Minggu Panggilan: Belajar Dari Gembala dan Mendoakan Panggilan Khusus (Yoh. 10:11-18)

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh: Drs. Fransiskus Sili, MPd, Guru SMK Negeri 5 Manado

Dalam liturgi Gereja Katolik, Hari Minggu Paskah IV dirayakan sebagai Hari Minggu Panggilan. Maka merayakan Minggu paskah tahun ini, penulis hendak memberi makna bagi hari Minggu Panggilan.
Di kalangan masyarakat Yahudi,  amat dikenal kehidupan para gembala. Tugas para gembala adalah menjaga kawanan domba yang dipercayakan kepadanya. Di pagi hari, ia membuka pitu kandang, lalu menggiring kawanan dombanya untuk mencari makan di kawasan rumput hijau, dan ketika sore hari ia membawa mereka ke mata air, lalu membawa mereka kembali ke kandang.

Di samping tugas itu, ia mesti memastikan keselamatan dan kenyamanan para dombanya, terutama ketika domba-dombanya menghadapi kawanan perampok atau binatang buas.
Gambaran tentang hidup para gembala dan dombanya  diambil oleh para penulis Perjanjian Lama untuk berbicara mengenai hubungan antara Allah dan manusia. Manusia  adalah ibarat domba-domba dan Gembala dan pemiliknya adalah Allah sendiri.. Para pemimpin bangsa Israel pada perjanjian Lama, para raja digambarkan sebagai  orang yang menerima kuasa dari Allah untuk menjaga keselamatan umat. Namun sejarah Umat Israel Perjanjian Lama membuktikan bahwa  para raja dan pemimpin Israel gagal memainkan peranan sentral ini. Mereka sibuk dengan kepentingan sendiri dan lupa mengusahakan kesejahteraan dan keselamatan umatNya. Iman kepada Allah yang menjadi jaminan keselamatan justru mengalami kehancuran karena mereka terbuai dengan cara hidup kekafiran yang menyemba dewa-dewi.

Kegagalan para raja dan pemimpin umat Perjanjian Lama ini juga yang menjadi sorotan dan kritikan para nabi. Para nabi utusan Tuhan mengingatkan umat akan kesetiaan pada janji keselamatan dan para pemimpin adalah contoh dan teladan yang membantu umat mencapai keselamatan itu.

Dalam  Kitab Yeremia bab 23, misalnya, kita dapat dengan jelas mendapatkan gambaran tentang kecaman bagi para gembala. “Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak!… “Kamu telah membiarkan kambing domba-Ku terserak dan tercerai-berai, dan kamu tidak menjaganya. Maka ketahuilah, Aku akan membalaskan kepadamu perbuatan-perbuatanmu yang jahat”.., demikianlah firman TUHAN. Dan Aku sendiri akan mengumpulkan sisa-sisa kambing domba-Ku dan akan membawa mereka kembali ke padang mereka:….  Aku akan mengangkat atas mereka gembala-gembala yang akan menggembalakan mereka, sehingga mereka tidak takut lagi, tidak terkejut dan tidak hilang seekor pun..”

Kegagalan para pemimpin dalam menjamin kesetiaan pada iman akan Allah dan menghadirkan kegembalaan Allah sendiri, disempurnakan secara baru oleh Pribadi Yesus sendiri dalam zaman Perjanjian Baru. Maka Yesus dalam Injil Yohanes tadi dengan tegas menyebut diriNya sebagai Gembala yang baik, karena Ia telah menyerahkan hidup  bagi domba-dombanya. Ciri khas seorang gembala yang baik ialah mengurbankan hidupnya secara sukarela bagi keselamatan domba-dombanya.

