Genealogi Michel Foucault: Analisis Kritis Konstruksi Kecantikan Ideal Di Era Modern

  • Whatsapp

Oleh: Raymundus N Taneo (Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang).

 

PENDAHULUAN

Abad 21 ditandai oleh pesatnya kemajuan teknologi, informasi, dan komunikasi. Kendati disinyalir oleh adanya dampak positif bagi umat manusia di satu sisi namun tidak bisa dimungkiri eksistensinya memicu kecemasan mendalam terkait citra diri. Inilah lanskap kehidupan modern yang cenderung ambivalensial. Ambivalensi itu kian terasa ketika manusia mulai merasakan kecemasan yang mendalam tatkala industri kosmetik hadir melalui media sosial dan “mempersuasi” manusia tentang konsep kecantikan yang ideal. Titik kulminasi kecemasan ini tampak dalam keruntuhan estetika tradisional yang memandang kecantikan dari kacamata pluralitas.

Gagasan tentang manusia sebagai pribadi yang unik dan beragam pada giliranya harus dilmpuhkan oleh logika kekuasaan (kapitalisme ) yang sertalistik dan normatif (Syafiuddin, 2018). Di sini kecantikan didefinisikan oleh logika epistemologi modern sebagai keseragaman. Dampak yang signifikan dari pandangan ini ialah negasi terhadap bentuk-bentuk tubuh yang tidak seragam atau tidak sesuai dengan standar estetika modern.

Secara genealogis standar kecantikan modern seperti rambut lurus, kulit putih dan hidung mancung sejatinya bersifat ahistoris dan diskriminatif karena mengabaikan realitas biologis masyarakat di berbagai belahan dunia, seperti di Afrika atau wilayah tropis lainya. Dalam pandangan yang lebih jauh standarisasi kecantikan sejatinya merupakan manifestasi dari kolonialime modern yang bekerja secara produktif dan halus di bawah kendali kapitalisme demi laba maksimal. Hal ini selaras dengan pemikiran Michel Foucault, Filsuf asal Perancis, khususnya dalam diskursus mengenai relasi kuasa dan pengetahuan.

Foucault menjelaskan bahwa kekuasam tidak lagi bekerja secara represif melalui kekerasan fisik, melainkan secara produktif melalui produksi wacana(Foucault, 2021). Melalaui kerja kolaborasi kekuasaan memakai bahasa medis untuk melegitimasi standar esetika tertentu sehingga mudah diterima oleh masyarakat.

Dalam Discipline and Punish Foucault menggunakan konsep panoptikon Jeremy Bentham untuk menjelaskan bagaimana wacana yang diproduksi oleh Kaum Kapital pada giliranya memicu internalisasi diri yang intens. Di era modern, standar kecantikan berfungsi sebagai “spionase” yang tak terlihat, memproduksi tubuh-tubuh yang patuh ( docile bodies) yang tunduk pada norma tanpa perlu paksaan esternal (Syawafi, 2022).Dengan ini Foucault ingin menegaskan bawa ada transisi mekanisme kekuasaan bekerjadari represif ke produktif. Transisi dimulai sejak era Victoria di mana hal-hal seperti seks, orang gila, orang diprivatisasi dengan dalih pendisiplinan. Melalui penkodifikasian seperti itu tidak jarang pada saat itu bermunculan institusi-instusi seperti penjara, rumah sakit, sekolah (Ramadhani, 2020).

Menurut Foucault kehadiran berbagai institusi itu selalu tidak terlepas dari misi pendisiplinan manusia. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa manusia didisplinkan bukan untuk membuatnya semakin manusiawi melainkan agar mempermudah pengontrolan.

Dalam bukunya History Of Sexuality ia menulis bahwa logika modern telah menegasi secara besar-besaran berbagai hal yang diduga tidak ilmiah, tidak saintifik  dan tidak rasional guna mengfirmasi pencarian mereka tentang kebenaran objektif (Michel Foucault, 2008). Kendati visimodernisme berbeda dengan postmodernime namun ia melihat bahwa pencarian kebenaran okjektif itu pada giliranya membuka portal bagi eksploitator global (kapitalisme) untuk memperoleh laba yang besar. Di sini sebenarnya keberhasilan Foucault dalam mengkonfirmasi gagasanya bahwa kekuasan selalu bersenyawa dengan pengetahuan. Kekuasaan memakai bahasa pengetahuan untuk mendisiplinkan tubuh manusia, sama halnya dengan kecantikan.

