Home / Daerah / Menembus Misteri Trinitaris Melalui Iman

Menembus Misteri Trinitaris Melalui Iman

4220 Kali dibaca

Bagikan Halaman ini

[addtoany]
[addtoany]

Oleh: Drs. Fransiskus Sili, MPd, SMK Negeri 5 Manado
 

Tanggal 30 Mei 2021 Gereja kita merayakan Hari Raya Tritunggal yang Maha Kudus. Apa hubungan perayaan ini dengan ajaran Gereja mengenai Tritunggal itu? Permenungan ini dimaksudkan untuk membantu orang-orang sederhana yang sedang merayakan pesta iman ini dan sekaligus mau belajar memperdalam imannya sendiri akan Allah Tritunggal.

Wahyu Tritunggal dalam Terang Kitab Suci
Inti iman kristiani adalah kepercayaan kepada Allah yang telah mewahyukan diri sebagai Bapa dengan mengutus Yesus Kristus, PuteraNya, yang Tunggal kepada kita, agar kita dapat bersatu denganNya dalam Roh Kudus itu juga yang mempersatukan Yesus dengan Bapa.

Dengan demikian jelaslah bahwa iman kristiani pada hakikatnya bersifat trinitaris, iman kepada Allah Tritunggal.

Pertanyaannya, apa itu iman akan Allah Tritunggal? Jujur saja ketika menghadapi pertanyaan ini kita tidak menjawabnya dengan mudah. Ataupun kalau orang menjawab, mungkin dengan grogi, bingung atau kalau mungkin menghindari untuk menjawab pertanyaan ini.  Karena memang pertanyaan ini merupakan suatu pertanyaan sulit dan berat dalam iman, karena menyentuh misteri iman itu sendiri.  Meskipun demikian, ia tetap menyentuh pengalaman iman. Terhadap pertanyaan ini, secara praktis. E. Martasudjita Pr mengakui bahwa iman akan Tri Tunggal bukanlah suatu rekayasa iman atau suatu pemahaman yang dibuat-buat.

Iman akan Tritunggal bertolak dari Kitab Suci dan pengalaman Gereja yang konkret dan sungguh dialami jemaat kristiani. Meski dalam Kitab Suci kita tidak menemukan secara langsung ajaran mengenai Tritunggal, dasar Allah Tritunggal adalah ajaran Kitab Suci dimana Allah hadir secara khusus dalam Kristus dan RohNya. Ajaran mengenai Allah Tritunggal mau mengungkapkan iman akan kasih Allah. Dalam Kristus dan RohNya, Allah sungguh memberikan DiriNya kepada manusia. Allah tidak menganugerahkan sesuatu kepada manusia. Ia memberikan diriNya sendiri seperti yang terjadi dalam pewahyuan.

Hakekat wahyu menurut pandangan kristiani ialah kelimpahan cinta kasihNya. Allah menyapa manusia sebagai sahabat-sahabatNya dan bergaul dengan mereka, untuk mengundang mereka mengambil bagian dalam persekutuan dengan diriNya dan menyambut mereka di dalamNya. Hal ini dinyatakan dalam Dokumen Konsili Vatikan II, Dei Verbum, Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi. “Dengan wahyu Ilahi Allah mau menampakkan dan membuka diriNya sendiri serta keputusan kehendakNya yang abadi menyangkut keselamatan manusia, untuk mengikutsertakan manusia dalam harta-harta IlahiNya” (DV. 2 dan 6).

Jadi, ajaran mengenai Tritunggal bukanlah suatu teori yang diwahyukan secara lengkap oleh Yesus atau para rasul melainkan rangkuman karya Allah yang dilaksanakan dalam Kristus dan Roh Kudus. Oleh karena itu, perlu diperhatikan secara lebih rinci, bagaimana Allah berkarya dalam Kristus dan Roh Kudus. Lalu tampak juga bagaimana hubungan Kristus dan Roh Kudus dengan Allah yang mengutus dan melaksanakan keselamatanNya.