Di antara semua gembala, hanya Kristuslah yang menyerahkan nyawaNya, dengan cara yang amat berdaya guna, sebab kurbanNya mempunyai sifat yang khas, yaitu penyerahan diri Sang Putra kepada Bapa, dengan taat tanpa syarat kepada kehendak BapaNya.. Sebagai gembala yang baik, Kristus berani menyerahkan  hidupNya sampai titik darah terakhir, ketika Dia tergantung di salib. Sebab Dia mengenal domba-dombaNya dan mereka mengenal Dia. Mengenal mengandaikan adanya suatu hubungan yang sangat akrab, yang secara amat jelas oleh Yohanes dikatakan bahwa gembala memanggil domba dengan namanya masing-masing; dengan penuh perhatian memelihara mereka,  membela dan melindunginya terhadap bahaya dan serangan binatang buas. Akan tetapi yang paling utama ialah memberikan nyawanya bagi mereka. Sebaliknya, domba-domba pun tahu siapa gembala mereka, mengenal suaraNya dan mengikuti Dia.

Gambaran Yesus sebagai gembala yang baik menunjukkan betapa besar cinta dan perhatianNya kepada kita, para pengikutNya. Kalau sekarang kita merayakan Hari Minggu Panggilan maka sebagai umat yang bernaung di bawah perlindungan Yesus sebagai Gembala yang Baik, kita boleh bertanya diri, apakah kita sudah berusaha menjadi domba yang taat pada tuntunan Sang Gembala kita? Atau kita cenderung menempuh jalan hidup sendiri meski bertentangan dengan kehendak Sang Gembala?

Yesus menegaskan, Akulah gembala yang benar, bukan penipu, atau seorang yang menyesatkan domba-domba. Akulah gembala yang menjamin kehidupan dan keselamatan bagi domba-domba. Dalam tugas sebagai Gembala itu dan demi kelanjutan kegembalaan Allah atas umatNya, Yesus memilih para murid. Murid berarti orang yang sedang belajar, dan sesudah itu berubah menjadi Rasul, orang yang siap diutus sesudah berjumpa dengan Yesus yang bangkit.  

Di antara  kelompok para rasul itu, Petrus dipilih sebagai kepala para rasul. Jabatan para rasul di Zaman Yesus dilanjutkan dan dilestarikan dalam jabatan Para Uskup dengan Paus sebagai kepalanya. Sri Paus, para Uskup dan para imam dan daikon sebagai para pembantunya, itulah yang disebut hirarki dalam struktur Gereja sekarang. Mereka ditahbiskan untuk memimpin, menggembalakan dan mempersatukan umat. Maka ketika hendak memilih Petrus untuk tugas kegembalaan itu, Yesus berkata kepada Petrus, Gembalakanlah domba-dombaKu.

Itulah sebabnya, dalam Gereja kita sekarang, para pastor pertama-tama adalah gembala, karena memang Pastor itu berarti gembala, dan kita sebagai umat, boleh berharap dan berdoa supaya setiap pastor bertindak dan berlaku sebagai gembala: memimpin dan menuntun kita kepada keselamatan layaknya seorang gembala bagi domba. Tuntunan itu terutama melalui doa, ajaran, nasehat, tugas pelayanannya dan terutama keberlainan dan teladan hidupnya.

Maka hal kedua yang penting bagi kita pada perayaan Minggu panggilan seperti ini, adalah mendoakan para gembala kita, Sri Paus, para Uskup dan para imam, agar dijiwai semangat Kristus, Gembala Agung melayani dan memimpin kita kepada kebenaran dan keselamatan.

Di samping ada gembala-gembala tertahbis, dalam Gereja dan dalam rangka mengambil bagian dalam lima tugas pokok perutusan Gereja, anda dan saya, kita kaum awam adalah juga gembala, dalam arti tertentu. Berkat rahmat baptis dan krisma, kita dipanggil untuk mengambil bagian dalam tugas Gereja, masing-masing menurut cara dan fungsi. Di paroki, stasi, wilayah rohani atau berbagai kelompok kategorial, kita dapat tampil sebagai rasul dan gembala, terutama melalui cara hidup dan partisipasi kita dalam pelayanan Gereja.

