Aksi Puasa Pembangunan: Gerakan Bersama Menghadirkan Pengharapan

  • Whatsapp

Oleh: Drs. Fransiskus, Sili, M.Pd (Pengawas Ahli Madya Kementrian Agama Kota Manado)


Komisi PSE KWI menetapkan Tema Nasional Aksi Puasa Pembangunan (APP) tahun 2026 adalah “Gerakan Misioner Gereja dalam Menghadirkan Pengharapan”. Tema ini menekankan pentingnya Gereja menjadi komunitas yang mempromosikan integritas, transparansi, dan akuntabilitas sebagai bagian dari kesaksian iman. Dalam konteks ini, Gereja dipanggil untuk memperkuat formasi etika publik umat, menjadi komunitas yang inklusif dan dialogis, serta memperjuangkan keadilan dan perdamaian. Tema ini juga mengajak umat untuk memperbarui hati dan memperluas solidaritas, serta menjadi tanda harapan bagi masyarakat luas.

Beberapa aspek penting dari tema ini adalah: Pertama, Gereja yang Bahagia: Gereja dikatakan bahagia ketika anggotanya mampu memenuhi kebutuhan material, emosional, sosial, dan spiritual. Kedua,  Gereja yang Menginspirasi: Gereja menginspirasi ketika berani mengambil langkah pertama, membangun jejaring, dan memberi teladan hidup yang baik. Ketiga,  Gereja yang Mensejahterakan: Gereja mensejahterakan ketika memperjuangkan kondisi hidup yang memungkinkan setiap orang berkembang secara penuh, sesuai ajaran Gaudium et Spes

Dari Tema umum ini, Keuskupan Manado merumuskan tema: Satu Gereja: Satu Visi, Satu Misi. Berdasarkan tema nasional dan tema Keuskupan Manado,Paroki Bunda Teresa dari Calcuta Girya Paniki Indah merumuskan tema secara kontekstual: Aksi Puasa Pembangunan sebagai gerakan misioner Gereja dalam mengembangkan jati diri dan martabat dalam komunitas yang berbasis sabda, iman, persaudaraan,kerasulan dan masyarakat.

Tema APP berfokus pada persekutuan, solidaritas, kepedulian sosial, ekologi, dan penguatan iman dengan penekanan khusus pada keberpihakan kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, terpinggirkan dan difabel (KLMDT). Dari rumusan ini nampak beberapa karakteristik yang segera nampak: Solidaritas, fokus utama selalu pada kepedulian sesama. Aksi nyata: bukan sekedar menahan lapar, tetapi memberi dan berbagi, persekutuan,, persaudaraan lintas batas

Satu Gereja: Satu Visi, satu Misi

Pertanyaan, Apa itu Gereja? Terhadap pertanyaan ini ada beberapa pengertian Gereja: Gereja adalah gedung, Gereja adalah rumah Allah, tempat beribadat, misa, atau merayakan ekaristi Umat Katolik atau Umat kristiani pada umumnya.Gereja adalah ibadat; Gereja adalah lembaga rohani yang menyalurkan kebutuhan manusia dalam relasinya dengan Allah lewat ibadat-ibadat. Atau, Gereja adalah lembaga yang mengatur dan menyelenggarakan ibadat-ibadat. Gereja adalah persekutuan Umat yang beribadat. Gereja adalah ajaran; Gereja adalah lembaga untuk mempertahankan dan mempropagandakan seperangkat ajaran yang biasanya dirangkum dalam sebuah buku yang disebut Katekismus.Gereja adalah organisasi/lembaga sejagat/internasional; Gereja adalah organisasi dengan pemimpin tertinggi di Roma Ada pimpinan; Paus, Uskup-Uskup, Pastor-Pastor, Biarawan dan Umat. Gereja adalah Umat pilihan; Gereja adalah kumpulan orang yang dipilih dan dikhususkan Allah untuk diselamatkan. Tanpa menjadi anggota Gereja maka tidak akan diselamatkan masuk surga. Gereja adalah badan sosial; Gereja adalah Lembaga yang menyelenggarakan sekolah-sekolah, rumah sakit-rumah sakit dan macam-macam usaha untuk menolong orang miskin. Gereja secara fisik: bangunan. Rumah ibadat, tempat orang kristen berkumpul untuk berdoa/beribadat

Namun Arti Gereja yang sesungguhnya: sebagai kumpulan/persekutan umat beriman, Gereja Umat Allah. Istilah Umat Allah sudah dipakai sejak Perjanjian Lama dan kemudian dilanjutkan dalam Perjanjian Baru, khususnya sejak Konsili Vatikan II.

Hakekat Gereja : Umat Allah  

Gereja sebagai persekutuan Umat Allah menunjuk pada ciri-ciri: Umat Allah adalah panggilan /pilihan dari Allah (umat pilihan/ bangsa terpilih), Umat Allah dipilih Allah untuk misi tertentu demi penyelamatan manusia dan dunia seluruhnya, Hubungan antara Allah dan umatNya dimeteraikan dalam Perjanjian. Umat harus mentaati isi perjanjian kalau mau menjadi umat yang layak dan menikmati keselamatan (bdk. Perjanjian Sinai dan perjanjian nikah/baptis), karena Allah selalu mentaati perjanjianNya.Umat Allah selalu melewati perjalanan, padang gurun, salib/perjuangan.    Apa artinya?

Umat Allah adalah umat/bangsa yang terpanggil oleh Allah, suatu panggilan istimewa. Tujuan panggilan kita adalah keselamatan, baik diri dan dunia. Karena hubungannya adalah perjanjian… maka umat harus menepati perintah Allah agar menikmati janji-janjiNya. Sebagai Gereja, kita sedang berziarah menuju rumah  Bapa di surga.

Dasar Gereja Mengumat:

Pertama, Hidup mengumat pada dasarnya merupakan hakekat Gereja itu sendiri, sebab hakekat Gereja adalah persaudaraan cinta kasih seperti yang dicerminkan oleh hidup umat purba (Gereja perdana) (lih. Kis. 2:41-47). Kedua, dalam hidup mengumat banyak kharisma dan rupa-rupa karunia yang mesti dilihat, diterima dan digunakan sebagai kekayaan seluruh Gereja.Hidup Gereja yang terlalu menekankan segi organisatoris dan struktural dapat mematikan kharisma dan karunia yang muncul dari bawah (1Kor. 12:7-10). Ketiga, dalam hidup mengumat, semua merasa menghayati martabat yang sama dan bertanggungjawab secara aktif dalam fungsinya masing-masing untuk membangun Gereja dan memberikan kesaksian kepada dunia. (lih. Ef. 4:11-13; 1Kor. 12:12-18; 26-27).

