Oleh: Drs. Fransiskus Sili, MPd, (SMK Negeri 5 Manado)
Situasi Dasar Para Murid: Para murid adalah saksi-saksi terdekat peristiwa penangkapan, sengsara dan penyaliban serta wafat Yesus, Guru mereka. Peristiwa ini sungguh menguncang iman mereka. Mereka kehilangan harapan dan pegangan. Iman mereka akan Yesus buyar. Dalam situasi ini Yesus hadir di tengah mereka untuk menguakan dan memberikan semangat baru kepada mereka. Di sana mereka mulai menemukan cara baru terhadap misteri hidup dan karya Yesus.
Yesus yang bangkit sungguh masuk ke dalam kemuliaan BapaNya dan hidup sebagai Roh. Sebagai Roh Ia tak dapat lagi dilihat dengan mata atau ditangkap secara indrawi. Akan tetapi dengan bantuan rahmatNya para murid dapat melihat kembali Yesus, yang sebenarnya tak dapat dilihat. Dengan menampakkan dirinya Ia memperlihatkan bahwa Ia tetap menyertai para MuridNya dengan kematiaNya dan kebangkitanNya.
Dalam setiap kisah penampakkan selalu ada 3 unsur pokok. Pertama, prakarsa/Inisiatif. Inisiatif selalu datang dari Yesus.
Ia sendiri yang memprakarsai penampakan itu. Dikatakan Yesus menampakkan diri atau memperlihatkan diri. Istilah ini dipakai para penginjil untuk menunjukkan dua hal. Kedua, unsur pengakuan. Dalam kisah penampakan Yesus dikenal dan diakui sebagai sang Kristus Tuhan. Dia yang menampakkan DiriNya itu sebagai tak lain tak bukan Yesus dari Nasareth. Dia kini hidup, melampaui sengsara dan wafatNya (bdk. Luk. 24:46, Kis. 2:23-32, Mat. 28:17, Luk. 24:52 dan Yoh. 20:17). Ketiga, unsur Kesaksian. Para rasul menerima tugas dari Tuhan untuk memaklumkan keTuhananNya. Unsur-unsur ini akan digali dari kisah penampakan di bawah ini.

Salah satu dari Kisah penampakan Yesus dikisahkan dalam Injil hari Minggu Paskah II, hari Minggu yang sekarang disebut Hari Minggu Kerahiman Ilahi. Yesus menampakkan diri kepada para murid yang berkumpul dengan pintu-pintu terkunci. Kalimat pertama yang diucapkan Yesus kepada para murid adalah, “Syalom, damai sejahtera kepada kamu”.
Sebagai saksi-saksi terdekat peristiwa penampakan dan penyaliban Yesus, para murid tentu saja mengalami kecewaan dan ketakutan yang luar biasa. Meraka seakan kehilangan harapan dan pegangan, yang selama ini digantungkan kepada Yesus, Guru mereka.
Dalam situasi seakan tak ada harapan lagi ini, Yesus hadir dan menyampaikan salam damai kepada mereka. ”Damai sejahtera bagi kamu”. Menerima salah berati menerima harapan baru. Sesudah berkata demikian Ia menunjukkan tangan dan lambungnya kepada mereka. Murid-murid yang mengalami pengalaman istimewa ini bersukacita karena mereka melihat Tuhan. Yesus bahkan mengulangi ucapan damai itu: “Damai sejahtera bagi kamu”.
Hal kedua yang dilakukan Yesus adalah memberikan anugerah terbesar dari kebangkitanNya, dengan berkata: “Terimalah Roh Kudus”. Damai dan sejahtera sesungguhnya adalah anugerah Allah semata, rahmat yang sungguh besar. Rahmat Ilahi ini sekaligus menuntut jawaban, usaha dan kerja sama dari pihak manusia”. Roh Kudus sebagai anugerah Paskah Kristus inilah yang menjadi kekuatan dan semangat baru bagi para muridNya. Dan kelompok terdekat dengan Yesus, yang selama ini menjadi murid, sebagai orang yang sedang belajar, dari Yesus Guru Kehiupan mereka, sejak Paskah berubah status menjadi rasul, orang yang siap diutus.
