Merenungkan Tentang Martabat Manusia Dalam Ensiklik Magnifica Humanitas Melalui Kacamata Sebagai Awam Katolik

  • Whatsapp

Oleh: Drs. Fransiskus, Sili, M.Pd. (Pengawas Ahli Madya Kementrian Agama Kota Manado)

Pendahuluan

Dunia kita terus berubah dari waktu ke waktu sebagaikonsekuensi perkembangan rasio manusia, juga di bidanginformasi dan teknologi. Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) pada abad ke-21 telahmenghadirkan perubahan besar dalam cara manusia hidup, bekerja, berkomunikasi, dan memahami dirinya sendiri. Kemajuanteknologi tersebut memberikan berbagai manfaat bagi kehidupanmanusia, seperti peningkatan efisiensi kerja, kemudahan aksesinformasi, perkembangan ilmu pengetahuan, serta perluasanjaringan komunikasi global. Namun, di balik berbagai kemajuantersebut muncul pula sejumlah persoalan mendasar yang menyentuh hakikat manusia. Teknologi yang semula diciptakansebagai sarana bagi perkembangan manusia justru berpotensimengubah manusia menjadi objek sistem teknologi, mengurangikebebasan personal, mengaburkan identitas kemanusiaan, dan menempatkan nilai manusia berdasarkan produktivitas, efisiensi, serta kemampuan teknis semata. Inilah problem baru yang ditimbulkannya.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan antropologis yang sangat penting, siapakah manusia di tengah era digital dan kecerdasanbuatan? Apakah manusia hanya dapat dipahami berdasarkankemampuan rasional dan produktivitasnya, ataukah terdapat nilaiyang lebih mendasar tak tergugat, yang tidak dapat digantikanoleh teknologi? Aneka pertanyaan tersebut menjadi semakinrelevan ketika muncul berbagai ideologi kontemporer sepertitranshumanisme dan posthumanisme yang berusahamendefinisikan ulang hakikat manusia melalui peningkatankemampuan biologis maupun integrasi manusia denganteknologiitu sendiri. Dalam konteks demikian, refleksi mengenaihakekat martabat dan makna manusia menjadi kebutuhan yang mendesak, baik dalam ranah filsafat, teologi, maupun kehidupansosial.

Gereja Katolik sejak lama memberikan perhatian terhadapberbagai perubahan sosial yang memengaruhi martabat manusiamelalui Ajaran Sosial Gereja. Sejak diterbitkannya ensiklik Rerum Novarumoleh Paus Leo XIII pada tahun 1891, Gereja terusmengembangkan refleksi mengenai persoalan kemanusiaan, keadilan sosial, martabat pekerja, perdamaian, dan kesejahteraanbersama (Leo XIII, 1891). Ensiklik Rerum Novarum memanghadir sebagai peristiwa yang mengejutkan dunia dan pemerintahbangsa-bangsa.

Ada daftar panjang tentang Ajaran Sosial Gereja yang muncul sebagai wujud keterlibatan Gereja sebagai warga dunia dengan berbagai persoalan yang dihadapinya. Konteks dan temanya pun beragam sesuai dengan persoalan-persoalan baruyang muncul di tengah masayarakat dunia. Ajaran Sosial Gerejatersebut, tradisi tersebut kemudian dilanjutkan oleh berbagai paus hingga masa kini sebagai upaya untuk menafsirkan tanda-tandazaman dalam terang Injil. Dalam kesinambungan tradisi tersebut, Pope Leo XIV menerbitkan ensiklik Magnifica Humanitas. Ensiklik ini merupakan tanggapan Gereja terhadap tantangankemanusiaan yang muncul akibat revolusi digital dan perkembangan kecerdasan buatan. Sejak bagian pendahuluan, Paus Leo XIV menegaskan bahwa umat manusia sedang beradapada persimpangan sejarah antara membangun “Menara Babel” yang berpusat pada kekuasaan dan dominasiteknologi ataumembangun “Yerusalem Baru” yang berlandaskan persekutuan, martabat manusia, dan kehadiran Allah dalam kehidupan bersama(Paus Leo XIV, 2026 Magnifica Humanitas, artikel 184).

Satu tema sentral dalam ensiklik ini adalah pemahaman mengenai manusia. Paus Leo XIV menegaskan bahwa manusia bukan sekadar makhluk biologis atau agen ekonomi, melainkan pribadi yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah Tritunggal (imago Dei) (Paus Leo XIV, 2026 Magnifica Humanitas artikel 29), dipanggil untuk hidup dalam relasi, persekutuan, kasih, dan pemberian diri. Martabat manusia tidak ditentukan oleh kemampuan, status sosial, produktivitas, maupun keberhasilan moralnya, tetapi merupakan anugerah yang berasal dari Allah dan melekat pada dirinya secara permanen. Lebih lanjut, ensiklik Magnifica Humanitas ini mengkritik berbagai kecenderungan zaman yang menilai manusia berdasarkanefisiensi dan hasil kerja. Paus Leo XIV memperingatkan bahaya ideologi yang menuntut manusia untuk terus membuktikan nilai dirinya sehingga mereka yang dianggap kurang produktif, lemah, miskin, sakit, lanjut usia, atau rentan menjadi tersisihkan dari kehidupan sosial.

Dalam perspektif Kristiani, setiap manusia memiliki martabat ontologis yang tidak dapat hilang karena bersumber dari kasih Allah yang tanpa syarat. Ensiklik Magnifica Humanitas secara eksplisit berbicara mengenai perlindungan manusia dalam era kecerdasan buatan. Sebagian besar perhatian publik lebih tertuju pada aspek teknologi, etika AI, dan regulasi digital, sementara refleksi antropologis yang menjadi dasar seluruh argumentasi ensiklik belum banyak dieksplorasi secara mendalam. Oleh karena itu, refleksi tentang makna manusia menurut Paus Leo XIV menjadi penting untuk memahami fondasi antropologis yang mendasari seluruh ajaran sosial yang disampaikan dalam dokumen tersebut.

Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan pada era kontemporer ini telah membawa perubahan mendasar dalam kehidupan manusia. Namun, di balik berbagai kemajuan tersebut muncul kecenderungan untuk memahami manusia secara reduksionis, yakni hanya berdasarkan kemampuan rasional, produktivitas, dan efisiensi kerja. Paradigma ini semakin diperkuat oleh berkembangnya pandangan teknokratis, transhumanisme, dan posthumanisme yang berupaya mendefinisikan ulang identitas manusia melalui kemajuan teknologi. Akibatnya, martabat manusia yang bersifat intrinsik cenderung berisiko diabaikan dan digantikan oleh ukuran-ukuran yang bersifat fungsional, tekknis serta pragmatis. Karena itu dibutuhkan pendidikan yang memadai dalam menghadapi paradigma tersebut. Dalam konteks tersebut, manusia sering kali dinilai berdasarkan kemampuan menghasilkan sesuatu, kontribusi ekonomi, atau efektivitasnya dalam sistem sosial. Cara pandang semacam ini dapat mengancam pengakuan terhadap nilai dasar setiap pribadi manusia yang sesungguhnya tidak bergantung pada kemampuan, status sosial, maupun tingkat produktivitasnya. Di sisi lain, ensiklik Magnifica Humanitas yang diterbitkan oleh Paus Leo XIV menawarkan refleksi teologis yang mendalam mengenai manusia dan martabatnya, terutama dalam menghadapi tantangan era kecerdasan buatan. Meskipun demikian, pemikiran antropologis yang terkandung dalam ensiklik tersebut masih belum banyak mendapat perhatian dalam kajian sistematis. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman mendalam yang secara khusus mengkaji dasar-dasar teologis, antropologis, dan sosial mengenai konsep manusia yang dikemukakan oleh Paus Leo XIV agar dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai martabat manusia dalam konteks dunia digital dewasa ini.

Berdasarkan permasalahan tersebut, refelksi melalui artikel kecil  ini berfokus pada upaya untuk memahami secara mendalam konsep manusia yang dikemukakan oleh Paus Leo XIV dalam ensiklik Magnifica Humanitas. Refleksi  ini diarahkan untuk menelusuri bagaimana Paus Leo XIV memandang hakikat manusia serta dasar-dasar teologis dan antropologis yang digunakan dalam menjelaskan martabat manusia. Selain itu, refleksi ini juga berusaha menganalisis bagaimana pemahaman tersebut menjadi kritik terhadap paradigma teknokratis dan berbagai kecenderungan dehumanisasi yang muncul akibat perkembangan kecerdasan buatan. Pada akhirnya, refleksi ini hendak mengkaji relevansi pemikiran Paus Leo XIV mengenai manusia bagi kehidupan masyarakat kontemporer yang semakin dipengaruhi oleh perkembangan teknologi digital.

Mengenal Sekilas Paus Leo XIV

Paus Leo XIV lahir pada 14 September 1955 di Chicago, Illinois, Amerika Serikat. Ia merupakan putra dari Louis Marius Prevost yang memiliki garis keturunan Prancis-Italia dan Mildred Martínez yang berasal dari keturunan Spanyol. Dalam keluarganya, ia memiliki dua saudara laki-laki, yaitu Louis Martín dan John Joseph. Nama yang diberikan kepadanya saat lahiradalah Robert Francis Prevost (“Biography of Pope Leo XIV, born Robert Francis Prevost -Vatican News,” 2025). Masa kanak-kanakdan remaja Robert Francis Prevost dijalani bersama keluarganyadi Chicago. Ia menempuh pendidikan awal di Seminari Kecil Agustinian sebelum melanjutkan studi ke Universitas Villanova di Pennsylvania. Pada tahun 1977 ia berhasil meraih gelar Sarjana Matematika sekaligus mendalami bidang filsafat. Pada tahun yang sama, ia memasuki masa novisiat Ordo Santo Agustinus (OSA) di Saint Louis. Ia mengucapkan kaul pertama pada tahun 1978 dan kemudian mengikrarkan kaul kekal pada tahun 1981. Pendidikan teologi ditempuhnya di Catholic Theological Union, Chicago, sebelum melanjutkan studi Hukum Kanonik di Universitas Kepausan Santo Thomas Aquinas (Angelicum), Roma. Iamenerima tahbisan imam pada 19 Juni 1982 (“Biography and Vocation of Pope Leo XIV,” 2025). Setelah memperoleh gelarlisensiat pada tahun 1984 dan menyelesaikan program doktoralnyapada tahun 1987 dengan disertasi yang membahas peran prior lokal dalam Ordo Santo Agustinus, Prevost mengabdikan diridalam karya misioner di Peru. Selama lebih dari sepuluh tahun iaberkarya di Trujillo dengan berbagai tanggung jawab, antara lain sebagai prior komunitas, direktur pembinaan, pengajar, sertavikaris yudisial Keuskupan Agung Trujillo. Selain itu, ia juga aktifmelayani masyarakat miskin dan menjalankan tugas sebagaiadministrator paroki (“Biography of Pope Leo XIV, born Robert Francis Prevost -Vatican News,” 2025). Pada tahun 1999, Prevost terpilih sebagai Prior Provinsi Agustinian di Chicago. Selanjutnya, ia dipercaya memimpin Ordo Santo Agustinus sebagai Prior Jenderal selama dua periode jabatan. Pada tahun 2014, Paus Fransiskus menunjuknya sebagai Administrator ApostolikKeuskupan Chiclayo di Peru sekaligus menahbiskannya sebagaiuskup. Setahun kemudian, ia resmi menjabat sebagai UskupChiclayo dan melaksanakan pelayanan tersebut hingga tahun2023. Selama periode tersebut, ia juga berperan aktif dalamKonferensi Wali Gereja Peru. Pada tahun 2023, Paus Fransiskus memanggil Prevost ke Roma untuk mengemban tugas sebagaiPrefek Dikasteri untuk Para Uskup dan Presiden Komisi Kepausanuntuk Amerika Latin. Bersamaan dengan itu, ia diangkat menjadi kardinal dan dipercaya menjadi anggota sejumlah dikasteri penting di Vatikan. Dalam perkembangan selanjutnya, ia juga menerima penunjukan sebagai Uskup Suburbikarian Albano. Ketika Paus Fransiskus mengalami gangguan kesehatan, Kardinal Prevost turut memimpin doa Rosario bagi kesembuhan Paus di Lapangan Santo Petrus.Setelah wafatnya Paus Fransiskus pada 21 April 2025, konklaf memilih Kardinal Robert Francis Prevost sebagai Paus ke-267 Gereja Katolik pada 8 Mei 2025. Dengan terpilihnya sebagai penerus Takhta Santo Petrus, ia mengambil nama Paus Leo XIV dan memulai kepemimpinannya atas Gereja Katolik universal.

