PORTALNTT.COM, KUPANG – Sebanyak 63 mahasiswa dari Universitas Nusa Cendana (Undana) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi dilepas untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Kolaboratif di wilayah perbatasan Indonesia–Timor Leste, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Senin (22/6).
Program pengabdian ini merupakan hasil kerja sama antara Universitas Nusa Cendana dan Universitas Gajah Mada yang kembali memperkuat sinergi perguruan tinggi dalam menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya di kawasan strategis perbatasan negara.
Pelepasan peserta KKN berlangsung di halaman Rektorat Undana dan dipimpin oleh Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., didampingi Wakil Rektor II Prof. Dr. Paul G. Tamelan, M.Si, Senin (22/6/2026).
Dalam sambutannya, Rektor Undana menekankan pentingnya kebersamaan lintas kampus selama pelaksanaan pengabdian di lapangan. Ia meminta mahasiswa untuk melebur dalam satu tim tanpa sekat identitas perguruan tinggi.
“Di desa nanti tidak ada lagi Undana atau UGM. Yang ada adalah satu keluarga yang bekerja bersama untuk memberi dampak bagi masyarakat,” tegasnya.
Sebanyak 63 mahasiswa tersebut terdiri dari 33 mahasiswa Undana dan 30 mahasiswa UGM. Mereka akan ditempatkan di tiga desa di Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, yakni Desa Sadi, Desa Tulakadi, dan Desa Dualaus.
Prof Jefri menambahkan, kehadiran mahasiswa di wilayah perbatasan tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban akademik, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran sosial yang memiliki dampak jangka panjang bagi masyarakat.
Menurutnya, keberadaan mahasiswa kerap menjadi inspirasi bagi anak-anak di desa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
“Jika kehadiran mahasiswa mampu mendorong anak-anak SD dan SMP memiliki cita-cita untuk kuliah, maka itu merupakan dampak yang sangat besar,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Undana, Prof. Ir. Yosep Seran Mau, M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa pelaksanaan KKN kolaboratif ini mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Belu, termasuk penyediaan transportasi bagi mahasiswa menuju lokasi pengabdian.
Ia menjelaskan, mahasiswa akan bekerja secara lintas disiplin ilmu untuk menjawab berbagai kebutuhan masyarakat di wilayah perbatasan secara terpadu dan berkelanjutan.
Dari pihak UGM, Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Muhammad Sulaiman, menyebut wilayah perbatasan menjadi salah satu fokus utama KKN tahun ini. Selain pengabdian, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkuat kerja sama riset dan jejaring antarmahasiswa dari kedua perguruan tinggi.
Ia menegaskan, KKN kolaboratif diharapkan tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga menghadirkan dampak berkelanjutan bagi masyarakat di kawasan perbatasan.
“Dengan semangat kolaborasi, para mahasiswa kini bersiap terjun langsung ke tengah masyarakat di perbatasan Belu. Mereka diharapkan menjadi agen perubahan yang membawa pengetahuan, kepedulian, serta solusi nyata bagi warga di wilayah tersebut,” tandasnya.







