Nefri Eken, Suara Kemanusiaan dari Timur yang Melawan Stigma HIV

  • Whatsapp

PORTALNTT.COM, LEWOLEBA- Dari wilayah timur Indonesia, lahir sebuah kisah keberanian yang menggetarkan nurani. Nefri Eken, seorang transpuan asal Rote yang memilih menetap dan mengabdi di Lembata, Nusa Tenggara Timur, menjelma menjadi simbol harapan bagi kelompok yang kerap terpinggirkan: Orang dengan HIV (ODHIV).

Di tengah kuatnya nilai-nilai tradisional dan stigma sosial, Nefri berdiri tegak. Identitasnya sebagai transpuan bukan jalan yang mudah, namun ia memilih untuk tidak tunduk pada diskriminasi. Sebaliknya, ia menjadikan ruang keterbatasan itu sebagai ladang pengabdian, membuktikan bahwa nilai kemanusiaan tidak ditentukan oleh identitas, melainkan oleh kontribusi nyata bagi sesama.

Di Lembata, Nefri dikenal sebagai aktivis garis depan dalam isu HIV/AIDS. Melalui kiprahnya di berbagai lembaga swadaya masyarakat dan komunitas lokal, ia secara konsisten memperjuangkan hak-hak kesehatan kelompok marginal. Salah satu fokus utamanya adalah pendampingan bagi ODHIV yang kerap merasa takut dan malu mengakses layanan kesehatan akibat stigma dan penghakiman sosial. Dengan pendekatan personal, Nefri kerap “menjemput bola”, menemani pasien ke RSUD maupun puskesmas agar mereka mendapatkan layanan yang layak dan manusiawi.

Tak hanya itu, Nefri juga aktif mengedukasi masyarakat. Ia berupaya meluruskan berbagai mitos yang selama ini melekat pada HIV/AIDS, termasuk anggapan bahwa penyakit tersebut merupakan “kutukan”. Dalam setiap sosialisasi, ia menegaskan bahwa dengan kepatuhan mengonsumsi obat antiretroviral (ARV), ODHIV dapat hidup sehat, produktif, dan bermartabat.

Peran advokasi pun tak luput dari perhatiannya. Nefri kerap menjadi jembatan antara pemerintah daerah dan komunitas rentan, memastikan ketersediaan obat, keberlanjutan layanan kesehatan, serta terciptanya ruang pelayanan yang bebas dari diskriminasi.

Perjuangan Nefri Eken memiliki makna yang berlapis. Di satu sisi, ia melawan transfobia dengan menunjukkan bahwa transpuan adalah bagian penting dari solusi sosial. Di sisi lain, ia menempatkan kemanusiaan sebagai nilai tertinggi, bahkan ketika dirinya sendiri berada dalam posisi yang rentan.

“Stigma lebih mematikan daripada virus itu sendiri,” menjadi semangat yang terus digaungkan dalam setiap gerakan edukasi. Bagi Nefri dan para aktivis kemanusiaan, penerimaan keluarga dan lingkungan adalah kunci penting bagi pemulihan mental dan kualitas hidup ODHIV.

Kisah Nefri Eken menjadi bukti bahwa dari pelosok Nusa Tenggara Timur, suara kemanusiaan dapat bergema lantang. Melampaui batas gender, status kesehatan, dan sekat sosial, ia mengajarkan bahwa keberanian dan empati mampu mengubah stigma menjadi harapan.

Komentar Anda?

Related posts