Allah Berkarya Dalam  Kristus

Yesus tidak pernah “menerangkan” DiriNya sendiri. Pewartaan Yesus bukannya mengenai DiriNya sendiri, melainkan Allah, khususnya mengenai Kerajaan Allah. Pengalaman Gereja akan Yesus Kristus membawa kepada pengalaman akan pewahyuan diri Allah Tritunggal kepada kita.

Pertama-tama, karena Yesus Kristus, dan juga bersama Dia, kita mengenal dan memiliki Allah yang kita sebut sebagai Abba, Bapa. Meskipun harus segera ditambahkan bahwa biarpun sama-sama menyebut Allah sebagai Bapa, karena Dia memang memiliki hubungan yang khas dan unik,  dengan Bapa, yakni hubugan Bapa dengan Anak. Kita menyebut Allah sebagai Bapa karena diikutsertakan dalam Yesus Kristus.

Artinya, kita menjadi anak-anak Allah menurut pengertian partisipatif dalam keputraan Yesus. Allah Bapa inilah yang dalam Perjanjian Lama dikenal dengan sebutan Yahwe, Tuhan Allah Israel (Mencintai Yesus Kristus, E. Martasudjita Pr, Kanisius 2001:90).

Mengenai Kerajaan Allah, Yesus juga tidak memberikan banyak keterangan. Pembicaraan Yesus mengenai Kerajaan Allah adalah pewartaan. Pewartaan itu didukung dan diisi oleh seluruh penampilan Yesus, baik semasa hidupNya maupun sesudah wafatNya ketika Ia menampakkan diri dalam  kemuliaan. Dua hal yang hendak digarisbawahi di sini  yaitu pergaulan Yesus dengan orang berdosa, dan pandangan Yesus tentang kematianNya, sebagaimana terungkapkan terutama pada Perjamuan Terakhir.

Solidaritas Yesus dengan Orang Berdosa
 
Seluruh penampilan Yesus, terutama pergaulanNya dengan orang berdosa menimbulkan protes dari orang Yahudi, khususnya kaum Farisi. Dengan demikian Yesus sungguh  menyimpang dari adat kebiasaan. Yesus bergaul dengan “kaum pinggiran” yang tak terpandang dalam masyarakat Yahudi; dengan kaum miskin, penderita kusta, orang yang kerasukan setan, dengan wanita dan anak kecil dan dengan pemungut bea dan orang berdosa. Ia malah bersama mereka dan memperlihatkan suatu ‘solidaritas’ dengan mereka. Ia juga memperlihatkan sikapNya terhadap peraturan Yahudi, yaitu tidak merasa diri terikat padanya. Dengan bergaul bersama orang yang terang-terangan melanggar hukum, Yesus menawarkan rahmat dan pengampunan Allah. Yesus datang membawa belas kasihan Allah kepada manusia.

Solidaritas Yesus dengan kaum pendosa mencapai puncaknya pada wafatNya di salib. Yesus sendiri pernah membicarakan arti kematianNya dengan cukup jelas. Dari satu pihak, Yesus tak menghindari konfrontasi dengan para pemimpin agama Yahudi; di lain pihak, Ia juga tak mencari kuasa, tetapi datang untuk melayani dan memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.

Perjanjian Baru
 
Pada Perjamuan Akhir dengan para muridNya, Yesus tetap menunjuk pada pokok pewartaanNya yaitu Kerajaan Allah: Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang (Luk. 22:18). SabdaNya kepada Yudas memperlihatkan bahwa Yesus sadar akan keadaan gawat, tetapi itu tidak merubah keyakinanNya bahwa Kerajaan Allah sedang datang. Oleh karena itu, Ia juga berani berbicara mengenai “Perjanjian Baru oleh DarahKu” (Luk. 22: 20).  

