Moderasi Beragama: Rahmat dan Tugas Merawat Keberagaman Menuju Indonesia Pelangi

  • Whatsapp

Oleh: Drs. Fransiskus Sili, M.Pd. (Guru Pend. Agama Katolik SMK Negeri 5 Manado)

Pertama-tama, sebagai makluk ciptaan Tuhan dan ASN di Kementrian Agama, patutlah aku menyampaikan pujian dan syukur kepada Tuhan atas segala rahmatNya terutama kesempatan ikut memperingati Hari Amal Bakti (HAB) ke-77 Kementrian Agama Republik Indonesia. Tahun ini HAB mengusung tema:  Kerukunan Umat Untuk Indonesia Hebat. Dan dalam konteks perayaan ini, Kantor Kementrian Agama Kota Manado menggelar  lomba Pidato dengan tema Moderasi Beragama. Artikel ini merupakan perluasan dari pidato yang diikutkan dalam lomba itu.

Dalam perspektif iman  (Kristen Katolik), saya cenderung melihat perjalanan bangsa dan negara kita sebagai suatu sejarah keselamatan. Artinya, suatu perjalanan rohani bersama Allah menuju suatu dunia baru. Suatu langit dan bumi baru yang direncanakan Allah bagi seluruh umat manusia, tanpa pandang suku, agama, budaya dan bahasa. Dalam iman saya yakin, rencana Allah itu juga mencakup bangsa dan negara kita, suatu dunia dimana Allah menjadi segala-galanya untuk semua orang dan manusia saling menyapa dan hidup bersama berdampingan sebagai saudara. Dalam dunia baru itu, Allah menerbitkan  matahari dan menurunkan hujan bagi semua orang (Mat. 5:45).

Dalam perjalanan menuju dunia baru itu, kuasa-kuasa Allah lewat Roh Kudus hadir dan bergiat di dalam dunia (Kej. 1:2) dan dalam hati setiap orang (Rom. 5:5). Kehadiran dan kegiatan Roh itu bersifat universal, tidak dibatasi ruang dan waktu, mempengaruhi orang per orang dan masyarakat serta sejarah bangsa-bangsa, kebudayaan-kebudayaan, agama dan adat istiadat. Roh itu bekerja pula dalam setiap tradisi religius, agama serta kenyataan sosio-politik, bahkan perjuangan, pergumulan bahkan penderitaan  manusia, bangsa dan masyarakat.

Dan Roh itu sedang menghantar bangsa dan masyarakat kita menuju Rumah Bapa. Di dalam Rumah Bapa itu, ada banyak tempat tinggal (Yoh. 12:2-3). Ada tempat untuk saudara-saudari kaum Muslimin dan muslimat, saudara-saudari Kristen Protestan, saudara-saudari Konghucu, Hindu dan Budha serta Katolik. Semuanya dipanggil oleh Roh yang sama untuk membangun suatu budaya cinta, suatu budaya baru atau dunia baru dimana kita belajar meghargai kehidupan, menunjung tinggi persaudaraan, menerima serta menghargai pluralitas dan perbedaan.

Meskipun demikian gambaran idealis ini sering  kurang nampak benar. Mari kita sejenak, menengok realitas, dimana adata jeritan, peringatan dan pesan. Sejak dahulu bahkan sampai sekarang kita bangsa Indonesia bangga dan kagum karena menyebut diri sebagai suatu bangsa besar yang religus, sebuah bangsa Pelangi yang kaya dengan warna-warni religius. Namun sering kita masih menghadapi aneka pengalaman yang menakutkan, menggelisahkan dan mengerikan.

