PORTALNTT.COM, KUPANG – Universitas Nusa Cendana dipercaya menjadi tim penguji eksternal dalam Tes Kompetensi Khusus Keterampilan dan Perilaku penerimaan BAKOMSUS Bintara Kompetensi Khusus Polri Tahun Anggaran 2026 yang digelar di Gedung Hemodialisa Rumah Sakit Bhayangkara, Senin (25/5/2026).
Keterlibatan akademisi dari Undana tersebut menjadi bagian dari komitmen Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam menerapkan prinsip BETAH, yakni Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis, pada proses rekrutmen anggota kepolisian, khususnya jalur kompetensi khusus yang membutuhkan kemampuan teknis sesuai bidang keahlian peserta.
Seluruh materi ujian, indikator penilaian, hingga lembar asesmen disiapkan langsung oleh Mabes Polri dan diterapkan secara nasional agar standar penilaian tetap seragam di seluruh Indonesia.
Salah satu penguji eksternal dari Undana, Ollien Manggol, menjelaskan bahwa tugas akademisi dalam seleksi tersebut tidak hanya menguji teori, tetapi juga menilai kemampuan teknis peserta secara langsung berdasarkan bidang keilmuan masing-masing.
“Tugas kami menguji keterampilan dan perilaku calon BAKOMSUS berdasarkan standar yang sudah ditetapkan Mabes Polri. Penilaian dilakukan berdasarkan pengalaman kami sebagai praktisi dan akademisi, tetapi tetap mengacu pada pedoman penilaian dari Mabes Polri,” ujarnya.
Menurut dia, peserta diwajibkan menunjukkan kemampuan praktik sesuai kompetensi yang dilamar.
“Kalau keterampilan tentu ada praktiknya. Misalnya di bidang desain, peserta tidak hanya ditanya bisa atau tidak, tetapi harus mempraktikkan langsung menggunakan aplikasi tertentu. Jadi secara teknis itu yang diuji oleh tim penguji dari Undana,” katanya.
Sebanyak tujuh akademisi Undana dilibatkan dalam proses seleksi tersebut. Mereka berasal dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari hukum, gizi, perikanan, peternakan, teknik sipil, akuntansi, hingga hubungan masyarakat.
Para akademisi yang ditugaskan berdasarkan Surat Tugas Nomor 4557/UN15.5/KP/2026 yakni Dr. Simplexius Asa, SH., M.H. untuk bidang hukum/penyidik, Prof. Dr. Intje Picauly, S.Pi., M.Kes. bidang gizi, Prof. Dr. Chaterina A. Paulus, M.Si., CRA., CRP., CPRM. bidang perikanan dan kelautan, Prof. Dr. Denik S. Krisnayanti, ST., MT. bidang teknik sipil dan sains, Imanuel Benu, S.Pt., Ph.D. bidang peternakan, Yohana Febiani Angi, SE., M.Ak., CRA bidang akuntansi dan ekonomi, serta Ollien Manggol, SKM., MPA., CRA bidang humas.
Sebelum pelaksanaan ujian, panitia pusat dan daerah juga telah menggelar rapat koordinasi daring terkait teknis penilaian di Laboratorium Komputer SMAN 3 Kupang pada Selasa (19/5/2026).
Sementara itu, Kepala Biro SDM Polda NTT Kombes Pol. Dr. H. Juli Agung Pramono mengatakan keterlibatan akademisi menjadi langkah penting untuk memastikan proses penilaian berlangsung objektif dan profesional.
“Pada bidang-bidang tertentu seperti gizi, humas, maupun teknik, penilaian paling tepat tentu dilakukan oleh para ahli di bidangnya. Kami membutuhkan dukungan akademisi untuk mengukur kemampuan yang tidak sepenuhnya dapat dinilai oleh internal kepolisian,” ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan tugas kepolisian saat ini semakin kompleks sehingga Polri membutuhkan personel yang tidak hanya kuat secara fisik dan memahami hukum, tetapi juga memiliki kompetensi teknis sesuai kebutuhan masyarakat.
Jumlah peserta seleksi BAKOMSUS di Polda NTT tercatat sebanyak 28 orang. Mereka terdiri dari 10 peserta bidang humas, 6 peserta penyidik, 4 peserta peternakan, 3 peserta akuntansi, 3 peserta teknik sipil, serta masing-masing 1 peserta dari bidang perikanan dan gizi.
Tim penguji dari Undana berharap sinergi antara perguruan tinggi dan Polri dapat terus berlanjut pada rekrutmen berikutnya agar menghasilkan personel kepolisian yang profesional dan memiliki kompetensi teknis yang benar-benar teruji.
“Kami berharap dengan hadirnya Undana dalam proses rekrutmen ini, bisa bersama-sama menghasilkan calon anggota kepolisian yang mumpuni di bidangnya masing-masing. Mereka tidak hanya lolos secara administrasi dan internal Polri, tetapi juga benar-benar teruji kemampuan teknisnya di lapangan,” kata Ollien.







