Opini | Menyongsong Hari Kartini 21 April 2026
Oleh: Lanny Isabela Dwisyahri Koroh
Bahasa Bukan Sekadar Alat Komunikasi
Kita sering memandang bahasa hanya sebagai alat untuk menyampaikan pesan, sebuah medium, bukan substansi. Padahal, para ahli perkembangan anak seperti Lev Vygotsky telah lama menegaskan bahwa bahasa adalah jantung dari perkembangan kognitif dan moral seorang anak. Anak yang kaya kosakata adalah anak yang kaya cara berpikir. Anak yang terbiasa membaca adalah anak yang terlatih memahami perspektif orang lain. Anak yang diajak berdialog adalah anak yang belajar menghargai perbedaan.
Literasi bahasa — kemampuan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara secara efektif — bukan hanya soal nilai rapor atau kemampuan akademis. Ia adalah cermin dari bagaimana seorang anak memandang dirinya, orang lain, dan dunia di sekitarnya. Anak yang literat secara bahasa cenderung lebih empatik, lebih kritis, dan lebih mampu mengelola emosi — tiga pilar utama karakter yang baik. Di sinilah peran perempuan menjadi sangat sentral.
Perempuan sebagai Arsitek Bahasa Pertama
Jauh sebelum seorang anak menginjak bangku sekolah, ia sudah belajar bahasa. Belajar dari siapa? Dari orang yang paling banyak menghabiskan waktu bersamanya — dan dalam konteks keluarga Indonesia, angka statistik secara konsisten menunjukkan bahwa sosok itu adalah ibu, nenek, tante, atau pengasuh perempuan.
Percakapan pertama, cerita pengantar tidur pertama, kalimat penenang pertama — semua itu umumnya datang dari suara perempuan. Ini bukan stereotip; ini adalah realitas sosio-kultural yang perlu kita maknai dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Perempuan adalah arsitek pertama bahasa dalam kehidupan seorang anak.
Namun, menjadi arsitek bahasa bukan berarti sekadar berbicara kepada anak. Ia berarti memilih kata dengan cermat. Berarti membacakan buku meskipun lelah. Berarti bertanya “menurutmu bagaimana?” ketimbang “pokoknya harus begini.” Berarti memperkenalkan anak pada kekayaan bahasa — pantun, cerita rakyat, puisi, bahkan debat kecil di meja makan — yang semuanya secara diam-diam membangun karakter.
Kartini memahami ini. Ia tumbuh dalam keluarga yang menghargai ilmu, di mana percakapan intelektual adalah bagian dari keseharian. Dan ketika ia kemudian mendirikan sekolah untuk perempuan di halaman rumahnya sendiri, bukan kebetulan bahwa yang ia ajarkan pertama-tama adalah membaca dan menulis. Ia tahu: perempuan yang melek bahasa adalah perempuan yang mampu membesarkan generasi yang merdeka.
Krisis Literasi dan Peran yang Tak Boleh Diabaikan
Data dari berbagai survei nasional dan internasional menunjukkan bahwa tingkat literasi membaca anak-anak Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara-negara Asia Tenggara yang lebih maju. Bukan berarti anak-anak Indonesia tidak cerdas — mereka sangat cerdas. Tetapi akses terhadap buku, kebiasaan membaca di rumah, dan stimulasi bahasa yang kaya sejak dini masih sangat timpang, terutama di daerah-daerah terpencil.
Siapa yang bisa paling cepat mengubah ini? Jawabannya ada di tangan perempuan.
Seorang ibu yang rutin membacakan cerita selama lima belas menit setiap malam memberikan dampak yang jauh melampaui nilai matematika atau IPA anaknya. Ia sedang membangun rasa ingin tahu, daya imajinasi, kemampuan berempati, dan kecintaan terhadap bahasa yang akan menjadi bekal seumur hidup. Seorang guru perempuan di pelosok desa yang kreatif menciptakan sudut baca dari kardus bekas sedang melakukan revolusi literasi kecil-kecilan yang dampaknya tidak kalah besar dari kebijakan nasional manapun.
Sayangnya, untuk bisa memberikan semua itu, perempuan membutuhkan sesuatu yang Kartini perjuangkan 120 tahun lalu: akses terhadap pendidikan yang setara dan berkualitas.
Mendidik Perempuan adalah Mendidik Bahasa Anak
Ada ungkapan yang begitu terkenal sehingga hampir terasa klise, namun kebenarannya tidak pernah pudar: *mendidik seorang perempuan sama dengan mendidik satu generasi*. Dalam konteks literasi bahasa, ungkapan ini memiliki makna yang sangat konkret.