Isu SARA masih merasuki seluruh aspek kehidupan  dan memporak-porandakan sendi-sendi kehidupan bangsa dan negara termasuk kerukunan  hidup beragama. Sering rasa kagum dan bangga itu sirna dan berubah menjadi rasa malu, benci, ragu-ragu, tidak saling percaya, curiga dan dendam. Perubahan itu terjadi ketika mata kita masih  menyaksikan misalnya di medsos dan mendengar dengan telinga, serta merasakan dengan hati: berbagai tindakan  yang dilakukan oleh orang-orang beragama, atau bahkan atas nama agama. Daripada menangisi situasi ini,  lebih baik kita hening dan bertanya: ada apa di balik semuanya itu?

Dalam konteks ini refleksi saya menemukan bahwa  masih sering terjadi krisis misioner agama. Agama kehilangan misinya, karena berbagai factor: Pertama, agama menjadi tujuan pada dirinya sendiri dan bukan sebagai sarana untuk menjumpai Allah yang diimani dan yang memanggilmya hidup bersama sebagai saudara, atas dasar cinta, kedua; agama menjadi alat dari orang atau kelompok orang yang punya kepentingan tertentu, yang suka mengail di air keruh, dan ketiga, kecenderungan privatisasi agama: agama menjadi urusan pribadi semata dengan Tuhannya dan tidak mengabdi kepada kemanusiaan dan kepentingan masyarakat.

Di samping itu, refleksi saya menemukan bahwa musuh agama di bawah selimut adalah Mamon (Mat. 6:24, Luk. 16:9, 13,16). Apa itu mamon? Mamon pada intinya adalah kolusi antara kekuasaan dan uang, suatu kekuatan halus yang bekerja dalam diri kita, suatu naluri serakah. Ia menjamin keamanan dan kesuksesan, kuasa atau prestise untuk membuat kita  serakah, tidak jujur, tidak adil, atau tidak peduli terhadap kehidupan yang lain. Dan pada gilirannya melahirkan budaya kematian atau budaya kekerasan, yang membenci kehidupan, merusak persaudaraan dan menolak pluralisme dan beda pendapat. Dengan kata lain, mamon adalah kecenderungan yang terkait dengan uang dan kekuasaan, kedudukan dan keuntungan yang tidak adil, yang menempatkan seseorang mendapatkan  hak-hak istimewa.
 
Harapan Masa Depan: Simbol Baru dan Solidaritas
 
Sejarah peradaban masyarakat kita mencatat suatu daftar panjang berbagai peristiwa memilukan terkait kekerasan dan kerusuhan berdarah dengan motif suku, agama dan ras yang pernah terjadi di tanah air kita. Peringatan apa yang muncul di balik rentetan panjang kerusuhan berdarah itu atau berbagai bentuk kekerasan? Peringatan di balik kekerasan dan kerusuhan berdarah dengan motif suku,agama dan ras adalah adanya harapan dan keinginan masyarakat akan adanya simbol-simbol baru dalam kehidupan. Pembakaran, pengurasakan rumah ibadah, larangan beribadat di sejumlah tempat, pengrusakan pos polisi atau pos keamanan, meski harus dikutuk sebagai sesuatu yang brutal, serentak mengungkapkan harapan dan keinginan masyarakat akan adanya simbol-simbol baru yang inklusif dalam kehidupan masyarakat plural.

Meskipun mencemaskan, setiap tindakan  kekerasan, juga  atas nama agama mendatangkan ungkapan dan tindakan solidaritas dari berbagai elemen masyarakat, baik secara pribadi maupun kelompok. Ungkapan dan tindakan solidaritas lewat berbagai bentuk manifestasi itu merupakan  jeritan yang nyaris tak terdengarkan tentang upaya mencari simbol-simbol baru dalam kehidupan masyarakat plural. Bentuk dan wujud konkret simbol-simbol baru itu  dalam budaya cinta antara lain dalam pelbagai paguyuban basis manusiawi, seperti dicatat oleh A. Pieris, Berteologi dalam Konteks Asia: terj. hal. 13).

Paguyuban basis manusiawi itu bercorak lintas batas. Suatu persekutuan hidup dan kerja sama yang melampaui batas suku, agama, ras dan budaya. Orang berkumpul dan bekerja sama atas dasar keprihatinan yang sama atas situasi konkret dan berusaha untuk membebaskan  situasi yang tidak dikehendaki itu. Jadi selalu ada harapan di balik krisis.
 
