Belajar dari Sebuah Sumur untuk Mendalami Kasih Allah

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh: Drs. Fransiskus Sili, MPd, (SMK Negeri 5 Manado)
 

PORTALNTT.COM – Sebuah sumur bila ditimba airnya setiap hari, dia tidak pernah kering, terus ada air di dalamnya. Anehnya kalau dalam satu hari saja air tidak ditimba, ketinggian air yang ada di dalam sumur itu juga tidak meningkat. Tetap saja seperti semula.
Secara logika, kalau air di dalam sumur itu terus-menerus ditimba tentu suatu saat akan berkurang, demikian sebaliknya bila air itu tidak ditimba seharusnya ketinggian air itu meningkat, tetapi ini tidak terjadi. Aneh kan? Inilah hukum alam, di mana di dalam semesta terdapat misteri, dan juga semesta ini bertujuan untuk selalu memberi.

Sesungguhnya kehidupan kita juga sama dan serupa dengan sumur ini, sebab kita adalah bagian dari alam semesta. Tujuan alam semesta adalah untuk memberi, demikian juga kehadiran kita di muka bumi ini juga untuk memberi. Pada umumnya orang berpikir bahwa kalau dia memberi, apa yang dimilikinya pasti akan kekurangan. Namun kalau kita mau belajar dari sumur ini, semakin banyak dia memberi, akan semakin banyak air yang mengalir kepadanya. Jadi tidak perlu ragu lagi untuk memberi, karena apa yang diberikan akan kembali lagi kepada si pemberi.
 
Kalau alam semesta saja dapat hidup untuk  memberi, kalau manusia yang juga terbatas saja dapat memberi, apalagi dengan Allah yang kita kenal sejak Perjanjian Lama dan mencapai puncaknya melalui Yesus. Memberi berarti berkorban dan berkorban berarti mengasihi.
Dalam Perjanjian Lama, Kel. 24:3-8, dikisahkan bagaimana Musa menjadikan darah lembu jantan yang dikorbankan sebagai tanda perjanjian Allah dengan manusia Israel. Musa lalu mendirikan mezbah di kaki gunung Sinai dan mezbah atau altar itu menjadi lambang kehadiran Allah, dan kemudian disiramkan dengan sebagian darah anak lembu yang sudah disembelih.

Setelah umat Israel bersumpah setia kepada Allah, Musa mereciki mereka dengan sisa darah dan sejak itulah perjanjian Sinai menjadi sah. Inilah yang disebut sebagai upacara pengikatan perjanjian antara Allah dan Israel. Upacara ini menjadi moment penutup dari tiga peristiwa sebelumnya, yakni penampakan diri Allah sebagai undang-undang (Kel. 20:1-21) dan kodeks perjanjian atau peraturan-peraturan praktis hidup bersama (Kel. 20:22-23,33). Dengan demikian, pemberian dan pengorbanan diri Allah kepada umat Israel diwujudkan dalam pemberian hukum, yang disahkan dengan recikan darah binatang korban.

Dalam Perjanjian Baru, pemberian diri Allah ini mencapai puncak kepenuhannya dalam pernyataan diri Allah dalam Kristus (Mrk. 1:10-11), 9:2-8,  dilanjutkan dengan pemberian perintah baru dalam bentuk sabda bahagia (Mat:5-12) dan petunjuk praktis dalam hidup harian (Mat. 5:17-48). Dalam perjanjian Lama, penampakan diri Allah dan pemberian hukum ini disahkan dengan percikan darah korban binatang persembahan, maka dalam Perjanjian Baru semuanya itu disahkan dengan peristiwa pengorbanan Yesus di salib. Di salib itulah Ia mengucurkan darahNya sendiri, seperti yang diungkapka penulis surat kepada orang Ibrani: “…Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus, bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darahNya sendiri” (Ibr. (9:11-12).

Dengan demikian upacara rekonsiliasi dengan Allah untuk memulihkan kembali hubungan dengan Allah karena manusia tidak setia pada Perjanjian Sinai, diwujudkan secara personal dan total dalam diri Yesus: Ia mengorbankan  diriNya sendiri, dan bukan binatang persembahan, mengucurkan darahNya sendiri, dan bukan mereciki darah binatang sembelihan.

