Oleh : Drs. Fransiskus, Sili, M.Pd. (Pengawas Ahli Madya Kementrian Agama Kota Manado)
PENDAHULUAN
Hari ini adalah peringatan hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun. Di semua instansi pemerintah dan Lembaga Pendidikan,dilaksanakan upacara untuk memperingati peristiwa penting dalam sejarah bangsa kita. Juga di lingkungan kantor Kementrian Agama Kota Manado.
Jika pada tahun 1928 para pemuda berkumpul di Batavia dengan keterbatasan komunikasi, hanya dengan surat dan pertemuan sembunyi-sembunyi, kini pada tahun 2026 kaum muda Indonesia terkoneksi 24 jam melalui smartphone. Namun konektivitas tidak otomatis melahirkan persatuan.
Kementerian Kominfo pasti punya data terkait. Namun kita bisa menyaksikan banyak berita adalah hoaks, bermuatan SARA, kekerasan dan menyasar kuat kalangan usia 16-30 tahun. Di titik inilah kita perlu merenungkan kembali secara mendalam perisitiwa yang terjadi 98 tahun lalu itu. Apakah semangat “Bertumpah Darah Satu, Berbangsa Satu, Berbahasa Satu” masih relevan ketika kaum muda lebih mengenal bahasa Korea dari K-Pop daripada bahasa daerahnya sendiri?
Tulisan ini lahir dari kegelisahan seorang Guru/Pengawas Pendidikan Agama Katolik di tengah siswa yang yang sedang belajar Mapel Pendidikan Agama Katolik dalam Kurikulum Merdeka, dengan pendekatan deep learning. Ada siswa bertanya: “Apakah kita perlu menghafal isi Sumpah Pemuda, Pak?” Pertanyaan itu jujur. Maka jawabannya tidak boleh sekadar hafalan, melainkan sebuah pemaknaan ulang yang menyentuh nalar, rasa, dan iman dan menuntut perubahan cara berpikir, merasa dan bertindak setiap warga bangsa. Bagi saya, Sumpah Pemuda adalah praxis dari ajaran sosial Gereja tentang persaudaraan universal seperti yang ditulis Paus Fransiskus dalam Fratelli Tutti.
KILAS BALIK SEJARAH
Sejarah tidak boleh dibaca secara romantis. Kongres Pemuda I pada 30 April – 2 Mei 1926 di Weltevreden Batavia sejatinya gagal. Mengapa? Karena masih kuatnya sentimen kedaerahan. Jong Java hanya memikirkan Jawa, Jong Ambon memikirkan Ambon, dan seterusnya. Tidak ada kata Indonesia pada saat awal.
Kegagalan itu menjadi guru. Dua tahun kemudian, atas inisiatif Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), diselenggarakan Kongres Pemuda II. Lokasinya berpindah-pindah untuk menghindari intel Belanda: Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (Gedung Pemuda Katolik) di Waterlooplein, kemudian Oost Java Bioscoop di Koningsplein. Fakta menarik yang jarang disebut dalam buku pelajaran: Gedung pertama kongres adalah milik pemuda Katolik. Ini membuktikan kontribusi umat Katolik sejak awal.
Di sanalah pada 28 Oktober 1928 pukul 10.00 pagi, Soegondo membacakan putusan. Pertama: Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Kedua: Kami mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Ketiga: Kami menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Lagu Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Supratman diperdengarkan dengan gesekan biola tanpa syair karena dilarang. Namun semua hadirin berdiri dengan air mata. Sumpah itu bukan sekadar teks, tetapi peristiwa rohani kebangsaan.
