Memberi Makna Pada Peringatan Hari Guru

  • Whatsapp
banner 468x60

Oleh: Drs. Fransiskus Sili, MPd, (SMK Negeri 5 Manado)

Pendahuluan

Keberlangsungan dan kemajuan masyarakat tergantung pada generasi muda. Salah satu tempat bagi  generasi muda untuk mempersiapkan hidup di masyarakat adalah sekolah. Di sinilah berlangsung relasi yang bersifat edukatif-normatif antara generasi muda dan orang dewasa,  yakni guru. Kita mempercayai guru sebagai kekuatan untuk mempertahankan, merawat, mengembangkan nilai-nilai kehidupan.

Sifat dasar yang melekat pada profesi adalah profesional. Tidak semua profesi atau pekerjaan adalah sesuatu yang profesional. Dikatakan profesional kalau memiliki tiga unsur yang melekat di dalamnya. Pertama, kompetensi: siystematic knowledge dam intellect, kedua, kemahiran, skill dan capacity, ketiga,  pelayanan; serving for others, menggunakan kemahiran dan kompetensi untuk orang lain. Umumnya setiap pekerjaan  membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan khusus. Karena untuk menjadi guru ada sekolah guru, untuk menjadi polisi harus menempuh pendidikan polisi, dan sebagainya.

Menurut UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber dari penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.

Dari pengertian umum tentang profesi, masih dibedakan lagi bentuk profesi khusus, yaitu yang sering disebut profesi luhur. Disebut profesi luhur karena pelaksanaannya menekankan aspek pelayanan atau pengabdian kepada masyarakat pada umumnya. Memang dalam kenyataannya, pelaksanaan profesi luhur mendatangkan pula nafkah bagi si pelaku dan keluarganya. Tetapi nafkah di sini lebih dilihat sebagai akibat dan bukan tujuan. menjelaskan bahwa termasuk dalam profesi luhur adalah guru, dokter, hakim, penasehat hukum, rohaniwan, tentara, wartawan, dan sebagainya.

Di sini, profesi tidak sekedar mencari nafkah untuk hidup dan selalu mengandaikan kompetensi dan tanggungjawab. Dengan kompetensi dimaksudkan, keahlian atau pengetahuan teoritis-sistematis yang menjadi kekuatan dalam pelaksanaan profesi itu Pengetahuan atau keahlian itu tentu saja bersifat kejuruan.

Pada bulan November ini, tepatnya tanggal 25 November kita memperingati Hari Guru Nasional (HGN) 2021. Hari Guru Nasional bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (HUT PGRI). Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) lahir pada tanggal 25 November 1945. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, hari lahir PGRI ditetapkan pada 25 November. Tema Perayaan tahun ini adalah ‘Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan’. Tahun ini juga, PGRI berulang tahun ke-76.

Terima kasih Covid 19

Ketika badai  Pandemi menerpa, jujur semua pihak terkejut,, kaget dan seakan tidak siap. Semua sudah terbiasa mengajar tatap muka dengan tujuan mentrasfer pengetahuan dan ketrampilan. Guru menjadi faktor kunci,, siswa tidak bisa belajar atau tidak terbiasa belajar kalau tidak ada guru. Problem umum, semua tidak terbiasa dengan kemandirian. Begitu pandemi covid menerpa, semua seakan  dipaksa berlari , semua sarana yang tersedia di media teknologi sudah mulai dimanffaatkan meski banyak yang sedang dan baru belajar.

Menurut pengalaman saya, dari perjalanan  sejak covid, kita pantas menyampaikan terima kasih kepada covid 19 yang karena kehadirannya kita semua dipaksa untuk berubah, agar tidak ketinggalan, berubah lebih cepat. Dan saya mengalami,, cuma ada satu syarat untuk berubah,, yaitu keberanian. Atas dasar keberanian itu, kita mulai mengenal yang disebut Syncoronus online dan offline, asyncronus online dan offline. Syncronus online yang saya coba pakai adalah zoom dan WAG, syncronus yang offline misalnya saya menyiapkan video pembelajaran dari youtube dan mereka belajar dari sana. Namun pengalaman membuktikan bahwa  selalu saja ada alasan dari siswa untuk tidak ikut, entah karena akses data atau jaringan, ataupun karena motivasi belajar mengendor dengan alasan covid.  Kesulitan lain adalah banyak orangtua yang tidak mengontrol anaknya yang belajar dari rumah, atau karena anak menggunakan dan menggantikan kesempattan belajar itu dengan bekerja membantu orangtua jualan online.

Dari berbagai informasi yang dikupmpulkan dari siswa, orangtua dan masyarakat, ada kerinduan besar bahwa belajar tatap muka di sekolah lebih baik. Kerinduan ini berdasar pula bahwa hampir tidak bisa dipastikan kualitas pembelajaran dan penguasaan materi ajar ketika belajar di rumah, apalagi sekolah kami SMK yang harus praktek di pelajaran produktif/keahlian. Kalau hal ini dibiarkan terus, saya kuatir bangsa kita akan mengalami apa yang disebut the lost generation. Karena sesudah hampir dua tahun belajar dari rumah, ada peluang menggelajar pembelajaran tatap muka terbatas.

Perayaan Hari Guru tahun ini masih ditempatkan dalam suasansa pandemi covid 19 ini. Dampak Covid 19 tidak saja dirasakan di tengah masyarakat tetapi juga di bidang pendidikan. Covid 19 membawa perubahan pada perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Aktivitas belajar tidak lagi dilaksanakan terbatas pada pembelajaran tatap muka seperti dulu, kini berkembang  model pembelajaran blended learning, secara online maupun ofline baik syncronus maupun asyncronus. Meskipun demikian pengalaman membuktikan ada begitu banyak kesulitan  dengan model  baru ini, baik karena belum tersedianya sarana yang memadai atau SDM guru dan siswa yang terbatas. Bagaimanapun juga banyak orang tua dan siswa stress karenanya dan merindukan kembali belajar di sekolah. Ini hanya mungkin kalau di sekolah pun aspek solidaritas dan tanggungjawab tetap ditumbuhkan di antara para warga sekolah.