​Apakah sifat  mendasar dari hakekat Gereja sebagai Umat Allah? Sebagai hakekat Gereja Umat Allah selalu bersifat terbuka. Umat Katolik hidup di tengah dunia bersama orang lain dengan berbagai latarbelakang suku-bangsa, agama, serta keyakinannya. Dalam sejarah panjangnya, Gereja Katolik pernah “menutup diri” dengan ajaran atau doktrin bahwa di luar Gereja (Katolik) tidak ada keselamatan (extra ecllesiam nula salus). Ajaran ini membuat Gereja (Katolik) menutup pintu dialog dengan agama dan kepercayaan serta masyarakat lain pada umumnya. Sejarah Gereja berubah ketika Konsili Vatikan II (1962-1965),

membuka pintu-pintu dialog antar-agama dan kebudayaan untuk membangun dunia sesuai kehendak Tuhan. Perubahan cara pandang Gereja, berkaitan dengan pergeseran model Gereja sebelum dan sesudah Konsili Vatikan II.

​Untuk memahami makna Gereja sebagai persekutuan yang terbuka, yang diajarkan oleh Konsili Vatikan II, maka sekarang simaklah hal tersebut dalam Ad Gentes, berikut ini: “Gereja, yang diutus oleh Kristus untuk memperlihatkan dan menyalurkan cinta kasih Allah kepada semua orang dan segala bangsa, menyadari bahwa karya misioner yang harus dilaksanakannya memang masih amat berat. Sebab masih ada dua miliar manusia, yang jumlahnya makin bertambah, dan yang berdasarkan hubunganhubungan hidup budaya yang tetap, berdasarkan tradisi-tradisi keagamaan yang kuno, berdasarkan pelbagai ikatan kepentingan-kepentingan sosial yang kuat, terhimpun menjadi golongan-golongan tertentu yang besar, yang belum atau hampir tidak mendengar Warta Injil. Di kalangan mereka ada yang tetap asing terhadap pengertian akan Allah sendiri, ada pula yang jelas-jelas mengingkari adanya Allah, bahkan ada kalanya menentangnya. Untuk dapat menyajikan kepada semua orang misteri keselamatan serta kehidupan yang disediakan oleh Allah, Gereja harus memasuki golongan-golongan itu dengan gerak yang sama seperti Kristus sendiri, ketika Ia dalam penjelmaan-Nya mengikatkan diri pada keadaan-keadaan sosial dan budaya tertentu, pada situasi orang-orang yang sehari-hari dijumpai-Nya”. (AG art. 10)

Lalu Siapakah Gereja? Gereja adalah Kita: Keanggotaan Gereja Umat Allah. Dalam Gereja sebagai umat Allah terdapat 3 komponen umat di mana masing-masing kelompok memikiki ciri khas panggilan dan tugas perutusannya.

Pertama, Hirarki : Para pemimpin/pejabat Gereja: Mereka ditandai dengan sakramen Tahbisan/imamat (Diakon, imam, Uskup). Tugas mereka; Memimpin, menggembalakan dan mempersatukan Umat Allah. Kedua, Biarawan/wati (kaum religius) ditandai dengan pengikraran dan penghayatan kaul2 (tiga nasehat Injil; kemiskinan, ketaatan, kemurnian/selibat/keperawanan, hidup wadat/tidak kawin. Tugas mereka menjadi tanda Kehadiran Kerajaan Allah di dunia. Ketiga, Kaum awam: yang bukan hirarki dan bb, ditandai dengan corak keduniaan/mendunia, terlibat dalam tata dunia. Tugas mereka menjadi rasul di tengah tata dunia, sebagian terbesar kaum awam ditandai dengan sakramen perkawinan.

APP dan Gerakan Pengharapan: Konteks Paroki Bunda Teresa Calcuta Girya Paniki

Tanggal 18 Februari 2024, sesuai dengan Kalender Liturgi, kita  memulai Masa Prapaskah, Masa Puasa dan Pantang, Masa Pertobatan. Sesuai dengan tradisi turun temurun, kita mengisi Masa Prapaskah dengan pendalaman tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) dalam bentuk pendalaman iman dan aksi nyata untuk membangun hidup dan iman, sesuai dengan tema. Tema yang diangkat untuk memaknai APP tahun 2026 berkaitan Visi Keuskupan Manado, hasil Musyawarah Pastoral Keuskupan Manado 2025: Aksi Puasa Pembangunan sebagai Gerakan Misioner Gereja dalam mengembangkan Jati Diri dan Martabat dalam Komunitas yang berbasis Sabda, Iman, Persaudaraan, Kerasulan dan Masyarakat. Tema pekan pertama adalah Gerakan Berpengarapan. Tentu muncul pertanyaan: mengapa Gereja mengangkat tema ini?

Tahun Yubileum 2025: Peziarah Pengharapan sudah lewat dan ditutup. Tahun 2025 sudah kita lalui. Dengan aneka pengalaman, tantangan, kesulitan, kegembiraan. Harapan, duka dan kecemasannya. Layar hidup di tahun 2025 itu sudah diturunkan dan kita sudah mulai mengibarkan layar hidup kita di tahun 2026. Kemanakah kita berlayar? Bagaimana kita melewatinya? Tidak satu pun yg tahu. Misteri. Meskipun demikian, kita tahu suatu hal yg pasti: tangan dan kasih Tuhan menolong, menyertai, memberkati dan menuntun kita. Di sinilah harapan menjadi penting. Apakah dasarnya? Imanakan penyelengaran dan kasih Allah yang selalu menyertai kita akan terus menyertai dan mengarahkan kita. Itulah yang membuat kita teguh dan yakin bahwa pengaharapan itu tidak pernah mengecewakan. Dasar kita : perkataan Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, “Spes non confundit” (Pengharapan tidak mengecewakan) (Rom 5:5)

Orang-orang Yahudi di zaman Yesus pun mengalami aneka penderitaan karena mereka dijajah oleh orang-orang Rowawi. Dalam situasi yang tidak pasti, namun mereka tetap memiliki dan mewarisi suatu harapan mesianis sebelumnya. Mereka mengharapkan seorang Mesias, Raja,  yang akan akan memberikan pembebasan dan kemerdekaan kepada mereka. Harapan yang dinubuatkan, diwartakan dan dinantikan sejak Perjanjian Lama ini dalam proses panjang akan tergenapi dalam diri Yesus. Dalam DiriNya, hidup dan karyaNya,  Kerajaan Allah itu mulai, Allah mulai merajai, menguasai hati dan hidup manusia dan menyelamatkan mereka.

Kerajaan Allah: Proyek Allah dalam Yesus

Istilah “Kerajaan Allah” sudah lazim  bagi para pengikut Yesus pada waktu itu, sebab istilah tersebut sudah ada pada zaman Perjanjian Lama. Dalam ungkapan Kerajaan Allah terkandung suatu kepercayaan dalam pengharapan tertentu. Dalam bentuknya yang murni, ungkapan Kerajaaan Allah merangkum kepercayaan bahwa Tuhanlah yang menguasai hati manusia dan dunia ini. Allah meraja di hati manusia dan di dunia.

Gambaran dan harapan ini dihubungkan dengan tokoh Mesias berdasarkan nubuat Yesaya. Tetapi tokoh Mesias sering dihubungkan dengan tokoh Raja Daud yang berkuasa pada Perjanjian Lama.  Daud menjadi tokoh raja ideal yang menjadi gambaran bagi raja-raja Israel. Pada zaman raja Daud Israel mencapai kejayaan sebagai kerajaan baik secara politik dan keagamaan.

Gambaran Kerajaan Allah seperti di atas dihubungkan dengan keyakinan dan pengharapan akan datangnya Mesias. Ketika bangsa Israel berada dalam berbagai penderitaan karena tidak setia pada imannya pada Allah, nabi Yesaya tampil untuk membangkitkan kembali harapan dan kepercayaan mereka kepada Allah. Harapan ini terus dinantikan juga pada zaman Yesus, meski lebih bercorak  sosial-politis.

Haparan akan datangnya Kerajaan Allah ini sudah tergenapi dan hadir dalam diri, hidup dan karya Yesus dan mencapai puncaknya pada misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Ia menghadirkannya dengan sabda dan pewartaanNya, lewat perumpamaan, dan tindakan dan perbuatan baik, khususnya melalui mujizat. Ada 4 Klompok mujisat: Mujizat alam, mujisat penyembuhan penyakit, mujisat pengusiran setan, dan mujisat pembangkitan orang mati. .

Panggilan dan Perutusan Gereja: Melanjutkan Karya Yesus

Panggilan dan perutusan Gereja sekarang adalah untuk mewartakan Injil Kerajaan Allah, membangun persaudaraan dan kerukunan sebagai anak-anak Allah, serta memperjuangkan perdamaian, keadilan, dan kebenaran di dunia. Gereja dipanggil untuk menjadi saksi kasih Allah dan membawa kabar gembira kepada semua orang, terutama mereka yang terpinggirkan dan terlupakan.

Tujuan Panggilan dan Perutusan Gereja: Pertama, Mewartakan Injil Kerajaan Allah: Gereja dipanggil untuk menyebarkan kabar gembira tentang Kerajaan Allah yang sudah dekat. Kedua, Membangun Persaudaraan: Gereja harus menjadi komunitas yang mempromosikan persaudaraan dan kerukunan sebagai anak-anak Allah. Ketiga, Memperjuangkan Keadilan dan Perdamaian: Gereja dipanggil untuk memperjuangkan keadilan, kebenaran, dan perdamaian di dunia.

Sebagai bagian dari Gereja Katolik Indonesia, kita mau ‘Berjalan Bersama Sebagai Peziarah Pengharapan’. Dalam perjalanan ini, kita berusaha menjadi Gereja Sinodal yang Misioner untuk Perdamaian. Secara lebih konkrit, Gereja keuskupan Manado telah menegaskan arah peziarahan umat yakni Pengembangan Jati diri dan Martabat dalam Komunitas yang berbasis Sabda, Iman, Persaudaraan, Kerasulan dan Masyarakat. Arah ini merupakan Visi misioner Keuskupan Manado untuk tahun 2026-2030. Visi ini telah terjabarkan pula dalam Rencana Strategis (Renstra) Keuskupan Manado, yang mana merupakan hasil perjumpaan sinodal melalui Musyawarah Pastoral tahun 2025.

Gerakan APP melekat erat dengan Masa Prapaskah. Kita telah menjalaninya berulang kali sehingga telah menjadi suatu kebiasaan. APP telah mentradisi sebagal gerakan kita, mulai Dari diri pribadi, keluarga, komunitas persekutuan basis, stasi dan paroki. Kegiatan-kegiatan APP telah menjadi bagian dari rutinitas kalender liturgi, yang diwujudkan dalam tindakan Konkret yang sebagai wujud pertobatan, solidaritas, dan keterlibatan nyata dalam kehidupan bermasyarakat. Ada kegiatan pendalaman tema APP, ada aksi bakti sosial, aksi karitatif, Selebrasi sakramen tobat. Hal yang paling populer yakni aksi Dana APP. Aksi ini bahkan seringkali dijadikan sebagai tolak-ukur keberhasilan gerakan APP. Apakah memang seperti itu Yang diharapkan?

Harapan yang hendak dicapai oleh gerakan APP mesti ditempatkan dalam konteks Masa Prapaskah. Masa ini merupakan suatu peziarahan: perjalanan mendaki Gunung Suci Hari Raya Paskah. Kita diajak untuk mengarahkan hati dan budi pada puncak misteri keselamatan Yang dirayakan pada Hari Raya Paskah. Tersirat dalam ajakan ini adanya gerakan perubahan Orientasi hidup beriman. Kita diajak untuk melihat kembali perjalanan hidup beriman kita, menyadari dan sekaligus menata kembali jati diri dan martabat kita sebagai umat beriman Kristiani katolik. Kita dihimpun dalam komunitas keselamatan dengan Kristus sebagai kepala. Persekutuan kita merupakan Sakramen Keselamatan Allah, artinya, kita menjadi tanda dan sarana persekutuan dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia. Sekaligus juga, kita mengemban suatu misi: menjadi garam dan terang dunia, artinya, kita mesti berpartisipasi: Terlibat dan bertindak konkrit. Gerakan melihat dan menyadari kembali jati diri dan martabat, serta keterlibatan kita ini dimaknai sebagai Gerakan Tobat.

