Refleksi pada Hari Minggu Panggilan
Drs. Fransiskus, Sili, M.Pd (Pengawas Ahli Madya Kementrian Agama Kota Manado)
Latar Belakang
Hari ini Gereja merayakan Minggu Panggilan Sedunia ke-63 bertepatan dengan | Minggu Paskah IV “Akulah gembalayang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” Yoh 10:1-11.
Minggu Panggilan Sedunia ditetapkan Paus Paulus VI tahun 1964, sekitar dua tahun setelah Konsili Vatikan II dibuka. Ada 2 konteks penting:
a. Konteks Gereja: Pasca Konsili, Gereja menyadari krisis panggilan imamat dan hidup bakti di Eropa. Sekularisasi meningkat, seminari mulai sepi. Paus menyerukan agar seluruh Gereja berdoa khusus untuk panggilan.
b. Konteks Liturgi: Dipilih Hari Minggu Paskah IV karena Injilnya selalu tentang Yesus sebagai Gembala yang Baik. Gembala adalah ikon panggilan: mengenal domba, memimpin, dan rela berkorban.
Maka hari ini ditetapkan sebagai Hari Doa Sedunia untuk Panggilan, agar Gereja tidak pernah kekurangan gembala yang baik.Tahun 2026 ini adalah Hari Minggu Panggilan Sedunia ke-63. Pesan Paus selalu menegaskan: panggilan adalah anugerah Allah, tetapi butuh tanah subur untuk tumbuh, yaitu keluarga, paroki, dan sekolah.
2. Hakekat Hari Minggu Panggilan
Hari Minggu Panggilan bukan sekadar “kampanye rekrutmen seminari atau masuk biara”. Hakekatnya ada 3 lapis:
a. Hari untuk Mendengarkan: Seperti domba mengenal suara gembalanya, Yoh 10:27, hari ini kita diajak hening: “Tuhan, apa yang Engkau panggil dan kehendaki dariku?” Panggilan pertama semua orang adalahpanggilan kepada kekudusan lewat baptis. Panggilankepada kesucian dan keselamatan adalah ajakan kepadasemua orang yang telah menerima pembaptisan dan urapan krisma “untuk mengusahakan kepenuhan hidupkristiani dan kesempurnaan cinta kasih” (LG. 40). Ajakan ini hendak diwujudkan oleh “masing-masing menurut kurnia dan tugasnyal”. Dengan demikianpanggilan kepada kesucian bukan monopoli kaumberjubah.
b. Hari untuk Bersyukur: Bersyukur atas panggilan yang sudah ada: imam, bruder, suster, katekis, guru PAK, prodiakon, lektor, orangtua. Gereja hidup karena adayang menjawab “Ya”.
c. Hari untuk Bertanggung Jawab dalam komitmen: Panggilan khusus tidak jatuh dari langit. Ia lahir darikeluarga yang berdoa, paroki yang hidup, dan umat yang peduli, dan imam yang tahu merawat panggilannya. Maka hari ini adalah hari seluruh umat, bukan hari para imam/kaum berjubah saja.
3. Tantangan dan Kesulitan Merawat Panggilan
Merawat panggilan seperti merawat benih di musim kemarau. Ada 4 angin panas yang sering menerpa:
a. Tantangan Kultural: Hedonisme & Individualisme. Dunia menawarkan ukuran sukses: uang, viral, nikmat cepat. Hidup imamat dan selibat dipandang “rugi” karena tidak punya anak, tidak bisa menjadi kaya, tidak bebas menikmati hidup. Apalagikalau kaum muda bertanya: “Untuk apa bentuk hidup sepertiitu?”
b. Tantangan Internal: Skandal dan Antikesaksian. Satu berita penyimpangan seorang imam dalam hidup imamatnya, sanggup memadamkan benih panggilan di 10 keluarga. Ketika gembala tidak berbau domba, tapi berbau skandal, domba-domba bingung siapa yang harus diikuti.
c. Tantangan Keluarga: Krisis Teladan Iman. SeminariMenengah sepi karena banyak keluarga Katolik tidak lagi doabersama, tidak ke Misa, dan tidak bicara tentang Tuhan di mejamakan. Bagaimana anak mendengar suara Gembala kalau di rumah hanya ada suara TV dan HP?