MAKNA DI BALIK KISAH SEJARAH
Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026 mengusung tema resmi: “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”. Apa yang diharapkan dari tema ini? Tema ini dirancang sebagai landasan karakter bagi generasi muda dalam menjawab tantangan zaman, dengan penjabaran nilai-nilai utama sebagai berikut: Pertama, partriotik: Memiliki rasa cinta tanah air, menghargai identitas bangsa, serta menunjukkan keteguhan dalam menjaga persatuan dan tanggung jawab kebangsaan. Kedua, gigih:Pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan, terus belajar, serta memiliki ketangguhan jiwa yang ditempa oleh tekanan dan tantangan layaknya logam yang diproses hingga bersinar. Ketiga, berempati: Mampu memahami perasaan dan keadaan orang lain, menghormati perbedaan, serta menunjukkan kepedulian dan kerja sama nyata antarsesama.
Dalam sambutannya pada peringatan hari Sumpah Pemuda tahun ini, Mentri Pemuda dan Olahraga menekankan bahwa “kita harus membentuk generasi masa depan yang patriotik, gigih, dan berempati. Patriotik, yang mencintai Indonesia bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan pengabdian dan tindakan nyata.Gigih, yang tidak menyerah ketika menghadapi kesulitan, tidak runtuh ketika mengalami kegagalan, dan tidak berhenti berjuang sebelum memberikan yang terbaik bagi bangsa. Dan berempati, yang tidak hanya memikirkan keberhasilan dirinya sendiri, tetapi juga merasakan kesulitan saudaranya”.
Namun ketika merenungkan lebih dalam, terapat tiga makna teologis-kebangsaan dapat kita gali dan renungkan. Pertama, Satu Tumpah Darah. Darah yang dimaksud bukan sekedar darah sukutertentu. Itu adalah darah pengorbanan, darah martir kebangsaan. Dalam Kitab Suci, darah adalah simbol kehidupan yang dipersembahkan (Im 17:11). Maka menjadi Indonesia sejati masa kini berarti siap berkorban. Kedua, Satu Bangsa. Ini adalah perpindahan radikal dari identitas primordial ke identitas nasional. Dalam bahasa Gereja, ini adalah metanoia, pertobatan cara berpikir, cara merasa dan cara bertindak. Dari aku menjadi kita. Ketiga, Satu Bahasa. Bahasa Indonesia dipilih bukan karena mayoritas, melainkan karena bahasa Melayu adalah bahasa pasar, bahasa yang inklusif, bahasa yang tidak mendominasi. Ini sangat Katolik: Gereja yang katolik berarti universal, merangkul semua. Bahasa Indonesia adalah sakramen persatuan: tanda lahiriah yang menghantar pada kenyataan batiniah persatuan yang tak kelihatan.
PELUANG DAN TANTANGAN MEMBANGUN PARTISIPASI KAUM MUDA MASA KINI
Peluang di depan mata adalah Bonus Demografi. Tahun 2026-2045, Indonesia akan memiliki 208 juta penduduk usia produktif. Mereka adalah Gen Z dan Gen Alpha yang melek teknologi, kreatif, dan peduli isu iklim dan keadilan. Mereka adalah modal Indonesia Emas. Namun tantangannya berat.
Satu, apatisme digital. Mereka ramai di kolom komentar TikTok tapi sepi di musyawarah desa atau kerja bakti. Dua, krisis identitas dan kesehatan mental. Dalam banyak webinar tentang kesehatan mental, disebutkan bahwa 1 dari 3 remaja mengalami kecemasan karena perbandingan sosial di media. Tiga, Radikalisme Sunyi. Algoritma media sosial cenderung mengarahkan anak muda pada konten yang ekstrem karena lebih banyak ditonton. Inilah yang disebut Paus Fransiskus dalam Christus Vivit sebagai “zaman di mana kaum muda sering merasa terasing”.