Lebih lanjut ia menegaskan bahwa kecantikan yang sering dianggap sebagai nilai estetika alami, sejatinya ialah produk sejarah yang sarat akan kepentingan. Pandangan ini sejatinya didasari oleh gagasanya tentang diskontonuitas sejarah (Syafiuddin, 2018). Ia menolak pergerakan sejarah yang linear, sebab baginya itulah gagasan yang sangat totalitarian. Pandangannya ini demikian meruntuhkan ambisi modernisme yang berkobar-kobar.

PEMBAHASAN

Genealogi: Perlawanan Terhadap Linearitas

Berpijak pada gagasan diskontinuitas tersebut, metode genealogi bekerja dengan cara melawan narasi linearitas. Alih-alih melihat sejarah sebagai proses evolusi yang bergerak maju menuju kesempurnaan, genealogi justru melihatnya sebagai medan tempur yang penuh dengan patahan. Dalam pandangan tradisional sejarah salalu bergerak linear menuju kesempurnaan. Sejarah manusia selalu bergerak dari kuno menuju modern, dari kegilaan menuju rasionalitas dan seterusnya. Pandangan yang demikian, di tolak oleh Foucault, sebab bagi dia sejarah tidak memiliki asas teleologis(Pranowo, 2017). Perihal kecantikan ideal yang dewasa ini menjadi wacana populer di pelbagai platfform media sosial, bagi Foucault bukanlah puncak dari sejarah kecantikan yang semakin maju melainkan hasil kontruksi kekuasaan di era modern. Melalui Genealoginya Foucoult menuntun kita untuk melacak kembali peristiwa masa lalu dengan pertanyaan tentang fenomena-fenomena kecantikan hari ini. (Arief, 2011)Tujuan Foucault ialah untuk  mengguncang keyakianan kita saat ini bahwa konsep kecantikan masa lalu dan  masa sekarang yang berbeda adalah bukti bahwa itu adalah produk sejarah yang bisa diubah.

​Foucoult menyebut fenomena perbedaan konsep kecantikan di setiap masa sebagai titik-titik diskontinuitas (patahan). Perbedaan ini kerap berubah secara drastis dalam waktu yang sangat singkat. Pada era lalu tubuh yang berisi dianggap cantik kerena menandakan kemakmuran (pandangan estetika tradisional). Namun, terjadi diskontinuitas saat kapatalisme dan paham medis bersenyawa dan menguasai pasar global. Pada saat itu wacana kecantikan ideal berubah di mana tubuh kurus kembali dianggap sebagai cermin pribadi yang sehat dan disiplin sementara  tubuh gemuk di beri stigma panyakit dan berbagai label negatif lainya. Pelacakan patahan-patahan sejarah ini pada giliranya membantu kita untuk melihat bahwa kebenaran tentang kecantikan ideal  adalah hasik kontruksi “pakar” (doker, industri konmetik, influencer) dan bukan sesuatu yang terjadi secara alamiah.

Kecantikan Sebagai Instumen Disiplin

​Dalam bukunya History Of Sexuaity Foucault menjelaskan bahwa pada abad ke- 19 tepatnya pada zaman Ratu Victoria segala bentuk aksi seksual dipinggit rapi dan dirumahtanggakan. Aksi ini sebenarya dipromotori oleh Gereja kala itu yang menganggap seks yang dilakukan di luar ikatan perkawinan yang sah adalah dosa (Michel Foucault, 2002).

Pandangan inilah yang kemudian diktirik oleh Foucoult karena menekankan kesucian bagi umat manusia namun menimba laba yang besar lewat rumah bordil yang diberi izin dengan
dalil tertentu. Pada masa ini distingsi antara yang normal dan tidak normal menjadi sangat gamblang.Mengutip pikiran Pascal dalam bukunya  Histoire de la Folie a’ L’ Age Classiquei (1961) “ manusia pastilah demikian gilanya sehingga kalaupun ia tidak gila, tetap diaggap gila dari sudat pandang kegilaan yang lain”(Michel Foucault, 2008:13).