d. Tantangan Ekonomi: Stigma “Imam = Miskin”. Mungkin ada Orangtua cemas: “Kalau anakku jadi pastor, siaparawat kami di masa tua nanti?” Kekhawatiran ekonomis ini riil, terutama di daerah. Gereja dituntut terus berjuang memberijaminan hidup yang layak bagi imamnya.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemerosotan dan Penyimpangan dalam Penghayatan Panggilan Khusus.
|
Ranah |
Faktor Kemerosotan |
Buah Penyimpangan |
|
Pribadi |
Doa kering, hidup rohanirutinitas, luka batin tidakdibereskan |
Mencari kompensasi: kuasa, uang, relasi tidak sehat |
|
Komunitas/Kolegialitas |
Hidup komunitas/kolegialitasformalitas, tidak ada correctio fraternal. Padahal ini saranayang bagus waktu di Seminari |
Individualisme, klerikalisme, merasa jadi “bos rohani” |
|
Pastoral |
Aktivisme tanpa kontemplasi. Sibuk kerja dan rapat, lupa hening, sibuk menatap layar, lupa menata diri |
Kelelahan rohani, pelayanan jadi beban, bukan sukacita |
|
Umat |
Klerikalisme umat: mengidolakan atau menjauhi imam berlebihan |
Imam tidak punya sahabat yang jujur, jadi kesepian |
Penyimpangan terbesar bukan jatuh dalam dosa berat, tetapi menjadi “orang upahan” Yoh 10:12: bekerja karena gaji, bertahan karena status, tapi tidak kenal domba dan lari saat serigala datang, atau mencari senang sendiri.
5. Langkah Strategis Mendukung dan Merawat Panggilan Suci
Merawat panggilan adalah tanggung jawab memiliki 3 kaki: Seminari, Imam, Umat. Ketiganya harus jalan bersama.
a. Untuk Lembaga Pendidikan Calon Imam:
• Proses integral untuk seleksi motivasi, bukan hanya otak: tes psikologi & live-in untuk kurun waktu tertentu untuklihat motivasi terdalam: ikut Yesus atau cari status.
• Formasi Integratif 4 Pilar: Pastores Dabo Vobis 43mengingatkan: aspek manusiawi, rohani, intelektual, pastoral. Jangan hanya otak, tapi juga hati dan ini tidakkalah penting, kedewasaan afektif.
• Magang di Periferia: Sebelum tahbisan, wajib satu kuruntertentu terlibat dalam pelayanan umat dengan tingkatkesulitan tinggi di paroki pedalaman, panti asuhan, ataupenjara, dll. Maksudnya agar para calon tahu dan kenal“bau domba” sejak dini.
b. Untuk Para imam: Menghayati Imamat dan Selibat
• Persaudaraan Imam: Wajib punya “regu basis imam” 3-4 orang untuk doa & sharing dan corectio fraternal jujurtiap bulan. Selibat tidak sanggup dihayati sendirian.
• Retret & Bimbingan Rohani Rutin: Kita bersyukur karenaKeuskupan selalu memfasilitasi retret tahunan bagi para imam, yang bukan sekadar liburan, dan setiap imam wajib punya pembimbing rohani tetap.
• Transparansi Hidup: Laporan keuangan paroki terbuka, gaya hidup sederhana. Antikesaksian paling melukaipanggilan adalah imam yang hedon.
c. Untuk Umat Seluruhnya.
• Keluarga sebagai Seminari Pertama: Doa bersamamalam, ajak anak jadi misdinar, cerita tentangpastor/suster yang baik dan setia merawatpanggilannya. Panggilan lahir di meja makan.
• Gerakan Orangtua Asuh Seminari: Kita bersyukur di Keuskupan kiga sudah ada gerakan orangtua untukseminari. Komsos paroki buatkan data seminaris. Umatbisa “adopsi rohani”: doa + kirim surat 3 bulansekali.Jangan Mengidolakan,
• Jangan juga menghakimi: Perlakukan imam sebagaisaudara. Bersikap kritis boleh, tapi tetap dengan kasih. Beri ia ruang jadi manusia yang bertumbuh dalam kedewasaan. Hanya dengan kedewasaan inilah kesadaran diri, mawas diri dalam kejujuran nurani dan pertobatan diri tumbuh.
• Sekolah Katolik & Guru PAK: Jadi “ladang panggilan”. Kita semua dipanggil untuk memberi kesaksian bahwahidup bagi Tuhan itu membahagiakan.