Apakah isi perutusan itu ditegaskan dalam Injil, sesudah Yesus memberikan anugerah Roh Kudus. “Jika kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jika kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada”. Itu berarti perutusan sebagai anugerah paskah berkat kekuatan Roh Kudus adalah mengampuni. Dengan kata lain, kita diutus untuk mengampuni. Kita semua dipanggil untuk insan pemaaf, pengampun, meski pengalaman membuktikan bahwa mengampuni itu tidaklah mudah. Akan tetapi buah pengampunan itu amatlah manis, yaitu damai.
Menarik juga bahwa dalam Injil Yoh. 20: 24 dikatakan bahwa Thomas yang disebut Didimus tidak ada bersama para murid lain ketika Yesus menampakan diri. Apa arti Didimus? Mengapa Tomas disebut Didimus? Menurut Dr. Andreas Atawolo, OFM, Thomas disebut Didimus artinya ‘kembar’. Jadi kata-kata itu bisa dibaca ‘Tomas, yang berarti kembar’ (Thomas, this name means Twin). Pertanyaannya: siapa kembar dari Thomas?
Sebenarnya Thomas disebut ‘kembar’ karena pemahamannya tentang Yesus masih bias (two minded), mendua, belum fokus dan total. Itu tampak pula dalam Yoh. 14: 5. Thomas suka bertanya. Kata Thomas kepada-Nya: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?”
Dalam hal ini ia tidak berdosa, tetapi memang ia belum beriman seratus persen pada Gurunya. Jadi, siapa kembar Thomas? Kembar Thomas ialah setiap pembaca kisah Thomas ini, bisa saja saya ataupun Anda.
Seperti Thomas, kita sering ragu, apakah benar Yesus hadir dalam kehidupan kita. Benar bahwa kita memang belum pernah melihat Yesus (Yesus historis) secara manusiawi, tetapi apakah kita juga belum pernah mengalami Dia dan penyertaanNya dalam sejarah perjuangan hidup kita? Kita belum puas kalau tidak ada bukti fisik dan indrawi. Itu tanda bahwa iman kita bias: masih bingung mau percaya Yesus atau tetapi mengikuti juga pikiran sendiri.
Hari ini Yesus datang kepadaku dan berkata: “jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah”. Ya Tuhan, semoga karena penampakan dan sapaan-Mu, aku mampu menjawab tanpa ragu: Ya Tuhanku dan Allahku! “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya”.
Yesus berkata kepada Thomas “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Yoh 20:29. Dalam Injil hari ini, kita mendengar, berulang kali, kata “melihat”. Murid-murid bersukacita ketika mereka melihat Tuhan (Yoh 20:20). Mereka memberi tahu Tomas: “Kami telah melihat Tuhan” (ayat 25).
Tetapi menurut Pastor Dismas Valens Salettia Pr, Injil tidak menjelaskan bagaimana mereka melihatnya; sehingga tidak jelas menggambarkan Yesus yang bangkit. Hanya satu hal yang disebut secara detail: “Dia menunjukkan tangan dan kakinya kepada mereka” (ayat 20). Seolah-olah Injil ingin memberi tahu kita bahwa begitulah cara para murid mengenali Yesus: melalui luka-lukanya. Hal yang sama terjadi pada Thomas. Dia juga ingin melihat “bekas paku di tangannya” (ayat 25), dan setelah melihat, dia percaya (ayat 27).
Meskipun kesannya kurang beriman, kita harus berterima kasih kepada Tomas, karena dia tidak puas mendengar dari orang lain bahwa Yesus hidup, atau hanya melihat tubuh Yesus saja. Dia ingin melihat ke dalam, untuk menyentuh luka Tuhan dengan tangannya, tanda-tanda cintanya. Injil menyebut nama lain dari Thomas adalah Didimus (ayat 24), yang berarti Kembar, dan dalam hal ini dia benar-benar saudara kembar kita. Karena bagi kita juga, tidaklah cukup untuk mengetahui bahwa Tuhan itu ada. Tuhan yang bangkit tapi tetap jauh tidak memenuhi hidup kita; Allah yang menyendiri tidak menarik kita, betapapun adil dan sucinya Dia. Tidak, kita juga perlu “melihat Tuhan”, untuk menyentuhnya dengan tangan kita dan untuk mengetahui bahwa Dia telah bangkit dan bangkit untuk kita. Itulah kenyataan tentang pengalaman kita.
Bagaimana kita bisa melihatnya? Seperti para murid: melalui luka-lukanya. Menatap luka-luka itu, para murid memahami kedalaman cintanya. Mereka mengerti bahwa dia telah memaafkan mereka, meskipun beberapa telah menyangkalnya dan meninggalkannya.