Selanjutnya Yesus  tidak hanya berkorban di atas kayu salib, tetapi juga memberikan tubuh dan darahNya sebagai santapan rohani bagi umatNya (Mrk. 14:12-16, 22-26), agar manusia yang telah ditebus dengan darahNya itu bisa kuat melanjutkan perziarahan hidupnya menuju  tanah terjanji surgawi, yakni surga kekal.

Bagi kita orang kristen, cinta Allah yang menyelamatkan itu bukan sesuatu yang abstrak melainkan nyata, dirasakan  dan dialami dalam pengalaman hidup kita. Allah yang kita dalam iman kristen, adalah Allah yang hadir  di tengah umatNya, Allah tidak saja hadir melalui pewartaan sabdaNya, atau melalui peristiwa inkarnasi. Allah kita adalah Allah yang memberi tanpa batas dan mengorbankan diriNya: Tubuh dan DarahNya menjadi santapan jiwa. Di dalamnya, Yesus menjadi Imam Agung yang membawakan roti dan anggur sebagai lambang Tubuh dan darahNya sebagai korban tebusan bagi kita manusia berdosa.

Penginjil Markus dalam Injilnya pada Pesta Tubuh dan Darah Kristus, mengokohkan Yesus sebagai Imam Agung yang baru yang mempersembahkan  diriNya sebagai korban perjamuan (Ekaristi). Dengan makan tubuhNya dan minum darahNya kita diselamatkan  dan diikut-sertakan  dalam perjamuan surgawi.

Pemberian diri Yesus dalam rupa Ekaristi merupakan pemberian yang total dan sempurna, sebagai simbol kepedulian Allah kepada umatNya yang sedang berziarah di dunia. Dalam mengukir sejarah hidup dan melanjutkan ziarah hidup ini, kita menghadapi aneka tantangan dan godaan dalam terpaan zaman. Sama seperti Israel dalam perjalanan menujut tanah terjanji membutuhkan  makanan dan minumn segara di padang gurun, dimana Allah memberikan mereka manna dan air segar dari batu (peristiwa Meriba), Allah yang penuh kasih dalam Yesus juga  memberikan kepada kita umatNya, santapan rohani, tubuh dan darahNya dalam bentuk Ekaristi.

Ekaristi itu sendiri memberi arti baru pada perjamuan paskah dalam tradisi Yahudi.  Dalam Mrk. 14:22, doa berkat yang dipanjatkan kepada Allah atas karunia roti, diucapkan langsung sebelum para peserta perjamuan mulai makan. Pada waktu mengucapkannya, kepala keluarga berdiri, mengambil piring roti bundar, lalu mengucapkan doa berkat sebagai berikut: “Terpujilah Engkau ya Tuhan, penguasa dunia, yang menyebabkan roti dihasilkan oleh bumi”. Lalu kepada keluarga membelah-belah roti itu dan memberikan sepotong roti itu kepada masing-masing peserta perjamuan. Potongan-potongan itu diserahkan oleh kepala keluarga kepada peserta yang paling dekat dengannya, lalu diteruskan olehnya kepada masing-masing peserta perjamuan. Yesus melampaui tradisi Yahudi itu, pada waktu Ia berkata, “Ambillah, inilah tubuhKu”. Di sini Yesus sesungguhnya tidak berbicara mengenai tubuhNya sebagai tubuh saja, melainkan tentang diriNya sendiri yang seutuhnya. Maksudnya,  roti ini  adalah diriNya sendiri. Dengan cara ini Yesus memberikan jaminan bahwa  Ia akan selalu hadir menyertai para muridNya setiap kali mereka mengenang Dia sambil memecah-membagi roti bersama.

