KUR Masuk Kampus, Undana Siapkan Mahasiswa Jadi Pencipta Lapangan Kerja dan Penggerak Hilirisasi NTT

  • Whatsapp

PORTALNTT.COM, KUPANG – Universitas Nusa Cendana (Undana) menegaskan perannya sebagai motor penggerak transformasi ekonomi di Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui program KUR Masuk Kampus. Lewat kuliah umum kewirausahaan yang digelar di Aula Lantai III Rektorat Undana, Rabu (1/7/2026), kampus terbesar di NTT itu mengajak mahasiswa mengubah cara pandang dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja.

Kegiatan bertajuk “Sosialisasi Peningkatan Akses Keuangan bagi Pelaku Usaha Berbasis Komunitas Kampus sebagai Implementasi One School One Product (OSOP)” tersebut dipandu Wakil Rektor IV Undana, Prof. Philiphi De Rozari, sebagai moderator.

Hadir sebagai keynote speaker, Gubernur NTT Melki Laka Lena, didampingi Rektor Undana Prof. Jefri S. Bale. Turut hadir Wakil Rektor III Undana, Dr. Rudi Rohi, jajaran pimpinan universitas, dekan, dosen, mahasiswa, pelaku UMKM, serta perwakilan sektor perbankan.

Kuliah umum itu juga menghadirkan Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Provinsi NTT, Selfi H. Nange, yang membawakan materi “Dari Akses ke Kesejahteraan: KUR sebagai Penggerak Ekonomi Kerakyatan”. Dari sektor perbankan, Area Head BRI Kupang, Mochamad Reza Bondan Wibowo, memaparkan akses pembiayaan UMKM melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank BRI, sementara Pimpinan Bank NTT Kantor Cabang Utama Kupang, Louis K. Gonsalves Atie, menjelaskan peran Bank NTT dalam memperluas pembiayaan usaha produktif melalui program KUR.

Dalam sambutannya, Rektor Undana Prof. Jefri S. Bale mengatakan, tantangan utama pembangunan ekonomi NTT bukan semata keterbatasan modal, tetapi budaya ekonomi masyarakat yang masih cenderung konsumtif.

“Kita harus membongkar budaya ekonomi yang konsumtif dan merekonstruksinya menjadi budaya yang produktif, inovatif, dan berdaya saing,” katanya.

Menurut Prof Jefri, KUR Masuk Kampus merupakan intervensi strategis yang lahir dari kegelisahan akademik untuk menghubungkan dunia pendidikan tinggi dengan kebutuhan pembangunan ekonomi masyarakat.

Ia menegaskan, kampus tidak lagi boleh hanya menghasilkan lulusan yang berlomba menjadi pegawai atau aparatur sipil negara.

“Kampus tidak lagi menjadi tempat mendidik mahasiswa sekadar menjadi job seeker. Dengan literasi keuangan dan akses pembiayaan sejak dini, mahasiswa harus dipersiapkan menjadi job creator yang mampu membuka lapangan kerja,” ujarnya.

Program tersebut, lanjutnya, juga memberi manfaat langsung bagi masyarakat dan pelaku UMKM. Melalui pendampingan kampus, pelaku usaha tidak hanya memperoleh akses pembiayaan, tetapi juga pendampingan manajemen usaha, literasi keuangan, hingga pengembangan produk agar mampu naik kelas.

Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, perbankan, mahasiswa, dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem kewirausahaan di NTT.

“Transformasi tidak mungkin lahir dari ruang hampa. Pemerintah menghadirkan regulasi, perbankan menyediakan pembiayaan, kampus memberi pendampingan intelektual, sedangkan mahasiswa dan masyarakat menjadi motor penggeraknya,” kata Prof Jefri.

Sementara itu, Gubernur NTT Melki Laka Lena menilai Undana layak menjadi pelopor implementasi KUR Masuk Kampus di Indonesia.

Ia mengungkapkan, gagasan tersebut lahir dari diskusinya bersama Rektor Undana beberapa waktu lalu. Menurut Melki, perguruan tinggi harus mengambil peran lebih besar dalam melahirkan generasi muda yang memiliki jiwa kewirausahaan.

“Kampus hari ini tidak boleh lagi dipandang sebagai tempat mencetak pencari kerja. Kampus harus menjadi tempat lahirnya para entrepreneur yang mampu menciptakan lapangan kerja,” ujarnya.

Melki Laka Lena mengatakan, pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi ditentukan oleh banyaknya wirausahawan yang lahir, bukan oleh besarnya jumlah pegawai.

Karena itu, mahasiswa harus dilatih membaca persoalan masyarakat, mengenali potensi daerah, kemudian mengubahnya menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Menurut Melki Laka Lena, persoalan utama ekonomi NTT saat ini adalah kuat pada sektor produksi bahan baku, tetapi masih lemah dalam pengolahan atau hilirisasi.

Ia mencontohkan berbagai komoditas unggulan seperti sapi, rumput laut, kopi, jagung, hingga tenun yang sebagian besar masih dijual dalam bentuk mentah sehingga nilai tambahnya justru dinikmati daerah lain.

“Kalau kita hanya menjual bahan mentah, maka nilai tambahnya hilang. Hilirisasi adalah jawaban agar kesejahteraan itu tinggal di NTT,” katanya.

Untuk itu, Melki memperkenalkan konsep “TAPA OKEJU”, yakni Tanam, Panen, Olah, Kemas, Jual, menggantikan pola lama Tanam, Panen, Jual.

Menurutnya, proses mengolah dan mengemas produk saja sudah mampu menciptakan ribuan lapangan kerja baru di berbagai sektor ekonomi.

Melalui program KUR Masuk Kampus, ide bisnis mahasiswa akan dibina melalui inkubasi usaha di kampus, didampingi dalam penyusunan rencana bisnis, memperoleh akses pembiayaan KUR, hingga dipasarkan sebagai produk unggulan berbasis One School One Product (OSOP).

Sementara itu, Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda NTT, Selfi H. Nange, menjelaskan bahwa KUR bukan sekadar fasilitas pinjaman, melainkan instrumen untuk memperluas akses masyarakat terhadap kegiatan ekonomi produktif yang berkelanjutan.

Paparan itu kemudian diperkuat oleh Area Head BRI Kupang Mochamad Reza Bondan Wibowo yang menjelaskan berbagai skema pembiayaan KUR bagi pelaku UMKM, termasuk mahasiswa dan alumni yang memiliki usaha layak dibiayai.

Senada dengan itu, Pimpinan Bank NTT Cabang Utama Kupang Louis K. Gonsalves Atie menegaskan komitmen Bank NTT untuk mendukung lahirnya wirausaha baru melalui akses pembiayaan yang mudah, disertai pendampingan agar usaha yang dijalankan berkembang secara berkelanjutan.

Melalui kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan perbankan tersebut, KUR Masuk Kampus diharapkan menjadi titik awal lahirnya generasi muda NTT yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu membangun usaha, mengembangkan potensi lokal melalui hilirisasi, serta menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.

Komentar Anda?

Related posts