MENEMUKAN PESAN DAN HARAPAN UNTUK KAUM MUDA DI ZAMAN DIGITAL MENUJU INDONESIA EMAS 2045
Pesan untuk kaum muda 2026 harus diterjemahkan. Satu Nusa berarti Satu Bumi, maka rawatlah lingkungan (Laudato Si). Satu Bangsa berarti satu hati yang inklusif, maka lawanlah ujaran kebencian dan apapun yang sifatnya sectarian dan memecah-belah. Satu Bahasa berarti satu data yang benar, maka saring dan kajisecara kritis apapun di medsos secara kritis sebelum sharing. Agar bahasa yang muncul adalah bahasa kebenaran. Harapan menuju Indonesia Emas 2045 bukan hanya Indonesia dengan pendapatan tinggi, tetapi Indonesia dengan karakter tinggi. Inilah Profil Pelajar Pancasila yang kini diajarkan di sekolah-sekolah kita,juga melalui Pelajaran Pendidikan Agama Katolik dan kini berkembang menjadi 8 dimensi profil lulusan: Apa isi dan maknanya?
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa: Menumbuhkan karakter religius, akhlak mulia, serta hubungan yang harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Kewargaan: Menjadi warga negara yang aktif, bertanggung jawab, cinta tanah air, taat aturan, menjunjung nilai-nilai Pancasila, serta memiliki komitmen keberlanjutan. Penalaran Kritis: Kemampuan berpikir logis, analitis, reflektif, serta mengevaluasi informasi untuk memecahkan masalah. Kreativitas: Menghasilkan ide atau solusi yang inovatif, fleksibel, dan orisinal. Kolaborasi: Memiliki semangat gotong royong, kemauan berbagi peran, serta menghargai perbedaan dalam bekerja sama. Kemandirian: Mampu mengambil inisiatif dan bertanggung jawab atas proses belajar tanpa terlalu bergantung pada orang lain. Kesehatan: Menjaga kebugaran fisik yang prima serta keseimbangan antara kesehatan mental dan fisik. Komunikasi: Keterampilan menyampaikan ide secara efektif melalui hubungan intrapribadi maupun antarpribadi, baik secara lisan maupun tulisan. Dalam konteks ini, Kaum muda Katolik dipanggil menjadi jembatan. Jangan menjadi generasi rebahan (pemuda sofa), tetapi menjadi peziarah digital yang membawa kebenaran dan harapan, seperti pesan Christus Vivit 179.
Inti pesan dari Dokumen Christus Vivit artikel 179 adalah pentingnya kaum muda memiliki akar yang kuat (iman, sejarah, tradisi, dan pengalaman generasi tua) agar tidak mudah tumbang saat menghadapi badai kehidupan. Paus Fransiskus menggunakan metafora sebuah pohon muda yang indah dan menjulang tinggi ke langit. Pohon tersebut tampak penuh harapan, namun langsung roboh dan mati setelah diterpa badai karena tidak memiliki akar yang dalam.
Secara lebih rinci, poin-poin utama dari pesan ini meliputi: Pertama, bahaya masa depan tanpa akar: Paus menyatakan kesedihannya melihat orang muda yang didorong untuk membangun masa depan dengan mengabaikan masa lalu, seolah-olah sejarah baru dimulai hari ini. Kedua, Syarat untuk tumbuh:Kaum muda tidak akan pernah bisa tumbuh menjadi pribadi yang kokoh dan dewasa secara utuh tanpa adanya akar kuat yang menopang dan menjaga mereka tetap teguh. Ketiga, Perangkap manipulasi: Di artikel kelanjutannya, Paus mengingatkan bahwa pihak-pihak yang menyuruh kaum muda mengabaikan sejarah atau meremehkan pengalaman orang tua biasanya hanya ingin membuat kaum muda menjadi “kosong” dan mudah dikendalikan demi ideologi atau kepentingan mereka sendiri.
REPOSISI PERANAN GEREJA:100 PERSEN KATOLIK DAN 100 PERSEN INDONESIA
Semboyan Mgr. Albertus Soegijapranata SJ pada 1945: “100% Katolik dan 100% Indonesia” adalah jawaban paling Katolik atas Sumpah Pemuda. 100% Katolik artinya menghidupi iman secara total: rajin mengikuti Ekaristi sebagai pusat dan puncak hidup kristiani, mencintai Kitab Suci, setia pada Magisterium. 100% Indonesia artinya mencintai tanah air secara total: menjaga Pancasila, merawat toleransi, terlibat dalam pembangunan.