Demikian juga ketika Ia mengambil cawan dan mengucapkan syukur.
Setelah selesai makan roti, kepala keluarga yang memimpin perjamuan paskah berdiri kembali, lalu mengajak para hadirin sambil berkata: “Marilah kita memuji Allah, pemilik segala sesuatu yang kita santap. Hadirin menanggapinya, “Terpujilah Allah kita atas makanan yang kita santap”.

Lalu kepala kelarga mengambil cawan dengan tangan kanannya, dan sambil memandang cawan itu, diucapkanlah doa syukur. Doa itu berakhir dengan kata-kata: “Semoga Yang Maharahim menjadikan kita layak akan hari-hari Mesias dan akan hidup di dunia yang akan datang. Ia memberikan keselamatan dalam diri rajaNya. Ia menunjukkan kesetiaan pada perjanjianNya kepada yang diurapiNya, kepada Daud dan keturunannya selama-lamanya….hendaklah kalian berkata, “Amin”.

Setelah hadirin menanggapi doa itu dengan amin, mengedarkan cawan anggur merah kepada masing-masing rasulNya sambil mengucapkan sabda kedua, “Inilah darahKu, darah Perjanjian. Kata-kata yang pada waktu itu diucapkan Yesus, menghubungkan cawan anggur merah dengan pembaharua perjanjian Allah dengan umatNya.

Menurut Dr. Andre Atawolo, dalam Christus Medium, menjelaskan bahwa teks Yoh. 6:51-58 oleh para ahli disebut dasar primer Ekaristi versi Yohanes, sebab dalam teks ini Yesus sendiri mewahyukan diri sebagai Roti Hidup, jaminan hidup kekal bagi manusia. Bagian ini merupakan puncak dari rangkaian pengajaran Yesus tentang Roti Hidup. Dalam ayat 51-58 terdapat beberapa poin penting untuk pemaknaan kekuatan Tubuh dan Darah Tuhan Yesus:

Menurutnya, itu bukan suatu metafor tetapi pewahyuan. Pertama-tama perlu dikatakan bahwa ekspresi-ekspresi Yesus dalam teks ini, seperti makan daging-Ku, minum darah-Ku tidak bernada metafor, melainkan sebagai seruan lugas, senada dengan seruan Yesus versi Injil Sinoptik (Matius, Markus, Lukas): ‘ambillah, makanlah, inilah Tubuh-Ku; ambillah minumlah, inilah Darah-Ku’. Melalui ekspresi-ekspresi itu Yesus sedang mewahyukan diri kepada para murid-Nya: “Akulah roti hidup”.

Pada ayat 51 Yesus mengidentikkan diri dengan Roti Hidup. Roti adalah daging-Nya, yaitu daging yang turun dari sorga. Dalam Yoh 1: 14, penjelmaan Sabda Tuhan ke dalam dunia digambarkan sebagai menjadi daging (menjadi daging). Sabda yang sama itu sekarang diberikan kepada manusia sebagai Roti Hidup. Kata-kata ini menunjukkan bahwa kematian Yesus di salib dikaitkan dengan Ekaristi. Sebab dalam Ekaristi Ia mengurbankan diri-Nya bagi kehidupan manusia.

Sebagai Sabda (Logos), Yesus lahir dari Bapa untuk kita manusia, serupa dengan manusia. Namun dengan misteri inkarnasi Ia memberi diri seutuhnya bagi kita. Yohanes Pembaptis telah memperkenalkan Dia sebagai Anak Domba Allah (1: 29), dan kini dalam Ekaristi, di meja altar, Ia memberikan diri-Nya sebagai daging Anak Domba. Dalam perjamuan Ekaristi, Yesus menjadi tuan rumah sekaligus kurban perjamuan.
Tekanan pada inkarnasi Sabda ini mengkritik tendensi spiritualisme baik terhadap kemanusiaan Yesus maupun realitas Tubuh dan Darah-Nya dalam Ekaristi (Brown, The Gospel according to John I-XII, 291). Yesus bukan tampaknya saja manusia (bidaah doketisme), melainkan sungguh manusia (dan sungguh ilahi). Ia juga bukan manusia super. Ia menjadi daging agar kefanaan manusia sungguh dibarui. Menjadi daging berarti benar-benar menjadi bagian hidup manusia, turut merasakan keterbatasan kita.