Moderasi Beragama: Program  yang Tak Kenal Berhenti

Apa hubungannya dengan moderasi beragama? Jika kata “moderasi” disandingkan dengan kata “beragama”,  menjadi “moderasi beragama”, maka istilah tersebut berarti merujuk pada sikap mengurangi kekerasan, atau menghindari keekstreman dalam praktik beragama. Gabungan kedua kata itu menunjuk kepada sikap dan upaya menjadikan agama sebagai dasar dan prinsip untuk selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem (radikalisme) dan selalu mencari jalan tengah yang menyatukan dan membersamakan semua elemen dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa Indonesia.

Sikap moderat dan moderasi adalah suatu sikap dewasa yang baik dan yang sangat diperlukan. Radikalisasi dan radikalisme, kekerasan dan kejahatan, termasuk ujaran kebencian/caci maki dan hoaks, terutama atas nama agama, adalah ancaman terhadap hidup bersama, memecah belah, merusak kehidupan dalam masyarakat plural.  Moderasi beragama merupakan usaha kreatif untuk mengembangkan suatu sikap keberagamaan di tengah pelbagai desakan ketegangan, seperti antara klaim kebenaran absolut dan subjektivitas, antara interpretasi literal dan penolakan yang arogan atas ajaran, praktik dan tradisi religius agama lain, atau pemahaman dan penafsiran yang sempit tentang hal itu, Komitmen utama moderasi beragama terhadap toleransi dan menjaga kerukunan karena orang saling menerima dan menghargai identitas dirinya dengan segala kekayaan dan keunikannya sambil menghargai yang berbeda.

Suara dan Tindakan Profetis Agama
Dalam konteks moderasi beragama dewasa ini, kita dapat mengajukan dua pertanyaan penting. Pertama, manakah kebutuhan dan harapan bangsa dan masyarakat  Indonesia dewasa ini; dan kedua,  apa yang dapat dibuat oleh agama-agama dalam situasi  sekarang demi mencegah krisis dan menghadirkan secara baru makna moderasi beragama secara kontekstual?
Bangsa dan masyarakat kita sedang mengalami dan terus akan mengalami  krisis. Seluruh bangsa dan masyarakat kita, dalam pandangan iman kristiani, seperti mengalami jalan kisah Sengsara yang panjang mengikuti jalan salib Yesus. Injil mencatat bahwa di atas salib Yesus,ada dua jeritan yang menarik. Jeritan pertama: ”Allahku, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku” (Mat. 27:46). Dan jeritan kedua, “Aku haus” (Yoh. 19:28). Kedua jeritan tersebut lebih merupakan jeritan kemanusiaan yang dalam. Jeritan yang  berasal dari penderitaan manusia yang merasa seakan ditinggalkan oleh Allah dan dibiarkan  mati kehausan oleh sesamanya. Jeritan kemanusiaan ini ternyata keluar dari mulut Yesus seakan menyuarakan kebutuhan dasar manusia yang paling dalam dari bangsa dan masyarakat Indonesia dewasa ini.

Dari jeritan pertama, ternyata memperlihatkan bahwa bangsa dan masyarakat kita sekarang sedang lapar dan haus akan seorang Allah yang  hidup. Seorang Allah yang dialami dan dirasakan hadir  di tengah pergumulan dan perjuangan hidup yang konkret masyarakat, dengan kegembiraan dan harapannya, dengan duka dan kecemasannya (GS art 1). Dan jeritan kedua memperlihatkan  bahwa masayarakat kita dewasa ini sedang lapar dan haus akan solidaritas, damai dan  ketenangan batin dengan sesamanya dalam semangat persaudaraan sejati.