​ Di dalam pernyataan itu Foucault menyingkap alasan mengapa bermunculan para psikiatri yang hadir sebagai “hakim” untuk mengadili yang gila dan yang waras, yang sakit dan yang sehat yang normal dan yang abnormal.Sebagaimana kekuasaan mendefinisikan kegilaan sebagai penyimpangan, kekuasaan yang sama dalam rezim estetika juga mendefinisikan “ketidakcantikan” sebagai anomali atau kondisi sakit yang harus disembuhkan. Pandangan itu akhirnya melebar dan merambah semua bidang terutama psikologi, medis, dan industri kosmetik yang familiar di era modern. Eksistensi bidang-bidang ini berpengaruh besar terhadap cara manusia modern menilai dirinya. Mereka hadir sebagai pemegang otoritas yang bisa menunjuk siapa saja yang tidak mendisiplinkan diri menurut standar yang ditentukan. Kendati tidak secara kasat mata pengaruhnya sama seperti apa yang digambarkan oleh Jeremy Bentham tentang Panoptikon; penjara dengan berbentuk melingkar dengan satu menara di tengahnya yang dapat memantau pergerakan napi di dalam penjara tanpa diketahui oleh mereka. (Damianus, 2006) Kasadaran akan pemantauan yang terus-menerus membuat mereka menginternalisasi aturan yang ada.

Sama halnya dengan kita di era modern, dimana dengan adanya pengaruh bahasa medis yang kuat membuat kita merasa bersalah dan “merasa kurang” atas fisik yang kita miliki sekarang ini. Dengan perasaan demikian kita akhirnya memulai prosedur pendisiplinan diri yang ketat guna mencapai titik kecantikan ideal yang distandarkan oleh kaum kapital. Persoalan yang paling nyata ialah perihal jerawat yang hari ini-ini menjadi topik yang hangat kalangan anak-anak remaja hingga dewasa. Dengan bahasa medis jerawat kemudian dikonstruksikan sebagai penyakit yang harus disembuhkan melalui rangkaian komsumsi produk-produk kosmetik. Di sini sebenarnya kekuasaan (kapitalisme dan dunia medis) memainkan pekerjaannya secara halus tanpa pemaksaan yang ekstrem. Implikasi yang lebih serius dapat disaksikan dalam kehidupan sehari hari di mana banyak sebagian orang  yang membenci tubuhnya karena tidak sesuai dengan para tubuh para influencer. (Swastini, 2025)

Genealogi: Portal menuju Kesadaran yang Solid

Di tengah lanskap kekuasaan yang dominatif dan produktif, kesadaran akan identitas diri manusia tentu tidak boleh tergerus. Michel Foucault, menawarkan langkah kritis atas krisis otentisitas diri yang masif dipermainkan oleh kapitalisme yakni dengan melacak asal-usul sejarah yang menyebabkan kondisi sekarang ini. Langkah ini ia sebut dengan metode genealogi. Di dalam metode ini Foucault membantu kita untuk memahami fenomena pendisiplinan dan standarisasi kecantikan yang cenderung tidak realistis. Dengan metode genealogi kita dapat mengetahui bagaimana gembaran tentang kecantikan ideal hanya sebuah narasi yang sarat akan hegemoni dan kepentingan kaum kapitalis semata(Umanailo, 2019).

Di dalam metodenya itu Foucault menuntut kita untuk berhenti bertanya dengan kata tanya “apa”(yang mencari hakikat tetap) dan mulai bertanya dengan  kata “bagaimana” yang bertujuan untuk mencari mekanisme kekuasaan. Dengan metode genealogis Foucaoult tidak berusaha mencari kebenaran di balik kebohongan melainkan  mencari bagaimana kebenaran itu diproduksi. Pertanyaan itu biasa dimulai dengan  “ pada titik sejarah mana kulit putih atau wajah tanpa pori didefinisikan sebagai tanda kesehatan medis? Atau pertanyaan seperti bagaimana wacana glow updigunakan untuk membuat individu merasa bertanggungjawab sepenuhnya atas kegagalan fisik mereka, sehingga mengalihkan kritik terhadap sistem industri? Ini merupakan model percanyaan genealogis yang membantu kita untuk sampai pada tingkat kesadaran yang solid bahwasanya kita tidak sedang baik-baik saja di era modern ini. (Umanailo, 2019: 6)