WafatNya akan menjadi awal tata keselamatan yang baru. Di bawah ancaman maut, Yesus tetap berani berbicara mengenai keselamatan dan mewartakanNya dalam bentuk roti dan anggur. DarahNya “ditumpahkan bagi banyak orang” dan Mateus menambahkan: “untuk pengampunan dosa”. Yesus bukan hanya pewarta keselamatan, melainkan pembawa dan penawar keselamatan. “Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Luk. 11:20). Tindakan penyelamatan Yesus bukan hanya tanda kehadiran Allah, melainkan bentuk penampakan Allah yang konkret. Di dalam diri Yesus, Allah mendatangi umatNya. Pokok pewartaan Yesus adalah mengenai Kerajaan Allah, dan hal itu harus berpusat pada dimensi pemberiaan Allah yang tertinggi dari KASIHNYA YANG TAK TERBATAS. Kasih Allah yang tak terbatas itulah yang dihadirkan secara penuh dan final dalam diri Kristus.

Allah Berkarya Dalam Roh Kudus


 
Allah juga hadir dalam kita oleh RohNya. Santo Yohanes dalam suratnya yang pertama berkata: “Kita ketahui, bahwa kita tinggal di dalam Allah dan Allah di dalam kita, karena Allah telah memberikan dari RohNya sendiri kepada kita” (1Yoh. 4:13). Kristus disebut oleh Paulus sebagai kekuatan Allah dan Hikmat Allah (1Kor.1:24). Paulus tidak terlalu membedakan antara Roh Allah dan Roh Kristus, “dalam Kristus” agaknya sama dengan “dalam Roh”.

Sesuai dengan Perjanjian Lama, Roh Allah diartikan Paulus sebagai kehadiran Allah yang menggerakkan dan memperbaharui manusia. Lebih khusus lagi, dapat dikatakan bahwa Roh Allah merupakan lingkup karya Allah khususnya dalam Kristus. Karya di dalam manusia dilaksanakan “dengan pertolongan Roh Yesus Kristus” (Fil. 1:19). Dengan kata lain, karya Allah dalam Yesus Kristus mencapai sasarannya dalam diri manusia oleh Roh. “Rahasia Kristus dinyatakan dalam Roh” (Ef. 3:4-5). Bagi Paulus, “Kerajaan Allah” adalah kebenaran dan damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus (Rom. 14:17). Roh Kudus diam dalam orang beriman. Oleh karena itu, hidup iman tidak lain dari “buah Roh”. Beriman sama dengan “hidup dalam Roh”. Dalam kebenaran Roh, “disucikan dalam Roh Kudus”.

Pandangan di atas tak terbatas pada surat-surat Paulus saja. Dengan lebih jelas Yohanes dan Lukas berbicara mengenai karya Roh. Oleh Yohanes ditekankan secara khusus hubungan Roh Kudus dengan Kristus. Roh Kudus adalah “Roh Kebenaran” yang memampukan orang beriman masuk dalam misteri Allah. Pada akhir Injilnya, Lukas mencatat, Aku akan mengirim kepadamu yang dijanjikan BapaKu, yakni kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun atas kamu. Yesus yang dimuliakan mengutus RohNya kepada Gereja. Roh Kristus itu memimpin Gereja dalam seluruh perjanalanNya.

Singkatnya: Allah bertindak dalam Kristus dan oleh Roh Kudus. Karya Kristus dan karya Roh Kudus merupakan karya Allah. Gereja perdana yakin bahwa dalam diri Kristus, dan dalam Roh Kudus, karya keselamatan Allah terlaksana.

Dengan demikian ajaran mengenai Allah Tritunggal bukanlah suatu teori yang diwahyukan secara lengkap oleh Yesus atau para rasul, melainkan karya Allah yang  dilaksanakan dalam Kristus dan Roh Kudus. Tindakan penyelamatan Yesus bukan hanya tanda kehadiran Allah, melainkan bentuk penampakan Allah yang konkret. Di dalam diri Yesus Allah mendatangi umatNya. Allah hadir dalam kita oleh RohNya. Roh Allah sebagai kehadiran Allah menggerakkan dan memperbaharui manusia. Roh Allah merupakan lingkup karya Allah, khususnya dalam Kristus. Karya Allah dalam Kristus mencapai sasarannya dalam diri manusia oleh Roh. Roh Kudus adalah Roh kebenaran, yang  memampukan orang beriman masuk dalam misteri Allah. Yesus yang dimuliakan mengutus RohNya kepada Gereja. Roh Kudus itu memimpin Gereja dalam seluruh perjalanannya.
 