Kaum religius, para suster, bruder dan frater, kaum awam, kita semua dipanggil dan diutus dalam rangka tugas penggembalaaan. Kita meski dengan cara berbeda menerimam tugas yang sama. Maka pada perayaan hari Minggu panggilan ini, kita juga berdoa memohon rahmat Tuhan dan bantuan Roh Kudus, untuk para pemimpin awam dalam umat kita, pengurus kelompok umat basis atau pengurus seksi dan kelompok kategorial, agar dijiwai semangat kegembalaan Kristus dan diberi kekuatan dan kemampuan Allah. Baiklah kita mendoakan para seminaris dan para frater, suster dan para calonnya, para katekis dan umat awam agar selalu diresapi semangat pelayanan Kristus sendiri. Dan kita sendiri agar kita semua tetap setia  pada Kristus Gembala kehidupan kita dan  menjalani hidup dan tugas perutusan kita masing-masing sebagai domba yang setia dan taat pada Sang Gembala. Dan ini kita mulai dari keluarga kita masing-masing. Namun ini hanya mungkin kalau kita berakar pada Sabda Tuhan, setia membaca dan mendengarkan  KS, ekaristi, doa, ibadat dan hidup iman yang baik. Semuanya menjadi sarana bagi kita untuk mendapat rahmat agar sanggup menjalani hidup dan perutusan kita. Dan atas cara ini kita dpt menjadi khabar gembira di tengah gaya hidup modern.


Terus Menimba Kesetiaan

Berbicara mengenai panggilan dengan sendirinya mengundang kita untuk berbicara mengenai kesetiaan. Setia…kesetiaan…bukanlah kata baru bagi kita. Dalam hidup berkeluarga, dalam hidup pergaulan di tengah lingkungan sosial bahkan dalam profesi dan pekerjaan apapun, selalu dituntut sikap setia ini.

Merayakan Hari Minggu panggilan berarti merayakan kesetiaan pada panggilan, karena setiap kita menerima tugas paggilan, apalagi paggilan yang diberi lebel “panggilan khusus”. Tekanan  yang hendak  digariskan  adalah kesetiaan terhadap panggilan khusus itu. Kesetiaan ini merupakan suatu  kualitas kehendak, yang membuat seseorang yang telah dipanggil, menjawab dan menjalani panggilan khusus itu dengan konsisten, dalam suatu disposisi yang baik kepada Allah, terhadap manusia dan terhadap dirinya ataupun terhadap suatu tugas yang dipercayakan. Misalnya, kesetiaan terhadap sahabat, kesetiaan kepada keluarga, Gereja atau masyarakat, kesetiaan terhadap janji yang telah diikarkan baik dalam suatu  perayaan publik maupun sebagai komitmen pribadi.
Dilihat dari segi teologis, kesetiaan manusia merupakan pancaran dari kesetiaan  Allah. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama kita menemukan dengan jelas kesetiaan Allah kepada umatNya, khususnya Israel sebagai bangsa pilihan. Melalui suatu perjanjian yang telah dibuat dengan Israel, Allah berjanji melindungi  bangsa pilihan itu dan serentak menuntut dari mereka kesetiaan dan ketaatan pada perjajianNya. Semua yang telah dibuat Allah itu menunjukkan cinta dan kesetiaanNya dan serentak merupakan suatu garansi bagi mereka yang  terikat dalam perjanjian itu.

Dengan demikian dalam panggilan khusus, dari pihak Allah, akan tetap memberikan rahmat dan kekuatan agar orang-orang yang telah berkomitmen hidup dalam kesetiaan dan komitmen yang sungguh. Dalam panggilan hidup imamat atau hidup religius, juga dalam hidup perkawinan, supaya tetap setia pada  komitmen, hidup rohani menjadi syarat dasarnya. Kitab Suci, Ekaristi, doa pribadi dan bersama serta  berbagai kegiatan kerohanian menjadi alat bantu untuk mendapatkan kekuatan dan tetap tumbuh alam iman dan kesetiaan kepada Allah dan komitmen dengan janji.