Memahami Hakekat  Ensiklik

Ensiklik adalah bagian dari Ajaran Sosial Gereja, sebagaiajaran yang dikeluarkan Gereja mengenai hak dan kewajiban berbagai anggota masyarakat dalam hubungan dengan kebaikan bersama: bonum comunne, baik dalam lingkungan sosial maupun internasional. Ajaran Sosial Gereja (ASG) merupakan wujud tanggapan Gereja terhadap pelbagai problem sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Dengan kata lain, ASG merupakan bentuk keprihatinan Gereja terhadap dunia dan umat manusia yang penuh dengan problem sosial dalam bentuk dokumen yang perlu disosialisasikan dan diterapkan dalam penanganan masalah2 sosial itu.

Latar belakang munculnya Ajaran Sosial Gereja adalah karena Gereja adalah bagian dari dan hidup di tengah masyarakat dunia. Dalam dunia timbul pelbagai masalah sosial: kemiskinan, ketidakadilan, kaum buruh, peperangan dll. Masalah2 itu mau tak mau harus diatasi. Gereja sebagai bagian dari masyarakat merasa bertanggungjawab juga dan mau membantu masyarakat dalam upaya menghadapi problem sosial tersebut. Bantuan itu diberikan melalui ajaran atau dokumen yang menyajikan prinsip, nilai dan norma-norma moral dasar yang harus menjadi patokan atau pegangan bagi setiap upaya mengatasi proble2 sosial tersebut.Bentuk-bentuk ASG: ajaran yang dituangkan dalam bentuk dokumen seperti Ensilik, surat edaran, pidato, siaran dan sebagainya

Ensiklik adalah dokumen ajaran kepausan. Dokumen ini ditujukan kepada Gereja Katolik di seluruh dunia, dan kadang-kadang juga kepada “semua orang yang berkehendak baik,” termasuk non-Katolik. Ensiklik memiliki otoritas yang tinggi.Dalam Gereja Katolik, ensiklik dipahami sebagai ekspresi otoritas pengajaran tertinggi Paus, tetapi bukan merupakan pernyataan yang infalibel atau tidak dapat salah dalam pengertian dogmatis.

Hakekat Manusia

Hakikat Manusia Menurut Paus Leo XIV Pembahasan pertama dalam Magnifica Humanitas sebagaimana tahap awal ajaran sosial Gereja, berfokus pada pemahaman Paus Leo XIV mengenai hakikat manusia. Dalam bagian ini dijelaskan bahwa manusia dipandang sebagai ciptaan Allah yang memiliki martabat luhur karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (imago Dei) (Paus Leo XIV, 2026 Manifica Humanitasartikel 29). Pandangan tersebut menjadi dasar seluruh refleksi antropologis dalam ensiklik. Manusia tidak dipahami hanya sebagai makhluk biologis atau entitas rasional yang mampu berpikir dan bekerja, melainkan sebagai pribadi yang dipanggil untuk hidup dalam relasi dengan Allah, sesama manusia, dan seluruh ciptaan. Dalam Ensiklik Manifica Humanitas pada artikel 1, Paus Leo XIV sesungguhnya memberikan gambaran siapa manusia sebenarnya.Umat manusia, yang diciptakan oleh Allah dalam segala keagungan-Nya, kini dihadapkan pada pilihan yang menentukan: apakah akan membangun Menara Babel yang baru, ataukah membangun sebuah kota tempat Allah dan umat manusia hidup berdampingan.

Setiap generasi mewarisi tugas untuk membentuk zamannya sendiri, untuk mengarahkan sejarah agar menjadi tempat di mana martabat setiap orang dijaga, keadilan ditegakkan, dan persaudaraan terwujud. Namun, setiap zaman juga berisiko menciptakan dunia yang tidak manusiawi dan semakin tidak adil. Setiap kali umat manusia berada dalam bahaya merusak identitas sejatinya, kita sebagai orang Kristen mengarahkanpandangan kita kepada Allah yang menjelma, dengan menyadari bahwa “hanya dalam misteri Sabda yang menjadi manusia, misteri kemanusiaan benar-benar menjadi jelas.” Dalam Yesus Kristus, kemanusiaan dalam kemegahannya ini menjadi Jalan, Kebenaran, dan Hidup, yang membuka jalan bagi kita masing-masing untuk bertumbuh menuju kepenuhan (Paus Leo XIV, 2026 Magnifica Humanitas artikel 1).

