PORTALNTT.COM, KUPANG – Angin laut berembus lembut di Pulau Kera. Hamparan pasir putih membentang, dipeluk air laut yang bening kebiruan. Di pulau kecil ini, kehidupan berjalan apa adanya, tenang, sederhana, namun penuh harapan yang sering kali tak terdengar hingga ke pusat kekuasaan.
Siang itu, suasana berubah. Seorang tamu datang tanpa jarak. Fernando Jose Osorio Soares yang akrab disapa Nando Soares, melangkah santai di atas pasir, mengenakan kaos oblong, celana pendek, dan sandal jepit. Tak ada sekat, tak ada formalitas berlebihan.
Ia menyapa warga satu per satu. Anak-anak berlari di tepi pantai, sementara para nelayan sibuk dengan jaring dan perahu mereka. Percakapan pun mengalir tanpa canggung.
“Kalau datang begini, kami merasa benar-benar diperhatikan,” ucap seorang warga, lirih namun penuh makna.
Pulau Kera dihuni sekitar seratus kepala keluarga, mayoritas nelayan dari etnis Bajo, Rote, dan Timor. Mereka hidup dari laut, bersahabat dengan angin dan gelombang. Namun di balik panorama yang memikat, tersimpan persoalan klasik: keterbatasan infrastruktur, akses air bersih, hingga layanan dasar yang belum memadai.
Langkah Nando Soares bukan sekadar berjalan menikmati keindahan. Ia mendengar. Ia mencatat. Ia mencoba memahami.
“Potensi wisata di sini luar biasa. Tapi harus ada keseriusan agar masyarakat ikut merasakan manfaatnya,” ujar Nando Soares yang datang bersama Ketua Komisi V DPRD NTT, Yadin Pua Rake, dan anggota Komisi V, Winston Rondo, Junaidin Mahasan, dan Debora Lende, Rabu (22/4/2026).
Dalam kunjungan itu, bantuan sembako disalurkan kepada sekitar 170 kepala keluarga. Sebuah bentuk perhatian yang sederhana, namun berarti bagi warga yang hidup jauh dari pusat layanan.
Sore mulai turun. Cahaya matahari perlahan berubah keemasan, memantul di permukaan laut yang tenang. Pulau Kera kembali pada ritmenya, sunyi, damai, namun menyimpan banyak cerita.
Hari itu, mungkin hanya satu kunjungan. Tapi bagi warga, kehadiran Nando Soares menjadi lebih dari sekadar silaturahmi. Ia adalah harapan, bahwa suara dari pulau kecil ini akhirnya menemukan jalannya untuk didengar.
Di antara pasir putih dan debur ombak, Pulau Kera tetap berdiri. Menunggu, bukan untuk dikagumi saja, tetapi untuk diperjuangkan.