Prokes 5 M yang diterapkan juga untuk masyarakat kiranya wajib ditumbuhkan dan dikontrol dengan tegas di sekolah: memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan membatasi aktivitas di luar rumah. Pembelajaran tatap muka terbatas yang mulai diterapkan kiranya memperhatikan juga hal-hal ini. Dengan demikian tanggungjawab dan solidaritas sosial kiranya berawal dari keluarga, ditumbuhkan di sekolah dan berpengaruh pada kehidupan sosial. Di sini peran para guru dan sekolah menjadi tak tergantikan, dan para guru agama mendapatkan peranannya yang khas dan strategis.

Yang unik adalah bahwa ketika selama setahun lebih belajar di rumah siswa merindukan agar belajar di sekolah, kini ketika sudah mulai belajar di sekolah dengan berbagai kontrol dari sekolah, orang mengeluh dan merindukan kembali belajar di rumah. Kalau demikian soal syncronus atau asyncronus itu soal strategi saja.. Dan ini jadi tantangan guru dan sekolah agar selalu kreatif dan inovatif membuat siswanya ketagihan atau tergila2 belajar.

Bersama Pimpinan sekolah dan semua staf manajmen kami terus berjuang agar tetap memberikan layanan belajar bagi siswa, meski sudah menerapkan pembelajaran tatap muka terbatas, tetapi tetap dalam kewasadaan yang tinggi, maka soal prokes itu harga mati. Namun kalau kembali ke siswa selalu saja ada alasan untuk abai atau  sengaja. Inilah tantangan bagi kami di lembaga pendidikan dan semua  pihak.
 
Semangat Hari Guru pada Masa Pandemi Covid-19

Pada masa pandemi covid-19, guru ditantang untuk dapat memilih metode dan proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang efektif serta efisien  bagi peserta didiknya. Guru dituntut untuk berpikir dan bertindak kreatif serta inovatif dalam memberikan pelajaran. Tak hanya pengajaran yang mentransfer ilmu pengetahuan, guru juga perlu menampilkan dan menularkan akhlak terpuji, kesantunan dan teladan bagi muridnya.

Semua bentuk tugas pengabdian seorang guru, langsung atau tidak langsung harus dijalani dengan penuh kesabaran dan perjuangan. Ada tiga konsep yang diamanatkan Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, yakni Niteni, Nirokke, dan Nambahi yang berarti mengamati, meniru dan menambahkan. Konsep tersebut menegaskan tujuan pendidikan, yakni membuat cerdas generasi penerus bangsa serta membentuk karakter bangsa.

Maka tema HGN 2021 menegaskan seluruh komponen pendidikan mulai dari guru, murid hingga orang tua yang bersinergi mendorong semangat belajar yang merdeka dan penuh cinta. Diharapkan, dalam situasi itu, hasil terbaik bagi pendidikan di Indonesia dapat diraih.

Belajar dari Yesus Guru Agung

Ada banyak tokoh pendidik dan pendahulu yang menjadi teladan bagi kita para guru. Kita mengenal bapa ibu  guru kita yang pernah menjadi bagian dalam perjalanan hidup kita, terutama mereka membantu kita menemukan arti dan makna hidup. Pasti sebagai manusia mereka juga punya kelemahan. Tetapi dari keberadaan diri mereka dengan semua kelebihan dan kekurangannya mereka telah membantu kita di jalan perjuangan hidup sampai saat ini. Dan sebagai guru kristiani, perayaan hari guru nasional mengajak kita meneladani Yesus Sang Guru.

Menurut pengalaman, pemahaman dan penghayatan saya, sebagai guru kristiani apalagi guru Katolik, Yesus dapat menjadi role model. Yesus adalah sosok berhikmat, yang mempu menjelaskan hal-hal sulit dengan cara yang mudah dimengerti. Yesus mengajar banyak orang di manapun mereka berada dan di manapun Ia menjumpai mereka. Yesus berjalan kaki dari satu tempat ke tempat yang lain. Yesus dapat melakukannya karena Ia mengasihi semua orang dan ingin membantu mereka. Sebagai ciptaan Allah, anak didik kita adalah ciptaan Allah yang memiliki the inner power, potensi bawaan yang cenderung tersembunyi.

Tugas kita guru adalah membantu menumbuhkan kesadaran untuk mengembangkan aneka potensi diri mereka itu agar berkembang menjadi manusia utuh. Meski kini kita masih tetap di jalan sulit,, kita tak boleh menyerah. Dalam semangat hari guru, kita pulihkan kembali semangat mengabdi sebagai guru, mengabdi dengan hati yang penuh kasih.

Alkitab mengamanatkan untuk mendidik orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu (Amsal 22:6). Sebagai guru kita mengemban misi untuk mendidik generasi muda demi pembangunan bangsa serta peningkatan harkat dan martabat kehidupan manusia. Keberhasilan mengemban misi ini akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu (Amsal 29:17).

Di sisi lain tugas kependidikan yang mulia ini menjadi tanggung jawab guru yang tidak ringan sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat (Yakobus:3:1). Pada hakikatnya pendidikan adalah mengajarkan kebajikan. Akar dari semua kebajikan adalah iman, pengharapan, dan kasih, dan yang paling besar di antaranya adalah kasih (1Korintus:13:13). Selamat hari Guru….(***)

Komentar Anda?

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *