PORTALNTT.COM – Injil hari ini berkisah tentang percakapan Yesus dan orang-orang Yahudi di serambi Salomo-Bait Allah, pada hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem. Dalam menanggapi pertanyaan orang Yahudi yang mengelilingi-Nya, Yesus kembali menyentil tentang relasi antara gembala dan domba, sebagai penegasan hubungan Dia dan para pengikut-Nya. Yesus menyatakan bahwa orang-orang Yahudi tidak percaya kerena mereka tidak termasuk dalam kawanan domba-Nya.
Banyak hal yang bisa direnungkan dari teks ini, tetapi secara pribadi saya mengajak kita semua untuk merefleksikan kata-kata Yesus ini, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.”
Yesus adalah Gembala yang baik dan kita adalah domba-domba-Nya. Sebagai domba yang baik, kita dituntut untuk selalu mendengarkan suara-Nya dan mengikuti-Nya. Namun dalam kenyataannya, seringkali suara Tuhan menjadi samar bahkan tak terdengar, tertutup oleh bisingnya dunia.
Kebisingan dunia membuat fokus kita terbagi, malah kita cenderung lebih peka pada suara-suara yang jika tidak diolah secara bijak, berpotensi menghambat pertumbuhan iman kita. Satu contoh kecil, kita lebih nyaman dan lebih memberi banyak waktu untuk mendengarkan suara televisi atau handphone, berselancar di media sosial, dari pada menyisihkan waktu untuk berdoa dan mendengarkan suara Tuhan melalui pembacaan Kitab Suci.
Sabda Tuhan laksana pelita yang tak pernah padam, yang menuntun kita dari kegelapan kepada terang. Kita memang tak hidup di zaman Yesus, yang bisa bersentuhan dan mendengarkan suara-Nya secara langsung, tetapi Ia telah meninggalkan sebuah harta karun bagi Gereja, bagi kita, yakni Sabda-Nya yang tertulis dalam Kitab Suci.
Pertanyaannya, apakah Kitab Suci kita lusuh dan penuh coretan karena kita sering membaca dan merenungkannya, ataukah Kitab Suci kita masih dalam kondisi mulus, tertata rapi di dalam lemari lantaran tak pernah dibuka?
Ada juga orang Kristen, saat mengalami penderitaan atau tantangan hidup tertentu, mengeluh bahwa Tuhan tak peduli, tak bersuara, diam saja, melihat penderitaan hidup yang mereka alami. Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa Tuhan diam saja, sedangkan Kitab Suci kita tidak pernah kita buka dan baca?
Santo Ambrosius mengatakan, “Ketika kita berdoa, kita berbicara dan Tuhan mendengarkan; ketika kita membaca Kitab Suci, Tuhan berbicara dan kita mendengarkan.” Dalam pembacaan Kitab Suci, Roh Kudus akan menuntun kita dengan cara yang mengagumkan, kepada hal-hal baik yang kita butuhkan. Mungkin persoalan/masalah kita tak langsung selesai, tetapi kita akan memperoleh kekuatan, kebijaksanaan, penghiburan dan terang pada jalan yang kita lalui.
Sudahkah kita mendengarkan suara Tuhan hari ini, melalui pembacaan Kitab Suci secara pribadi? Dapatkah kita memberi waktu untuk membaca dan merenungkan Sabda-Nya sesering kita memberi waktu kita untuk mengutak-atik Handphone kita, membaca dan membalas _chatingan_ sepanjang hari? Tuhan pasti akan berbahagia jika Kitab Suci kita menjadi “kotor” karena dipenuhi dengan berbagai tanda dan coretan pengingat saat kita membaca serta merenungkannya, demi “membersihkan” pikiran dan hati kita. (John Bahy)