Dalam perspektif kedua jeritan di atas, dalam konteks  moderasi beragama perlu menyadari kembali tentang fungsi profetis dari agama. Fungsi profetis agama mengandung dua unsur yang tak terpisahkan satu sama lain: pesan profetis agama dan tindakan profetis agama. Keduanya saling melengkapi dan mengandaikan. Suara profetis tanpa tindakan profetis membuat misi agama tak layak dipercaya, sebaliknya tindakan profetis tanpa suara profetis membuat misi agama kehilangan dasar dan arahnya.

Lalu, apakah dasarnya? Makna Moderasi Beragama berakar pada Pesan Profetis, dengarlah pesan Guru dan Nabi. Pesan profetis pada dasarnya merupakan inti ajaran  dari masing-masing agama sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi dan Guru dari masing-masing agama (disarikan dari pandangan Kosuke Koyama, Tidak ada Gagang pada salib, Meditasi mengenai pikiran yang disalibkan di  Asia, terj. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1996, hal. 59-74).

Pesan profetis Islam menekankan  kepatuhan kepada Allah. Dengarlah, hai orang Islam: “Allah adalah Maha besar. Tidak ada allah lain selain Allah dan Nabi Mohammad adalah Rasul dan Utusan Allah”. Allah akbar (Allah Mahabesar), menjadi satu-satunya pusat dari panggilan hidup umat Islam. Dialah yang Esa, Dia juga adalah yang akbar. Karena itu manusia tidak akbar, Manusia adalah abdi Allah. Sebagai abdi, manusia wajib patuh dan  taq’wa kepada hukum-hukum Allah yang Mahapemurah dan Berbelas kasih (Kosuke Koyama, hal. 73).
Pesan Buddhisme: mematikan idaman.

Dengarlah hai umat Buddha: “Apakah yang menjadi kebenaran yang mulia dari pemadaman penderitaan? Ialah mengaburkan  seluruhnya  dan pemadaman idaman ini, meninggalkannya dan menyerahkannya pembebasan dan melepaskan diri daripadanya. Manusia ideal dalam pandangan Buddhisme adalah manusia tanpa idaman, manusia yang lepas dari “aku”. Maka hancurlah tanha, maka dukkha akan berhenti. Tirulah  pemberian diri dan penyangkalan diri dari pada bodhisatwa (Kosuke Koyama, hal. 74).

Pesan Confucianisme: mencapai kebaikan tertinggi. Dengarlah, hai orang-orang Confucius: “Apakah ada satu perkataan yang dapat dipakai sebagai satu peraturan untuk bertindak bagi seluruh hidup orang? Bukankah tindakan timbal-balik  (shu) perkatan yang demikian itu? Apa yang engkau ingin orang tidak berbuat kepadamu,janganlah engkau berbuat itu kepada orang lain” (Buku xv, pasal 24). Maka inti pesan ajaran Konfucius adalah: jalanilah kewajiban hubungan timbal-balik (sangkallah egosentrisme). Kerajaan yen sudah dekat, Yen itu pada hakekatnya adalah kasih, perbuatan baik, amal, kemansiaan,kebajikan, belas kasihan, kemurahan hati, baik hati, keluwesan, kedermawan, simpati, perhatian yang sungguh, kebaikan, kemauan baik, kelemah-lembutan).

Pesan  Profetis Hinduisme: Tindakan tanpa keinginan. Dengarlah hai orang-orang Hindu, “Dia yang tidak mempunyai kemauan yang jahat terhadap makluk apapun, yang bersahabat dan berbelaskasihan, bebas dari egoismme dan akal sendiri, tetap teguh dalam penderitaan dan kesenangan dan bersabar. Dia yang tidak mempunyai pengharapan adalah murni, trampil dalam tindakan, lapang dada dan tidak merasa kuatir, dia tidak melepaskan insiatif (dalam tindakan), dia pengabdiKu, adalah kesayangan bagiKu” (Bhagavadgitta, pasal XII, vv, 13,16). Pesan profetisnya: keinginan dalam tindakan harus ditolak (disangkal). Ahimsa datang melalui tindakan tanpa keinginan (Kosuke Koyama, hal. 74).
Pesan profetis Kristen: Ikutlah Yesus Kristus, Bunyinya…”Dengarlah hai orang-orang kristen, setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku… Karena barangsiapa menyelamatkan nyawanya akan kehilangan nyawanya dan barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil,  ia akan memperolehnya…” (Mat. 16:24-25).