Masuk ke dalam luka Yesus berarti merenungkan cinta tak terbatas yang mengalir dari hatinya. Inilah caranya. Ini untuk menyadari bahwa jantungnya berdetak untukku, untukmu, untuk kita masing-masing. Kita dapat menganggap diri kita orang Kristen, menyebut diri kita Kristen dan berbicara tentang banyak nilai iman yang indah, tetapi, seperti para murid, kita perlu melihat Yesus dengan menyentuh kasih-Nya. Hanya dengan demikian kita dapat pergi ke jantung iman dan, seperti para murid, menemukan kedamaian dan sukacita (lih. Ay 19-20) tanpa keraguan.

Thomas, setelah melihat luka Tuhan, berseru: “Tuhanku dan Allahku!” “ Dominus meus et Deus meus! ”(ayat 28). Saya ingin merenungkan kata sifat yang diulangi Thomas: saya. Ini adalah kata sifat posesif. Ketika kita memikirkannya, mungkin kelihatannya tidak pantas untuk menggunakannya untuk Tuhan. Bagaimana Tuhan bisa menjadi milikku? Bagaimana saya bisa menjadikan Yang Mahakuasa milik saya? Yang benar adalah, dengan mengatakan saya, kami tidak mencemarkan Tuhan, tetapi menghormati belas kasihan-Nya. Karena Tuhan ingin “menjadi milik kita”. Seperti dalam kisah cinta, kita menceritakan kepadanya: “Kamu menjadi manusia bagiku, kamu mati dan bangkit untukku dan dengan demikian kamu bukan hanya Tuhan; kamu adalah Tuhanku, kamu adalah hidupku. Di dalam dirimu aku telah menemukan cinta yang kucari, dan lebih dari yang pernah kubayangkan ”.
Saya yakin Tuhan tidak tersinggung menjadi “milik kita”, karena cinta menuntut keyakinan, belas kasihan menuntut iman. Masih menurut Pastor Dismas, di awal Sepuluh Perintah, Tuhan berkata: “Akulah Tuhan, Allahmu” (Kel 20: 2), dan menegaskan kembali: “Akulah Tuhan, Allahmu, Allah yang cemburu” (ayat 5). Di sini kita melihat bagaimana Tuhan menampilkan dirinya sebagai kekasih yang cemburu yang menyebut dirinya Tuhanmu. Dari lubuk hati Thomas datang jawaban: “Tuhanku dan Allahku!” Saat hari ini kita masuk, melalui luka-luka Kristus, ke dalam misteri Tuhan, kita menyadari bahwa belas kasihan bukan hanya salah satu kualitasnya di antara yang lain, tetapi juga detak jantungnya. Kemudian, seperti Thomas, kita tidak lagi hidup sebagai murid, tidak pasti, saleh tetapi ragu-ragu. Kami juga jatuh cinta dengan Tuhan! Kita tidak boleh takut dengan kata-kata ini: jatuh cinta kepada Tuhan. Kita belum pernah berjumpa secara fisik dengan Dia tetapi kita selalu mengalami kehadiran dan penyertaanNya.

Pesta kerahiman Ilahi dalam minggu paskah II ini mau menyadarkan manusia akan belas kasih Allah yang tak ada batasnya. Belas kasih Allah diperhitungkan di tengah fakta kebangkrutan moral dan rohani manusia. Seolah-olah tidak ada apapun dalam kehidupan kita yang dapat kita andalkan untuk mendapatkan pengampunan, keselamatan, dan pembaharuan hidup dari Allah.

Paulus menggambarkan status dan kondisi manusia sebagai kegelapan yang menyakitkan. Manusia ada dalam kondisi tidak selamat karena menjadi korban dari tirani kuasa dosa, tirani kematian dan tirani hukum taurat yang hanya mengandalkan keselamatan dari kekuatan manusia belaka. Dalam kondisi semac itulah, kerahiman Allah mutlak dibutuhkan agar manusia dapat dipandang layak untuk menerima anugerah keselamatan Allah dan anugerah tersebut ditunjukkan secara tuntas dalam sengsara, wafat dan kebangkitan PuteraNya, Yesus Kristus. Mari kita belajar dari kisah Thomas, yang ditegur oleh Yesus: berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya (Ruah Aprill 2021).