7. Inti dan Kekuatan Hidup Imamat dalam Gereja
Kalau ditanya “apa yang membuat imam tetap imam yang setia walau badai datang?”, jawabannya bukan jubah, bukan status, bukan gaji. Tetapi ada 3 inti yang menjadi sumber kekuatan:
a. Inti Identitas: In Persona Christi Capitis – Bertindak dalam Pribadi Kristus Kepala. Ini jantung imamat. Konsili Vatikan II Presbyterorum Ordinis art. 2 menegaskan: lewat Tahbisan, imam dikonfigurasi dengan Kristus Sang Imam, Guru, dan Gembala. Maka ketika imam berkata “Inilah Tubuh-Ku” dalam Misa, itu bukan dia yang bicara, tapi Kristus sendiri yang bicara lewat mulutnya. Kekuatan: Identitas ini mengingatkan imam bahwa ia bukan pekerja sosial rohani. Ia adalah “ikon Kristus yang hidup”. Saat lelah, ia tidak bertahan demi paroki, tapi karena sadar “Aku meminjamkan suaraku kepada Kristus”.
b. Inti Misi: Gembala yang Memberi Nyawa, Bukan Orang Upahan Yoh 10:11
Gembala yang Baik punya 3 tanda: mengenal dombanya, berjalan di depan domba, dan memberi nyawa bagi domba. Kekuatan: Misi ini yang membuat imam bangun jam 3 pagi untuk minyak suci orang sekarat, atau bertahan di paroki pedalaman dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Ia tidak digaji untuk cinta. Ia mencinta karena sudah dicintai lebih dulu oleh Sang Gembala Utama.
c. Inti Spiritualitas: Selibat Demi Kerajaan Allah Mat 19:12
Selibat imamat bukan peraturan disiplin semata, tapi tandaeskatologis. Imam tidak menikah bukan karena bencipernikahan, tetapi karena hatinya sudah penuh oleh Mempelai, yaitu Kristus dan Gereja.
Kekuatan: Selibat yang sehat membuat imam bebas untukmengasihi semua orang tanpa eksklusif. Ia menjadi “bapa bagibanyak anak” di paroki atau di tengah umat. Selibat adalahkekuatan, bukan kekurangan, ketika dihayati sebagai karuniacinta yang utuh.
Singkatnya, kekuatan imamat bukan dari imam, tapi dariKristus yang bekerja dalam dirinya. Maka doa paling jujurseorang imam adalah: “Tuhan, Engkaulah Imamatku”.
8. Hubungan antara Hidup Imamat dengan Sakramen Ekaristidan Tobat
Saya yakin, imamat tidak bisa dipisahkan dari 2 sakramen ini: Ekaristi dan Tobat. Keduanya adalah “paru-paru” hidup imam.
a. Imamat dan Ekaristi. Ekaristi adalah Sumber: Presbyterorum Ordinis 5: “Ekaristi adalah sumber dan puncak seluruh hidup kristiani”.
• Bagi imam, ini lebih lagi. Tidak ada imamat tanpaEkaristi, tidak ada Ekaristi tanpa imamat. Tahbisanmemberi kuasa mengkonsekrir. Maka Misa Harian bukan kewajiban, tapi kebutuhan. Di sanalah imam “diisiulang” identitasnya sebagai Alter Christus.
• Ekaristi adalah Pola Hidup: Seluruh hidup imam harus menjadi “ekaristi” – dipecah-pecah dan dibagi-bagi. Dari altar ia turun ke umat. Dari homili ia masuk ke rumahsakit. Imam yang mencintai Misa akan mencintai umat. Imam yang terburu-buru merayakan Ekaristi akan terburu-buru dalam pelayanan.
• Ekaristi adalah Tujuan: Misi imam adalah menghantarumat kepada persatuan dengan Kristus. Puncaknyaterjadi dalam komuni. Maka semua katekese, semuapelayanan, bermuara di altar. Imam adalah “pelayanperjamuan”, bukan bintang panggung.
b. Imamat dan Sakramen Tobat. Sakramen Tobat adalah Sakramen kerahiman Allah. Imam adalah pendosa yang diampuni: Sebelum mengampuni, imam harus rutin mengaku dosa.
