Tanamkan Integritas Sejak Dini, Mahasiswa STIPAS Keuskupan Agung Kupang Ajak Anak-anak Lembata Belajar Nilai Kejujuran

  • Whatsapp

PORTALNTT.COM, LEMBATA – Perubahan besar tidak selalu dimulai dari ruang-ruang kekuasaan. Di sebuah dusun kecil di Kabupaten Lembata, sekelompok mahasiswa memilih memulainya dari hati anak-anak.

Mahasiswa STIPAS Keuskupan Agung Kupang “Andreas Cencenio Douq” menggelar kegiatan belajar bersama bagi anak-anak di Dusun Leutoher, Desa Hingalamamengi, Kabupaten Lembata, Jumat (27/6/2026). Kegiatan ini bertujuan menanamkan nilai-nilai kejujuran, kepedulian, dan integritas sejak usia dini sebagai fondasi untuk mencegah praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di masa depan.

Menariknya, kegiatan tersebut diikuti anak-anak dari berbagai latar belakang agama. Tidak hanya anak-anak Katolik, tetapi juga anak-anak Muslim turut berpartisipasi. Kegiatan yang berlangsung di halaman Mushola Jabal Nur Leutoher itu menjadi gambaran nyata bahwa semangat toleransi dan persaudaraan masih tumbuh kuat di tengah masyarakat Desa Hingalamamengi.

Dalam pembelajaran bertema “Anggota Tubuhku Berguna bagi Orang-orang di Sekitarku”, para peserta diajak memahami bahwa setiap anggota tubuh merupakan anugerah Tuhan yang memiliki fungsi untuk menghadirkan kebaikan bagi sesama. Melalui berbagai permainan edukatif dan diskusi interaktif, anak-anak didorong menggunakan tangan untuk menolong, kaki untuk melangkah menuju hal-hal baik, mulut untuk berkata jujur, serta hati untuk peduli kepada keluarga, teman, dan lingkungan sekitar.

Pemateri kegiatan, Andreas Cencenio Douq, mengatakan bahwa pendidikan karakter harus dimulai sejak dini agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kepekaan sosial dan integritas.

Menurutnya, setiap anak perlu belajar merawat tubuh sebagai anugerah Sang Pencipta sekaligus menggunakannya untuk melakukan hal-hal yang membawa manfaat bagi orang lain. Nilai-nilai sederhana tersebut diharapkan menjadi bekal ketika kelak mereka dipercaya memegang tanggung jawab sebagai pemimpin.

“Ketika sejak kecil anak-anak dibiasakan hidup jujur, peduli, dan mampu mengendalikan emosi serta keinginan pribadi, mereka akan lebih siap menjadi pemimpin yang mengutamakan kepentingan masyarakat, bukan kepentingan diri sendiri. Dengan demikian, mereka memiliki benteng moral untuk menjauhi praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme,” ujarnya.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Anak-anak aktif menjawab pertanyaan, berdiskusi, dan mengikuti setiap aktivitas yang disiapkan. Suasana belajar berlangsung hangat, penuh kegembiraan, sekaligus menjadi ruang untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan yang akan mereka bawa hingga dewasa.

Andreas meyakini bahwa membangun bangsa tidak selalu dimulai melalui kebijakan besar, tetapi dari lingkungan-lingkungan kecil tempat karakter anak dibentuk. Karena itu, pendidikan tentang kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian perlu terus ditanamkan agar lahir generasi yang mampu membawa perubahan positif bagi bangsa dan negara.

Melalui kegiatan sederhana tersebut, para mahasiswa berharap anak-anak di Desa Hingalamamengi tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki hati yang tulus, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, serta berkomitmen membangun Indonesia yang bersih dari praktik korupsi.

Komentar Anda?

Related posts