Arti Tiga Pribadi dalam Satu Allah
Allah Tritunggal adalah Satu Allah dan tiga Pribadi sekaligus (Bapa, Putera dan Roh Kudus). Artinya, bukan ada tiga Allah. Yang tiga adalah PribadiNya. Artinya bahwa Dia yang punya Pribadi, yang berelasi, menyapa, merangkul, menghadirkan diri dan mengkomunikasi diriNya. RelasiNya adalah Relasi Cinta yang menyelamatkan. Dengan demikian misteri Allah Tritunggal adalah misteri Allah yang mengasihi.

Dengan prinsip yang sama, Tritunggal itu satu. Maka di dalam Trinitas, substansi/hakekat yang ada adalah satu, yaitu Tuhan, sedangkan di dalam kesatuan tersebut terdapat tiga Pribadi: ada tiga ‘Aku’, yaitu Bapa. Putera dan Roh Kudus. Tiga  Pribadi Allah itu yang Maha Sempurna, hakekat-Nya adalah sempurna, sehingga ketiganya membentuk kesatuan yang sempurna: KEALLAHAN. Yang membedakan Pribadi yang satu dengan yang lainnya hanyalah terletak dalam hal hubungan timbal balik antara ketiganya dan dalam fungsi/peranan.

Bagaimana Gereja Merumuskan Ajaran Tritunggal?
 
Dasar ajaran Gereja tentang Allah Tritunggal adalah ajaran Kitab Suci, secara khusus bahwa dalam Kristus dan dalam RohNya Allah hadir. Ajaran mengenai Allah Tritunggal mengungkapkan iman akan kasih Allah. Dalam Kristus dan dalam RohNya, Allah sungguh memberikan diriNya kepada manusia. Pada hakekatnya,Wahyu Ilahi tidak lain dari Allah yang menjalin relasi kasihNya dengan manusia.

Secara abad-abad pertama, Gereja berusaha merumuskan iman Tritunggal dengan lebih rinci, untuk memperdalam pengertian iman dan untuk membelanya melawan ajaran yang menyesatkan. Tritunggal adalah satu. Kita tidak mengakui tiga Allah, tetapi satu Allah dalam tiga pribadi. “Tritunggal yang sehakekat”.

Pribadi-pribadi Ilahi tidak membagi-bagi ke-Allah-an yang satu itu di antara mereka, tetapi masing-masing adalah Allah sepenuhnya dan seluruhnya: Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera sama seperti Bapa, Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah menurut kodrat.ketiga Pribadi Ilahi berbeda secara nyata satu dengan yang lain. Allah yang satu bukanlah seakan-akan sendirian. Bapa, Putera dan Roh Kudus, bukanlah hanya nama-nama yang menyatakan cara-cara berbeda dari hakekat Ilahi karena mereka secara nyata berbeda satu dengan yang lain.  

Allah Bapa yang melahirkan, Allah Putra yang dilahirkan dan Roh Kudus yang dihembuskan. Ketiga Pribadi Ilahi berhubungan satu dengan yang lain. Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dihubungkan dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan keduanya. Karena kesatuan ini, maka Bapa dan Roh Kudus; Roh Kudus seluruhnya ada dalam Bapa dan Putera.

Kalau dogma Tritunggal begitu sulit dirumuskan dan lebih sulit lagi untuk mengerti, pertanyaannya, mengapa Gereja berpegang teguh pada aajaran ini? Gereja berpegang teguh pada dogma ini karena ini merupakan rangkuman seluruh karya keselamatan Allah. Isi dogma ini bukanlah teori, melainkan praktek kehidupan. Isinya tidak pertama-tama mengenai hidup Allah dalam DiriNya sendiri, melainkan mengenai karya keselamatan Allah bagi manusia.

Baik orang Yahudi maupun orang kristen tidak bertanya: apa itu Allah, melainkan apa yang sudah dikerjakan Allah dan nanti akan dikerjakanNya. Keyakinan pokok yang terungkap di sini ialah bahwa Allah sungguh memberikan diriNya kepada manusia. Keyakinan dasar ialah bahwa makluk mana pun tidak bisa menjadi perantara. Oleh karena itu, karya keselamatan Allah juga tidak selesai dengan perutusan Putera saja. Manusia  baru sungguh dipersatukan dengan Allah, bila Allah sampai ke dalam lubuk hatinya. Itu terjadi oleh Roh yang menghidupkan.