Pastores Dabo Vobis 26: “Imam yang tidak mengaku dosa akan menjadi pegawai agama”. Sakramen Tobatmenjaga imam tetap rendah hati. Ia tahu bahwa kuasamengampuni bukan miliknya, tapi titipan. Imam adalahsaluran kerahiman, bukan hakim: Dalam kamarpengakuan, imam bertindak In Persona Christi. Tugasnya bukan menginterogasi, tapi menyembuhkan. Yoh 20:23 “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni”. Ini kuasa paling ilahi yang dipercayakan kepada manusia. Jadi ada hubungan timbal balik: Ekaristi menguatkan imam untuk melayanipengakuan. Pengakuan menyucikan imam untukmerayakan Ekaristi dengan layak. Imam yang jarangmengaku dosa akan merayakan Misa dengan hambar. Imam yang jarang Misa akan mendengar pengakuan tanpa belas kasih.
Dengan demikian hubungan Relasional: Ekaristi membuat imam memberi Kristus kepada umat.Sakramen Tobat membuat imam memberi kerahiman Kristus kepada umat. Keduanya adalah nafas imamat. Kalau satu berhenti, hidup imamat sesak. Kalau keduanya sehat, Gereja bernapas lega.
Peneguhan Akhir untuk Hari Minggu Panggilan
Kepada para imam: Jagalah Ekaristi dan kamarpengakuanmu. Di sanalah engkau menjadi gembala, bukan manajer.
Kepada umat: Doakanlah imammu. Kalau Misa-nyabaik, jangan puji dia, pujilah Kristus. Kalau ia jatuh, jangan lempar batu, tapi temani dia ke kamar pengakuan.
Kepada kaum muda: Kalau hatimu bergetar saat konsekrasi, kalau air matamu jatuh saat melihat imam mengampuni, mungkin itu suara Gembala yang memanggilmu: “Ikutlah Aku”. Imamat lahir dari Ekaristi. Imamat dirawat oleh kerahiman. Imamat bertahan karenacinta. Selamat merayakan Hari Minggu Panggilan. Semogadari altar paroki kita, lahir gembala-gembala yang baikuntuk masa depan.
Penutup: Panggilan adalah Urusan Kita Semua
Panggilan tidak akan tumbuh kalau kita hanya berdoa tapi tidakmenegur anak yang pulang malam. Panggilan tidak akan lestarikalau kita minta imam suci tapi kita sendiri tidak ke Misa. Dan Imam sendiri lalai merawat imamatnya. Gembala yang Baik sudah memberi nyawa. Sekarang giliran kita memberi tanahyang subur. Dan Tanah subur yang sudah ditumbuhi iamat harusterus menerus dirawat, oleh umat tentu saja, tetapi terutamaimamnya sendiri. Selamat Hari Minggu Panggilan. Mari jadibagian dari jawaban doa Gereja. Tuhan memanggil. Siapa maumenjawab?
6. Doa Khusus untuk Tumbuh dan Merawat Panggilan.
Doa untuk Tumbuhnya Panggilan: Ya Yesus, Gembala yang Baik, Engkau memanggil dengan nama. Hari ini kami mohon:
Bangkitkanlah dari keluarga-keluarga kami anak-anak mudayang berani menjawab “Ya” menjadi imam, bruder, dan suster.
Jangan biarkan Gereja-Mu kekurangan gembala yang mengenal dombanya, yang mau mencium bau domba-dombanya, dan yang rela memberikan nyawa bagi mereka.
Kami percayakan kaum muda kepada Hati Kudus-Mu. Panggilmereka. Amin.
Untuk Merawat Panggilan yang sudah ada: Tuhan Yesus, Peluklah para imam, bruder, dan suster kami.
Ketika mereka lelah, jadilah istirahatnya. Ketika mereka kesepian, jadilah sahabatnya. Ketika mereka jatuh, ulurkan tangan-Mu dan bangkitkan. Bantulah kami, umat-Mu, untuk menjadi sahabat yang mendoakan, bukan hakim yang menghukum.
Agar mereka setia sampai akhir, dan bersama kami sampai ke rumah Bapa. Amin.
Doa Umat di Hari Minggu Panggilan
I: Ya Bapa, utuslah pekerja ke tuaian-Mu
U: Sebab tuaian banyak, tapi pekerja sedikit
I: Ya Yesus Gembala Utama, jaga para gembala kami
U: Agar setia, suci, dan bersukacita
I: Ya Roh Kudus, bicara di hati kaum muda
U: Agar berani berkata: Inilah aku, utuslah aku
Marilah berdoa:…… Amin