Keagungan Manusia: Dasar argumentasi

Dasar ergumentasi di atas  adalah keagungan kemanusiaan, Magnifica Humanitas,  – the grandeur of Humanity. Keagungan itumengalir dari asal usul manusia sebagai pribadi yang diciptakanmenurut gambar dan citra Allah. Jadi manusia adalah makhluk yang bermartabat, pribadi yang unik dan individu yang bebas-merdeka. Karena martabatnya, maka manusia tidak pernah boleh dijadikan sebagai alat, sarana dan obyek dari ilmu pengetahuan, teknologi, pekerjaan maupun usaha apapun. Manusia harus selalu diperlakukan sebagai subyek yang penuh misteri. Keluhuran martabatnya terletak pada kenyataan bahwa sebagai ciptaan yang paling luhur, ia dianugerahi akal budi untuk berpikir, kebebasan untuk bertindak dan berkehendak dan hati Nurani untuk membedakan yang baik dan buruk, benar dan salah, boleh dan tidak.

Bagaimana manusia memandang dirinya, membangun masa depannya, mengolah alam dan menciptakan alat-alat teknismenjadi fokus perhatian. Ada dua kecenderungan sikap manusia: membangun hidupnya dengan penuh ambisi dan arogansi (Menara Babel) atau membangun dengan kerjasama dan rendah hati(rekonstruksi tembok Yerusalem oleh Nehemia).

Manusia kontemporer ternyata memilih pembangunandirinya dan dunianya dengan ambisi dan arogansi. Dia tidak perduli dengan sesama, tetapi hanya memikirkan kepentingan dan keuntungan sendiri. Bila perlu sesama pun dikorbankan. Hal itu nyata dari perkembangan iptek mutakhir, terutama teknologi digital yang dimotori oleh algoritma dan AI yang cenderung mereduksikan manusia sebagai benda, obyek dan alat teknis yang harus disempurnakan terus menerus. Kelemahan tidak dilihat sebagai bagian eksistensial dan pengalaman akan kefanaan, tetapi sebagai kekurangan teknis-ilmiah yang perlu dibereskan. Manusia kontemporer sedang membangun dengan paham dan mentalitas teknokratis dan berorientasi pada keuntungan dan keunggulan. Bukan teknologi untuk manusia, tetapi manusia untuk teknologi. Bila individu tak mampu beradaptasi dengan teknologi baru, maka dia disingkirkan dan dijadikan tumbal. Hasil perkembangan teknlogi pada gilirannya akan menghancurkan manusia itu sendiri.

Mentalitas teknokratis ini mempengaruhi dunia ekonomi, finansial, bisnis, budaya, pekerjaan, pendidikan, pengetahuan, ideologi, hidup sosial, relasi internasional dan pertahanan keamanan. Dampak teknokratisme diperparah oleh cinta akan uang dan kekuasaan, sehingga dunia kita dipenuhi oleh segelintir yang memiliki segalanya dan sebagian sangat besar yang tiada berpunya.

Hati Nurani mati, solidaritas antar manusia pupus, dialog lenyap. Demokrasi menghilang dan tanggung jawab melenyap. Semua diganti dengan keuntungan, keunggulan, kehormatan, prestise dan kesombongan. Logika kekuasaan dan penjajahan gaya baru sedang digalakkan secara global. Perbudakan gaya baru sedang dijalankan tanpa rasa bersalah

Dalam situasi ini Paus Leo mengajak kita untuk kembali ke akar: Menghormati dan menghargai manusia dan mencintainya sebagai pribadi yang bermartabat luhur dan mulia. Bagaimana caranya? Dengan mengusahakan keadilan, membangkitkan semangat berbagi, bersikap solider dan peduli, membangun kerjasama, menghormati subsidiaritas, mengupayakan dialog, terlibat aktif mengemban tanggung jawab, mengontrol kata-kata, memprioritaskan diplomasi, menghargai keanekaragaman, dengan dijiwai oleh iman dan harapan.

Locus Refleksi Magnifica Humanitas: Teknologi AI

Kemajuan mutakhir AI dibicarakan khusus dalam Ensiklikini mengingat bahwa dalam sejarah dunia, di tangan manusia, teknologi tidak pernah netral, tetapi berdampak. Dalam konteksEnsiklik ini, pertanyaan utamanya bukan boleh atau tidak bolehmenggunakan AI, tetapi apa dampaknya bagi bumi dan umatmanusia?

Dua dokumen lain paling dekat yang mengantisipasi isumartabat manusia ialah Deklarasi tentang Martabat Manusia, Dignitas Infinita 8 April 2024 dan refleksi teologi, Quo Vadis Humanitas 19 Februari 2026. Keduanya terbit dari DikasteriDoktrin Iman. Baik QVH maupun MH, khususnya bab tiga, menanggapi isu posthumanisme dan transhumanisme. Secara luas, Paus Leo juga mengutip dokumen-dokumen yang ditulis oleh Paus Fransiskus.

Dua paragraf pertama Manifica Humanitas dengan terangmenegaskan corak kristologis: keyakinan Kristiani bahwakeluhuran martabat manusia yang utuh menjadi jelas hanya dalamperistiwa Firman menjadi daging, dalam diri Yesus Kristus. Dalam Kristus manusia memandang keindahan martabatnya. Yesus itu manusia utuh, karena Ia menyadari dan mempersembahkan kehendak dan keterbatasan-Nya kepada Bapa.

Dalam bab ketiga, Paus Leo mengkaji kecerdasan buatansecara detail, menggambarkannya sebagai salah satu tantanganpenting di zaman kita. Prinsip-prinsip panduan bagian ini adalahdua gambaran Alkitabiah yang telah dijelaskan: Menara Babel dan pembangunan kembali Yerusalem. Oleh karena itu, pertanyaanpenting di zaman kita adalah: “Apa yang sedang kita bangun?”

Paus menggemakan kritik terhadap “paradigma teknokratis” yang telah dirumuskan oleh Paus Fransiskus dalam ensikliknya, 2015, Laudato Si’. Teknologi tidak boleh menjadi satu-satunyaukuran tindakan manusia. Jika efisiensi, kontrol, dan keuntungandiangkat menjadi prinsip tertinggi, umat manusia sendiri berisikomenjadi objek optimasi teknologi.