Oleh karena itu, perlu diperhatikan bahwa liturgi dan doa Gereja itu lebih dari pada rumusan-rumusan ajaran. Gereja selalu berdoa kepada Bapa, dengan perantaraan Putera, oleh Roh Kudus.”Dengan perantaraan Putera” berarti bersama dengan Putera, dan dengan mengikuti teladanNya. Sebagaimana Kristus seluruhnya terarah kepada Bapa, begitu juga mereka yang percaya kepadaNya. Tetapi itu hanya mungkin “oleh Roh Kudus”, sebab Roh sendiri berdoa untuk kita dengan keluhan yang tak terucapkan (Rom. 8:26). Maksudnya, dengan kata-kata Ilahi yang tak mungkin dimengerti, jangan lagi diucapkan, oleh manusia. Tetapi Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang Kudus (ay. 27), artinya untuk orang-orang beriman.

Relasi di antara ketiga Pribadi Tritunggal  adalah kasih. Allah Tritunggal itu berelasi satu sama lain dalam rangka menyelamatkan manusia. Meskipun relasi mereka satu, tugas /peran mereka berbeda, dan inilah yang menjadi keyakinan Gereja: Allah Bapa, Pribadi yang menciptakan (Sejarah Penciptaan), Yesus Kristus, Allah Putra, Pribadi yang menebus/menyelamatkan, Roh Kudus, Pribadi ketiga yang menjiwai dan mempersatukan keduanya, dan menyertai Gereja yg didirikan dan diutus Kristus sebagai Umat Allah yang baru.

Yesus menunjukkan persatuan yang tak terpisahkan dengan Allah Bapa, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30); “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa…” (Yoh 14:9). Di dalam doa-Nya yang terakhir untuk murid-murid-Nya sebelum sengsara-Nya, Dia berdoa kepada Bapa, agar semua murid-Nya menjadi satu, sama seperti Bapa di dalam Dia dan Dia di dalam Bapa (lih. Yoh 17: 21). Dengan demikian Yesus menyatakan Diri-Nya sama dengan Allah: Ia adalah Allah. Hal ini mengingatkan kita akan pernyataan Allah Bapa sendiri, tentang ke-Allahan Yesus sebab Allah Bapa menyebut Yesus sebagai Anak-Nya yang terkasih, yaitu pada waktu pembaptisan Yesus (lih. Luk 3: 22) dan pada waktu Yesus dimuliakan di atas gunung Tabor (lih. Mat 17:5).

Selain menyatakan kesatuan-Nya dengan Allah Bapa, Yesus juga menyatakan kesatuan-Nya dengan Roh Kudus, yaitu Roh yang dijanjikan-Nya kepada para murid-Nya dan disebutNya sebagai Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, (lih. Yoh 15:26). Roh ini juga adalah Roh Yesus sendiri, sebab Ia adalah Kebenaran (lih. Yoh 14:6). Kesatuan ini ditegaskan kembali oleh Yesus dalam pesan terakhir-Nya sebelum naik ke surga, “…Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus…” (Mat 28:18-20).

Dengan demikian relasi di antara ketiga Pribadi Tritunggal menyatu dalam peranan penyelamatan. Bapa selalu diterima sebagai pribadi yang menciptakan, yang melahirkan, yang menumbuhkan, walaupun dapat dikatakan yang sama untuk Putera dan Roh Kudus. Karya-karya itu dispesifikasikan untuk Pribadi Bapa.

