Anita Gah Soroti Rendahnya Literasi Siswa, Perpustakaan Sekolah Perlu Dibenahi

  • Whatsapp

PORTALNTT.COM, KUPANG – Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Anita Jacoba Gah, menyoroti rendahnya kemampuan literasi anak sekolah yang perlu mendapat perhatian serius. Salah satu persoalan yang menjadi perhatiannya adalah keterbatasan fasilitas perpustakaan dan ketersediaan buku bacaan yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

Persoalan tersebut menjadi perhatian Anita Gah saat mengunjungi sejumlah sekolah di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (21/10/2026).

Empat sekolah yang dikunjungi yakni SD Inpres Naimata, SMP Negeri 7 Kupang, SMP Negeri 12 Kupang, dan SD Negeri Sikumana 2.

Dalam kunjungan itu, Anita Gah didampingi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Ernest S. Ludji, S.STP., M.Si., Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Okto Naitboho, serta staf ahli anggota DPR RI, Maria Susana Mesang Gah dan David Lamberto Mesang.

Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung kondisi sarana pendidikan sekaligus mendengarkan berbagai kebutuhan sekolah, terutama yang berkaitan dengan peningkatan kualitas pembelajaran dan pengembangan budaya membaca di kalangan siswa.

Menurut Anita Gah, literasi merupakan fondasi penting dalam proses pendidikan. Kemampuan membaca dan memahami informasi tidak hanya menentukan keberhasilan siswa dalam mengikuti pelajaran, tetapi juga membentuk pola pikir kritis, memperluas wawasan, serta meningkatkan kemampuan mereka dalam memecahkan persoalan.

Karena itu, penguatan literasi tidak cukup hanya mengandalkan kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Sekolah juga perlu menyediakan lingkungan yang mendukung kebiasaan membaca, salah satunya melalui perpustakaan yang memadai dan mudah diakses oleh siswa.

Perpustakaan Bukan Sekadar Pelengkap

Menurut Anita Gah, ketersediaan perpustakaan dan buku bacaan yang beragam menjadi bagian penting dalam membangun budaya literasi di sekolah. Namun, upaya tersebut akan sulit berjalan optimal apabila fasilitas yang tersedia belum memadai atau koleksi buku belum mampu memenuhi kebutuhan siswa.

“Perpustakaan seharusnya tidak hanya menjadi pelengkap administrasi sekolah, tetapi berfungsi sebagai ruang belajar yang mendorong anak-anak untuk mengenal pengetahuan lebih luas di luar materi yang diberikan guru,” tegasnya.

Koleksi buku pun perlu disesuaikan dengan jenjang pendidikan, usia, dan minat siswa. Buku cerita anak, pengetahuan umum, sains populer, sejarah, hingga bacaan yang menumbuhkan karakter dapat menjadi pilihan untuk meningkatkan ketertarikan anak terhadap kegiatan membaca.

“Selain penyediaan fasilitas, peran guru dan tenaga perpustakaan juga penting dalam membangun kebiasaan membaca. Kegiatan membaca rutin, pendampingan, serta program literasi yang kreatif dapat membantu menjadikan membaca sebagai kebutuhan, bukan sekadar kewajiban sekolah,” kata anggota DPR RI lima periode ini.

Perlu Perhatian Bersama

Diakui Anita Gah, persoalan literasi anak membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, guru, orangtua, hingga masyarakat.

Pemerintah perlu memastikan bahwa kebijakan peningkatan mutu pendidikan berjalan seiring dengan penyediaan sarana pendukung pembelajaran. Sementara itu, pihak sekolah dapat mengembangkan program literasi yang sederhana, tetapi dilakukan secara konsisten.

“Orangtua juga memiliki peran penting dalam menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini, termasuk dengan menyediakan waktu untuk membaca bersama anak dan mendorong mereka memanfaatkan buku sebagai sumber pengetahuan,” tegasnya.

Kunjungan Anita Gah ke empat sekolah tersebut menjadi bagian dari upaya melihat kebutuhan pendidikan secara langsung. Aspirasi yang disampaikan sekolah diharapkan dapat menjadi bahan perhatian dalam mendorong peningkatan kualitas sarana dan proses pembelajaran.

Komentar Anda?

Related posts