Tragedi Berdarah di Desa Dalekesa, Dari Cekcok Soal Ternak Hingga “Parang Berbicara”

  • Whatsapp

Penulis: Daniel Timu

PORTALNTT.COM, ROTE NDAO — Aroma darah menyelimuti hamparan persawahan Kukafu, Dusun Ombalain, Desa Dalekesa, Kecamatan Rote Barat Daya, Jumat (17/04/2026). Seorang pria berinisial AM (54) ditemukan tak bernyawa dengan luka bacok mengenaskan. Kasus ini sontak mengguncang warga Desa Dalekesa.

Peristiwa ini bukan sekadar kematian biasa. Ia menyeret kisah konflik sederhana soal seekor domba yang akhirnya berubah menjadi kekerasan brutal tanpa kendali. Informasi yang dihimpun menyebutkan, insiden bermula ketika JA (63), warga Dusun Sunsha, mendapati AM tengah membawa seekor domba yang diyakini miliknya.

Cekcok pun tak terhindarkan. Dalam pengakuannya, JA menyebut sempat mempertanyakan tindakan korban. Namun situasi dengan cepat berubah panas ketika korban diduga mengayunkan parang terlebih dahulu. Ketegangan memuncak di tengah area persawahan yang sepi dari pengawasan.

Diserang dengan parang, JA sempat menangkis menggunakan sebatang kayu. Benturan fisik pun terjadi. Kayu dan parang menjadi alat penentu hidup dan mati. AM sempat melarikan diri, namun dikejar oleh JA hingga ke pagar kompleks persawahan Kukafu.

Di titik itulah, konflik mencapai puncaknya. Parang yang semula berada di tangan AM terlepas, dan direbut oleh JA yang akhirnya berbalik menjadi senjata yang mengakhiri hidup AM. Tiga luka bacok tepat mengenai kepala AM, leher, dan kaki, menjadi saksi bisu keganasan peristiwa tersebut.

Yang mengejutkan, setelah kejadian itu, terduga pelaku, JA tidak melarikan diri. Ia justru mendatangi Kepala Desa Dalekesa, Arianto Pandie, dan mengakui perbuatannya. Kepala Desa pun langsung melapor ke Kapolsek Rote Barat Daya, Ipda Subur Gunawan, SH. Pengakuan ini kemudian menjadi awal terbukanya kasus yang kini tengah dalam proses penanganan lebih lanjut.

“Informasi tentang peristiwa pembunuhan ini kami peroleh dari Kepala Desa Dalekesa, Arianto Pandie, bahwa JA (terduga pelaku) telah berada di rumah kepala desa dan mengakui perbuatannya. Kami langsung bergerak dan tiba sekitar pukul 19.00 WITA, kemudian personel Polsek Rote Barat Daya mengamankan yang bersangkutan,” ungkap Kapolsek Rote Barat Daya, Ipda Subur Gunawan, SH.

Usai dilakukan olah TKP, jenazah korban pun dievakuasi ke RSUD Ba’a untuk keperluan visum, sementara barang bukti bersama pelaku kini telah diamankan di Mapolres Rote Ndao. Namun yang tak kalah penting, Kapolsek Rote Barat Daya juga menghimbau agar masyarakat tetap menjaga situasi kondusif dan tidak terseret emosi.

“Kami berharap masyarakat tidak terprovokasi untuk melakukan hal-hal yang dapat memperkeruh suasana. Biarkan Polri bekerja sesuai SOP dan berikan informasi jika berkaitan dengan peristiwa ini,” ucap Kapolsek Rote Barat Daya, menghimbau.

Kasus ini membuka kembali realitas pahit konflik horizontal di tingkat akar rumput yang kerap berujung maut. Di tengah keterbatasan sumber daya, kecepatan respons aparat di lapangan menjadi benteng pertama mencegah situasi meluas menjadi konflik sosial yang lebih besar.

Komentar Anda?

Related posts