Paus Leo XIV memperingatkan bahwa revolusi digital, dan kecerdasan buatan khususnya, dapat semakin memperkuat strukturkekuasaan yang ada. Kontrol atas data, platform, dan dayakomputasi semakin terkonsentrasi di tangan beberapa perusahaanglobal. Ini menciptakan bentuk-bentuk baru ketergantungan, manipulasi, dan ketidaksetaraan sosial.

Pada saat yang sama, Paus secara eksplisit menekankanbahwa kecerdasan buatan pada prinsipnya tidak boleh dipandangnegatif. Ia dapat menjadi bantuan yang berharga, misalnya, dalambidang kedokteran, penelitian, atau administrasi. Namun, ia tidakboleh disamakan dengan kecerdasan manusia. Sistem AI memproses data dan mensimulasikan kemampuan manusiatertentu, tetapi mereka tidak memiliki kesadaran, penilaian moral, atau pengalaman sukacita, penderitaan, cinta, atau tanggungjawab.

Tanda Awas Revolusi Digital: Teknologi Harus Tunduk pada Manusia

Revolusi Digital bukan sekadar perubahan teknis. Ini revolusiperubahan yang bisa menyentuh inti kehidupan manusia. Bayangkan dunia yang sedang sibuk membangun teknologi barubernama Kecerdasan Buatan. Kecerdasan Buatan, atau Artificial Intelligence (AI), adalah sistem digital yang dirancang untukmeniru cara manusia berpikir, belajar, dan mengambil keputusan. Ia bekerja dengan algoritma, yaitu serangkaian instruksimatematis yang memungkinkan mesin memproses data dalamjumlah besar, mengenali pola, dan menghasilkan keputusanseolah‑olah ia memiliki akal. Kehadirannya membawa dampakbesar. Data pribadi yang seharusnya dijaga bisa berubah menjadikomoditas, kalau orang tidak berhati-hati. Pekerjaan intelektualyang dahulu menjadi kebanggaan manusia perlahan digantikanoleh otomatisasi. Sistem demokrasi yang dibangun dengan susahpayah bisa digerogoti melalui manipulasi algoritma. Semua inibukan sekadar perubahan teknis, melainkan perubahan yang menyentuh inti kehidupan manusia.

Mengapa hal ini menjadi penting? Karena AI yang adasekarang hanyalah mesin berintelektual cerdas. Ia mampumenghitung, menganalisis, dan mengoptimalkan, tetapi tanpaadanya dimensi moral dan etika, sekalilagi tanpa etika dan moral. Mesin ini tidak memiliki kesadaran spiritual, tidak mengenal nilai kebaikan, dan tidak bisa menimbang martabat manusia. Ketika evolusinya mencapai kesadaran super, dalam waktu yang tidak lama lagi, ia bisa menulis ulang dirinya sendiri, mengambil keputusan global, dan melampaui kendali manusia. Terlebih lagi, revolusi digital yang semakin pesat tidak menutup kemungkinan berinteraksi langsung dengan algoritma biologi manusia secara hibrida. Jika itu terjadi, batas antara pikiran manusia dan mesin bisa kabur. Identitas manusia bisa tereduksi menjadi sekadar data, dan kebebasan bisa terkikis oleh sistem yang lebih cepat dan lebih kuat daripada kehendak manusia itu sendiri.

Di tengah hiruk pikuk itu, suara Paus muncul. Suara Paus hendak mengingatkan dan menegaskan bahwa manusia bukanlah angka, melainkan pribadi. Sebagai pribadi martabatnya harus tetap dihargai dan tak boleh diremehkan. Ensiklik Magnifica Humanitas yang ditulis pada tahun 2026 adalah surat resmi Paus Leo XIV kepada seluruh uskup dan umat Katolik di dunia. Dalam ensikliknya ini, Paus menegaskan bahwa teknologi kecerdasan buatan harus tunduk pada martabat manusia. Ia menolak penggunaan AI dalam peperangan. Ia mengingatkan bahaya monopoli digital. Ia menyerukan kesepakatan regulasi global agar algoritma tidak menghapus kebebasan manusia.

Di titik inilah peran kendali ditegaskan. AI harus selalu berada dalam kendali manusia. Kendali itu harus diarahkan pada manfaat seutuhnya untuk memanusiakan manusia. Kendali yang bermanfaat berarti teknologi dipakai untuk memperkuat solidaritas, membuka akses pendidikan dan kesehatan, serta menjaga keadilan sosial. Paus menegaskan bahwa kendali bukan sekadar perkara teknis. Kendali adalah perkara moral. Kendali adalah cara memastikan bahwa teknologi kecerdasan buatan menjadi terang yang menolong, bukan bara api yang membakar peradaban.

Untuk membuat pesannya mudah dipahami, Paus memakaibahasa simbolis. AI dengan kondisinya saat ini bisa menjadiMenara Babel. Dalam Perjanjian Lama, Menara Babel adalahsimbol kesombongan manusia, yang berambisi menyamai Allah, yang membangun tanpa dasar moral. Ketika teknologi dibangundemi kuasa segelintir orang tanpa memperhatikan martabatmanusia, maka akhirnya menimbulkan kekacauan. Atau AI bisadiarahkan menjadi Yerusalem Baru. Yerusalem Baru adalahsimbol persaudaraan sejati bila teknologi dipakai untuk solidaritas, keteraturan, dan keadilan. Metafora ini memberi roh pada pesan. Kendali atas AI akan menentukan apakah ia menjadi menarakesombongan atau kota persaudaraan, di mana setiap orang dapathidup dan saling memperlakukan setiap orang sebagai saudara.