Gerakan Tobat dalam Masa Prapaskah

Gerakan Tobat mengarah pada 2 (dua) hal yang saling terkait erat: (1) membangun tobat pribadi (metanoia) dan (2) membangun kepedulian yang berbelarasa terhadap sesama. Hal membangun tobat pribadi berwujud antara lain dalam bentuk-bentuk: memperdalam pemahaman iman melalui aneka katekese, menyadari dan berusaha meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk, bermatiraga dengan puasa dan pantang, berusaha tekun dan setia dalam doa, membaca dan merenungkan Kitab Suci, mengikuti Ekaristi, menyesali dosa dan menyambut sakramen Tobat. Adapun hal membangun kepedulian yang berbelarasa berwujud dalam aksi-aksi nyata, seperti: memaafkan sesama, merawat kebersamaan persekutuan umat, merawat lingkungan alam, kegiatan sosial-karitatif.

Jadi APP sebagai Aksi Puasa Pembangunan merupakan suatu gerakan yang melibatkan seluruh umat Katolik selama masa Prapaskah untuk mewujudkan secara nyata puasa, pantang, derma dalam berbagai bentuk kegiatan yang membangun masyarakat, yang secara nyata membawa dampak untuk kesejahteraan banyak orang.

Ketentuan Puasa, Pantang dan Tobat:

Kan. 1249 : Semua orang beriman kristiani wajib menurut cara masing-masing melakukan tobat demi hukum ilahi; tetapi agar mereka semua bersatu dalam suatu pelaksanaan tobat bersama, ditentukan hari- hari tobat, dimana umat beriman kristiani secara khusus meluangkan waktu untuk doa, menjalankan karya kesalehan dan amal-kasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang, menurut norma kanon-kanon berikut.

Kan. 1250 : Hari dan waktu tobat dalam seluruh Gereja ialah setiap hari Jumat sepanjang tahun, dan juga masa prapaskah. Kan. 1251 : Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi para Uskup setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya hendaknya dilakukan; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan Kita Yesus Kristus. Kan. 1252 :Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun ke enam puluh; namun para gembala jiwa dan orangtua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena usianya masih kurang tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina ke arah cita-rasa tobat yang sejati.

Penutup

Dalam hidup ini, kita pun sering  merasa seperti perahu kecil di tengah samudera yang luas. Badai persoalan, baik itu masalah ekonomi, kesehatan yang menurun, kegagalan, atau keretakan dalam relasi keluarga, datang silih berganti tanpa peringatan. Saat ombak penderitaan menghantam, mudah bagi kita untuk merasa terombang-ambing dan kehilangan arah. Namun, pesan sabda  Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa kita memiliki sebuah sauh (jangkar) yang luar biasa, yaitu pengharapan. Dalam tradisi Kristiani, pengharapan bukanlah sekadar keinginan agar segalanya menjadi baik, melainkan sebuah keyakinan teguh bahwa akan janji Allah yang tidak pernah berubah.

AKSI PUASA PEMBANGUNAN 2026

Paroki Bunda Teresa Calcutta – Griya Paniki Indah

Aksi Puasa Pembangunan sebagai Gerakan Misioner Gereja dalam mengembangkan Jati Diri dan Martabat dalam Komunitas yang berbasis Sabda, Iman, Persaudaraan, Kerasulan dan Masyarakat.

Pertemuan-1: Gerakan Berpengharapan

Fokus utama: Gerakan Aksi Puasa Pembangunan (APP) sebagai gerakan misioner Gereja untuk menghadirkan pengharapan melalui pertobatan pribadi dan komunal, sejalan dengan visi Keuskupan Manado.

Sebagai bagian dari Gereja Katolik Indonesia, kita mau ‘Berjalan Bersama Sebagai Peziarah Pengharapan’. Dalam perjalanan ini, kita berusaha menjadi Gereja Sinodal yangMisioner untuk Perdamaian. Secara lebih konkrit, Gereja keuskupan Manado telah menegaskan arah peziarahan umat yakni Pengembangan Jati diri dan Martabat dalam Komunitas yang berbasis Sabda, Iman, Persaudaraan, Kerasulan dan Masyarakat. Arah ini merupakan Visi misioner Keuskupan Manado untuk tahun 2026-2030. Visi ini telah terjabarkan pula dalam Rencana Strategis (Renstra) Keuskupan Manado, yang mana merupakan hasil perjumpaan sinodal melalui Musyawarah Pastoral tahun 2025.

lbarat suatu perjalanan, tahun 2026 menjadi langkah pertama peziarahan selama kurang lebih 5 (lima) tahun ke depan, untuk secara perlahan, bertahap tapi penuh keyakinanmewujudkan visi tersebut. Sekaligus pula di awal tahun 2026 ini, kita memasuki masa Prapaskah yang dicirikhaskan dengan Gerakan Aksi Puasa Pembangunan. Gereja Indonesiamengajak kita melihat Gerakan APP ini sebagai gerakan misioner dalam menghadirkan Pengharapan. Menjawab ajakan ini, kiranya tepat jika gerakan APP menjadi gerakan misioner Gereja kita.

Pengharapan yang hendak dihadirkan oleh Gereja Keuskupan Manado telah terumuskan sebagai Visi: Pengembangan Jati diri dan Martabat dalam Komunitas yangberbasis Sabda, Iman, Persaudaraan, Kerasulan dan Masyarakat. Renstra Keuskupan Manado 2026-2030 telah merumuskan pula aktivitas-aktivitas kerasulan yang terarah pada perwujudan visi tersebut. Kiranya baik jika kita menempatkan pula Gerakan APP menjadi salah satukesempatan untuk menghadirkan atau mewujudkan pengharapan ini.

Kiranya baik jika kita mengingat kembali ‘Siapa Gereja itu?’ Gereja adalah Persekutuan Umat Katolik, yang mana berwujud paling istimewa dan konkrit dalam persekutuan hidup yang bercorak basis: Wilayah Rohani, Kelompok Kategorial, Stasi. Gereja adalah persekutuan persekutuan umat dimana kita ada di dalamnya. Gereja bukanlah organisasi di luar kita. Ketika mendengarkan kata ‘Gereja’, bayangan yang muncul dalam pikiran kita bisa berarti gerejaUniversal, gereja partikular (keuskupan) atau paroki. Hal ini adalah benar. Akan tetapi, kiranya jangan dilupakan bahwa di dalamnya terdapat kita, yakni saya secara pribadi dan sesama umat beriman lainnya yang membentuk suatu komunitas. Dengan cara pandang sedemikian, kita dapat memahami bahwa Gerakan APP merupakan gerakan kita masing-masing bersama komunitas kita.