Putera diterima dan diimani sebagai Pribadi yang menebus dan menyelamatkan, yang memperbaiki dan memulihkan. Roh Kudus diimani sebagai Pribadi yang memperbaharui, yang memberi daya, yang mempersatukan dan yang mencintai. Kepada Yesus diberi gelar Juru Selamat dunia, semua manusia (bdk. Luk. 2:11, Yoh. 4:;42, Kis. 13:23, Ef. 5:23, 2Tim. 1:10, Tit.1:4, 2Pet. 1:1,11,2:30,3:2, 1Yoh.4:14). Dengan memberikan gelar itu kepada Yesus, Perjanjian Baru tidak mau menyingkirkan  Allah sebagai Juruselamat utama dan pertama. Dan penyelamatan itu terlaksana dalam daya kerja Roh Kudus.
 
Tritungal adalah Misteri Iman
 
Meskipun sebagai ajaran iman. Sebagai dogma Gereja, Tritunggal tetaplah sebuah Misteri, Rahasia ilahi yang tak terselami, karena amat sulit memahami dan mendalami misteri tentang Allah sendiri, sebagai Yang Diimani. Apa yang diajarkan itulah yang sekaligus diimani, diyakini  sebagai kebenaran iman.

Karena Tritunggal adalah ajaran dan misteri iman, maka mempelajarinya, memahami dan mendalaminya tak bisa mengandalkan akal budi yang terbatas. Trinitas memang suatu misteri Allah, yang walaupun sulit dimengerti tetapi tidak bertentangan dengan akal budi. Ketika akal budi tak bisa lagi mengerti dan menerima misteri ilahi, misteri Allah itu, maka iman manusia yang berbicara dan mendapat tempatnya.

Dengan iman orang belajar tentang Allah dan sekaligus iman itu menerangi akal budi. Apa yang dipelajarinya itu  sekaligus itulah yang diimaninya sendiri.
 
Apa yang dikatakan Katekismus Gereja Katolik? Tritunggal adalah Allah yang satu. Pribadi ini tidak membagi-bagi ke-Allahan seolah masing-masing menjadi sepertiga, namun mereka adalah ‘sepenuhnya dan seluruhnya’. Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa; dan Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah dengan kodrat yang sama. Karena kesatuan ini, maka Bapa seluruhnya ada di dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Putera seluruhnya ada di dalam Bapa, dan seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Roh Kudus ada seluruhnya di dalam Bapa, dan seluruhnya di dalam Putera.

Ketiga Pribadi ini berbeda secara relasi satu sama lain, yaitu di dalam hal hubungan asalnya: yaitu Allah Bapa yang ‘melahirkan’, Allah Putera yang dilahirkan, Roh Kudus yang dihembuskan. Ketiga Pribadi ini berhubungan satu dengan yang lainnya. Perbedaan dalam hal asal tersebut tidak membagi kesatuan ilahi, namun malah menunjukkan hubungan timbal balik antar Pribadi Allah tersebut. Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan keduanya. Hakekat mereka adalah satu, yaitu Allah.
 
Tritunggal sebagai Perayaan Iman
 
Di samping merupakan ajaran iman (dogma), sebagai ajaran tentang kebenaran iman, apa yang diajarkan dan diimani itu jugalah yang dirayakan dalam Liturgi Gereja. Perayaan Tritunggal Mahakudus dirayakan dalam Gereja pada Hari Minggu sesudah Pesta Pentakosta (mengakhiri Masa Paskah). Jadi seminggu sesudah masa Paskah (Pentakosta) Gereja merayakan Pesta Tritunggal Mahakudus.
 
Gereja Mengungkapkan Iman akan Allah Tritunggal
 
Ada beberapa cara Gereja mengungkapkan iman akan Allah Tritunggal. Pertama, tanda Salib: peringatan akan Yesus yang mati di salib sebagai Juru Selamat manusia. Sebagai tanda karya penyelamatan Allah dan penebusan manusia yang berpangkal  pada karya Tritunggal. Ketika kita berdoa dan membuat tanda salib, berarti kita hendak menempatkan diri di bawah kaki salib sambil menyerukan nama Bapa, Putera dan Roh Kudus dan siap memanggul salib kita.

Kedua, Doa Kemuliaan/Gloria: Ketika kita mendoakan atau menyanyikan Gloria, kita ingat  akan semua yang dilakukan Allah bagi kita dan kita memujiNya dengan iman dan cinta. Meskipun kita tahu Allah di surga, Ia telah turun dari surga untuk keselamatan kita dan mengangkat kita ke surga. Oleh karena itu kita memujiNya dengan iman dan cinta. Kita memuji Allah Putra yang setara dengan Bapa, yang menghapus dosa dan menebus kita.

