Bank NTT Perkuat Ekosistem UMKM Lembata, Dorong Produk Lokal Naik Kelas dan Tembus Pasar

  • Whatsapp

PORTALNTT.COM, LEWOLEBA – Penguatan ekonomi daerah di Kabupaten Lembata mulai bergerak dari basis yang paling mendasar: usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Melalui pendampingan pembiayaan dan pemasaran oleh Bank NTT Cabang Lewoleba, produk lokal Lembata kini tidak hanya bertahan di tingkat produksi, tetapi mulai naik kelas dan masuk ke jaringan pasar yang lebih luas.

Hal itu ditandai dengan masuknya tiga produk UMKM binaan Bank NTT, Kopi Baleo, Jagung Titi Baleo, dan Abon Ikan Tuna Irama, ke NTT Mart by Dekranasda Lembata, yang diluncurkan Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena, Kamis (5/2/2026). Kehadiran produk tersebut mencerminkan kesiapan UMKM lokal dalam menjawab tantangan kualitas, kontinuitas, dan akses pasar.

Pimpinan Bank NTT Cabang Lewoleba Egbert Balukh menegaskan, penguatan UMKM tidak cukup dilakukan melalui pembiayaan semata. Yang lebih penting adalah membangun ekosistem usaha yang terhubung dari hulu hingga hilir.

“Pendampingan Bank NTT diarahkan agar UMKM mampu berproduksi secara berkelanjutan, memiliki kemasan yang layak pasar, dan terhubung dengan jaringan distribusi,” katanya.

Sebagai bagian dari strategi itu, Bank NTT Cabang Lewoleba menyalurkan Kredit Mikro Kecil POPELA masing-masing Rp 10 juta kepada dua pelaku UMKM. Skema kredit ini dirancang khusus untuk pelaku usaha mikro dan kecil di Nusa Tenggara Timur, dengan plafon pinjaman Rp 5 juta hingga Rp 100 juta dan tenor hingga lima tahun, baik untuk modal kerja maupun investasi usaha.

Melalui proses pengajuan yang sederhana, termasuk secara digital melalui aplikasi B’Pung Mobile Bank NTT, Kredit POPELA menjadi instrumen penting dalam memperkuat kapasitas usaha rakyat dan mendorong UMKM bertransformasi dari usaha subsisten menjadi usaha produktif.

Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq menilai kehadiran NTT Mart merupakan langkah strategis dalam memperbaiki struktur ekonomi daerah yang selama ini terkendala pada aspek hilirisasi. Menurut dia, konsep pembangunan ekonomi daerah dengan pendekatan NTT (Nelayan, Tani, dan Ternak) membutuhkan dukungan pasar yang pasti.

“Selama ini produk berhenti di desa karena tidak ada kepastian pasar. NTT Mart menjawab persoalan itu,” ujar Kanis Tuaq.

Ia menyebut Jagung Titi Baleo sebagai contoh produk lokal yang mulai naik kelas. Produk tersebut kini dipasarkan ke Kupang dan Jakarta, serta tengah diuji coba menembus pasar Hongkong melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk Bank NTT.

Untuk menjaga kesinambungan, Pemerintah Kabupaten Lembata membangun sistem produksi terintegrasi. Dinas Pertanian memastikan ketersediaan bahan baku, Dinas Pemberdayaan Perempuan mengelola proses pengolahan, sementara Dinas Koperindag, Dekranasda, dan Bank NTT memperkuat sisi hilir melalui pembelian, pengemasan, dan pemasaran.

“Bank NTT berperan penting di hilir. Bukan hanya pembiayaan, tetapi juga memastikan produk desa memiliki akses pasar,” kata Bupati.

Pada peluncuran NTT Mart, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena turut membeli sejumlah produk UMKM binaan Bank NTT. Tindakan ini dinilai sebagai bentuk dukungan konkret terhadap penguatan ekonomi daerah berbasis UMKM.

Masuknya produk UMKM binaan Bank NTT ke NTT Mart menegaskan pergeseran peran Bank NTT dari sekadar lembaga keuangan daerah menjadi penggerak ekonomi lokal. Melalui integrasi pembiayaan, pendampingan, dan akses pasar, Bank NTT mendorong UMKM Lembata naik kelas dan memperkuat fondasi ekonomi daerah Nusa Tenggara Timur.

Komentar Anda?

Related posts