Di Antara Adat dan Kesetaraan Pergulatan Sunyi Perempuan Adonara

  • Whatsapp

Oleh: Theresia Yusmina Perada Lalu (Mahasiswa prodi ilmu politik, fisip undana)

Kalau kita bicara tentang Adonara, hal pertama yang sering dibanggakan adalah adatnya yang kuat. Memang benar, struktur adat di Adonara masih hidup dan dijaga sampai sekarang. Tradisi seperti Reka Wu’un, sistem kekerabatan, dan pembagian peran dalam keluarga menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Tapi di balik itu semua, ada satu hal yang sering luput dibahas secara jujur: posisi perempuan dalam sistem adat itu sendiri.

Secara kasat mata, perempuan Adonara terlihat “dihormati”. Nilai perempuan bahkan bisa dilihat dari tingginya belis dalam perkawinan adat bagi kebarek (perempuan Adonara), yang menunjukkan bahwa perempuan dianggap berharga dalam struktur budaya. Namun, penghargaan ini tidak selalu sejalan dengan peran dan posisi mereka dalam pengambilan keputusan adat. Dalam realitasnya, perempuan justru memiliki ruang yang sangat terbatas. Hal ini tidak lepas dari kepercayaan yang masih kuat bahwa laki-laki berada di atas perempuan dalam struktur sosial adat. Akibatnya, perempuan lebih sering diposisikan sebagai simbol kehormatan, bukan sebagai subjek yang punya suara dan kuasa.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa struktur adat di Adonara masih sangat patriarkis. Laki-laki lebih dominan dalam ruang publik dan adat, sementara perempuan lebih banyak ditempatkan di ranah domestik. Misalnya, dalam musyawarah adat atau urusan penting kampung, yang duduk dan berbicara biasanya laki-laki. Perempuan lebih sering berada di belakang layar—menyiapkan kebutuhan, mendukung jalannya acara, tapi tidak ikut menentukan arah keputusan.

Salah satu contoh paling nyata dari kuatnya sistem patriarki ini terlihat dalam cara masyarakat memandang keturunan. Di beberapa wilayah Adonara, jika dalam satu keluarga tidak memiliki anak laki-laki dan hanya memiliki anak perempuan, maka keluarga tersebut sering dianggap tidak memiliki penerus garis keturunan. Akibatnya, muncul tekanan sosial yang besar, baik dari keluarga besar maupun lingkungan sekitar. Bahkan dalam beberapa kasus, ada situasi di mana suami didorong untuk mencari istri baru demi mendapatkan anak laki-laki. Tidak jarang juga istri pertama merasa terpaksa menerima kondisi tersebut karena tekanan adat.

Realitas ini menunjukkan bahwa perempuan bukan hanya dibatasi dalam ruang publik, tapi juga dibebani secara emosional dan sosial dalam kehidupan keluarga. Nilai seorang perempuan seolah diukur dari kemampuannya melahirkan anak laki-laki, bukan dari perannya sebagai individu yang utuh.

Yang jadi masalah, kondisi ini sering dianggap sebagai sesuatu yang “sudah biasa” dan tidak perlu dipertanyakan. Padahal jika dilihat dari perkembangan zaman dan isu kesetaraan gender, situasi ini jelas menunjukkan adanya ketimpangan.

Bukan berarti adat harus dihilangkan. Justru adat adalah identitas yang harus dijaga. Tapi yang perlu dipikirkan adalah bagaimana adat bisa tetap hidup tanpa membatasi hak dan martabat perempuan.Di titik ini, penting bagi generasi muda untuk mulai membuka diskusi. Kesetaraan bukan berarti menghapus adat, tapi memberi ruang yang sama bagi perempuan untuk dihargai.Kalau tidak ada perubahan, maka perempuan Adonara akan terus berada di posisi yang sama: kuat dalam menjalankan tradisi, tapi lemah dalam menentukan arah.

Komentar Anda?

Related posts