Magister Manajemen Undana Perkuat Kapasitas UMKM Ajaobaki untuk Pengentasan Kemiskinan

  • Whatsapp

PORTALNTT.COM, SOE – Program Studi Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Nusa Cendana (Undana) memperkuat kapasitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Suka Maju di Desa Ajaobaki, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) melalui pendampingan manajemen usaha, pengembangan produk, dan strategi pemasaran digital.

Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk lokal, memperluas akses pasar, serta mendorong peningkatan pendapatan masyarakat sebagai bagian dari upaya pengentasan kemiskinan.

Demikian inti sari materi kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) yang diselenggarakan Program Studi S2 Magister Manajemen FEB Undana di Aula Kelompok UMKM Suka Maju, Desa Ajaobaki, Sabtu (24/10/2026).

Kegiatan yang diprakarsai oleh Dekan FEB Undana, Dr. Rolland E. Fanggidae dihadiri Wakil Dekan I FEB Undana Dr. Paulina Y. Amtiran, Koordinator Program Studi Magister Manajemen Undana Dr. I Komang Arthana, Sekretaris Desa Ajaobaki, Neli Pinat, Ketua Panitia, Kekson Salukh serta puluhan mahasiswa Magister Manajemen Undana.

Wakil Dekan I FEB Undana, Dr. Paulina Y. Amtiran dalam sambutannya  menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan kegiatan pertama yang dilaksanakan Program Studi Magister Manajemen FEB Undana di Desa Ajaobaki.

Menurut Dr Paulina, melalui kegiatan ini mahasiswa  dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang pengembangan produk UMKM lokal serta strategi pemasaran hingga tingkat nasional dan internasional.

“Potensi di Desa Ajaobaki harus dioptimalkan sehingga mendukung pengembangan UMKM lokal,” ujarnya.

Masyarakat, kata Dr Paulina, harus konsisten membangun desa melalui pengembangan produk UMKM lokal, seperti yang dilakukan Kelompok UMKM Suka Maju di Desa Ajaobaki.

Ia menegaskan, pengembangan produk dan pemasaran perlu dilakukan secara terarah, mulai dari promosi digital hingga pengemasan (packaging) produk yang menarik.

Strategi pemasaran, lanjutnya, tidak boleh hanya mengandalkan Facebook, tetapi juga perlu memanfaatkan platform digital lainnya, seperti TikTok dan Instagram.

“Pendampingan dari mahasiswa Magister Manajemen Undana diharapkan dapat membantu pelaku UMKM Suka Maju dalam menyusun strategi pemasaran yang lebih baik,” tandasnya.

Ia juga menilai Kelompok UMKM Suka Maju telah memiliki potensi yang baik sehingga perlu terus dijaga dan dikembangkan, terutama dalam hal manajemen dan pengelolaan usaha.

Selanjutnya Koordinator Program Studi Magister Manajemen Undana Dr. I Komang Arthana mengatakan, Undana melalui kegiatan PKM memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) di Desa Ajaobaki, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten TTS.

“Pengembangan UMKM dan pariwisata di sini butuh kerja kolaborasi antara masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah sehingga bisa berhasil dan berkontribusi terhadap penanganan kemiskinan,” katanya.

Dr Komang menuturkan, kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Pokdarwis dalam mengidentifikasi, mengelola, dan mempromosikan potensi wisata Desa Ajaobaki.

Kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, pelaku UMKM, Pokdarwis, dan perguruan tinggi perlu terus diperkuat untuk mendukung pengembangan potensi ekonomi lokal.

“Semoga kegiatan ini menjadi langkah awal untuk membangun kemitraan berkelanjutan antara Prodi Magister Manajemen FEB Undana, Pemerintah Desa Ajaobaki, pelaku UMKM, dan Pokdarwis,” pungkasnya.

Tridharma Perguruan Tinggi

Ketua Panitia, Kekson Salukh mengatakan, kegiatan PKM tersebut
merupakan bagian dari implementasi fungsi Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.

Lanjut Kekson, kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pelaku UMKM dalam mengelola usaha secara lebih profesional, efektif, dan berkelanjutan.

“Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas manajemen usaha, pencatatan keuangan, pengembangan produk, dan strategi pemasaran bagi pelaku UMKM, termasuk meningkatkan kemampuan mereka dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana promosi dan perluasan pasar,” jelasnya.

Salah satu pemateri, Tony Wijaya yang membawakan materi tentang Peningkatan Kualitas SDM UMKM dan Pokdarwis sebagai Katalis SDGs Desa Ajaobaki mengatakan, pelaku UMKM harus memanfaatkan platform digital, seperti Facebook, Instagram, dan TikTok, untuk memasarkan produk lokal.

Menurut Tony, desa bukan hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga merupakan sumber penghidupan masyarakat karena memiliki berbagai potensi, seperti pertanian, kerajinan, peternakan, wisata alam, dan budaya.

Namun, sejumlah tantangan masih dihadapi, antara lain pendapatan yang belum stabil, akses pasar yang terbatas, serta sumber daya manusia (SDM) yang perlu diperkuat.

“Ekonomi desa kuat sama dengan keluarga sejahtera dan desa maju,” jelasnya.

Ia menegaskan, pengembangan UMKM lokal harus didukung kemampuan sumber daya manusia yang memadai. Masyarakat juga perlu berkolaborasi dalam mengembangkan UMKM dan berbagai potensi desa lainnya.

Selain itu, keramahan masyarakat desa perlu terus diperkuat agar wisatawan merasa nyaman dan tertarik untuk tinggal lebih lama di daerah wisata tersebut.

“Desa Ajaobaki memiliki banyak potensi yang belum sepenuhnya didukung oleh sumber daya manusia yang memadai. Karena itu, peningkatan kapasitas masyarakat menjadi hal penting agar potensi wisata yang indah dapat dikelola dengan baik dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat,” tegasnya.

Ia menyebutkan empat pilar SDM yang perlu ditingkatkan, yakni pengetahuan tentang pengelolaan usaha, mental kerja yang jujur dan disiplin serta pantang menyerah, keterampilan dalam menghasilkan produk yang menarik, dan kemampuan bekerja sama dengan pemerintah, masyarakat, serta konsumen.

Pengentasan Kemiskinan

Pemateri lainnya, Monika Mboeik,
mengatakan, pengembangan UMKM saat ini harus berbasis digital, baik dalam pemasaran maupun pembayaran.

Menurut Monik, proses pemasaran produk UMKM juga telah beralih dari pola tradisional ke digital. Pemasaran melalui berbagai platform media sosial dapat menjangkau konsumen di berbagai daerah, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Pola pemasaran saat ini sudah beralih dari tradisional ke digital. Begitu juga pembayaran saat ini sudah beralih ke transaksi digital,” ujar Monika.

Ia menjelaskan, pertumbuhan UMKM perlu melalui sejumlah tahapan, mulai dari membangun fondasi usaha dan menghasilkan produk yang layak jual, melakukan ekspansi regional, memperluas pemasaran daring, hingga mencapai kemandirian usaha.

Monika menegaskan bahwa keterbatasan teknologi bukanlah penghalang utama bagi pelaku UMKM untuk berkembang. Menurutnya, kedisiplinan, pencatatan, dan keberanian untuk terus belajar merupakan kunci utama dalam mengembangkan usaha.

“Pengembangan UMKM yang baik akan berkontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu pengentasan kemiskinan, kelaparan, kesetaraan gender, industri, inovasi dan infrastruktur, hingga kemitraan untuk mencapai tujuan,” pungkasnya.

Sekretaris Desa Ajaobaki, Neli Pinat mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa-mahasiswi Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Undana yang telah memilih Desa Ajaobaki sebagai lokasi kegiatan.

Ia berharap mahasiswa-mahasiswi Undana dapat membantu masyarakat khususnya para pelaku kelompok UMKM Suka Maju dan Pokdarwis di Desa Ajaobaki dalam pengembangan potensi ekonomi lokal.

“Kami sangat mengapresiasi kunjungan dan kegiatan dari bapak/ibu semua hari ini, semoga nanti dapat mendampingi masyarakat kami untuk terus meningkatkan kapasitas dan kompetensi mereka dalam mengelola dan memasarkan produk lokal maupun potensi pariwisata lokal yang ada di sini,” pungkasnya.***

Komentar Anda?

Related posts