Oleh: John Bahy
Ada satu kalimat yang sangat mendalam dari Santa Teresa dari Kalkuta: _”Jika Anda ingin mengubah dunia, pulanglah dan cintailah keluargamu!”_ Kalimat ini mau mengatakan bahwa cintalah yang dapat mengubah dunia, dan hal itu harus dimulai dari keluarga.
Hari ini, Gereja merayakan Pesta Keluarga Kudus: Yesus, Maria dan Yosef. Allah, di balik ketakterjangkauan-Nya, selalu penuh misteri dan mengagumkan. Untuk menyelamatkan manusia, ia bisa melakukan cara apa saja, tetapi Ia memilih mengutus Putera tunggal-Nya ke dalam dunia, mengambil rupa manusia, lahir di tengah keluarga, dan dengan demikian menguduskan kehidupan keluarga manusia. Allah memahami pentingnya peran keluarga dalam hidup manusia.
Keluarga Kudus Nazaret: Yesus, Maria dan Yosef, merupakan teladan keluarga-keluarga Kristiani. Hal itu bukan karena mereka punya status sosial yang terpandang dalam kehidupan masyarakat saat itu, bukan karena mereka tak pernah absen ke Bait Allah atau pun Sinagoga, bukan pula karena kehidupan keluarga mereka tanpa tantangan, tetapi pertama-tama karena seluruh hidup Keluarga Kudus Nazaret ini berpusat pada Yesus
Kudusnya keluarga ini berasal dari kekudusan Sang Bayi Ilahi yang dianugerahkan kepada mereka. Selain itu, bagaimana mereka setia menjalani kehendak Allah bahkan dalam saat-saat sulit, telah mengangkat mereka kepada kekudusan.
Bacaan Injil hari ini mengisahkan kepada kita sebagian dari tantangan hidup yang dialami Yesus, Maria dan Yosef. Mereka harus mengungsi ke Mesir untuk menghindari ancaman pembunuhan oleh Raja Herodes. Ketika kembali ke tanah Israel, mereka tidak jadi pergi ke Yudea, tetapi pergi ke daerah Galilea dan tinggal di kota Nazaret.
Kitab Suci hanya menceritakan secara singkat demikian. Namun jika kita merenungkan perjalanan mereka, kita bisa membayangkan betapa tak mudahnya perjalanan itu. Ada begitu banyak hal yang mereka lewati. Namun mereka tetap percaya kepada Allah, tetap menjalankan apa yang disabdakan kepada mereka.
Dengan merayakan Pesta Keluarga Kudus, kita belajar dari hidup Keluarga Kudus Nazaret. Mereka memberi kita model tentang bagaimana seharusnya sebuah keluarga. Setiap keluarga mampu menjadikan keluarganya menjadi keluarga kudus, pertama-tama bukan berarti keluarga kita harus bebas dari salah, bukan berarti tiap-tiap anggota tidak melakukan kekeliruan, tak pernah cekcok, melainkan mau menghadirkan Yesus dan membiarkan Dia menuntun kehidupan keluarga kita. Yesus harus menjadi sentral dalam keluarga. Nilai-nilai seperti iman, kasih, pengorbanan, pengampunan, kerendahan hati, harus tumbuh subur dalam keluarga.
Kita juga belajar dari Yosef dan Maria; di saat-saat krisis yang berbahaya, mereka tetap bersama dalam iman dan cinta.