Dalam doa Gloria, kita memuliakan Allah Tri Tunggal dan Kristus yang mewahyukan Bapa bersama dengan Roh Kudus.
Ketiga, Syahdat/Credo: Syahadat adalah pengakuan iman Gereja akan Allah Tritunggal sekaligus merupakan ringkasan seluruh sejarah suci yang dikerjakan Allah Tritunggal

Keempat, doxologi: Doxologi adalah doa pujia dalam Ekaristi yang trinitaris sifatnya, artinya Allah Tritunggal yang menjadi inti dari doa tersebut. Didoakan pada akhir DSA, bunyinya: “Dengan perantaraan Kristus dan bersama Dia dan dalam Dia, segala hormat dankemuliaan sepannjang segala masa..”

Kelima, dalam sakramen Pembaptisan; dengan pembaptisan,orang yang dibaptis dalam iman akan Allah Tritunggal itu dipanggil untuk mengambil bagian dalam kehidupan Tritunggal Maka Kudus.

Keenam, iman mendapat andalannya, bukan pada suatu ajaran, paham, kanon, syahadat atau aturan, melainkan  dalam iman hidup dari orang-orang beriman yang hidup.

Belajar dari Agustinus: Menembus Misteri Melalui Iman

Awal hidupnya: hidup bergelimang dosa dan merasa menikmati hidupnya. Ternyata tak ada ketenangan dan kepastian dan dosa. Buah hasil doa ibunya, Sta. Monika, Agustinus bertobat, menjadi imam, menjadi Uskup di bawah bimbingan Uskup St. Ambrosius. Ia kemudian belajar dan menjadi sekaligus Filsuf Kristen Abad Pertengahan, sekalgus Teolog handal dalam sejarah Gereja.
Dari Kisah Keong dengan seorang anak kecil di tepi pantai Agustinus menyajikan suatu pelajaran untuk kita. Tiga Pribadi dalam Allah yang Satu ini merupakan misteri yang tidak cukup kita jelaskan dengan akal, sebab jika dapat dijelaskan dengan tuntas, maka hal itu tidak lagi menjadi misteri. St. Agustinus bahkan mengatakan, “Kalau engkau memahami-Nya, Ia bukan lagi Allah”. Sebab Allah jauh melebihi manusia dalam segala hal, dan meskipun Ia telah mewahyukan Diri, Ia tetap tinggal sebagai rahasia/ misteri yang tak terucapkan. Di sinilah peran iman, karena dengan iman inilah kita menerima misteri Allah yang diwahyukan dalam Kitab Suci, sehingga kita dapat menjadikannya sebagai dasar pengharapan, dan bukti dari apa yang tidak kita lihat (lih. Ibr. 11:1-2). Selamat merayakan Hari Raya Tritunggal yang Maha Kudus.***

Bahan bacaan:
Konferensi Wali Gereja Katolik, Iman Katolik, Kanisius, Yogyakarta, 1996
E. Martasudjita, Mencintai Yesus Kristus, Kanisius, Yogyakarta, 2001
Anton Baker, Ajaran Iman Katolik 2, Kanisius, Yogyakarta, 1988
Nico Dister, Pengantar Teologi, Kanisius Yogyakarta, BPK Gunung Mulia Jakarta, 1991
————–, Kristologi, sebuah Sketsa, Kanisius, Yogyakarta, 1987
Hartono Budi dan M. Purwatma, (editor), Di Jalan Terjal, Mewartakan Yesus yang Tersalib di Tengah Masyarakat Risiko, Kanisius, Yogyakarta, 2004
John Fuellenbach, Kerajaan Allah, Pesan Inti Ajaran Yesus bagi Dunia Modern, Nusa Indah, Ende, 2006
C. Groenen. Soteriologi Alkitabiah, Kanisius, Yogyakarta, 1988

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

[addtoany]
[addtoany]