Sebagai bagian dari komunitas Gereja Keuskupan Manado, kita jadikan visi ini sebagai visi paroki dan persekutuan-persekutuan basis di paroki kita, yakni: Pengembangan Jati diri dan Martabat dalam Komunitas yang berbasis Sabda, Iman, Persaudaraan, Kerasulan danMasyarakat. Visi ini menjadi arah dasar semua gerakan kerasulan pastoral kita. Oleh karena itu pula, kiranya tepat jika kita dapat menjadikan Gerakan APP sebagai gerakan misioner kita untuk mengembangkan jati diri dan martabat, dalam persekutuan-persekutuan basis (wilayah rohani, kelompok kategorial, organisasi, stasi) yang berbasis sabda, iman, persaudaraan, kerasulan dan masyarakat.

Gerakan APP melekat erat dengan Masa Prapaskah. Kita telah menjalaninya berulang kali sehingga telah menjadi suatu kebiasaan. APP telah mentradisi sebagal gerakan kita, mulaiDari diri pribadi, keluarga, komunitas persekutuan basis, stasi dan paroki. Kegiatan-kegiatan APP telah menjadi bagian dari rutinitas kalender liturgi, yang diwujudkan dalam tindakanKonkret yang sebagai wujud pertobatan, solidaritas, dan keterlibatan nyata dalam kehidupan bermasyarakat. Ada kegiatan pendalaman tema APP, ada aksi bakti sosial, aksi karitatif, Selebrasi sakramen tobat. Hal yang paling populer yakni aksi Dana APP. Aksi ini bahkan seringkali dijadikan sebagai tolak-ukur keberhasilan gerakan APP. Apakah memang seperti itu Yang diharapkan?

Harapan yang hendak dicapai oleh gerakan APP mesti ditempatkan dalam konteks Masa Prapaskah. Masa ini merupakan suatu peziarahan: perjalanan mendaki Gunung Suci Hari Raya Paskah. Kita diajak untuk mengarahkan hati dan budi pada puncak misteri keselamatan Yang dirayakan pada Hari Raya Paskah. Tersirat dalam ajakan ini adanya gerakan perubahan Orientasi hidup beriman. Kita diajak untuk melihat kembali perjalanan hidup beriman kita, menyadari dan sekaligus menata kembali jati diri dan martabat kita sebagai umat beriman Kristiani katolik. Kita dihimpun dalam komunitas keselamatan dengan Kristus sebagai kepala.Persekutuan kita merupakan Sakramen Keselamatan Allah, artinya, kita menjadi tanda dan sarana persekutuan dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia. Sekaligus juga, kitamengemban suatu misi: menjadi garam dan terang dunia, artinya, kita mesti berpartisipasi: Terlibat dan bertindak konkrit. Gerakan melihat dan menyadari kembali jati diri dan martabat, serta keterlibatan kita ini dimaknai sebagai Gerakan Tobat.

Kiranya, kita masih ingat pewartaan pertama Yesus ketika la memulai karya-Nya di Galilea < Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat (Matius 4:17). Pesan yang samaditemukan juga pada Yohanes Pembaptis (Matius 3:2), yang berisikan perintah untuk bertobat secara penuh dan mengubah hidup. Kiranya jelas bagi kita bahwa pengembangan jati diri dan martabat kita sebagai umat beriman memiliki syarat yang fundamental dan hakiki, yakni pertobatan atau Pembaharuan Batin. Semangat ini pun mesti menjadi spirit aktivitas misioner kita, artinya, menjadi suatu proses/gerakan yang berlangsung terus sepanjang hidup. Dalam Masa Prapaskah, gerakan Tobat ini memuat makna yang khas.

Gerakan Tobat mengarah pada 2 (dua) hal yang saling terkait erat: (1) membangun tobat pribadi (metanoia) dan (2) membangun kepedulian yang berbelarasa terhadap sesama. Hal membangun tobat pribadi berwujud antara lain dalam bentuk-bentuk: memperdalam pemahaman iman melalui aneka katekese, menyadari dan berusaha meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk, bermatiraga dengan puasa dan pantang, berusaha tekun dan setia dalam doa, membaca dan merenungkan Kitab Suci, mengikuti Ekaristi, menyesali dosa dan menyambut sakramen Tobat. Adapun hal membangun kepedulian yang berbelarasa berwujud dalam aksi-aksi nyata, seperti: memaafkan sesama, merawat kebersamaan persekutuan umat, merawat lingkungan alam, kegiatan sosial-karitatif.

Keterkaitan kedua hal di atas menjadi kekhasan gerakan APP. Misalnya terkait ‘derma APP’. Derma ini semestinya merupakan hasil dari gerakan ‘sililh’ pertobatan kita. Jika kitaberpantang sesuatu hal, maka uang yang kita biasa belanjakan untuk hal itu, kita sisihkan sebagai ‘derma APP’. Dengan ini maka derma APP bukan hanya sekedar menaruh sejumlahuang dalam amplop, melainkan merupakan hasil dari ‘pengorbanan’ kita melalui puasa dan pantang, untuk didermakan bagi orang lain, khususnya yang kecil, lemah, miskin, terpinggirkan dan difabel (KLMTD).

Arah Refleksi dan Sharing:

1. Dalam pengalaman saya, apakah Aksi Puasa Pembangunan sungguh menjadi gerakan tobat atau hanya rutinitas tahunan?
2. Kebiasaan apa yang perlu saya ubah agar hidup beriman saya lebih mencerminkan jati diri sebagai murid Kristus?
3. Apakah saya melihat Gereja sebagai ‘mereka’ atau ‘kita’?
4. …

Pertemuan-2: Menumbuhkan Pengharapan dalam Persekutuan

Fokus utama: persekutuan (communio) sebagai hakikatGereja dan sumber pengharapan, yang dihidupi dalamkeluarga dan komunitas basis sebagai communion of communities.

​Persekutuan merupakan hakikat yang paling mendasar dalam kehidupan Gereja. Gereja lahir dari persekutuan kasih Allah Tritunggal, yakni Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Karena itu, Gereja dipanggil untuk mencerminkan persekutuan ilahi tersebut dalam kehidupan umat beriman. Dokumen Lumen Gentium (LG) menegaskan bahwa Gereja adalah Umat Allah yang dipersatukan dalam Kristus dan dipimpin oleh Roh Kudus (LG 9). Artinya, Gereja bukan pertama-tama sebuah organisasi atau lembaga administratif, melainkan persekutuan hidup dari orang-orang yang dipanggil, dihimpun, dan diutus oleh Allah.