Paus Leo XIV berbicara bukan untuk menguasai teknologi. Ia berbicara untuk memastikan bahwa api peradaban digital diarahkan menjadi cahaya, bukan bara api. Pengalaman panjangnya sebagai misionaris bersama komunitas miskin di Peru dan kepemimpinannya dalam Ordo Agustinus membuatnya peka terhadap isu keadilan sosial. Dari akar pengalaman itu lahir Magnifica Humanitas. Ensiklik ini menegaskan bahwa kendali atas AI harus diarahkan pada martabat manusia. Kendali atas AI harus selalu ditujukan pada sebesar besarnya manfaat bagi manusia, agar revolusi digital tidak kehilangan jiwa. Teknologisebagai hasil perkembangan manusia tidak boleh kehilangan nilaispiritualnya. Kalau aspek ini manusia akan berkembang denganmenjadi tidak seimbang dan karenanya menjadi pribadi yang tidakutuh. Keutuhannya justeru terletak pada kenyataan  bahwa hidupdan karyanya apapun itu harus memperhatikan semua dimensinyasebagai manusia.

Mungkin banyak orang bertanya, mengapa Paus harus ikutbicara soal kecerdasan buatan. Jawabannya, karena setiap revolusibesar selalu menyentuh inti kehidupan manusia. Ensiklik Magnifica Humanitas mengingatkan dunia pada ensiklik Rerum Novarum yang ditulis tahun 1891. Keduanya bisa dibaca sebagai satu rangkaian yang menegaskan konsistensi Gereja dalam menghadapi api peradaban. Dulu Revolusi Industri dengan mesin uap mengubah tubuh buruh pekerja. Jam kerja panjang, upah rendah, anak anak dipaksa bekerja. Dunia melihatnya sebagai masalah ekonomi. Gereja melihatnya sebagai masalah moral. Paus Leo XIII menulis Rerum Novarum untuk menegaskan bahwa kerja bukan sekadar alat produksi, melainkan bagian dari martabat manusia. Ensiklik ini menjadi rem moral agar energi industri tidak melahap tubuh buruh.

Kini Revolusi Digital dengan algoritma mengubah pikiran dan identitas manusia. Gereja kembali hadir untuk mengingatkan dunia pada martabat manusia. Paus Leo XIV menulis Magnifica Humanitas untuk menegaskan bahwa manusia bukan sekadar data, melainkan pribadi yang memiliki martabat. Ensiklik ini menjadi rem moral agar energi digital tidak membakar identitas manusia.Jadi konteks dan tantangannya berbeda tapi prinsipnya tetap sama.

Kedua ensiklik ini berbicara dalam satu nafas. Rerum Novarum menegaskan martabat kerja di tengah api otot. Magnifica Humanitas menegaskan martabat manusia di tengah api pikiran. Revolusi apa pun, baik industri maupun digital, selalu membawa api, yang selalu bermakna ganda: Api bisa membakar, bisa menerangi. Yang menentukan bukan apinya, melainkanbagaimana manusia menaruh rem moral agar cahaya tetapmenyinari jalan peradaban. Dalam ensiklik pertamanya, Paus Leo XIV membahas dua isu utama zaman kita yaitu peluang dan risikokecerdasan buatan serta perdamaian bagi semua orang. Iamemperingatkan terhadap matinya kepekaan yang fatal terhadapperang. Magnifica Humanitas adalah judul ensiklik pertama Paus Leo dan membahas pelestarian kemanusiaan di era kecerdasanbuatan. Ensiklik ini bertanggal 15 Mei 2026, yang juga menandai peringatan 135 tahun penerbitan ensiklik sosial penting Leo XIII: Ensiklik Rerum Novarum, 1891.

Objektivitas yang Tampak

Paus Leo XIV menggambarkan dengan sangat cermat risiko masyarakat yang terlalu bergantung pada sistem algoritmik. Objektivitas yang tampak pada sistem buatan dapat menyesatkan, karena sistem tersebut selalu mencerminkan proses berpikir dan prasangka para pengembangnya.

Paus Leo XIV menulis Ensiklik ini karena “manusia hari ini tergoda menciptakan dirinya sendiri dan melupakan bahwa ia diciptakan”. Beberapa bagian penting diangkat di sini meski disadari jangan sampai ringkasannya mengaburkan pesan pokoknya.

Bab pertama, sebagai refleksi biblis, menampilkan dua teks biblis yang kontras satu sama lain: Kisah Menara Babel versus pembangunan kembali kota Yerusalem. Yang pertama menampilkan ambisi manusia membangun menara dengan mengabaikan kuasa Allah. Ambisi manusia itu mendatangkan keruntuhan. Teks kedua, menampilkan kerja sama untuk membangun kota yang telah runtuh, tahap demi tahap, melibatkan tanggung jawab bersama, bertujuan membangun kebaikan bersama, tanpa mengabaikan kuasa Allah.

Kedua teks biblis ini memberi ilustrasi tentang pencapaian manusia yang paling paling menakjubkan di era ini, sehingga ia begitu terobsesi dengan kemampuannya sendiri. Obsesinya itu dapat berbuah baik, yaitu keutuhan hidup di rumah bersama, atau sebaliknya menjadi bencana baginya. Paus Leo mengulang kalimat yang sering dikatakan Paus Fransiskus: Manusia dapat menciptakan untuk membinasakan, ia menjadi monster bagi dirinya.

Di era kontemporer ini, semakin kuat dirasakan bahwa kekuasaan tidak selalu berbanding lurus dengan kebaikan bersama. Paus menegaskan kritik Romano Guardini kepada orang modern: Orang-orang kontemporer tidak pernah dilatih untuk menggunakan kekausaan dengan baik. Oleh sebab itu, sangat diperlukan regulasi yang transparan bagi para pemegang kekuasaan, termasuk bagi pencipta teknologi AI agar kuasa mereka benar-benar dapat digunakan untuk kebaikan bersama, dan tidak merugikan masyarakat, terutama kaum rentan.

Jadi dalam bab I : “Citra Allah, bukan kode” – No 1-20. Martabatmanusia tidak berasal dari data, algoritma, atau performa. “Manusia bukan proyek open-source yang bisa diedit. Manusiaadalah anugerah” – No. 12. Ditolak gagasan bahwa manusia bisa“self-create” lewat teknologi.

