang mampu melahirkan pemain berkualitas, organisasi profesional, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.







