Home / Daerah / Gandeng WO Rumah Pengantin, Pasutri Ini Hadirkan Konsep Party di Tengah Pandemi

Gandeng WO Rumah Pengantin, Pasutri Ini Hadirkan Konsep Party di Tengah Pandemi

888 Kali dibaca

Bagikan Halaman ini

[addtoany]
[addtoany]

PORTALNTT.COM, KOTA KUPANG – Merencanakan pernikahan di era pandemi Covid-19 memang berbeda. Konsep resepsi pernikahan pun harus menyesuaikan dengan aturan yang ditetapkan pemerintah.

Bagi sebagian keluarga di Indonesia, gelaran resepsi pernikahan adalah acara keluarga paling besar di masa sebelum pandemi virus corona. Gelaran resepsi ini bahkan bisa diselenggarakan dengan mengundang hingga ribuan tamu. Jumlah tamu adalah gambaran luasnya pergaulan pengantin dan ketokohan orang tuanya.

Namun, impian resepsi yang ideal tidak lagi dijumpai dalam beberapa bulan terakhir. Di masa pandemik Covid-19, sesuai aturan pemerintah, tamu yang diundang kini sangat terbatas, antara 50 hingga 300 orang. Bahkan, undangan yang sudah sedikit itu, harus dijadwal kedatangannya agar tidak menimbulkan kerumunan.

Hal ini pun yang diterapkan Reynhart Riwu Kaho Djo (Rey) dan Vivi Maya Aryani Mada, pasangan suami istri yang baru mengukuhkan janji setia pernikahan mereka di gereja GMIT Getsemani Tarus Timur, Sabtu 19 Juni 2021.

Kedua mempelai, Rey dan Vivi memasuki taman Subasuka Paradise tempat dilaksanakan resepsi.

Di moment paling bersejarah ini, Rey dan Vivi menginginkan sebuah perayaan resepsi yang mengedepankan desain atau gaya yang sangat dipengaruhi oleh elemen-elemen bernuansa alam yang ramah lingkungan dan lebih natural.

Mereka ingin para tamu undangan yang hadir benar-benar ada dalam suasana kekeluargaan dengan konsep standing Party. Bisa bersosialisasi dengan tetap memperhatikan jarak.

Rei dan Vivi mempercayakan konsep acara resepsinya ke salah satu Wedding Organizer terkenal di Kota Kupang, Rumah Pengantin.

Anita Umar pemilik Rumah Pengantin, menjelaskan konsep yang dipilih kedua mempelai adalah tema Rustic dan Bohemian.

Tema ini kata dia, biasanya pelaminan yang dibuat dengan latar atau backdrop yang sederhana yang menonjolkan material kayu, bahan-bahan bunga kering, dedaunan kering dan property yang digunakan semua yang menonjolkan bergaya alam, tua atau pedesaan.

“Perpaduan dua konsep ini akan digelar di tempat terbuka atau outdoor untuk mendapatkan karekter asli wedding yang benar-benar alami dengan standing party dan tamu yang hadir wajib menggunakan dresscode putih dan krem, itu ciri khas dari Rustic dan Bohemian style,” jelas Anita.

Menurut Anita, sesuai dengan anjuran pemerintah yang mengharuskan dalam sebuah acara itu minimal 100 orang. Pihaknya menerapkan pembagian shift kepada tamu undangan yang datang dalam resepsi Rey dan Vivi yang digelar di Subasuka Paradise.

“Ada dua tempat yang disiapkan Venue yaitu di dalam restoran dan di taman. Kita batasi undangan 100 orang. Jadi para tamu undangan yang datang kita akan atur supaya mereka di hantar ke taman. Di sana tim akan menghitung jumlah tamu yang ada sehingga jaga jarak itu tetap terjaga. Dan bagi yang belum masuk ke taman akan menunggu di restoran dan di sana mereka bisa menikmati setiap hidangan yang telah disiapkan. Nanti setelah yang dari taman selesai kita akan arahkan mereka dari restoran ke taman untuk bertemu pengantin, bersalaman, menikmati musik dan setelah itu pulang,” jelasnya.

“Dalam konsep ini tidak seperti acara-acara yang biasanya ada kata sambutan, dan lain sebagaianya. Semua dalam suasana santai, rileks. Tamu undangan datang menikmati suasana yang ada, hidangan yang disiapkan lalu bisa pulang,” tambahnya.

Untuk itu, ia merasa penting menjelaskan konsep ini agar menjadi model contoh dan masukan bagi pemerintah agar tetap memperbolehkan pelaksanaan pesta ataupun acara lainnya dengan menerapkan konsep yang tetap memperhatikan prokes.

“Jujur saja kami sebagai pelaku seni selama masa pandemi ini merasa kesulitan karena dengan adanya Perwali kami tidak mampu melakukan apa-apa sementara kami memiliki karyawan yang harus tetap digaji, sehingga kami mengharapkan pemerintah agar peduli dengan kondisi ini sehingga perekonomian tetap jalan dan prokes juga tetap dijalankan,” imbuhnya.

Salah satu tamu undangan, Melinda Camelia saat diminta tanggapannya terkait konsep resepsi yang dipilih mempelai mengaku senang dengan konsep Standing Party karena semua tamu jadinya tidak berkerumun dan Party bisa berlangsung dengan tetap memperhatikan prokes. Selain itu jumlah tamunya dibatasi sesuai jam di undangan.

“Saya senang dengan konsep Rustic ini karena tidak meninggalkan kesan glamour tetapi meninggalkan kesan elegant dan chic untuk pernikahan,” ungkapnya.

Pantuan langsung di lokasi, para tamu mematuhi prokes dengan memakai masker, menggunakan handsanitiser, dan menjaga jarak. Para tamu begitu leluasa menikmati suasana dengan lantunan musik dan menikmati aneka makanan dan minuman yang disiapkan.

Para tamu undangan yang datang kemudian diarahkan WO untuk menunggu di bagian sonaf untuk menanti giliran bisa bergabung bersama kedua mempelai di dalam taman. (Jefri Tapobali)

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

[addtoany]
[addtoany]