Kedua, rangkuman padat tentang ASG Katolik. Mulai dariRerum Novarum Paus Leo XIII pada 1891, sampai ajaran Paus Fransiskus. Setiap era memiliki hal baru tersendiri. Hal baru sekarang ialah mesin algoritma. Juga di era AI ini kemajuan hendaknya dimaknai sebagai sarana untuk kesejahteraan umat manusia, keluhuran martabat manusia, kebaikan bersama.

Dari masa ke masa Ajaran Sosial Gereja Katolik konsisten menyuarakan primat martabat manusia, menempatkannya sebagai ciptaan yang paling luhur dan mulia; sumber bumi bagi semua umat manusia; subsidiaritas, keadilan sosial. Magnifica Humanitas memberi suara moral bagi Negara dalam mengambil keputusan politik, agar tidak dihantui sindrom Babel yang menghancurkan melainkan dengan spirit sinodalitas, berjalan bersama sebagai peziarah pengharapan untuk menciptakan dan mewujudkan suatu dunia yang adil, damai dan sejahtera.

“Saya fokus menegaskan kembali beberapa elemen esensial untuk diserment moral dan sosial untuk menjaga primat pribadi manusia, untuk memastikan bahwa ia selalu inteligensi manusia, dengan kesadaran dan kebebasannya, yang memberi petunjuk teknis dan secara bertanggung jawab membatasi penggunaan dan keterbatasannya.” (artikel 97). Jadi dalam bab II,  “Godaan Taman Eden Digital” – No 21-40. Paus menyebut Transhumanisme & Posthumanisme sebagai “godaan baru” seperti di Kej 3. Janji ular: “Kamu akan menjadi seperti Allah” kini hadir dalam janji teknologi: “Kamu akan jadi abadi, sempurna, tanpa penderitaan”. Menurut Paus: “Teknologi adalah alat yang baik. Tapi saat teknologi mau menggantikan Allah, ia jadi berhala” – No. 35

Bab ketiga Ensiklik tampak sebagai inti gagasan Paus. Seperti yang ia katakan dalam persentasi peluncuran Ensiklik, AI perlu dilucuti senjatanya. Paus tidak anti AI, namun ia menegaskan keyakinannya bahwa AI tidak akan menggantikan manusia. Kemajuan teknologi yang canggih sekalipun tidak akan menggantikan martabat manusia sebagai gambar Allah Trintias.

“Melucuti senjata AI berarti membebaskannya dari mentalitas persaingan ‘bersenjata’, yang saat ini tidak hanya terbatas pada konteks militer, tetapi juga merupakan fenomena ekonomi dan kognitif. […] Melucuti senjata berarti melawan asumsi bahwa kekuatan teknis secara otomatis memberikan hak untuk memerintah. Melucuti senjata tidak berarti menolak teknologi, tetapi mencegahnya mendominasi umat manusia. Ini berarti membebaskan teknologi dari kendali monopoli dan membukanya untuk diskusi dan debat, sehingga menjadikannya ramah manusia dan mengembalikannya ke pluralitas budaya dan cara hidup manusia. Tugas kita saat ini bukan hanya etis atau teknis. Ini bersifat ekologis dalam arti yang paling dalam, karena menyangkut dimensi baru dari rumah kita bersama. AI sudahmenjadi lingkungan tempat kita berada, serta kekuatan yang haruskita hadapi. Karena alasan ini, hanya mengaturnya saja tidakcukup; ia harus dilucuti senjatanya, diterima, dan dapat diakses” (110).

Seperti telah direfleksikan KTI dalam QVH, demikian pula bab tiga MH secara tajam menampilkan refleksi tentangkeberadaan manusia di persimpangan: Antara kemajuan teknologiyang disertai klaim ‘tak terbatas’ di satu pihak, dan risikoterburuknya, yaitu utopia keabadian dengan asumsi yang naif dan sombong. Mau di bawa ke mana humanitas kita?

Manusia memiliki keluhuran yang tidak terbatas, dignitas infinita. Manusia itu makhluk fana, namun keluhurannya tidak terbatas. Artinya keluruhan manusia yang paling final tidak ia temukandalam dirinya sendiri, tidak pula dalam apa yang ia ciptakan, melainkan dalam relasi dengan Pencipta-Nya: Kita adalah lebihdari apa yang kita ciptakan. Seluruh hidup kita, termasukketerbatasan fisik, tetap layak, karena keluhuran kita datang dariTuhan.

Keutuhan martabat manusia terwujud bukan ketika ia menjadimanusia super dengan mengandalkan rekayasa teknologi. Optimisme berlebihan pada rekayasa teknologi mengaburkan harapan manusia pada kasih Allah yang tidak terbatas. Justru karena keterbatasan itu kita dapat memaknai kasi sayang, solidaritas, persaudaraan, dan kebergantungan kita pada sesama manusia dan ciptaan lain

Ensiklik menolak isu transumanisme dan posthumanisme. Dua pandangan ini berpegang pada optimisme futuristik, bahwa keterbatasan fisik manusia dapat diatasi dengan algoritma. Filosofi ini tidak sesuai dengan moral kristiani, karena membenarkan pengorbanan tertentu pada manusia demi memaksimalkan tubuh manusia, dan karena itu menghindari penderitaan. “Jika manusia diperlakukan sebagai sesuatu yang perlu disempurnakan atau dilampaui, maka menjadi lebih mudah untuk menerima bahwa beberapa kehidupan kurang berguna, kurang diinginkan, atau kurang layak. Atas nama kemajuan, ‘pengorbanan yang perlu’ dapat mulai dibenarkan, dengan membebankan beban tersebut kepada yang paling rentan demi optimalisasi spesies yang dianggap semu” (117).