Tentang Makna ‘Makan Daging dan Minum Darah’, Dosen Teologi STF Diryakara ini menjelaskan bahwa dalam tradisi kuno, perkataan memakan daging menggambarkan tindakan brutal dan terlarang (Mzm 27: 2; Zak 11: 9). Demikian pula perkataan minum darah merupakan sesuatu yang dilarang oleh hukum Tuhan (Kej 9: 4; Im 3: 17, Ul 12: 23; Kis 15: 20).
Kalau begitu, mengapa Yesus menggunakannya dalam arti positif? Jawabannya: Ia 1) sungguh menekankan makna baru dari ekspresi itu yaitu bahwa Ia sendirilah jaminan hidup kekal, dan 2) Ia mengundang orang untuk percaya pada kebaruan itu. ‘Tubuh dan darah’ adalah ungkapan keutuhan diri Yesus: Ia begitu mengasihi manusia sampai mengurbankan nyawa-Nya bagi keselamatan kita. Roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia (51; bdk 1:14).

Penginjil Yohanes memang tidak merekam kata-kata Yesus atas roti dan anggur sebagaimana dikisahkan tiga penginjil lain dalam Perjamuan Akhir. Meski demikian, jika seandainya ia mengetahuinya, maka ayat tersebut menurut Andreas Atawolo, boleh dikatakan sebagai ‘Kata-kata Institusi’ versi Yohanes. Penginjil Yohanes tidak menggunakan kata tubuh (Bahasa Yunani: somma), sebagaimana Sinoptik, melainkan kata daging (sarx).

Pilihan kata itu penting karena: “Dengan kata daging Yohanes menekankan realisme yang lebih tegas, yaitu bahwa roti Ekaristi adalah benar-benar Tubuh Kristus, dan bukan hanya simbol belaka. Dalam rupa roti dan anggur ekaristis, Yesus Kristus sungguh-sungguh hadir karena roti dan anggur ekaristis itu benar-benar Tubuh dan Darah Kristus” (Martasudjita, Ekaristi, 244).

Seminggu sesudah Pesta Tritunggal Maka Kudus, Gereja merayakan Pesta Tubuh dan Darah Kristus. Perayaan ini dimaksudkan untuk mengenangkan dan mensyukuri misteri pengorbanan diri Kristus di salib demi keselamatan kita, tetapi serentak mengajak Gereja untuk terus mendalami dan menghayati secara terus-menerus dan sadar makna Teologis Ekaristi sebagai Sakramen, terutama dalam terang ajaran Konsili Vatikan II. Konsili Vatikan II merumuskan ajarannya mengenai Ekaristi secara ringkas dalam SC 47: “Pada Perjamuan malam Ia diserahkan, Penyelamat kita mengadakan korban Ekaristi Tubuh dan DarahNya. Dengan demikian Ia mengabadikan korban Kristus Salib untuk selamanya, dan mempercayakan kepada Gereja MempelaiNya yang terkasih kenangan Wafat dan KebangkitanNya: Sakramen cinta kasih, lambang kesatuan, ikatan cinta kasih, Perjamuan Paskah. Dalam perjamuan itu Kristus disambut jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikaruniai jaminan kemuliaan yang akan datang”.
Berdasarkan SC 47 itu E. Martasudjita Pr menjelaskan beberapa pokok teologis tentang Ekaristi.

Pertama, dimensi kristologis. Perayaan Ekaristi bukanlah ciptaan atau rekayasa Gereja. Ekaristi ditetapkan dan diperintahkan oleh  Tuhan Yesus Kristus sendiri,   yakni pada Perjamuan Terakhir, saat Tuhan bersabda: “Lakukanlah ini sebagai kenanganakan Daku”. Karya penebusan Kristus  terwujud dalam kurban salibNya, maka perayaan Ekaristi menjadi kenangan kurban Salib Kristus secara sakramental dalam tindakan liturgis Gereja. Martasudjita menunjuk Ekaristi sebagai kurban, Ekaristi sebagai perayaan kenangan (anamnese), Ekaristi sebagai sakramen dan ekaristi sebagai perjamuan.