Perempuan yang terdidik baik cenderung memiliki kosakata yang lebih luas, kemampuan bercerita yang lebih kaya, dan kepercayaan diri yang lebih besar untuk mengajak anak berdiskusi. Ia tidak hanya membacakan buku — ia juga mengajari anak bagaimana bertanya, bagaimana mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, bagaimana membedakan fakta dan opini sejak dini.
Lebih dari itu, perempuan yang terdidik mampu menjadi penyaring konten di era digital yang penuh dengan banjir informasi. Di zaman ketika anak-anak lebih sering terpapar gadget daripada buku, ibu yang melek media dan literasi digital menjadi benteng pertama melawan degradasi bahasa dan karakter yang dibawa oleh konten-konten negatif.
Maka investasi terbesar bangsa ini untuk masa depan generasinya bukan sekadar membangun gedung sekolah atau mencetak buku teks — melainkan memastikan setiap perempuan Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak, termasuk literasi bahasa yang kuat.
Bahasa Daerah, Identitas, dan Karakter
Di tengah arus globalisasi, ada ancaman yang sering luput dari perhatian: punahnya bahasa-bahasa daerah Indonesia. Padahal, bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi lokal — ia adalah repositori nilai-nilai budaya, kearifan lokal, dan identitas yang membentuk karakter.
Anak yang mengenal bahasa ibunya — bahasa Jawa, Sunda, Batak, Bugis, Madura, Papua, dan ratusan lainnya — adalah anak yang memiliki akar. Dan anak berakar kuat tidak mudah goyah oleh arus nilai-nilai negatif yang datang dari luar.
Siapa yang menjaga bahasa-bahasa daerah ini tetap hidup? Sebagian besar adalah para perempuan — ibu dan nenek yang masih menyanyikan lagu daerah, mendongeng dalam bahasa lokal, dan mempertahankan ungkapan-ungkapan khas yang mengandung filosofi hidup mendalam. Mereka adalah penjaga keberagaman linguistik Indonesia yang sesungguhnya.
Kartini sendiri menulis surat-suratnya dalam bahasa Belanda — bahasa yang ia kuasai justru melalui bacaan — namun nilai-nilai yang ia perjuangkan sangat Jawa, sangat Indonesia: kesetaraan, keadilan, dan kebebasan. Ia membuktikan bahwa menguasai banyak bahasa tidak mengikis identitas; justru memperluasnya.
Dari Ruang Keluarga ke Ruang Publik
Tantangan perempuan dalam konteks literasi bahasa dan pendidikan karakter anak tidak hanya ada di ruang keluarga. Di ruang publik — di sekolah, di komunitas, di dunia maya — suara perempuan masih sering dipinggirkan atau dianggap kurang otoritatif.
Para guru perempuan yang berjuang di garis depan pendidikan, para penulis perempuan yang menciptakan buku-buku anak berkualitas, para aktivis literasi perempuan yang membangun taman baca di pelosok negeri — mereka semua adalah pewaris semangat Kartini yang nyata. Mereka layak mendapatkan pengakuan, dukungan, dan ruang yang lebih besar.
Hari Kartini seharusnya bukan hanya tentang kebaya dan upacara. Ia adalah momen refleksi: sudahkah kita — sebagai masyarakat, sebagai pemerintah, sebagai sesama perempuan — memberikan ruang dan dukungan yang cukup bagi perempuan untuk menjalankan peran strategisnya dalam membangun literasi dan karakter bangsa?
Penutup: Pena Kartini yang Belum Kering
Kartini pernah menulis bahwa ia bermimpi tentang Indonesia yang maju, di mana perempuan tidak lagi dipandang sebagai makhluk kelas dua tetapi sebagai mitra sejajar dalam membangun peradaban. Hampir 120 tahun berlalu, dan mimpi itu masih dalam proses.
Namun ada kemajuan yang tidak boleh kita remehkan: semakin banyak perempuan Indonesia yang terdidik, yang menulis, yang mengajar, yang memimpin komunitas literasi, yang membesarkan anak-anak dengan penuh kata dan cerita. Mereka semua sedang meneruskan tulisan Kartini — bukan dengan pena bulu di atas kertas, tetapi dengan setiap buku yang mereka bacakan, setiap kalimat yang mereka ajarkan, setiap anak yang mereka tumbuhkan menjadi manusia yang utuh, berkarakter, dan mencintai bahasa.
Literasi bahasa untuk karakter anak bukan proyek pemerintah semata. Ia adalah gerakan yang dimulai dari rumah, dari pelukan seorang ibu, dari suara seorang perempuan yang membacakan cerita di bawah lampu remang sebelum tidur. Dan gerakan itu, selama masih ada perempuan yang percaya pada kekuatan kata, tidak akan pernah berhenti.
Selamat Hari Kartini 2026. Teruslah menulis. Teruslah membaca. Teruslah bercerita — karena dari cerita, karakter lahir.







