Penyidik Polres Rote Ndao Disidangkan, Oknum Pol PP Diduga Otak Dibalik Pembunuhan Kades Lidor

  • Whatsapp
Keterangan foto: I Made Budiarsa sedang menjalani persidangan (kiri) dan Bernadus Arnolus Filly alias kici pol (kanan) diduga menjadi otak pembunuhan kades Lidor.
banner 468x60

PORTALNTT.COM, ROTE NDAO – Sidang ke sebelas pembunuhan Pj Kepala Desa Lidor, yoppy O Hilly yang terjadi awal tahun 2016 yang lalu kembali digelar, Kamis (20/102016) di ruang sidang utama pengadilan Negeri Rote Ndao dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari penyidik (saksi Verbal) polres Rote Ndao yakni, Bripka I Made Budiarsa, SH sekaligus keterangan saksi yang meringankan para terdakwa.

Dalam kesaksiannya di depan majelis hakim, saksi I Made Budiarsa mengatakan sebelum dirinya melakukan pemeriksaan terhadap terdakwa Samuel Bolu Filly, Dia sempat berinteraksi terhadap terdakwa dan terdakwa mengakui dirinya seorang anak yatim – piatu.

Penyidik Polres Rote Ndao itu menjelaskan, dalam pemeriksaannya diketahui terdakwa Samuel Filly mengakui disuruh oleh Bernadus Arnolus Filly alias kici Pol (honorer Pol PP kab Rote Ndao) untuk membunuh Pj Kades Lidor, Yoppy O Hilly dan di hadapannya terdakwa mengungkapkan bersalah karena telah menjual kici pol.

Made Budiarsa menegaskan dirinya tidak pernah melakukan paksaan dan pemukulan terhadap para terdakwa dan Penyidik Made mengakui saat dirinya melakukan pemeriksaan terhadap terdakwa Samuel Filly, Ia bertanya kepada terdakwa mengenai matanya yang kelihatan merah dan terdakwa menjawab dirinya mengalami sakit mata, tapi tidak di aniaya Polisi.

Sementara terdakwa Samuel Filly dan Fery Henukh mengatakan pengakuan mereka dikarenakan dipukul dan dipaksakan polisi untuk mengakuinya ketika mereka mendekam di tahanan penyidik polres Rote Ndao.

Pantauan PortalNTT, saksi yang meringankan para terdakwa batal dihadirkan di persidangan karena terdakwa Samuel Filly mengatakan saksi meringankan hanya melihat bekas luka pukulan di wajah mereka tapi tidak melihat secara langsung mereka di aniaya Polisi.

Sidang tersebut juga menghadirkan tiga orang terdakwa yakni Tony Agustinus Bolu Filly, Samuel Bolu Filly dan Fery Henukh, sementara David Adu sang eksekutor yang menghabisi nyawa korban dengan bidikan peluru belum dihadirkan dipersidangan karena belum berhasil disergap penyidik alias masih DPO dan ketiga terdakwa dijerat pasal primer 340 KUHP, subs 338,lebih subs 354 jo 55 KUHP yang diancam pidana mati atau penjara seumur hidup atau paling sedikit 20 tahun penjara.

Sidang dipimpin ketua majelis hakim Cipto Hosari P Nababan, SH,MH dibantu hakim anggota Rosihan Luthfi, SH dan Abdi Ramanhsyah, SH, serta panitera pengganti Adriani Karolina, SH dan Antonia Lipat Olah, SH, Jaksa penunutut Umum, Alexander Sele, SH dan Suharyono, SH dan ketiga terdakwa didampingi kuasa hukum, Johanis Rihi dan Abdul Wahat, SH.

Persidangan berjalan dengan aman meskipun dihadiri kedua belah pihak yang datang dari Desa Lidor untuk menyaksikan jalannya persidangan.

Sidang ditunda dan digelar kembali, 27 Oktober 2016. (Nasa)

 

Komentar Anda?

banner 300x250

Related posts

banner 468x60