Kedua, Dimensi eklesiologis. Tuhan Yesus Kristus mempercayakan perayaan ekaristi kepada Gereja. Dengan ekaristi, kini Gereja mendapat cara dan jalan masuk ke misteri penyelamatan Allah dalam Kristus. SC 2 menegaskan bahwa  sebab melalui liturgi, terutama dalam kurban ekaristi, terlaksanalah karya penebusan kita: – Ekaristi sebagai perayaan Gereja, seperti ditegaskan dalam SC 26. Ekaristi merupakan perayaan seluruh Gereja dan bukan perayaan pribadi. Maka berapapun jumlah umatnya sebagai peserta perayaan, ekaristi tetap merupakan perayaan ekaristi yang sah, apabila telah dirayakan sesuai dengan kehendak Gereja, justeru karena ekaristi merupakan perayaan seluruh Gereja. – Ekaristi sebagai pusat litugi (SC 6). Sentralis ekaristi dalam liturgi menunjuk pada pemahaman Konsili Vatikan II, yang di satu pihak memandang ekaristi sebagai perwujudan tertinggi liturgi, dan di lain pihak memandang aneka perayaan liturgi yang lain dari sudut ekaristi. Dengan kata lain, semua bidang perayaan liturgi mengalir dan tertuju pada perayaan ekaristi sebagai pusat dan puncaknya. – Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan Gereja.

Ekaristi tidak saja menjadi pusat liturgi Gereja tetapi juga menjadi sumber dan puncak kehidupan Gereja, seperti ditegaskan dalam LG 11. “Dengan ikut serta dalam korban Ekaristi, sumber dan puncak seluruh hidup kristiani, mereka mempersembahkan Anak Domba ilahi dan diri sendiri bersama dengan -Nya kepada Allah (20 );  demikianlah semua menjalankan peranannya sendiri dalam perayaan liturgis, baik dalam persembahan mau pun dalam komuni suci, bukan dengan campur-baur,melainkan masing -masing dengan caranya sendiri. Kemudian, sesudah memperoleh kekuatan dari Tubuh Kristus dalam perjamuan suci, mereka secara konkrit menampilkan kesatuan Umat Allah, yang oleh sakramen mahaluhur itu dilambangkan dengan tepat dan diwujudkan secara mengagumkan”.

Ketiga, dimensi teologis rahmat. Dengan kata-kata SC 47: “Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikaruniai jaminan kemuliaan yang akan datang”, diungkapkan guna Ekaristi yakni bahwa rahmat macam apa yang diterima dalam ekaristi: Tubuh dan darahNya sendiri.

Keempat, dimensi eskatologis. Dalam ekaristi  Gereja di dunia ini, kita ikut mencicipi liturgi surgawi yang dirayakan di kota suci Yerusalem, tujuan perziarahan hidup kita. Dalam ekaristi Allah tetap memberikan diriNya melalui Yesus Kristus dalam Roh Kudus secara konkret dan nyata kepada manusia dan dunia sampai kedatangan Kristus yang kedua kalinya pada akhir zaman (Martasudjita, Sakramen-sakramen Gereja: 292-298).
Dengan demikian setiap kita  merayakan Ekaristi kita menimba kekuatan ilahi dari sumur kasih Allah yang tak pernah habis karena memberi dari kepenuhan kasihNya kepada manusia, semata-mata karena belas kasihNya.  Maka merayakan Pesta Tubuh dan Darah Kristus mengingatkan kita akan kasih Allah yang tak pernah habis dan kurban salib adalah wujud paling sempurna dan total kasih Allah itu.

Inilah yang juga yang harus terus diwartakan kepada anak-anak kita. Apalagi biasanya pada pesta Tubuh dan Darah Kristus dilaksanakan perayaan penerimaan untuk pertama kali Komuni Kudus, lambang Ekaristi itu.

Komentar Anda?

banner 300x250

Related posts

banner 468x60