“Bertaruh Nyawa Di Atas Ombak” Kisah Heroik Bidan di Pulau Ndao Selamatkan Ibu Bersalin, Pemerintah Dimana?

  • Whatsapp

Penulis: Daniel Timu

PORTALNTT.COM, ROTE NDAO — Di republik yang pejabatnya gemar berpidato soal “prioritas kesehatan”, sebuah ironi kembali menampar dari pulau terluar. Bukan ambulans, bukan kapal rujukan, melainkan katinting, perahu kecil bermesin yang lagi-lagi dipaksa menjadi fasilitas kesehatan darurat. Dan di atasnya, seorang bidan mempertaruhkan nyawa, melawan gelombang yang sudah lebih dulu diperingatkan berbahaya.

Adalah Selfin Erniyawati Lay, A.Md.Keb, bidan yang telah tujuh tahun mengabdi di PKM Ndao Nuse. Saat negara absen dalam bentuk fasilitas rujukan yang layak, Selfin memilih hadir dengan satu-satunya cara yang tersedia, yaitu “nekat”.

Sesuai dengan informasi yang dihimpun media ini, pada sekitar Rabu, (23/4/2026), pukul 13.00 WITA, Ny. Yohana Dama Rewa tiba di Puskesmas Ndao dalam kondisi hendak bersalin. Tim bidan bergerak cepat. Pemantauan ketat dilakukan. Namun sehari berselang, Kamis, 24 April, situasi berubah, indikasi medis mengharuskan rujukan ke RSUD Ba’a.

Siang itu, ombak menggulung tanpa jeda. BMKG telah memberi peringatan. Menyeberang nyaris mustahil. Di antara desakan waktu dan ancaman gelombang, tim medis dipaksa mundur. Rujukan ditunda. Pasien kembali ke Puskesmas. Nyawa ditahan di garis tipis harapan dan cuaca.

Subuh, Jumat 25 April, situasi berubah. Ombak sedikit mereda. Kesempatan sempit itu langsung disambar. Pukul 05.30 WITA, tim bergerak ke pantai timur Pulau Ndao. Setengah jam kemudian, katinting membelah laut. Dua jam perjalanan bukan sekadar jarak, tapi ujian mental: gelombang tinggi, hujan rintik, tubuh basah, dan risiko yang tidak pernah masuk laporan resmi anggaran kesehatan.

Pukul 07.30 WITA, perahu kandas. Air surut. Evakuasi dilakukan dengan cara yang terdengar absurd untuk sebuah sistem kesehatan, pasien dipindahkan menggunakan gabus menuju daratan.

Di tepi pantai, tanpa fasilitas memadai, bidan tetap bekerja. Denyut jantung janin dicek berkala. Kondisi ibu dipantau. Dukungan psikologis diberikan. “Cemas itu racun bagi ibu hamil,” kata Selfin.

Pukul 10.00 WITA, setelah perjalanan darat dari Pelabuhan Tongga, pasien akhirnya tiba di IGD RSUD Ba’a. Penanganan medis resmi baru benar-benar dimulai di sana setelah nyawa melewati ujian panjang yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Suami pasien, Yosua Radja, menyampaikan syukur sekaligus sindiran telak. “Pelayanan nakes luar biasa. Tapi biaya transport laut mahal. BPJS tanggung berobat, tapi rujukan? Kami harus pinjam sana-sini.”

Selfin Lay sendiri tidak menutupi harapan yang sebenarnya untuk mendapatkan kebutuhan mendasar dalam pelayanan kesehatan.

“Kami mohon pemerintah bantu. Nakes terbatas. Transportasi rujukan laut-darat juga. Jangan sampai nyawa terus jadi taruhan,” ucap Selfin penuh haru.

Di titik ini, kisah heroik tentang tenaga kesehatan seharusnya berhenti dipuja tanpa kritik. Karena setiap kisah “pengabdian luar biasa” sering kali menutupi kegagalan sistem yang dibiarkan berlarut. Hari ini, ibu dan bayi selamat. Ombak bisa dilawan. Tapi satu hal lebih sulit ditaklukkan, yaitu kelambanan kebijakan.

Untuk diketahui, Pulau Ndao dan Nuse adalah pulau terluar di selatan Indonesia yang tergabung dalam satu kecamatan, Ndao Nuse sebagai bagian dari wilayah Kabupaten Rote Ndao. Selain Pulau Ndao dan Nuse, masih ada juga pulau terluar lainnya, yakni Pulau Landu dan Pulau Nusamanuk di Kecamatan Rote Barat Daya dan Pulau Usu di Kecamatan Rote Timur yang semuanya juga masih sangat membutuhkan perhatian penuh dari Pemerintah, terutama dalam pelayanan kesehatan.

Komentar Anda?

Related posts