Pertanyaan lanjut, “Bagaimana Gereja mendampingi?”Apakah yang yang harus dilakukan seorang guru PAK? Pertama, beralih dari mentalitas sekedar mengajar menjadi mendampingisambil mengajar. Seperti Yesus mendampingi dua murid ke Emaus (Lukas 24), Guru PAK harus berjalan bersama siswa, mendengarkan kegalauan mereka. Kedua, Gereja perlu keluar dari sakristi menuju ruang digital. Jika OMK ada di TikTok, maka Gereja konkret harus ada di TikTok, youtube, instagram. Perlu pemberdayaan orang muda untuk membuat konten Reels Kitab Suci, Podcast Rohani, katekese digital. Ketiga, kita perlu bekerja sama untuk menjadikan Sekolah Katolik sebagai laboratorium moderasi beragama dan ekoteologi. Dua Program yang mennjadi program unggulan Kementrian Agama.
Di tempat seperti wilayah keuskupan Manado, yang multikultural, Guru PAK harus menjadi agen teladan, dan sekolah Katolik harus menjadi tempat di mana siswa Muslim, Protestan, dan Katolik dan agama apapun, belajar bersama tentang kasih dan toleransi aktif. Para guru harus terus ditantang untuk merancang dan mengintegrasikan materi pembelajaran dengan program moderasi beragama.
Ekoteologi adalah program unggulan baru. Kementerian Agama memberi catatan bahwa pemanasan global, banjir, kekeringan, dan degradasi lingkungan bukan lagi sekadar “cuaca buruk”, tetapi tanda terguncangnya fondasi sosial-ekonomi dan moral peradaban kita. Di titik ini, Kementerian Agama mengajukan satu tesis penting: krisis ekologi bukan hanya krisis teknis, melainkan juga krisis spiritual dan krisis peradaban. Manusia terlalu lama memandang bumi sebagai komoditas, bukan rumah bersama.
Manusia terlalu lama melihat bumi obyek yang menyimpan semua sumber kebutuhan manusia, jadi didekati secara instrumental saja. Karena itu alam, bumi dieksploitasi dengan napsu yang tak terbendung tanpa tanggungjawab moral dan sosial, seakan semua yang disediakan alam tak pernah akan habis dan rusak. Karena itu sesudah menyoroti hakekat ekoteologi, Kementrian Agama melihat bahwa kerusakan dan perusakan alam lingkungan berakar krisis spiritualitas. Karena orang melepaskan pemahaman tentang hubungan tak terpisahkan antara Allah-manusia-alam/bumi.
Ekoteologi Kementrian Agama mengajak kita mereformasi pemahaman kita tentang peranan dan kedudukan alam di hadapan manusia. Bahwa alam punya nilai dan tujuan pada dirinya, dan tidak sekedar punya tujuan untuk manusia. Ekoteologi mengajak kita merubah paradigma kita dari antroposentrisme, dimana manusia sebagai pusat, ukuran dan standar kepada pandangan ekosentrisme yang menempatkan ekosfer sebagai pusat dan strandar nilai demi terciptanya kesetaraan ekosferik. Para Guru PAK pada umumnya dan para guru PAK profesional dalam pembelajaran di sekolah dan para penyuluh dalam aneka materi penyuluhan, perlu mengintegarasikan makna dan pesan program ini akar sampai ke akar rumput dan tidak sebatas pemahaman konseptual di level birokrasi.