Dengan pertanyaan demikian kita dapat mengetahui bagaimana kapitalisme bermain secara tidak kasat mata dibelakang layar kehidupan masyarakat modern. Lebih jauh lagi, kesadaran genealogis ini memungkingkan kita untuk melakukan dekolonisasi terhadap standar estetika yang selama ini membelenggu fisik manusia. Dengan melacak asal-usul standar kulit putih atau hidung mancung sebagai warisan kolonial kita tidak lagi melihat standar tersebut sebagak kebenaran universal melainkan sebagai residu kekuasaan masa laluyang harus di dekonstruksi demi mengembalikan kedaulatan atas tubuh kita. Di sisi lain metode genealogi Foucault membantu kita untuk untuk dapat bersikap antisipatif dan analistis di tengah dunia yang serba maju ini(Bahasoan & Kotarumalus, 2014).

PENUTUP

Dewasa ini kecantikan menjadi problem eksistensial yang terus berubah seturut zaman. Munculnya gagasan tentang kecantikan ideal yang dipropagandakan oleh kapitalisme dan dunia medis bukan hanya mencerminkan problem estetika tubuh melainkan menyingkap suatu permainan politik atas tubuh-tubuh manusia modern. Melalui genealogi, kita telah melihat bagaimana permainan politis atas tubuh-tubuh itu menjadi sangat gamblang. Relevansi metode genealogi di era modern ialah kompetensinya untuk menyingkap bahwa kebebasan kita memilih produk kecantikan sejatinya adalah bentuk kepatuhan pada rezim kekuasaan. Dengan adanya metode genealogi Foucault, individu-individu modern dapat kembali merayakan kecantikan yang beragam yang didalamnya bukan saja terkandung otentisitas diri melainkan tersimpan khazanah identitas diri yang tidak bisa diproduksi oleh kekuasaan manapun.

DAFTAR PUSTAKA

Bahasoan, A., & Kotarumalus, A. F. (2014). Praktek relasi wacana dan kuasa Foucauldian dalam realitas multi profesi di Indonesia. Populis: Jurnal Sosial dan Humaniora, 8 (1), 13–22.

Foucault, M. (1978). The history of sexuality: Vol. I (R. Hurley, Trans.). Pantheon Books.

Foucault, M. (2002). Power/Knowledge: Wacana relasi kekuasaan (T. Setiawan dkk., Ed.). Bentang Budaya.

Foucault, M. (2008). Ingin tahu sejarah seksualitas (J. Couteau, Ed. & Terj.). Yayasan Obor Indonesia.

Foucault, M. (2011). Pengetahuan dan metode: Karya-karya penting Foucault (A. Swastika, Ed.). Jalasutra.

Foucault, M. (2021). Kekuasaan, pengetahuan, dan hegemoni bahasa dalam perspektif Michel Foucault dan Francis Bacon. Jurnal Filsafat, 4 (1), 33–43.

Hali, D. J. (2006). Belajar dari mekanisme panoptikon. Jurnal Hukum Pro Justitia, 24 (2), 121–128.https://media.neliti.com/media/publications/13071-ID-belajar-dari-mekanisme-panoptikon.pdf

Pranowo, Y. (2017). Genealogi moral menurut Foucault dan Nietzsche. Jurnal Filsafat, 52–69.

Qadzafi, S. A. (2022). Praktik panoptikon pada liputan Narasi TV tentang Tragedi Kanjuruhan. Kanal: Jurnal Ilmu Komunikasi, 4(2), 109–132.

Ramadhani, Y. (2020). Pengetahuan dan kekuasaan menurut Michel Foucault dan analisis wacana pendidikan. Tarbawi: Jurnal Pendidikan Islam, 8(02). https://doi.org/10.62748/tarbawi.v8i02.21

Swastini, N. L. M. E., Erviantono, T., & Noak, P. A. (2025). Politik tubuh perempuan antara kontrol sosial dan resistensi. Socio-Political Communication and Policy Review, 2(3), 1–12. https://doi.org/10.61292/shkr.247

Syafiuddin, A. (2018). Pengaruh kekuasaan atas pengetahuan (Memahami teori relasi kuasa Michel Foucault). Refleksi: Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam, 18(2), 141–155. https://doi.org/10.14421/ref.v18i2.1863

Umanailo, M. C. B. (2019). Pemikiran Michel Foucault. ResearchGate, 1–11. https://doi.org/10.31219/osf.io/h59t3

Komentar Anda?

Related posts