Home / Daerah / Ketua Dekranasda Kabupaten Lembata : Tingkat Stunting di Setiap Kecamatan Masih Tinggi

Ketua Dekranasda Kabupaten Lembata : Tingkat Stunting di Setiap Kecamatan Masih Tinggi

143 Kali dibaca

Bagikan Halaman ini

[addtoany]
[addtoany]

PORTALNTT.COM, LEMBATA – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Lembata, Yuni Damayanti menyebut tingkat stunting  setiap kecamatan di Kabupaten Lembata masih tinggi.

“Lumayan tingkat stunting di setiap kecamatan di kabupaten Lembata masih tinggi. Desa-desanya masih masuk kategori stunting. Kita juga berkoordinasi dengan dinas-dinas terkait untuk menekan angka stunting yang sudah ada,” ungkap Yuni Damayanti yang juga istri orang nomor satu kabupaten Lembata ini saat kegiatan Jambore kader PKK tingkat kecamatan Lebatukan, Selasa (22/9/2020).

Untuk penurunan stunting, Damayanti optimis, setiap mitra kalau bekerja sama dengan baik pasti semua yang diinginkan dapat terwujud.

“Itupun kalau semua mitra bekerja sama, jalan sama-sama dengan kita, tidak jalan masing-masing, mungkin semua bisa terwujud,” katanya.

Sementara, camat Lebatukan, Piter Ruing mengungkap, Jambore merupakan bentuk pembinaan bagi para kader posyandu dan PKK.

Camat Lebatukan, Piter Ruing.

 

“Saya berharap banyak kader posyandu dan PKK menjadi penggerak setiap desa di kecamatan Lebatukan,” ungkapnya.

Untuk penurunan angka stunting, jelas Piter, Kader posyandu dan PKK menjadi ujung tombak.

“Dalam tahun ini target kita pada 1 Oktober, kita melakukan pencanangan dengan beberapa inovasi, paling pertama penanaman marungge di setiap rumah dengan memanfaatkan air limbah. Ini kader posyandu dan kader PKK mereka ada di depan. Ini programnya mereka. Sekarang camat dan kepala desa memback up ini,” jelasnya.

Lanjutnya, dalam laporan yang disampaikan para kader posyandu dan PKK, untuk stunting sendiri dalam kurun waktu enam bulan, sudah  mengalami angka penurunan yang cukup signifikan.

“Rata-rata tiap desa 10-15 anak sampai dengan laporan akhir bulan Agustus ada yang sudah 50% dan ada yang sudah sampai 20%. Misalnya di desa Merdeka dan Hadakewa,” pungkasnya.

Penulis: Wilibaldus Kali

Editor: Jefri Tapobali

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

[addtoany]
[addtoany]