Bagi orang Kristiani, justru dalam keterbatasan itulah kita dapat memaknai martabat kita di hadapan Tuhan. Meskipun kita mengalami sakit dan penderitaan, kita tetap berharga di hadapan Tuhan. Kesejahteraan harus menyeluruh dan bertahan. Paus menulis: “Kemanusiaan bertumbuh bukan meskipun keterbatasan, tetapi melalui keterbatasannya” (118).

“Justru dalam keterbatasan kita inilah hal-hal berikut dapat terwujud: belas kasih, serta kepedulian yang tulus terhadap kebutuhan orang lain; kemurahan hati yang dapat muncul bahkan di tengah kegelapan dan kegagalan; […] ketika kita menghadapi penolakan, ketika kita menderita sakit atau kehilangan orang yang dicintai, ketika kita menghadapi kelemahan atau kegagalan kita sendiri. Secara misterius, justru di saat-saat seperti itulah kita dapat menemukan kebijaksanaan baru, secara nyata merasakan kedekatan orang lain dan mengalami hadirat Tuhan” (119). Ini bagian paling penting. Menurut Paus: “Dunia mau menghapuskelemahan. Injil mau memeluk orang lemah. Di situlah Magnifica Humanitas tampak” – No. 48. Disebut khusus: narapidana, pengungsi, orang sakit, orang tua. Mereka bukan “versi bug” yang harus dihapus. Mereka adalah tempat Kristus hadir.

Bab keempat. Struktur ekonomi perlu dievaluasi: apakahdibangun untuk kepentinga bersama, atau demi segelintir orang. Empat corak sistem ekonomi yang baik: keluhuran martabatmanusia, kebaikan bersama, tujuan untuk kebaikan universal, subsidiaritas, solidaritas dan keadilan. Untuk mencapai itu, tidakcukup suatu analisis yang abstak. Lebih jauh perlu langkah-langkah konkret untuk membangun peradaban kasih di era AI.

Paus berbicara tentang pentingnya ekologi komunikasi. AI hendaknya membentuk komunikasi yang lebih transparan, terutama demi perlindungan data pribadi. Kerja sama antara dunia jurnalisme, keluarga, sekolah diperlukan untuk membangun sikap kritis mengenai dunia komersial dan finansial secara daring. Pendidikan di keluarga dan sekolah dimaksudkan untuk membangun sikap kritis terhadap informasi dan keterampilan memverifikasi fakta.

Tujuan utama langkah-langkah ini ialah membentuk cara pandang semua pihak tentang filosofi kerja dalam iman Kristiani. Parlu disadari bahwa diri manusia adalah tujuan utama, sedangkan tata ekonomi harus mendukungnya. Kerja adalah ruang pengalaman, ekspresi, kotribusi, perjumpaan, bukan sekedar untuk mengatasi solusi dan mendapat gaji.

Rerum Novarum telah menyuarakan hak hidup para pekerja. Hak itu harus tetap dilindungi di era AI. Negara berperan menjamin transparansi dan akuntabilitas ekonomi. Sistem politik dan ekonomi hendaknya menjamin perlindungan hak dan martabat manusia, dan bertujuan untuk kepentingan bersama, bukan demi segelintir orang atau kelompok. Jadi dalam Bab IV:  “MenjadiManusia Bersama Kristus” – No 61-80. Jawaban Gereja bukananti-teknologi. Tapi: “Gunakan teknologi untuk melayani manusia, bukan manusia melayani teknologi” – No. 72. Puncaknya: Manusia mulia karena bisa mengasihi, mengampuni, menyembah. Hal yang tidak bisa di-upload ke cloud.

Bab kelima, berbicara tentang peradaban cinta. Lawan dariperadaban cinta adalah permusuhan, konkretnya perang. Normalisasi perang adalah racun perdamaian. Tegasnya: peradaban kasih mendatangkan hidup, kultur perang membawakematian. Persoalan AI sekarang bukan hanya soal efisiensi, tetapidampaknya: untuk kehidupan atau kematian? Sering kali media ikut membangun opini, membentuk mentalitas ‘musuh versus lawan’.

Teknologi pada dirinya ambivalen. Batas antara proteksi dan serangan menjadi kabur. Kembali ke makna ilsutrasi biblis: AI untuk Menara Babel atau membangun kembali kota Yerusalem? Serangan cyber, manipulasi inforamsi dan keputusan automatismendatangkan tragedi bagi manusia. Tendensi negatif inimembawa kehancuran, mengabaikan harapan dan solidaritasuntuk bekerja bersama, mulai dari lingkungan keluarga sampaitingkat global.

Peradaban cinta bukan sebuah utopia yang naif, melainkanproyek kehidupan yang meminta komitmen bersama semua pihak. “Tidak cukup bagi kecerdasan buatan untuk membuat kita lebihefisien atau terhubung; ia juga harus berfungsi untuk membangunkeluarga manusia universal, dengan hak dan kewajiban bersama, di mana kedekatan digital menjadi peluang nyata untuk bertemudan saling peduli” (187).

Dalam sejarah, teori perang untuk keadilan tidak pernah valid. Yang kita butuhkan ialah diplomasi, dialog, dan pengampunan. Sebaliknya perang hanya mendatangkan kehancuran. Perang mencerminkan optimisme dangkal bahwa kekuasaan itu tidakterbatas. Orang yang membangun industri senjata untuk kekuatanmiliter dengan sendirinya membangun taktik kuasa ekonomi dan finansial untuk pertahanan diri yang lebih kuat.

Sebagai Penutup, Paus menegaskan tentang pentingnya solidaritasdan kerja sama dalam harapan yang teguh. “Tiap-tiap orang harusmemperhatikan bagaimana ia harus membangun di atasnya” (1Kor 3: 10). Kata-kata Paulus ini memberi gambaran bagaimanakita harus menjaga kesatuan. Dalam kesatuan itu, setiap partisipasimerupakan sumbangan barharga. *** (Dari berbagai sumber)

Komentar Anda?

Related posts