​Persekutuan dalam Gereja berakar pertama-tama dalam keluarga. Gereja menyebut keluarga sebagai Ecclesia Domestica (Gereja Rumah Tangga). Keluarga menjadi tempat pertama iman diperkenalkan, dijaga dan bahkan diwariskan. Dalam keluarga setiap pribadi belajar mengenal Allah, berdoa bersama, dan berbagi kehidupan dalam kasih. Keluarga bukan sekedar tempat tinggal, tetapi persekutuan yang hidup. Di dalamnya, iman tidak diajarkan terutama lewat kata-kata, melainkan melalui teladan hidup. Semua dapat diperoleh lewat kesetiaan orang tua, kepedulian antar anggota keluarga, dan bahkan kesediaan dalam berbagi suka dan duka. Dari keluarga yang hidup dalam iman, lahirlah pribadi-pribadi yang terbuka untuk berelasi dan bermisi.

​Persekutuan keluarga kemudian berkembang dan diperdalam dalam kelompok basis Gereja, yakni wilayah rohani. Dalam konteks wilayah rohani, persekutuan itu menjadi nyata ketika umat saling mengenal dan menerima satu sama lain, saling menopang dalam iman, berjalan bersama dalam suka dan duka kehidupan. Persekutuan yang sejati tidak meniadakan perbedaan, tetapi merangkulnya dalam kasih. Di sinilah Gereja menjadi tanda pengharapan ketika umat yang berbeda latar belakang mampu hidup sebagai satu keluarga Allah.

​Ciri khas pesekutuan umat basis adalah persekutuan yang berbasis sabda. Sabda Allah menjadi pusat kehidupan Gereja. Umat senantiasa berkumpul untuk mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan. Sabda Tuhan yang direnungkan bersama bukan hanya untuk dipahami, tetapi juga untuk dihidupi dan diwartakan. Dalam persekutan basis, umat belajar melihat karya Allah dalam kenyataan hidup sehari-hari dalam terang Sabda Allah, sehingga dalam perjumpaan dengan Sabda itu tumbulah iman yang semakin dewasa serta kepedulian terhadap sesama. Dalam persekutuan basis, umat dibina agar semakin mengenal dan mencintai Sabda Allah.

​Persekutuan Gereja tidak lahir dari kesamaan kepentingan atau relasi sosial semata, melainkan berakar dalam doa. Doa mempersatukan umat di hadapan Allah yang sama dan membentuk hati yang rendah, terbuka, serta siap menerima sesama sebagai saudara. Dalam Kisah Para Rasul, Gereja perdana digambarkan sebagai komunitas yang “bertekun dalam pengajaran para rasul, persekutuan, pemecahan roti, dan doa” (Kis 2:42). Doa dan persekutuan tidak dapat dipisahkan. Tanpa doa, persekutuan mudah berubah menjadi relasi yang rapuh, penuh konflik, dan hanya mementingkan kepentingan pribadi.

​Dalam bingkai APP, doa baik pribadi maupun bersama menjadi sumber daya rohani yang menghidupkan persekutuan. Doa menolong umat untuk melihat sesama dengan mata iman, mengalahkan egoisme dan sikap eksklusif, membuka diri terhadap kebutuhan dan penderitaan orang lain. Dengan demikian, persekutuan yang dibangun melalui APP bukan kebersamaan semu, melainkan persekutuan yang bertumbuh dari relasi yang mendalam dengan Allah.

​Apa yang dialami oleh Gereja melalui persekutuan, menemukan maknanya yang lebih luas dalam visi Gereja sebagai Communion of communities. Pengharapan tidak dihadirkan oleh individu yang terpisah, melainkan oleh Gereja yang hidup sebagai sebuah persekutuan. Dari persekutuan yang berbasis Sabda Allah, lahirlah Gereja yang sanggup menjadi tanda pengharapan bagi semua orang.

​Visi Keuskupan Manado yang menggambarkan arah dan cita-citanya terus mengembangkan diri dalam persekutuan umat beriman. Persekutuan (communio) menjadi landasan bagi seluruh pilar visi ini. Persekutuan berarti juga memberi ruang bagi sabda Allah untuk dihidupi bersama, menumbuhkan iman yang saling menguatkan, membangun persaudaraan yang nyata dan menjadi dasar bagi kerasulan serta perutusan Gereja.

​Wilayah rohani, sebagai basis kehidupan Gereja, dipanggil menjadi tempat di mana persekutuan ini sungguh dihidupi, dirawat, dan dikembangkan. Persekutuan sejati selalu bersifat misioner. Gereja yang hidup dalam persekutuan tidak berhenti pada kenyamanan internal, tetapi terdorong untuk keluar dan berbagi kehidupan. Gereja dipanggil untuk menjadi Gereja yang keluar. Persekutuan yang matang melahirkan keberanian untuk bersaksi, melayani, dan menghadirkan Injil dalam kehidupan.

​Dalam konteks APP, persekutuan dapat memperkuat daya tahan umat dalam menghadapi tantangan, menumbuhkan kepedulian terhadap kaum kecil, lemah, miskin, terpinggirkan dan difabel serta memampukan Gereja menjadi pembawa pengharapan. Gereja yang terpecah sulit menjadi tanda harapan, tetapi Gereja yang bersatu dalam persekutuan menjadi sakramen keselamatan yang hidup.

​Dalam tema besar “Gerakan Misioner Gereja dalam Menghadirkan Pengharapan”, persekutuan memiliki peran sentral. Banyak orang kehilangan harapan bukan karena kekurangan materi semata, tetapi karena merasa sendirian, tidak diperhatikan, dan tidak memiliki tempat. Dalam hal ini persekutuan umat sungguh dapat menguatkan yang lemah, menghibur yang terluka, serta menumbuhkan rasa memiliki dan dimiliki. Persaudaraan sejati adalah jalan menuju dunia yang lebih adil dan manusiawi. Melalui persekutuan yang hidup, Gereja menjadi ruang di mana pengharapan dapat tumbuh kembali. APP membantu umat menyadari bahwa pantang, puasa, doa, dan derma hanya bermakna bila semuanya memperkuat persekutuan dan menghadirkan harapan nyata bagi sesama.

(Kisah Para Rasul 2:42–47) Gambaran Gereja perdana sebagai komunitas yang hidup dalam persekutuan sabda, doa, dan solidaritas menjadi inspirasi utama pertemuan ini. Teks ini menunjukkan bahwa persekutuan yang sejati selalu menghasilkan buah, yakni iman yang bertumbuh, kepedulian sosial, dan kesaksian yang menarik banyak orang. Bacaan ini menegaskan bahwa Gereja yang hidup dalam persekutuan adalah Gereja yang menghadirkan pengharapan.

