PORTALNTT.COM, KOTA KUPANG – Kisah Golgota adalah kisah tragis 2000-an tahun lalu. Tragedi Golgota adalah sebuah sejarah yang layak disimak, sebuah kisah yang patut dilukis ulang. Adalah suatu kebenaran yang tak dapat disangkal, yakni peristiwa wafatnya Yesus Kristus merupakan pengalaman yang paling tragis dalam hidupNYA. Peristiwa yang tidak dialami secara langsung ini, coba diperankan kembali oleh Orang Muda Katolik (OMK) Paroki ST. Yoseph Pekerja Penfui, Jumat 14 April 2017.

Sebuah kisah yang menyentil perasaan manusiawi umat Kristus ini mengambil tema Jalan Salib Solidaritas dengan sang sutradara Frids Wawo Lado.
Berawal dari episode Getsemani, salah satu narator Carol, menuntun seluruh umat yang mengikuti jalan salib solidaritas ini, seolah-olah berada di tengah-tengah hikmatnya suasana Getsemani kala itu, yang mencekam karena ini merupakan detik-detik awal Yesus sang juru selamat memulai kisah penderitaan menuju bukit Golgota.
Pukulan dan cacian yang diperankan para algojo rupanya memantik simpati para umat, sampai ada umat yang tak dapat menahan haru dan meneteskan air mata. Ada pula yang berteriak histeris seolah-olah tak tega melihat penyiksaan para algojo terhadap Yesus.
“Adu Tuhan eee…kasihan sekali,” ungkapan spontan beberapa umat yang mengikuti jalan salib solidaritas ini, sambil mengambil sebuah saputangan untuk mengeringkan tetesan air mata yang menetes membasahi pipi.
Seluruh umat dibuat terperangah, teriknya panas mentari tak menggoyahkan sedikit niat umat untuk mengikuti jalan salib hidup ini.

Suasana haru saat perhentian IV ‘Yesus berjumpa dengan IbuNYA’. Lagi-lagi Carol sang narator dengan suara pelan dan menghanyutkan, diiringi musik instrumen, membuat beberapa umat tak lagi dapat menahan tangis.
“Ketika mentari hanyalah lembayung jingga bersama alam yang merunduk sunyi, sebisu hatimu Bunda, di saat terpekur di kakiNYA yang lunglai memikul kayu salib. Bunda, bening matamu menatap wajah nan terkulai, tatapanmu membelai serabut wajah letih. Air matamu membasahi dahaganya nan lara, sejuk telingamu menangkap rintihanNYA sedih ‘IBU INILAH ANAKMU’. Belati duka menikam wajahmu pasrah, meratap bunda dalam hening, duka manakah seberat dukaku? Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMU. Mawar yang Bunda petik pada samudera kehidupan adalah mawar dari taman hati penuh cinta berpadu gelombang kasih, mengalir pada sungai hati nan tak bertepi, salam bintang laut, Kau hadirkan bapa setangkai mawar pengabdian, mahkotanya mekar dalam lautan Ziarah yang tak bertepi. Bunda, di pintu hatimu kami mengetuk salam pintu surga, mawar nan terkulai ini kupersembahkan buatmu dari hatiku yang patah berkeping retak dari jantungku yang berdetak lamban. Dari nuraniku yang puntung buntung oleh wajah pertiwiku penuh tangis nan sedih,” demikian kutipan yang dibacakan sang narator Carol melalui teks tablo.

Kalvari bukit tengkorak, jalan menuju ke puncak tidaklah mudah. Sajian berbatu dan berkelok-kelok menampakkan keganasan dunia bagi sang kasih. Didera dan diseret kemana-mana, harus menempuh perjalanan yang begitu berat, Yesus harus menjalankan semuanya itu katana satu hal yakni ‘KASIH’.
Romo Paroki, Krispinus Saku, PR mengatakan apa yang ditampilkan OMK merupakan partisipasi mereka sebagai generasi penerus Gereja dan Bangsa, karena itu seluruh umat diminta untuk hidupkan persekutuan ini.
“Mereka tidak jadi umat orang muda yang pasif tapi terlibat sungguh-sungguh. Kegiatan perjalanan Tablo atau jalan salib hidup ini adalah pembelajaran untuk orang-orang muda ke depan karena mereka juga akan ambil alih tongkat estafet entah itu sebagai anggota masyarakat atau sebagai anggota Gereja, sebab Gereja masa depan ada di tangan orang-orang muda ini,” ungkap Romo Kris.
Menurutnya, kegiatan jalan salib hidup ini akan terus dipertahankan pada tahun-tahun mendatang.
“Kalau itu bermanfaat dan menjadi pembelajaran dan terkhusus kekuatan iman dan tanggungjawab dari orang-orang muda kenapa tidak? Tentunya kita akan sama-sama mempertahankan ini,” pungkas Romo Kris.
Salah satu umat yang mengikuti jalan salib solidaritas ini, Lusia, mengaku baru pertama kali mengikuti jalan salib ini.
“Jujur saya satu umat yang menangis histeris karena melihat para algojo begitu kasar terhadap Tuhan Yesus. Saya tidak bisa membayangkan apa yang dialami dan dirasakan ketika itu,” ungkap Lusia dengan wajah berkaca-kaca.
Dia mengharapkan agar kegiatan jalan salib hidup ini agar tetap dipertahankan dan menjadi ciri khas tersendiri dari Paroki ST. Yoseph Pekerja Penfui.
“Para pemeran benar-benar menghayati karakternya masing-masing sehingga kami umat merasa benar-benar ada dalam suasana penderitaan Yesus. Semoga tahun depan akan lebih baik lagi,” pintanya. (Jefri)