Intinya, sebuah seruan untuk menyangkal diri dan  mengikuti Dia yang telah menyangkal diriNya sendiri. Penyangkalan diri memperoleh makna dari Yesus Kristus, karena kasih Allah telah dinyatakan melalui Yesus yang tersalib”
Akhirnya, Tindakan Profetis, sebagai kesaksian bersama. Sebuah pesan profetis keagamaan tanpa tindakan  profetis keagamaan membuat pesan itu sulit dipercaya. Kalau suara profetis mengandaikan  kedekatan  orang beragama dengan Tuhan, maka tindakan profetis mengandaikan  kedekatan orang beragama dengan masyarakat. Itu berarti agama ada untuk mengabdi kepada kepada Allah dan kemanusiaan.

Ensklik Frateli Tuti dari Paus Fransiskus menegaskan: “Pelbagai agama, berdasarkan rasa hormat kepada setiap pribadi manusia sebagai makhluk yang dipanggil untuk menjadi anak Allah, memberikan sumbangan berharga untuk membangun persaudaraan dan membela keadilan dalam masyarakat. Dialog antar pemeluk agama yang berbeda tidak dilakukan semata-mata atas dasar diplomasi, kesopansantunan, atau toleransi. Seperti yang diajarkan oleh para Uskup India, “tujuan dialog adalah membangun persahabatan, perdamaian, harmoni dan berbagi aneka nilai serta pengalaman moral dan spiritual dalam semangat kebenaran dan kasih.” (FT. 271). Paus Fransiskus juga menekankan bahwa  “di antara penyebab utama krisis dunia modern adalah ketidakpekaan hati nurani manusia, penjauhan dari nilai-nilai agama dan individualisme yang tersebar luas disertai dengan filsafat materialistis yang mendewakan manusia dan memperkenalkan nilai-nilai duniawi dan materiil sebagai pengganti prinsip-prinsip tertinggi dan transcendental” (FT 275).

Sering orang masih mempertanya fungsi agama. Bukankah semua agama mengajarkan cinta kasih, kerukunan dan persaudaraan yang sejati. Karena itu dalam konteks moderasi beragama kita perlu menyadari kembali bahwa pada dasarnya   fungsi agama. Dalam pandangan Kristen, fungsi agama antara lain, Pertama, mewartakan keselamatan. Semua agama mewartakan dan menawarkan keselamatan,bukan bencana. Karena mewartakan dan menjajikan keselamatan itulah, maka manusia memutuskan memeluk suatu agama. Manusia mendambakan keselamatan. Kedua, mewartakan arti hidup. Agama-agama memberikan pandangan hidup dan meyakinkan  para penganutnya untuk menghayati pendangan hidup itu.

Agama memberikan jawaban atas pertanyaan hidup: dari masa asal hidup manusia, apa makna hidup manusia, apakah tujuan hidup manusia dan sebagainya. Menghayati  pandangan hidup menurut agamanya akan membuat manusia Bahagia dan selamat. Ketiga, mengajarkan cara hidup. Semua agama mengajarkan  para penganutnya untuk hidup baik, hidup beretika dan hidup bermoral, hidup yang baik yang akan membahagiakan dan menyelamatkan (KWI, hal. 246).

Tentang makna iman, Dokumen Abudabhi, suatu dokumen yang ditandatangani sebagai hasil pertemuan Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Alzhar, di Mesir, 4 Pebruari 2019), “iman mempersatukan dan tidak memecah belah, iman itu mendekatkan kita kendatipun ada berbagai perbedaan, dan menjauhkan kita dari permusuhan dan kebencian”.  