PESAN UNTUK KITA: KESADARAN DIRI
Ketika Sumpah Pemuda berlangsung, para pemuda berjanji, dengan janji yang terus diperbaharui secara kontekstual setiap tahunnya. Ketika memperingati peristiwa sejarah ini di tahun ini, isi janji kaum muda dalam upacara Peringatan Sumpah Pemuda 2026 dapat diselaraskan dengan tema resmi dari Kementrian Pemuda dan Olahraga, yang dapat dirumuskan ke dalam 3 pilar, untuk menjadikannya relevan dengan konteks tantangan masa kini:
Satu, Pilar Patriotik (Cinta Tanah Air & Persatuan):
Dua, Pilar Gigih (Ketangguhan & Semangat Belajar):
Tiga, Pilar Berempati (Kepedulian Sosial & Gotong Royong)
Memperingati Sumpah Pemuda tahun ini, kita pantas merenungkan kembali makna kesadaran diri. Kesadaran dirisebagai bangsa adalah titik balik paling penting dari Sumpah Pemuda. Dari “saya orang Jawa, Ambon, Manado, Flores dan Sumatera” menjadi “saya Indonesia”. Pertama, kesadaran asal-usul yang sama (historical consciousness). Sadar bahwa kita lahir dari rahim sejarah yang sama: dijajah, menderita, dan berjuang bersama. Kesadaran ini bukan primordialisme (berdasarkan darah suku), tapi nasionalisme. Seperti pesan sabda Tuhan dalam Ef 4:4-6: “Satu tubuh, satu Roh, satu harapan”. Kita satu tubuh kebangsaan karena satu penderitaan dan satu harapan merdeka. Kedua, kesadaran senasib sepenanggungan (solidaritas). Kita perlu sadar bahwa nasib saya terikat dengan nasib orang lain. Jika Papua menangis, Jawa ikut sedih. Jika Aceh tertimpa bencana, Manado ikut membantu. Jika NTT tertimpa bencana, daerah lain ikut membantu. Inilah gotong-royong. Lawan dari kesadaran sebagai bangsa adalah egoisme kedaerahan dan individualisme digital. Ketiga, kesadaran memiliki kepribadian bersama (identitas). Sadar bahwa kita punya karakter bersama yang membedakan kita dari bangsa lain: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Bahasa Indonesia, budaya musyawarah. Bagi kita umat Katolik, ini sejalan dengan 100% Indonesia, kita bangga menjadi Indonesia yang ramah, bukan Indonesia yang meniru ala Barat sepenuhnya. Keempat, kesadaran akan kedaulatan dan tanggung jawab (political consciousness). Sadar bahwa kita bukan lagi objek jajahan, tapi subjek yang berdaulat. Sadar bahwa kemerdekaan adalah anugerah Tuhan yang harus diisi dengan tanggung jawab dalam kerja keras dan kerja tulus. Tidak cukup bangga jadi Indonesia, tapi harus bekerja untuk Indonesia. Ini wujud 100% Katolik yang berbuah dalam tindakan sosial. Kelima, kesadaran masa depan bersama (futuristic consciousness). Sadar bahwa kita menuju tujuan yang sama: Indonesia Emas 2045. Kesadaran bangsa bukan melihat ke belakang terus, tapi melihat ke depan bersama. Kita satu perahu, jika perahu bocor, semua akan tenggelam. Tugas menjaga kestabilan perahu itu tidak pernah selesai dan harus menjadi buah gerakan bersama.
PENUTUP
Sumpah Pemuda 1928 telah selesai diikrarkan. Sumpah Pemuda 2026 harus dihidupi. Tugas kami sebagai pendidik dan pengawas sekolah bukan membuat guru mengajar mengejar ketuntatasan materi, dan siswa belajar untuk hafal isi sumpah pemuda tahun 1928, tetapi membuat mereka berani bersumpah kembali hari ini dengan bahasa mereka dan menepatinya dengan komitmen yang tulus dan konsistensi yang bertanggungjawab. Jika itu terjadi, maka cita-cita Indonesia Emas 2045 bukan sekadar mimpi, tetapi janji yang ditepati. Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-98.