Arah Refleksi dan Sharing:

1. Apakah wilayah rohani saya sungguh menjadi ruang persekutuan, atau hanya sekedar tempat berkumpul?
2. Sejauh mana Sabda dan doa menjadi pusat kehidupan komunitas kami?
3. Apakah komunitas kami memberi harapan bagi yang kecil, lemah, miskin, terpinggirkan dan difabel?
4. …

Pertemuan-3: Solidaritas sebagai Jantung Aksi Puasa Pembangunan

Fokus utama: solidaritas sebagai buah persekutuan dan inti Aksi Puasa Pembangungan, yang menghadirkan pengharapan melalui aksi nyata dan belarasa.

Musyawarah Pastoral Paroki Bunda Teresa – Calcutta, Griya Paniki Indah menunjukkan bahwa kehadiran umat dalam aktivitas di Wilayah Rohani dianggap sudah baik. Keterlibatan umat ada di atas 75%. Akan tetapi, Gereja sebagai sebuah persekutuan bukanlah soal kuantitatif. Dalam mengembangkan jati diri dan martabatnya Gereja menjadi persekutuan yang mentransformasi kualitas hidup rohani, sosial, dan kerasulan umat. Identitas Gereja sebagai Tubuh Kristus dan Sakramen Keselamatan menjadi nyata dalam setiap tingkatan Gereja sebagai communion of communities.

Gereja dipahami sebagai persekutuan umat beriman yang dipanggil intuk mengadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia. Visi Keuskupupan Manado tentang communion of communities menegaskan bahwa Gereja hidup dan bertumbuh melalui persekutuan komunitas-komunitas kecil yang saling terhubung, saling menghidupi, dan bersama-sama diutus dalam misi. Dalam kerangka ini, solidaritas bukanlah pilihan tambahan, melainkan buah dari persekutuan itu sendiri.

​Jika persekutuan menegaskan identitas Gereja sebagai satu keluarga Allah, maka solidaritas adalah wujud konkret dari kehidupan keluarga tersebut. Persekutuan yang sejati tidak terhenti pada kebersamaan secara internal, tetapi mendorong umat untuk keluar dari dirinya sendiri dan berbagi hidup dengan sesama, terutama mereka yang kecil, lemah, miskin, terpinggirkan, dan difabel. Inilah persekutuan yang hidup, sebagaimana ditekankan dalam visi bahwa Gereja adalah communion of communities. Gereja adalah persekutuan yang tidak tertutup, tetapi terbuka dan peduli terhadap kenyataan sosial yang ada di sekitar. Solidaritas menjadi jalan konkret bagi Gereja secara khusus Paroki Bunda Teresa – Calcutta, Griya Paniki Indah untuk menghadirkan pengharapan di tengah masyarakat. Solidaritas adalah wajah Gereja yang berbelas kasih dan misioner.

​Perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati (Luk 10:25-37) menyingkapkan makna terdalam dari solidaritas Kristiani. Yesus mengajarkan bahwa kasih kepada sesama tidak dibatasi oleh identitas, suku, agama, atau kelompok sosial. Perumpamaan ini menegaskan bahwa martabat manusia dan solidaritas adalah dasar relasi sosial yang dikehendaki oleh Allah. Orang Samaria tidak hanya merasa iba, tetapi bertindak: ia mendekat, merawat, dan mengorbankan waktu, tenaga, bahkan uang. Sikap ini mencerminkan iman yang hidup, iman yang nampak bekerja lewat tindakan kasih. dalam bingkai communion of communities, Gereja dipanggil meneladan Orang Samaria itu. Kita dipanggil untuk menjadi “Orang Samaria” bagi masyarakat di sekitar.

​Solidaritas merupakan inti terdalam dari Aksi Puasa Pembanguan. Tanpa solidaritas, APP akan kehilangan rohnya dan beresiko menjadi rutinitas tahunan belaka. Solidaritas menegaskan iman Gereja akan martabat setiap pribadi manusia sebagai citra Allah. ketika kita bergerak bersama dalam solidaritas, APP akan sungguh menjadi gereja Gereja dan bukan sekedar program atau rutinitas tahunan.

Pantang dan puasa dalam APP merupakan latihan rohani dan sosial yang akan membentuk kepekaan kita. Dengan membatasi diri secara sadar, kita semua dapat belajar untuk kuluar dari budaya konsumtif dan individualistis. Pantang dan puasa menumbuhkan empat, memperdalam spiritualitas kesederhanaan, dan dapat membantu kita untuk memahamai secara lebih konkret kenyataan hidup sesama yang berkekurangan.

​Derma APP menjadi wujud nyata solidaritas. Derma APP bukan hanya ungkapan kepedulian individu, tetapi tindakan iman komunitas. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa harta benda dunia memiliki tujuan universal dan diperuntukkan bagi kesejahteraan bersama (GS 69). Dalam semangat inilah, derma APP menjadi tanda bahwa komunitas umat beriman bersedia berbagi dan memikul tanggung jawab sosial bersama.

​Solidaritas hanya dapat tumbuh dari persekutuan yang hidup. Solidaritas menemukan ruang pertumbuhannya dalam komunitas yang berbasis persaudaraan. Gereja sebagai keluarga Allah dipanggil untuk membangun relasi yang inklusif, dimana setiap orang diterima sebagai saudara dan saudari tanpa syarat. Setiap dari kita memiliki peran dan tanggung jawab dalam kehidupan menggeraja dan masyarakat. Dalam persekutuan basis, relasi partisipatif dan penuh kasih menjadi tempat solidaritas yang nyata.

Persaudaraan Kristiani tidak berhenti pada lingkup internal Gereja, tetapi terbuka pada dialog dan kerja sama lintas iman. Di tengah masyarakat majemuk sekitar, kita dipanggil menjadi jembatan persaudaraan dan pembawa damai. Sikap terbuka, dialogis, dan solider menjadi kesaksian iman yang menghadirkan pengharapan di tengah perbedaan.

​Persaudaraan dan solidaritas selalu bersifat misioner. Gereja adalah persekutuan yang diutus. Setiap komunitas basis menjadi subjek misi Gereja. Kita memainkan peran utama dalam menghadirkan Injil secara nyata melalui kehidupan berkeluarga, perkejaan, serta relasi sosial kita. Wilayah Rohani menjadi wadah pembekalan kerasulan, dimana sabda Allah menerangi umat untuk membaca kebutuhan nyata masyarakat dan menjawabnya melalui aksi solidaritas yang kontekstual. Keseluruhan anggota Gereja, ambil bagian dalam perumusan ajaran sosial Gereja, masing-masing menurut tugas, karisma serta pelayanan yang berbeda-beda yang ditemukan dalam Gereja.