Masih menurut dokumen ini, iman menuntun orang beriman untuk memandang dalam diri sesamanya seorang saudara lelaki atau perempuan untuk didukung dan dikasihi. Melalui iman pada Allah, yang telah menciptakan alam semesta, ciptaan, dan seluruh umat manusia (setara karena rahmat-Nya), umat beriman dipanggil untuk menyatakan persaudaraan manusia ini dengan melindungi ciptaan dan seluruh alam semesta serta mendukung semua orang, terutama mereka yang paling miskin dan yang paling membutuhkan” (bagian Pendahuluan Dokumen).

Nah, beberapa kemungkinan tindakan profetis dapat disebutkan misalnya dialog antar agama, doa bersama untuk kepentingan bersama, dialog terus-menerus umat beragama untuk membebaskan diri dari prasangka, sikap membela diri atau menghakimi yang lain. Sebagai  gantinya,  membuka hati bagi nilai-nilai positif dalam agama lain dan kerelaan belajar dari umat beragama lain.

Sebagai orang kristiani Katolik, dari seruan profetis bagi umat Islam, saya bisa belajar bahwa  hanya Tuhanlah yang Maha Besar. hanya Allahlah yang akbar dan karena itu sebagai manusia saya cuma abdi. Dari Islam kita dapat belajar sikap pasrah, kepercayaan yang teguh pada Allah yang Maha Esa, ketekunan dalam berdoa secara teratur, dan sikap tegas menolak kemaksiatan. Dari agama Hindu dan Buddha, kita dapat belajar tentang penekanan pada  hal-hal batin. Agama Hindu dan Buddha sangat menekankan doa batin, meditasi, kontemplasi. Dari agama Konghucu, juga agama Budha, kita dapat belajar tentang penekanan dan penghayatan umatnya pada hidup moral dan perilaku. Mereka sangat menekankan praktik hidup yang baik.Agama Konghucu dan agama Buddha adalah agama moral (KWI, Diutus sebagai Murid Yesus, hal, 252)

Dan akhirnya dialog kehidupan pada tataran praksis. Umumnya masyarakat kita hidup secara majemuk. Orang dari berbagai agama bekerja di tempat yang sama, tinggal di suatu lingkungan yang sama. Orang saling bertegur sapa, saling mengenal dan membantu, saling menghormati identitas diri dan orang lain, tanpa sekat dan batasan yang ketat. Atas cara ini kita secara bersama membangun solidaritas kesaksian lintas agama, sebagai gerakan peduli pada jeritan kaum kecil, miskin dan tertindas. Ada banyak hal bagus yang sudah tumbuh subur di tengah masyarakat plural, namun masih banyak yang perlu menjadi gerakan bersama, bukan saja pada elit agama tetapi terutama menyentuh, menyadarkan dan mempengaruhi masyarakat akar rumput. Kalau demikian, kita sedang dalam berada dalam suatu proses menjadi: sudah mulai tetapi belum selesai. Bagi bangsa Indonesia, keberagaman diyakini sebagai kehendak Tuhan. Keragaman tidak diminta, melainkan pemberian Tuhan Yang Mencipta, bukan untuk ditawar melainkan untuk diterima (taken for granted). Namun sesungguhnya usaha serius dan gerakan bersama merawat keberagaman itu tugas yang tak pernah selesai, apalagi menjelang tahun politik ini! Dan untuk kita yang membaca tulisan sederhana ini, pesannya adalah lakukan tugas dan tanggungjawabmu, apapun itu dengan sepenuh hati, dan kerjakanlah dengan hati nuranimu. Jadi harus dengan hati dan hati nurani. karena kalau tanpa hati, dengan muatan khusus nurani, benarlah kata-kata syair lagu: Aku punya ragamu, tetapi tidak hatimu! (***)

Komentar Anda?

Related posts