Sering kita menyaksikan atau mendengar kisah  ada imam, biarawan-biarawati meninggalkan imamat dan biaranya. Atau beredar berbagai cerita miring tentang hidup si imam atau biarawan tertentu, yang membuat kita sering geleng-geleng kepala. Tentu sebagai umat beriman, kita prihatin akan aneka kejadian  yang mengkianati komitmennya dengan Tuhan dan sesama. Apalagi suatu dihayati dalam suatu perjuangan yang panjang. Tetapi serentak kita bisa bertanya sejauh mana hidup rohaninya selama ini menjadi kekuatan baginya dan anugerah pembedaan roh agar sanggup melawan atau mengintegrasikan berbagai godaan secara sehat dan produktif?. Kalaupun selama ini kelihatan kuat, hidup rohani dan sosialnya baik, tugas pelayanannya baik, mungkin, sekali lagi mungkin mereka lupa bahwa godaan pasti akan datang ketika orang menggapnya sepele atau tidak peduli dengan diri dan panggilannya. Lebih celaka lagi kalau si terpanggil menjerumuskan dirinya sendiri.

Belajar dari Yesus yang digoda ketika berpuasa 40 hari sebelum mulai dengan karya perutusanNya. Dalam siang terik dan gelapnya malam, Yesus bergumul dengan panggilaNya dan tugas yang akan diterimanya. Ia bisa saja lari, yang dengan rahmat BapaNya yang Ia minta melalui doa dan puasa yang panjang itu, menjadikanNya menang dengan skor telak, 3-0 atas iblis. Iblis yang sama ketika di jalan salib, datang lagi dan menggoda Yesus untuk lari dari salib. Namun penuh keyakinan akan penyertaan BapaNya Ia berseru: Ya Bapa, sekiranya mungkin biarlah cawan ini berlalu dari padaKu, tetapi bukan kehendakKu melainkan kehendakMu yang terjadi. Ia pun meneruskan jalan salibNya sampai pada penyerahan diri yang total.

Di padang gurun itu, Yesus memang menang. Akan tetapi Injil Lukas masih mencatat, sesudah mengakhiri pencobaan ini, ibblis mundur daripadanya dan menunggu waktu yang tepat. Ini yang mungkin sering dilupakan oleh mereka yang telah berkomitmen secara khusus dalam kaul dan imamatnya. Maka merayakan minggu panggilan dimaksudkan secara khsusus agar para pilihan khusus itu tetap waspada akan godaan dan menghadapinya, bukan dengan kekuatan manusiawinya, melainkan dengan mengandalkan rahmat Allah. Dan bagi kita umat awam, kita mendapatkan  tugas untuk mendukung para gembala dan panggilan khusus itu dan bukannya memasukkan mereka ke dalam pencobaan.

Minggu panggilan menjadi kesempatan untuk mendoakan mereka yang sedang berjalan di jalan khusus, panggilan khusus, dan kita semua yang menjalani panggilan umum. Dan, baik panggilan umum maupun panggilan khusus kita semua berjuang menuju hidup kekal itu. Berbagai aksi panggilan hendaknya diarahkan bukan saja untuk mendoakan tumbuhnya panggilan baru, tetapi agar umat mendukung panggilan khusus itu dengan suatu penghormatan yang khusus. Meski kita akhirnya sadar bahwa mereka yang sudah dipanggil khusus itu juga tetaplah manusia. Mereka menerima Roh yang menguatkan tetapi tubuh dan daging tetaplah manusiawi.

Selamat merayakan hari Minggu Panggilan, selamat menikmati tuntutan Kristus sebagai Gembala dan selamat melanjutkan tugas perutusan dan panggilan hidup kita masing-masing. Meski tugas itu sering terasa berat, Yesus tak pernah membiarkan kita berjuang sendirian. RahmatNya selalu melimpah.

Komentar Anda?

banner 300x250

Related posts

banner 468x60