Makin Parah, RSUD Ba’a Kembali Kekurangan Dokter Spesialis Radiologi. Nyawa Pasien Terancam!

  • Whatsapp

PORTALNTT.COM, ROTE NDAO – Krisis layanan kesehatan di RSUD Ba’a kian menunjukkan wajah aslinya. Setelah sebelumnya masyarakat dipaksa menghadapi kenyataan pahit akibat ketiadaan dokter spesialis kandungan sejak 1 Februari 2026, kini kondisi yang tak kalah mengkhawatirkan kembali terjadi. Sejak 1 April 2026, RSUD Ba’a dilaporkan tidak lagi memiliki dokter spesialis di bidang Radiologi, sebuah posisi vital yang menjadi penentu utama dalam menegakkan diagnosis medis.

Ketiadaan dokter radiologi bukan sekadar persoalan kekurangan tenaga medis biasa. Ini adalah pukulan telak bagi sistem pelayanan kesehatan, karena hampir seluruh proses diagnosis modern bergantung pada hasil pencitraan seperti rontgen, USG, maupun CT scan. Tanpa tenaga ahli yang berkompeten membaca dan menafsirkan hasil tersebut, pelayanan medis di RSUD Ba’a praktis berjalan dalam ketidakpastian. Tanpa dokter radiologi, dokter lain dipaksa mengambil keputusan berdasarkan interpretasi yang bukan menjadi bidang keahliannya, membuka ruang besar bagi kesalahan diagnosis yang berujung fatal.

Seorang tenaga medis di Rote Ndao mengungkapkan bahwa kondisi ini sangat berbahaya, terutama dalam situasi darurat. Pasien dengan dugaan penyakit serius seperti Stroke, Kanker paru-paru, Fraktur tulang hingga Apendisitis sangat membutuhkan kepastian diagnosis berbasis radiologi dalam waktu cepat. Tanpa radiolog, penanganan bisa terlambat, keliru, atau bahkan tidak dilakukan sama sekali.

Dalam dunia medis, keterlambatan beberapa jam saja bisa menjadi pembeda antara hidup dan mati.

Ironisnya, di tengah kebutuhan yang begitu mendesak, masyarakat justru kembali dipaksa menghadapi pilihan sulit yakni dirujuk keluar daerah atau mempertaruhkan kondisi di fasilitas yang serba terbatas. Biaya transportasi, akomodasi, hingga risiko perjalanan dalam kondisi sakit menjadi beban tambahan yang harus ditanggung. Bagi sebagian besar warga, ini bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi persoalan kemampuan untuk bertahan hidup.

Informasi yang diperoleh menyebutkan bahwa penyebab hengkangnya dokter spesialis radiologi diduga berkaitan dengan persoalan insentif yang tidak memadai. Bahkan salah seorang Tenaga Kesehatan menjelaskan pada media ini bahwa sejak Februari 2026 lalu, dokter-dokter umum di daerah Rote Ndao belum mendapatkan insentif mereka. Hal ini tentu menjadi suatu ironi yang menyedihkan sebab dokter terus dipaksa bekerja secara tulus bagi masyarakat tapi hak dan kesejahteraan mereka justru diabaikan oleh pemerintah.

“Jangankan dokter spesialis, yang dokter umum juga belum terima insentif dari bulan februari sampe sekarang,” ucap salah seorang Tenaga Kesehatan di Rote Ndao.

Jika benar demikian, maka persoalan ini bukan lagi sekadar teknis, melainkan cerminan kegagalan serius dalam pengelolaan sektor kesehatan daerah. Ketika tenaga spesialis terus meninggalkan daerah, yang tersisa adalah sistem pelayanan yang rapuh dan masyarakat yang menjadi korban.

Lebih dari itu, ketiadaan layanan radiologi berarti RSUD Ba’a kehilangan salah satu fungsi paling mendasar sebagai rumah sakit, yakni menyediakan diagnosis yang akurat dan cepat. Padahal, hampir semua jenis penyakit membutuhkan dukungan radiologi, mulai dari gangguan otak dan saraf, penyakit paru-paru, masalah jantung, trauma akibat kecelakaan, infeksi serius, kanker, hingga kehamilan. Tanpa layanan ini, rumah sakit bukan hanya tidak optimal, tetapi berpotensi membahayakan pasien. Dan dalam kondisi seperti ini, masyarakat Rote Ndao seakan dipaksa menghadapi penyakit tanpa kepastian diagnosis. Ini sebuah situasi yang dalam dunia medis sama artinya dengan berjudi dengan nyawa.

Hingga berita ini diterbitkan, media ini sudah berusaha mengkonfirmasi dr. Yulia Krones selaku direktur RSUD Ba’a melalui pesan WhatsApp pada, Sabtu (4/4/2026) namun yang bersangkutan sama sekali tak memberikan penjelasan apapun.

Komentar Anda?

Related posts