​Solidaritas juga mencakup kepedulian terhadap keutuhan ciptaan. Ensiklik Laudato Si menjelaskan bahwa krisis sosial dan krisis ekoligis saling terkait. Dalam konteks Gereja sebagai communion of communities, kepedulian terhadap lingkungan hidup menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai komunitas umat beriman. Melalui APP, kita diajak mengembangkan spiritualitas ekologis yang diwujudkan dalam gaya hidup yang sederhana dan penggunaan sumber daya secara bertanggung jawab

​Dalam terang APP, solidaritas menjadi wajah konkret Gereja yang menghadirkan pengharapan. Ketika kita hidup dalam persekutuan, bergerak dalam solidaritas, dan diutus dalam misi, kita akan sungguh menjadi tanda harapan Allah di tegah dunia. Solidaritas mengubah iman yang bersifat pribadi menjadi iman yang komunal dan sosial. Kita tidak hanya mewartakan kasih, tetapi menghadirkan kasih itu secara nyata dalam kehidupan masyarakat.

Arah Refleksi dan Sharing:

1. Siapakah “sesama yang terluka” di sekitar saya dan persekutuan kita?
2. Apakah puasa, pantang, dan derma APP sungguh mengubah sikap hidup saya?
3. Aksi solidaritas apa yang secara konkret bisa saya dan wilayah rohani lakukan?
4. …

Pertemuan-4: Menghadirkan Pengharapan lewat Aksi Nyata

Fokus utama: Aksi nyata sebagai buah pertobatan, persekutuan, dan solidaritas, serta sebagai perwujudan konkret visi Keuskupan Manado

Selama tiga pekan terakhir kita telah mendalami Aksi Puasa Pembangunan sebagai Gerakan Misioner Gereja dalam mengembangkan jati diri dan martabat umat dalam komunitas yang berbasis Sabda, Iman, Persaudaraan, Kerasulan, dan Masyarakat. Kita semakin disadarkan bahwa Sabda Tuhan, iman, persekutuan, dan solidaritas tidak berhenti pada permenungan, tetapi harus berbuah dalam tindakan nyata. Karena itu, pada pertemuan keempat ini, kita diajak sebagai komunitas basis untuk merumuskan dan melaksanakan aksi konkret APP, yang kita kenal sebagai Aksi Nyata. Aksi ini diharapkan menjadi tanda pengharapan Allah bagi sesama manusia dan bagi seluruh ciptaan.

Dalam Surat Rasul Yakobus 2:14-17, kita bisa menemukan kutipan“Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? … Jadi jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati.” Sabda ini menegaskan bahwa iman Kristiani bukan hanya soal apa yang kita yakini, tetapi apa yang kita hidupi dan laksanakan. Iman yang sejati selalu bergerak, keluar dari diri sendiri, dan berbuah dalam tindakan kasih yang nyata.

Aksi nyata yang hendak kita laksanakan merupakan buah dari pertobatan, persekutuan, dan solidaritas yang telah kita dalami dalam tiga pertemuan sebelumnya. Kita telah diajak untuk menyadari jati diri sebagai peziarah pengharapan, menghidupi persekutuan sebagai sumber kekuatan, serta menumbuhkan solidaritas sebagai jantung Aksi Puasa Pembangunan. Kini, kita diajak untuk melangkah keluar dan bertindak, sebab Gereja bukan hanya merenungkan dunia, melainkan hadir dan terlibat di dalamnya.

Aksi nyata bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan kesaksian iman. Melalui aksi nyata, Gereja menampakkan wajahnya sebagai Gereja yang misioner, berbelarasa, dan membawa damai. Iman yang hidup selalu menemukan ungkapannya dalam tindakan kasih yang menyentuh kehidupan konkret. Aksi nyata APP adalah aksi bersama, lahir dari persekutuan, dan bersifat partisipatif. Melalui keterlibatan banyak umat, aksi ini menjadi ungkapan kasih yang nyata dan menghadirkan pengharapan di tengah masyarakat.

Dalam rangka menyusun aksi nyata, hendaknya kita sadar bahwa tindakan yang hendak dibuat sederhana dan realistis serta sesuai dengan kemampuan kita. Tindakan hendaknya dapat menjawab kebutuhan nyata dan bukan sekadar formalitas belaka. Untuk itu pula dibutuhkan langkah untuk mengidentifikasi kebutuhan yang ada. Langkah ini mengajak kita untuk melihat kenyataan yang ada dan sambil melihat kemampuan kelompok barulah kita membuat aksi nyata. Yang terpenting juga, bahwa tindakan yang kita buat harus senantiasa terarah kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, terpinggirkan dan difabel (KLMTD).

Bentuk-bentuk dari aksi nyata bukan soal besar atau kecilnya gerakan itu, melainkan ketulusan dan keberlanjutannya. Aksi nyata yang dapat dibuat dapat menyentuh berbagai aspek kehidupan, misalnya perhatian kita kepada yang sakit, lansia, atau difabel. Dalam bidang ekonomi misalnya pemberian sembako hasil dari pantang dan puasa kita. Berhubungan dengan ekologi, misalnya kerja bakti lingkungan atau aksi peduli ciptaan namun tetap berkelanjutan. Dalam bidang pendidikan kita bisa memberikan perhatian kepada mereka yang kurang mampu. Dalam hubungannya dengan saudara-saudari kita, kita dapat membangun dialog dan kerja sosial lintas iman. Atau, dapat juga kita memberikan perhatian kepada keluarga yang sedalam mengalami masa-masa krisis.

Persekutuan yang hidup melahirkan solidaritas, dan solidaritas yang diwujudkan melahirkan pengharapan nyata. Aksi nyata dalam APP bukanlah akhir, melainkan awal dari gaya hidup baru sebagai murid-murid Kristus. Melalui tindakan kasih yang sederhana namun tulus, Gereja sungguh menjadi sakramen keselamatan dan pelayan kasih Kristus di tengah dunia.

Arah Refleksi dan Sharing

1. Masalah atau kebutuhan apa yang paling nyata di sekitar komunitas kita?
2. Aksi apa yang dapat kita lakukan bersama sebagai satu persekutuan wilayah rohani?
3. Siapa yang akan dilibatkan dan kapan aksi ini dilaksanakan?
4. Bagaimana aksi ini membantu kita dan sesama mengalami pengharapan?
5. …

Komentar Anda?

Related posts